
Tedy memiliki janji temu dengan seseorang disalah satu restoran. Dia hendak melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bisnisnya dengan Samuel, Dion dan juga Jhon.
"Selamat sore. Maaf membuat anda menunggu " ujar Tedy yang baru saja tiba direstoran.
"Tidak papa, Pak. Saya juga belum lama tiba disini" jawab tamu pak Tedy yang merupakan seorang polisi berpangkat.
"Apa anda sudah memesan sesuatu?" tanya pak Tedy dengan sikap tenang.
"Tidak, Pak. Terimakasih. Sebaiknya kita langsung saja pada intinya karena saya masih memiliki banyak pekerjaan. Kenapa anda meminta saya datang kemari?" tanya Tofan yang merupakan penyidik kasus kriminal.
"Pak Tofan, saya tahu kalau anda selalu berselisih pendapat dengan pak Samuel. Anda pasti tidak ingin selalu berada dibawah kendali dia kan? Saya bisa membantu anda mendapatkan apa yang anda inginkan".
Tofan memicingkan mata menunggu Tedy mengatakan keinginannya.
"Apa maksud anda?" tanyaTofan penasaran.
"Saya akan membantu anda untuk bisa mendapatkan promosi kenaikan jabatan, asalkan anda membantu saya". Tedy tersenyum penuh percaya diri ketika dia menawarkan kenaikan jabatan pada Tofan.
"Jadi dia ingin menyuapku? Apa yang dia pikirkan? Tunggu! Jangan-jangan maksud pak Radit …"
"Apa yang anda inginkan? Apa yang harus saya lakukan untuk anda?" tanya Tofan dengan raut wajah tenang.
"Anda bisa menggantikan posisi pak Samuel sebagai kepala polisi, asalkan … anda membantu saya menutup kasus judi online itu".
Tofan sangat terkejut mendengar permintaan pak Tedy. Dia menatap pak Tofan dengan tatapan heran.
"Anda bercanda kan, Pak?" tanya Tedy dengan dahi berkerut heran.
"Saya serius. Jika memang itu saja tidak cukup, maka akan saya tambahkan dengan ini!".
Mata Tofan semakin terbelalak melihat koper yang dipenuhi uang berada tepat dihadapannya.
"Ini …?"
"Ini semua akan jadi milik anda jika anda setuju dengan tawaran saya". Tedy menawarkan uang itu pada Tofan dengan senyum percaya diri dibibirnya.
Tofan menyunggingkan senyum mencibir mendengar tawaran Tedy.
"Apa anda sangat yakin kalau saya akan setuju dengan tawaran yang anda berikan? Tawaran anda memang cukup menggiurkan, tapi saya menolak tawaran anda". Sesaat Tofan bicara dengan senyum lembut dibibirnya, namun kemudian nada bicaranya berubah dingin.
Sesaat pak Tedy nampak terkejut, tapi setelah itu dia kembali tersenyum dan bersikap tenang.
"Anda menolaknya? Katakan apa yang anda inginkan. Saya pasti akan mewujudkan keinginan anda"
"Saya hanya menginginkan satu hal dari anda"
__ADS_1
"Apa itu?" Tedy terlihat penasaran dengan apa yang diminta Tofan.
"Anda harus membayar atas apa yang sudah anda lakukan" ujar Tofan dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.
"Apa maksudmu?!" tanya Tedy dengan raut wajah bingung.
Brak!
"Angkat tangan!". Tedy sangat terkejut ketika beberapa polisi tiba-tiba masuk ke ruangan yang dia pesan bersama Tofan.
"Apa-apaan ini?!" teriak Tedy pada Tofan.
"Anda pikir semua orang bisa anda suap dan perintah sesuai keinginan anda? Anda salah menilai saya Pak. Meskipun saya sudah lama tidak mendapatkan promosi, tapi saya bukan orang yang gila jabatan"
"Kamu menjebakku!" teriak pak Tedy pada Tofan.
"Aku hanya menjalankan tugasku saja. Bawa dia!"
"Baik, Pak!"
"Ayo jalan!". Anak buah Tofan langsung menggiring Tedy sesuai dengan perintah dari Tofan.
Sementara itu diluar restoran ada banyak wartawan yang sudah menunggu kemunculan Tedy.
Pemirsa, saat ini saya berada didepan restoran tempat dimana terjadinya operasi tangkap tangan yang dilakukan oleh salah satu anggota dewan negara ini berinisial T. Beliau tertangkap tangan melakukan suap atas kasus perjudian online yang akhir-akhir ini sedang ditangani polisi. Berdasarkan informasi yang kami peroleh, ada beberapa orang penting yang terlibat bersama dengan beliau dalam kasus ini diantanya tersangka dengan inisial S yang merupakan seorang petinggi polisi, tersangka dengan inisial J yang merupakan pebisnis mobil , ada juga tersangka dengan inisial D yang berbisnis dalam bidang perhotelan. Demikian informasi yang dapat kami sampai saat ini. Terimakasih
"Bagaimana negara ini bisa berkembang jika orang yang memiliki kedudukan yang malah menjerumuskan kaum kecil?"
"Ini tidak bisa dipercaya. Bahkan aparat polisi juga terlibat didalamnya. Bagaimana rakyat kecil bisa jadi orang baik?"
Semua orang mulai mengeluarkan pendapat mereka mengenai apa yang sedang diberitakan. Orang-orang mulai meragukan apa yang terjadi pada keadilan yang ada.
