
Transfusi darah Lathan telah dilakukan, kini dia telah dipindahkan keruang rawat namun sampai saat ini dia masih belum sadarkan diri. Radit dann Andra terus menunggu disamping Lathan.
"Sayang, apa kamu tidak lelah? Bagaimana jika kamu istirahat saja?" Radit bicara dengan sangat lembut pada Andra yang duduk disofa.
"Tidak, aku ingin disini dan menunggu sampai Lathan bangun" ujar Andra dengan raut wajah yang terlihat lelah.
"Tapi kamu sepertinya kelelahan. Kamu ingatkan kalau kamu sedang mengandung? Jika kamu terlalu lelah, maka kasihan calon bayi kita" Radit berusaha membujuk Andra agar dia mau pulang dan beristirahat.
"Tapi, Kak. Aku ingin menemani sampai Lathan sembuh" Andra bicara dengan raut wajah sedikit kecewa.
"Begini saja. Kamu bisa pulang sebentar dan istirahat, setelah itu kamu bisa kembali lagi kemari" Radit masih terus berusaha meyakinkan Andra agar bersedia pulang dan beristirahat. Sesaat Andra terdiam dan mempertimbangkan ucapan Radit.
"Baiklah, aku akan pulang sebentar, tapi setelah itu aku akan kembali kemari" Andra bersikeras kalau dia akan kembali.
"Ya, kamu bisa kembali lagi kemari setelah beristirahat" Radit bicara dengan seyum tipis dibibirnya. Mereka pun
beranjak pergi meninggalkan rumah sakit.
"Suster, tolong titip anak saya sebentar. Saya akan segera kembali" Radit yang masih khawatir pada Lathan, menitipkannya pada suster.
"Baik, Pak. Anda tenang saja"
"Terimkasih".
"Ayo, sayang". Setelah merasa tenang karena ada yang menjaga Lathan, Radit pun menggandeng Andra untuk mengantarkannya samai ke mobil.
Kedua orang suster pun berjalan masuk ke kamar Lathan untuk menjaganya.
"Apa kamu tahu siapa orang yang barusaja pergi itu?"
"Maksudmu orang tua dari anak ini?"
"Iya"
"Tentu saja aku tahu. Itu kan pak Radit, putranya pak Leo dan bu Vio. Dan yang bersamanya itu ... apakah itu istrinya?"
"Ya, itu istrinya dan ini anaknya, tapi apa kamu tahu kalau sepertinya ... anak ini bukan anak kandungnya?".
"Apa? Benarkah?". Kedua suster itu terus bicara saat berada didekat Lathan yang masih tidak sadarkan diri. Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Lathan sudah sadar dan mendengarkan apa yang mereka katakan.
"Benar, saat anak itu membutuhkan darah untuk transfusi ... golongan darahnya sama sekali tidak cocok dengan pak Radit, kami harus meminta pasokan darah dari bank darah untuk anak ini"
__ADS_1
"Mungkin golongan darah anak ini sama dengan ibunya".
Lathan yang masih memejamkan mata, perlahan menitikan air mata mendengar percakapan yang dilakukan kedua suster itu. Tangannya mengepal, dia berusaha untuk tidak peduli, namun tetap saja air matanya keluar. Lathan pun membuka matanya. Dia diam sambil memandang langit-langit rumah sakit.
Apa aku ini benar-benar bukan anak papi? Lalu siapa orang tuaku? Atau mungkin memang darahku yang justru sama dengan darah ibuku ketimbang dengan papi?.
"Lahan? Kamu sudah bangun?" Radit yang baru saja kembali, melihat Lathan yang telah membuka mata. Dia pun berlari mendekati putranya.
Lathan menatap Radit yang baru tiba dengan mata berlinang. Dia pun bangun dan memeluk Radit dengan erat
"Papi ...". Lathan memanggil Radit dengan suara yang sangat kecil, bahkan hampir tidak terdengar. Mungkin karena lehernya masih terasa sakit.
"Papi senang akhirnya kamu sudah sadar. Apa kamu tahu kalau Papi sangat takut saat melihatmu berlumuran darah? Lathan, tolong maafkan Papi karena tidak bisa melindungimu" ujar Radit dengan derai air mata yang tak henti mengalir dari kedua pipinya.
Lathan mendengarkan dengan hati pilu. Diapun melerai pelukan Radit lalu menatap wajahnya.
"Papi, aku tidak papa. Papi lihat kan kalau aku anak yang kuat? Aku baik-baik saja, Pih" ujar Lathan dengan senyum ketir dan suara yang dipaksakan .
"Iya, Papi tahu kalau jagoan Papi memang kuat" ujar Radit sambil menganggukkan kepala
"Papi, boleh aku tanya sesuatu? Tapi aku ingin Papi menjawabnya dengan jujur". Radit mengernyitkan dahi mendengar perkataan Lathan
"Papi, ehm ... apa ... aku ... bukan anak Papi?" Lathan bertanya dengan ragu-ragu dan suara yang terbata-bata. Radit yang sebelumnya bersikap tenang dengan senyum diwajahnya langsung berubah muram dan sangat terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Lathan.
