
Zara terus diam selama perjalanan. Dia memikirkan alasan sang ayah memanggilnya dan juga memikirkan Lathan karena dia tidak sempat pamit sebelumnya.
Sebenarnya apa yang papa inginkan? Kenapa papa sampai meminta orang menjemputku? Bahkan aku tidak sempat mengatakan pada Lathan kalau aku pulang sekarang. Apa Lathan akan khawatir saat tahu aku tidak ada dikamar? Karena ini sudah terlalu larut, haruskah aku mengirim pesan padanya saja?.
Zara bergelut dengan pikirannya sendiri sampai tidak terasa kalau dia telah tiba dirumah sang ayah.
"Kita sudah sampai, Non" ujar anak buah sang ayah yang menjemputnya.
Zara langsung masuk kerumah yang sudah hampir satu tahun ini dia tinggalkan. Dia menoleh kesana kemari mencari keberadaan sang ayah. Setelah tak menemukannya diruangan luar, akhirnya Zara pergi ke ruang kerja sang ayah.
Ceklek
Zara langsung masuk keruangan sang ayah tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia berjalan dengan sikap tenang meskipun sebenarnya Zara sangat gugup.
"Ada apa Papa memintaku pulang?". Zara langsung bertanya pada sang ayah tanpa basa basi terlebih dahulu.
"Apa ini cara kamu bersikap pada orang tua?" Pak Zein menanggapi dengan sikap yang dingin.
Zara langsung terdiam dengan kepala tertunduk mendengar ucapan sang ayah.
"Kamu bilang akan tinggal dirumah Fandy tanpa membuat masalah, kenapa kamu malah membuat keributan dengan seorang pemuda? Kamu sengaja melakukan itu untuk mencari perhatian Papa?!". Pak Zein terus bicara dengan nada bicara yang dingin dan sorot mata yang tajam.
"Aku … aku …"
"Berhenti membantah! Jika kamu memang ingin jadi anak baik maka berhenti membuat ulah!" Pak Zein yang kesal karena Zara mencoba melawan berteriak padanya lalu memalingkan wajahnya.
__ADS_1
Perlahan Zara mulai menitikan air matanya mendengarkan ucapan sang ayah. Dia menatap sang ayah dengan tatapan penuh kesedihan.
"Membuat ulah? Apa selama ini Papa hanya melihatku sebagai pembuat ulah? Selama ini … Aku selalu berusaha keras menyenangkan hati Papa dan mama. Aku mengikuti semua les dan pelatihan agar kalian bisa sedikit saja melihatku. Aku mengikuti setiap perlombaan yang diadakan sekolah, memenangkan banyak piala untuk membuat kalian bangga, tapi Papa hanya melihatku sebagai pembuat ulah? Sampai kapan aku harus diam seperti orang mati, Pah? Sampai kapan Papa akan bersikap seolah aku tak ada? Aku tahu Papa masih tidak terima atas kematian kakak, tapi sampai kapan aku juga harus bertingkah seperti orang mati? Kematian kakak sama sekali bukan salahku! Bukan aku yang membunuhnya ataupun merencanakan pembunuhannya saat kami bermain diluar rumah. Papa tahu sendiri kalau yang membunuh kakak adalah rival bisnis Papa, tapi kenapa harus aku yang menerima hukuman dari Papa dan mama selama bertahun-tahun?! Apa Papa tidak berpikir berapa usiaku saat itu sampai sekarang? 7 tahun, Pah. Saat itu aku baru berusia 7 tahun dan sekarang aku berusia 17 tahun. Sudah 10 tahun Papa dan mama mengabaikanku. 10 tahun ini kalian membiarkanku tanpa kasih sayang. 10 tahun ini hanya kasih sayang dari ibu pengasuh yang aku terima sampai dia meninggal. Apa Papa pernah berpikir bagaimana perasaanku? Apa Papa pernah berpikir bagaimana sakitnya hatiku setiap kali ingat kata-kata kalian kalau tawa dan senyumku hanya mengingatkan kalian pada kematian kakak? Kenapa kalian tidak bunuh aku saja saat kakak meninggal dunia! Aku benci Papa!".
Zara meluapkan semua isi hati dan kekesalannya pada sang ayah, lalu dia berlari keluar rumah dengan derai air mata dipipinya tanpa menghiraukan sang ayah yang terdiam tanpa kata mendengar setiap kata-kata yang Zara ucapkan.