Radit sedang tersenyum melihat hasil dari apa yang dia rencanakan. Radit menghubungi Tofan yang kini telah kembali ke kantor polisi.
Tuut tuut tuut
"Halo, Pak Radit".
Sapa Tofan dengan sikap yang tenang dan sopan. Dia menerima telepon dari Radit sambil menatap para penculik Lathan yang saling terikat dengan mulut ditutup lakban dihadapannya
"Halo, Pak Tofan. Bagaimana dengan hadiah yang aku kirimkan? Bukankah itu cukup untuk jadi tambahan agar hukuman mereka sedikit lebih berat?". Radit bicara dengan sikap yang tenang dan dingin.
"Itu … jadi anda yang mengirimkan orang-orang itu?" Tofan bertanya untuk memastikan 4 orang yang dikirimkan Radit ke kantor polisi.
"Ya, mereka adalah orang-orang yang menculik putraku. Kuharap mereka bisa jadi tambahan bonus untuk tersangka VIP itu. O iya, aku akan berkunjung ke kantor polisi. Aku ingin melihat secara langsung bagaimana wajah orang-orang yang berniat mencelakai anakku" ujar Radit lagi dengan sikap yang dingin.
__ADS_1
"Anda akan menemui mereka?" tanya Tofan dengan dahi berkerut
"Tentu saja. Bukankah mereka harus tahu siapa yang selama ini bermain dengan mereka?". Radit menanggapi dengan senyum penuh percaya diri. Diapun langsung mengakhiri panggilan teleponnya dengan Tofan.
"Kuharap pak Radit tidak melakukan apapun lagi" gumam Tofan sambil menatap ponsel ditangannya.
...****************...
Didalam penjara.
Samuel, Jhon, Dion dan Tedy masih ditempatkan dalam ruangan yang sama karena masih dalam proses penyelidikan. Mereka kini saling menyalahkan satu sama lain.
"Anda bilang semuanya akan baik-baik saja. Tapi lihat hasilnya sekarang!" Jhon bicara dengan sinis pada Samuel.
"Saya juga telah berusaha yang terbaik sesuai dengan apa yang saya mampu, tapi mau bagaimana kalau ternyata pak Tedy salah membujuk orang". Samuel pun menyalahkan Tedy karena berusaha menyuap Tofan.
"Aku hanya mencoba peluang terakhir saja. Kita tidak akan tahu hasilnya jika tidak dicoba" ujar Tedy membela diri.
"Ya dan hasil dari uji coba anda adalah kita semua berada disini" Dion pun ikut menanggapi dengan sikap yang sinis.
"Wah wah wah … Sepertinya semuanya sangat menikmati perkumpulan ini? Harusnya aku mengumpulkan kalian lebih cepat dari ini, benar kan?". Samuel, Jhon, Dion dan Tedy langsung menoleh ketika mendengar suara seseorang didekat mereka.
"Kamu …" Mereka nampak terkejut melihat Radit berdiri diluar jeruji besi.
"Ya, aku. Aku ingin mengucapkan selamat pada kalian. Bermain dengan kalian lumayan menyenangkan meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama". Radit bicara dengan sikap yang dingin disertai senyum tipis dibibirnya.
"Bermain?" Jhon, Samuel, Tedy dan Dion saling menatap satu sama lain dengan tatapan heran.
"Tentu saja. Kalian pikir siapa yang merencanakan semua ini? Tantu saja aku, Raditya Reifansyah Nugraha" ujar Radit dengan senyum mencibir diwajahnya.
"Maksud kamu … semua ini adalah ulahmu?" tanya Samuel memastikan.
Radit menganggukkan kepala perlahan dengan senyum tipis dibibirnya.
"Ya, semuanya rencanaku. Mulai dari Samuel, Jhon, Dion dan terakhir … anda". Radit bicara sambil menunjuk wajah mereka satu persatu.
"Kenapa?! Kenapa kamu melakukan ini pada kami?! Kami tidak pernah mengusikmu, tapi kamu menghancurkan hidup kami semua!" teriak Dion pada Radit.
"Tidak pernah mengusikku? Lalu … kenapa kalian menculik putraku?".
"Itu … itu …".
Radit bicara dengan nada yang dingin sorot mata yang tajam membuat Dion yang tadi berteriak dengan percaya diri langsung terdiam mendengar ucapan Radit.
"Aku yakin kalian sudah mendengar semua tentang keluargaku. Kami bukan orang baik. Kami akan mengembalikan apa yang kami dapatkan. Siapapun yang berani mengusik keluargaku, maka dia harus siap dengan segala konsekuensinya. Bukan cuma harta atau tahta, tapi aku tidak akan segan merebut nyawa siapapun".
__ADS_1
Dion, Samuel, Jhon dan Tedy tidak mengatakan apapun lagi. Mereka terdiam dengan tubuh kaku merasakan aura Radit yang sangat mengintimidasi, bahkan Tofan yang berdiri sedikit lebih jauh dari mereka juga merasakan aura Radit.
"Apa ini? Apakah selama ini pak Radit memiliki aura mengintimidasi seperti ini? Aku selalu dengar tentang keluarga Kusuma yang tidak suka ditindas, tapi baru kali ini aku bisa merasakan sendiri alasan kenapa mereka sangat disegani. Dari nada bicara dan sorot matanya saja bisa membuat orang terkencing-kencing"