
Saat ini Radit sedang melakukan wawancara untuk menyeleksi sendiri calon pelayan pribadi Andra yang sebelumnya telah dipilih oleh Candra.
“Apa kamu pernah melayani wanita hamil sebelumnya?” tanya Radit dengan sikap yang dingin
“Tidak, Pak. Ini pertama kalinya untuk saya. Tapi sebelumnya saya cukup lama melayani wanita tua” jawab salah satu pelamar.
Radit terdiam sesaat mendengar jawaban dari pelamar itu
“Baiklah, nanti akan kami hubungi lagi jika kamu lolos” ujar Radit yang bicara tanpa menatap wajah gadis didepannya dan kembai focus pada daftar calon pelamar lain yang ada ditangannya.
“Baik, Pak. Permisi” pelamar itu meninggalkan ruangan Radit dan kini berganti dengan pelamar lain.
Radit menanyakan hal yang sama pada pelamar selanjutnya
“Apa kamu pernah bekerja dengan ibu hamil sebelumnya?” tanya Radit pada pelamar lain.
“Tidak, Pak. Ini pengalaman pertama saya melayani orang lain” gadis itu menjawab dengan sikap yang tenang meskipun tangannya terlihat gemetar karena gugup.
Radit kembali menundukkan kepala dan melihat daftar pelamar lain yang ada ditangannya.
“Kamu boleh pergi. Akan kami kabari jika kamu lulus nanti” ujar Radit dengan sikap yang dingin.
“Baik, Pak. Permisi” gadis itu pun pergi dengan wajah tertunduk sedih
“Haah … kenapa Candra memilih orang-orang yang tidak berpengalaman? Bukannya sudah aku bilang kalau aku ingin orang berpengalaman yang membantu Andra nantinya?” gumam Radit sambil memijat dahinya perlahan karena merasa putus asa setelah menyeleksi beberapa orang yang sama sekali tidak memiliki pengalaman dalam menemani wanita hamil sebelumnya.
“Permisi, apa imterviewnya sudah selesai?” seorang gadis tiba-tiba masuk keruang Radit tanpa meminta izin darinya. Seketika raut waah Radit berubah suram dengan tatapan tajam yang terasa menusuk.
“Apa didepan tidak ada orang lain?” tanya Radit yang terlihat kesal
“Maafkan saya. Tidak ada siapapun didepan, karena itu saya langsung masuk untuk memastikan. Apa interviewnya sudah selesai? Saya dengar sedang ada interview untuk menemani ibu hamil” gadis itu menjawab dengan sikap yang tenang.
“Candra bodoh. Bagaimana dia bisa membiarkan orang asing masuk ke ruanganku dengan seenaknya?” gerutu Radit karena gadis itu masuk begitu saja keruangannya.
“Apa kamu juga akan ikut interview ini?” tanya Radit tanpa mempersilahkan gadis itu duduk lebih dulu
“Pria ini sangat tampan. Jika aku bisa bekerja diperusahaan ini … aku pasti bisa selalu melhatnya” pikir gadis itu yang terus menatap Radit
__ADS_1
“Halo … apa kamu dengar apa yang aku katakana?” tanya Radit yang membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
“Ah maafkan saya. Saya pernah menemani ibu hamil sebelumnya. Jadi saya ingin mencoba mengikuti interview ini” jawab si gadis dengan tergesa-gesa.
“Benarkah? Berapa lama kamu bekerja sebelumnya?”
“Anda tidak akan mengizinkan saya duduk?” ujar gadis itu dengan sedikit senyum dibibirnya. Dia tidak tahu kalau yang melakukan wawancara adalah Radit sendiri.
Dahi Radit berkerut hingga kedua alisnya hampir saja menyatu karena keberanian gadis itu.
“Ya, silahkan duduk” Radit tetap bersikap tenang dan dingin
“Terimakasih” Gadi itu pun langsung duduk dihadapan Radit
“Apa kamu benar-benar memiliki pengalaman dalam negurus ibu hamil?” tanya Radit untuk memastikan perkataan si gadis tadi.
“Ya, saya pernah melayani ibu hamil sampai dia melahirkan. Kira-kira 3 tahun saya menemani ibu itu” ujar si gadis menjawab dengan senyum dibibirnya.