Saat itu Lathan dan Fandy baru tiba dirumahnya dan melihat Zara berlari kearahnya.
"Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?" Lathan yang baru turun dari mobil langsung bergegas menghampiri sang kekasih.
"Aku benci disini. Bawa aku pergi darisini. Bawa aku … Kumohon … Bawa aku pergi jauh darisini … aku tidak mau berada disini". Zara memohon pada Lathan dengan kepala tertunduk disertai derai air mata yang tak henti mengalir.
Lathan menatap Fandy bingung sebelum menanggapi Zara.
"Baiklah, kita pergi darisini. Fan, kamu masuk saja kedalam dan bicara dengan ayah Zara. Aku akan membawanya pergi untuk menenangkan diri"
Akhirnya Lathan membawa Zara meninggalkan kediaman orang tuanya sedangkan Fandy masuk kedalam rumah untuk bertemu dengan ayah Zara. Dia menoleh kesana kemari mencari keberadaan sang paman.
Disalah satu ruangan yang tidak terlalu terang, pamannya duduk disalah satu sofa dengan tatapan yang terlihat kosong
"Om" Fandy mendekati sang paman yang sedang termenung dan duduk didekatnya.
"Om tidak pernah berpikir jauh tentang Zara. Selama ini Om tidak pernah sanggup menatapnya karena dia sangat mirip dengan kakaknya. Setiap kali Om melihatnya, Om akan mengingat mendiang kakaknya yang berada diambang kematian karena Om. Om sama sekali tidak pernah menyalahkan Zara atau apapun, tapi … Om tidak sadar kalau Om sudah terlalu lama mengabaikan Zara. Om menghindarinya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Zara".
Pak Zein bicara sambil menitikan air mata. Dia menyadari sikap yang selama ini dia ambil karena kehilangan salah satu putrinya ternyata menyakiti putrinya yang masih hidup dan selalu berada disisinya.
__ADS_1
"Om, aku tahu kesedihan Om karena kehilangan kak Julia, tapi apa Om tahu selama ini Zara selalu memendam kesedihannya sendiri? Dia selalu bilang padaku kalau Om dan tante pasti akan kembali sayang padanya jika dia pintar dan dapat diandalkan seperti kak Julia. Zara selalu mengikuti semua les yang disediakan meskipun dia kelelahan dan sakit"
Air mata pak Zein semakin mengalir deras mendengar ucapan Fandy tentang Zara.
"Fandy, apa kamu tahu kalau Zara selalu mengikuti les?" tanya pak Zein mengingat ucapan Zara.
"Apa Om pernah masuk kekamar Zara?" tanya Fandy dengan sikap yang tenang.
"Tidak. Om sudah lama tidak masuk kamar Zara. Om tidak tahu bagaimana kamarnya sekarang". Pak Zein menanggapi sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Apa Om mau melihat kamar Zara?". Fandy bertanya dengan senyum tipis dibibirnya. Dia tahu betul bagaimana kamar Zara karena dulu selalu menginap dirumah Zara setiap kali liburan sekolah.
Sesaat pak Zein terdiam mempertimbangkan ajakan Fandy.
"Baiklah. Ayo". Pak Zein dan Fandy langsung beranjak dari tempat duduknya menuju kamar Zara.
Pak Zein melangkahkan kaki menuju lantai dua sambil menatap sekeliling lantai dua. Dia tidak pernah memperhatikan sekitar kamar Zara
Cklek
Pak Zein langsung masuk kekamar Zara dan menyalakan lampu. Dia menoleh ke sekeliling memperhatikan kamar Zara. Air matanya kembali menetes melihat banyaknya piala dikamar Zara.
"Ini …"
"Zara selalu mengikuti perlombaan disekolah. Dia selalu ingin menunjukkan semua piala ini pada Om dan tante, tapi kalian selalu sibuk dan tidak pernah memiliki waktu untuk Zara". Fandy mendekati lemari penuh piala itu dan mengambil salah satu piala darisana
__ADS_1
"Apa Om tahu, saat Zara memenangkan piala ini dia mengalami cedera ditangannya? Ini adalah piala dari pertandingan taekwondo antar SMP" sambung Fandy sambil memberikan piala itu pada pak Zein.
"Ini … aku melakukan banyak kesalahan. Rasa bersalahku atas kematian Julia justru menyakiti Zara. Zara … Papa bersalah padamu. Papa telah mengabaikanmu terlalu lama. Papa memang ayah yang terburuk"