
Keluarga Cheva dan Diaz tiba dirumah Radit dengan menggunakan beberapa mobil yang telah disiapkan Radit dibandara.
Radit dan Andra telah menunggu kedatangan sodara mereka didepan rumah. Mereka langsung menyambut Cheva dan Diaz begitu arak-arakan mobil tiba.
"Kak Cheva, Kak Diaz. akhirnya kalian tiba juga disini. Sudah lama kan kalian tidak datang kemari?" ujar Radit menyambut kedatangan saudara sepupunya.
"Ya, sudah lama sekali kami tidak datang kemari. Eh Lulu cantik kamu sudah besar ya" Cheva menanggapi dengan sikap tenang lalu berjalan mendekati Andra yang menggandeng Lulu disampingnya.
"Alo Tate. Tudah lama tidak beltemu tate" ujar Lulu menyapa dengan suaranya yang cadel.
"Lucunya... Kak Lian... Dia lucu kan? Aku juga mau anak perempuan" Cheva merengek pada Lian dengan nada bicaranya yang manja. Dia juga menggoyang-goyangkan tangan Lian saat bicara.
"Punya bayi?" Lian memicingkan mata mendengar permintaan sang istri. Dia terdiam memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.
Jika Cheva hamil lagi ... Dia akan muntah-muntah dan tidak bisa makan. Dia bisa saja pingsan dan lebih mudah lelah. Saat melahirkan ada kemungkinan... Tidak tidak aku tidak ingin sesuatu terjadi padanya seperti saat melahirkan Zo dan Zie.
"Sayang, sebaiknya kamu tidak hamil lagi. Kita punya Zo dan Zie. Biarkan mereka menikah muda dan suruh mereka cepat memiliki anak. Jadi kamu bisa merawat anak mereka. Zo, kamu dan Safira tidak boleh menunda momongan. Kalian harus segera membuat program kehamilan! " Lian menanggapi permintaan Cheva dengan lembut setelah berpikir sejenak, lalu dia mendesak Kenzo untuk punya anak secepatnya.
"Eh. Kenapa jadi kami yang kena? Meskipun aku dan Safira sudah menikah, tapi kami belum memiliki rencana untuk memiliki anak. Safira masih memiliki beberapa kontrak kerja yang harus diselesaikan. Suruh saja Zie untuk punya anak duluan". Kenzo menanggapi Lian dengan sikap yang dingin.
"Kamu gila ya Zo? Aku belum menikah, bahkan pacar saja belum punya. Mana mungkin aku bisa langsung punya anak? Aku masih ingin mengembangkan bisnisku" Kenzie pun menanggapi dengan dahi berkerut karena dia yang jadi sasaran.
"Kalian berdua ini... "
"Sudah, hentikan! Ini tidak akan selesai. Sebaiknya kita masuk kedalam saja" Radit mengakhiri perdebatan yang terjadi dengan meminta Cheva dan yang lainnya masuk ke dalam rumahnya.
"Kak, kapan Om Bi dan tante Ji akan datang? ". Radit bertanya pada Cheva sambil berjalan memasuki rumahnya.
"Mungkin, mami dan om akan datang nanti malam. Mami bilang masih ada pekerjaan yang harus dilakukan. Dan om Bi juga sama. Mereka pasti datang bersamaan nanti. Benarkan Kak? " Cheva menjelaskan dengan sikap tenang, lalu bertanya pada Diaz untuk mendapatkan konfirmasi.
__ADS_1
"Benar. Mereka akan menyusul nanti malam. Dimana Lathan dan Ardhan? Kenapa mereka tidak terlihat?". Diaz bertanya sambil menoleh kesana kemari mencari kedua keponakannya itu.
"Lathan belum kembali dari liburannya dinegara D. Sedangkan Ardhan... Sepertinya dia sedang pergi kerumah temannya". Andra menanggapi Diaz dengan senyum yang lembut.
"Oh begitu" ujar Diaz sambil menganggukkan kepala berkali-kali.
"Sebaiknya kalian semua istirahat dulu. Kalian pasti lelah kan setelah menempuh perjalanan kemari? Kamar kalian sudah disiapkan biar pembantu yang akan mengantar kalian"
Mereka semua pun setuju dan berjalaj menuju kamar mereka masing-masing.
...****************...
Dinegara D.