“Siapa namamu?” tanya Radit setelah dia mulai percaya pada gadis itu
“Nama saya Lidia, Pak”
“Oh, bukan bekerja disini, Pak?” tanya gadis itu yang sedikit kecewa karena tidak bekerja dengan Radit
“Tidak, ini kantor dan kamu akan bekerja untuk Andra dirumah” ujar Radit sedikit menjelaskan
“Oh, baiklah kalau begitu, Pak. Terimakasih banyak” gadis itu langsung berdiri dan beranjak pergi dari ruangan Radit.
“Sayang sekali aku tidak bisa melihat wajah tampannya terus” pikir Lidia sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Radit.
Radit merasa sedikit tenang karena dia bisa menemukan orang yang berpengalaman untuk membanu Andra, namun dia tetap merasa kesal pada Candra dan langsung menghubunginya.
Tuut tuut tuut
“Ya, Dit. Ada apa?” tanya Candra yang langsung menerima telepon dari Radit begitu ponselnya bordering
“Ada dimana kamu?”Suara Radit terdengar sangat dingin sampai Candra menjauhkan ponselnya dari telinga dan menatap layar ponsel dengan bingung
__ADS_1
“Ada apa dengannya? Kenapa suaranya terdengar menyeramkan?” pikir Candra bingung
“Aku sedang ke bawah sebentar. Apa wawancaranya sudah selesai? Gadis yang berambut panjang itu adalah peserta terakhir. Jadi aku meninggalkan mejaku saat dia masuk keruanganmu dan pergi kebawah sebentar. Apa
terjadi sesuatu?” ujar Candra menjelaskan dengan sedikit ragu
“Kamu yakin kalau dia adalah yang terakhir?” tanya Radit yang masih penasaran
“Ya, hanya sampai gadis yang itu saja. Apa ada yang lain?” Candra memicingkan mata karena bingung dengan apa yang dikatakan Radit.
“Ya, ada yang lain. Gadis dengan rambut panjang dan sedikit bergelombang”. Alis Candra berkerut mendengar perkataan Radit
“Benarkah? Tapi yang ada didaftarku hanya 5 orang itu saja. Lalu, apakah kamu sudah menemukan orang yang sesuai?” Candra berusaha memastikan sambil berjalan kembali menuju ruangannya.
“Ya, gadis terakhir dengan rambut sedikit bergelombang. Tapi aku tidak bisa langsung percaya padanya begitu saja. Aku akan memberikan dia waktu ujii coba selama 2 minggu ini. Jika pekerjaannya bagus, maka aku akan tetap membiarkan dia berada disisi Andra. Tapi jika tidak, aku akan mencari orang lain yang lebih pengalaman” ujar Radit menjelaskan.
“Baiklah, aku akan mengikuti perintahmu saja” Candra bicara sambil mengangguk setuju dengan apa yang diputuskan Radit
“Ya, kembali keruanganmu sekarang. Jangan mentang-mentang temanku jadi kamu bersikap seenaknya” Radit bercanda dengan nada bicaranya yang serius
“Apa maksudmu? Kamu pikir selama ini aku seperti itu? Jangan sembarang bi… tut tut tut … Haah… selalu saja seperti itu. Awas saja kamu” Radit langsung mengakhiri teleponnya saat Candra sedang menggerutu kesal
padanya
Candra segera kembali keruangannya setelah dia menutup telepon dari Radit
Ceklek
“Dit, apa maksudmu ada orang lain yang masuk keruanganmu? Tidak ada tamu lain yang dijadwalkan bertemu denganmu lagi selain 5 orang yang kamu seleksi tadi” Candra langsung masuk keruangan Radit dan bicara kepadanya untuk mendapatkan penjelasan mengenai apa yang Radit katakan melalui sambungan
telepon.
“Lihatlah, ini biodatanya dan dia bilang mengikuti wawancara karena tahu kita mencari orang berpengalaman untuk menemani Andra” Radit menjelaskan sambil menunjukkan CV dari Lidia
“Mungkin dia terlambat mengajukan lamarannya. Orang yang aku seleksi sebelumnya hanya 5 orang itu. Apa perlu aku selidiki gadis ini?” tanya Candra yang masih memegang CV milik Lidia
“Tidak perlu. Aku akan cari tahu sendiri. Jika memang dia punya niat jahat, maka itu tidak akan berhasil dia lakukan pada keluargaku” ujar Radit dengan sikap yang tenang dan sorot mata yang dingin
__ADS_1
“Ya, aku percaya karena jika sudah ada yang berani masuk kekandang harimau, maka dia tidak akan bisa keluar lagi” ujar Candra dengan sikap acuh tak acuh.