"Ehm ... kamu baru saja sadar kan, sayang? Akan lebih baik kalau kamu istirahat lagi supaya kamu cepat sembuh dan suaramu kembali seperti semula" Radit mengalihkan pembicaraan dengan menyuruh Lathan untuk istirahat.
"Tapi, Pih. Bukannya Papi bilang akan menjawab pertanyaanku?" ujar Lathan dengan raut wajah sedih dan kecewa.
"Tidak perlu memikirkan hal yang tidak-tidak. Kamu itu anak Papi, tidak akan ada yang bisa merubahnya. Memangnya siapa yang bilang kalau kamu bukan anak Papi?". Radit menanggapi dengan sikap yang tenang
dan lembut.
Lathan tidak menanggapi lagi ucapan Radit. Dia terlihat sangat tidak puas dengan apa yang dikatakan Radit dan langsung berbaring lagi di tempat tidurnya. dan memejamkan mata membelaangi Radit. Radit mengertii dengan apa yang dipikirkan Lathan, namun dia tidak ingin membuat Lathan tambah kecewa atau sedih.
Lathan, Papi tahu apa yang kamu khawatirkan, tapi Papi rasa ini belum saatnya untuk kamu mengetahu tentang kebenaran yang ada. Suatu hari nanti, pasti Papi akan menceritakan semuanya padamu. Papi Janji.
Radit terus memandang wajah Lathan dengan batin menangis setelah mendengar apa yang dikatakan putranya itu
Tapi darimana Lathan mengetahui hal ini? Apa ada yang dengan sengaja mengatakan omong kosong seperti ini padanya? Saat kondisinya bahkan masih belum stabil? Siapa orang kurang ajar itu?
Radit kembali bingung dengan apa yang terjadi. Dia terus menatap wajah Lathan yang terlihat memejamkan mata.
__ADS_1
Lupakan hal ini untuk sekarang. Pertama-tama yang harus aku urus adalah Surya. Aku harus membuat perhitungan dengannya. Candra bilang kalau dia ada dirumah sakit ini, maka ini adalah kesematan yang bagus untukku.
Radit langsung beranjak pergi dan kembali meninggalkan Lathan sendiri untuk pergi ke kamar rawat Surya. Saat Radit beranjak pergi Lathan membuka matanya dan menatap punggung Radit yang semakin menjauh.
Papi, apa iya aku bukan anak Papi? Kalau itu benar, siapa orang tuaku dan ... dimana mereka? Bagaimana aku bisa tinggal bersama Papi? Apa yang harus aku lakukan jika memang aku bukan anak Papi?
Lathan terus bicara dalam hati dengan air mata yang juga ikut mengalir dari wajahnya yang lucu dan tampan.
Jika papi tidak ingin memberitahuku, maka aku sendiri yang akan mencari tahu kebenarannya. Aku harus tahu siapa orang tua kandungku. Pertama-tama ... aku harus memastikan dulu apa aku ini benar anak papi atau
bukan dan yang aku tahu untuk mengetahui hal seperti itu ... aku harus melakukan tes DNA. Ya, aku harus melakukan itu. Tapi bagaimana caranya ya?
Saat Lathan sedang kebingungan, suster masuk keruangannya untuk memeriksa bagaimana kondisi Lathan saar ini.
"Bagaimana keadaanmu, kecil? Apa ada sesuatu yang tidak nyaman?" suster menyapa dengan senyum lembut dan ramah.
"Jika kamu masih sakit saat bicara, kamu bisa menulis apapun yang ingin kamu katakan. Jangan memaksakan diri untuk bicara. Itu tidak akan bagus untuk tenggorokanmu?" sambung suster dengan senyumnya yang lembut.
Lathan menganggukkan kepala menanggapi ucapan suster, kemudian dia menulis sesuatu di kertas yang diberikan suster.
"Sus, apa aku boleh tanya sesuatu?" tulis Lathan dan langsung ditunjukkan pada suster itu
"Tanya apa? Kamu bisa tanyakan apa saja. Suster pasti jawab jika suster tahu jawabannya" ujar suster menanggapi setelah dia membaca tulisan Lathan.
"Bagaimana cara seseorang tahu kalau dia anak kandung atau bukan?" tulis Lathan lagi diatas kertasnya
"Satu-satunya cara untuk melakukan itu adalah tes DNA, dengan begitu bisa dilihat hasil dari kecocokan DNA masing-masing. Kenapa kamu tanyakan hal itu, sayang?" suster menjawab dengan tenang karena dia memang tidak menangani Lathan sebelumnya jadi dia tidak tahu apa yang terjadi.
"Bagaimana cara melakukan tes DNA? Aku hanya ingin tahu saja" tulis Lathan lagi pada suster
"Untuk melakukan tes DNA bisa menggunakan sesuatu milik orang yang akan dilakukan tes. Misalnya rambut, darah, atau sesuatu yang pernah digunakan orang itu, sendok bekas makan atau mungkin sikap gigi. Pokonya
sesuatu seperti itu. Lalu berikan pada petugas rumah sakit dan untuk dilakukan tes".
"Terimakasih, suster" tulis Lathan mengakhiri percakapan mereka.
"Sama-sama, sayang"
Lathan pun mulai mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakan suster padanya
"Jadi seperti itu? Aku harus bisa mendapatkan rambut papi" pikir Lathan dengan penuh tekad.
__ADS_1