Lathan, Zara dan Fandy sedang bersiap untuk kembali ke negara A karena waktu yang mereka katakan untuk berlibur sudah habis. Ibu Zara menatap Zara yang sedang berkemas dengan mata berlinang.
"Mama, kenapa Mama menatapku seperti itu? Bukannya Mama akan membantuku?". Zara bertanya dengan senyum lembut dibibirnya.
Mendengar ucapan sang ibu, Zara meletakkan pakaian yang sedang dia lipat dan duduk disamping sang ibu.
"Ma, aku harus kembali dulu untuk mempersiapkan kepindahanku kemari. Apalagi aku sudah mengirimkan semua persyaratan ke universitas dinegara A. Bukankah aku juga harus melakukan pembatalan?" ujar Zara berusaha menenangkan sang ibu.
"Tapi kan kamu bisa mengurusnya darisini tanpa harus kembali kesana" bantah sang ibu yang tetap tidak ingin Zara pergi.
"Mama, sebentar lagi aku akan kembali kemari. Aku dan Lathan tidak akan bisa menghabiskan waktu bersama sesering mungkin, jadi untuk sekarang ini … aku ingin menghabiskan waktu dengan Lathan sebelum kami mulai disibukkan dengan jadwal kuliah. Aku harap Mama bisa mengerti bagaimana perasaanku". Zara bicara dengan tatapan yang seakan memohon pada. sang ibu agar tidak memaksanya lagi.
Ibu Zara terdiam sesaat sampai akhirnya dia setuju dengan keputusan Zara.
"Baiklah. Mama tidak akan menahanmu lagi. Mama harap kamu bisa menyelesaikan semua urusanmu disana dan segera kembali kemari. Mama sudah lama kehilangan wakti bersama denganmu. Mama ingin segera menebusnya dan menghabiskan waktu Mama hanya denganmu" ujar ibu Zara sambil memegangi tangan Zara dan menepuknya dengan lembut.
__ADS_1
Zara menganggukkan kepala disertai senyum lembut diwajahnya.
"Iya Mah. Aku juga ingin menebus waktuku dengan Mama yang telah lama terbuang. Aku akan kembali saat jadwal masuk kuliah sudah dimulai. Setelah itu kita bisa sering menghabiskan waktu bersama".
"Baiklah. Mama tidak akan mengganggumu lagi. Mama akan turun dan menyiapkan makan malam untuk kita".
"Iya, Mah".
Ibu Zara pun beranjak pergi meninggalkan kamar Zara.
Zara berjalan ke dekat jendela dan melihat keluar kamar. Disana dia melihat Lathan yang sedang berada diluar. Zara pum bergegas keluar untuk menemui sang kekasih yang sedang menatap indahnya malam.
"Lathan, apa yang sedang kamu lakukan?" ujar Zara dengan nada bicara yang lembut.
Lathan yang sedang menatap langit malam langsung berbalik begitu mendengar suara Zara.
"Tidak ada. Hanya menikmati suasana sepi ini saja. Apa yang kamu lakukan? Kenapa keluar kamar tanpa mengenakan jaket? Ini dingin, kamu bisa sakit" Lathan berjalan mendekati Zara sambil membuka jaketnya dan mengenakannya pada Zara.
"Aku tadi sedang berkemas. Tapi karena melihat kamu diluar … aku langsung kemari". Zara bicara sambil menatap Lathan dengan tatapan yang lembut.
"Kenapa? Kamu tidak bisa jauh dariku?". Lathan bertanya dengan senyum menggoda dan tangannya memegang pinggang Zara.
"Ya, aku tidak bisa jauh darimu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nanti saat kita terpisah jarak yang jauh?" ujar Zara yang kini melingkarkan tangannya dileher Lathan dan bicara dengan raut wajah sedih.
"Bukankah kita bisa sering-sering melakukan panggilan video? Atau … kita bisa saling mengunjungi saat memiliki waktu luang?" ujar Lathan dengan senyum yang lembut.
"Ya kamu benar. Itu sama sekali bukan masalah besar. Walaupun kita jauh, tapi kita masih bisa melakukan komunikasi dengan lancar, ya … meskipun banyak hal yang tidak bisa kita lakukan bersama"
"Jadi! Berhentilah bersedih. Kurasa 4 tahun bukanlah waktu yang lama jika kita saling percaya dan menjaga satu sama lain".
__ADS_1
Zara menganggukkan kepala disertai senyum tipis menanggapi ucapan Lathan.