
"Kalian berdua harus bantu Papi menyelidiki masalah ini. Papi yakin kalau pembunuhan ini memang sengaja dilakukan dihotel kita".
Radit langsung bicara pada Lathan dan Ardhan tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Tunggu! Bagaimana bisa mereka berdua membantu kita?" tanya Candra dengan raut wajah tidak percaya.
"Kamu selalu menjaga Lathan sejak dia kecil, apa kamu masih tidak tahu kemampuannya?" ujar Radit dengan senyum tipisnya.
"Aku tahu Lathan, tapi kalau Ardhan … dia kan masih kecil". Candra membela diri dan tetap bingung dengan alasan Radit memanggil Ardhan juga.
"Om, aku bukan anak kecil. Aku ini sudah SMP!". Ardhan menanggapi Candra dengan sikap yang sinis karena kesal.
"Tetap saja bagiku kamu itu hanya anak kecil" ujar Candra menanggapi.
"Sudah. Hentikan. Ardhan, bisakah kamu meretas semua kamera CCTV dihotel dan sekitar sini? Bila perlu, kamu juga bisa meretas kemera CCTV yang terpasang pada mobil yang terparkir disekitar hotel"
Lathan sangat terkejut mendengar perintah Radit pada Ardhan, apalagi Candra.
"Tapi Pih, sejak kapan Ardhan bisa melakukan itu?" tanya Lathan dengan wajah penasaran.
"Iya, memangnya Ardhan bisa melakukan hal besar seperti itu?". Candra pun ikut bertanya karena penasaran.
"Ardhan sudah bisa melakukannya. Belum lama ini dia memenangkan kontes hacker. Dan dia juga yang mengacaukan 3 perusahaan sekaligus". Radit menjelaskan dengan senyum bangga dibibirnya.
"Jadi itu kamu? Tapi kenapa hanya kamu buat kacau saja? Kenapa tidak kamu hilangkan saja perusahaan itu sekaligus?". Lathan bertanya dengan nada bicara yang tidak puas dengan tindakan sang adik.
"Aku hanya ingin bermain saja. Toh, aku sudah membuat anak mereka malu disekolah. Perusahaan itu tidak ada hubungannya denganku. Cukup mereka tahu saja kalau diatas langit masih ada langit lagi. Tapi sayangnya perusahaan itu tetap saja hancur". Ardhan bicara dengan sikap acuh tak acuh sambil mengangkat kedua bahunya karena kecewa.
"Tidak perlu memberikan peringatan, langsung saja beri mereka hukuman. Itu adalah hadiah yang cocok karena bertindak seenaknya" ujar Lathan dengan sikap yang sinis.
"Apa maksud kakak? Jangan bilang kalau Kak Lathan yang membuat ketiga perusahaan itu bangkrut?" Ardhan bertanya setelah dia mengingat kalau perusahaan Bobi dan teman-temannya hancur dihari yang sama.
__ADS_1
"Mereka memang pantas mendapatkannya karena berani membuat wajahmu terluka, bahkan kita sampai harus berbohong pada mami karena luka memar diwajahmu itu" Lathan bicara dengan sikap yang sombong tanpa merasa bersalah sama sekali.
"Dit, percakapan kedua anakmu ini memang tidak biasa. Disaat anak seumuran mereka bermain dengan bola basket atau apapun itu, mereka berdua malah bermain-main dengan perusahaan orang lain. Bahkan jenis balas dendam mereka bukan seperti kenakalan anak pada umumnya yang hanya memecahkan kaca rumah atau perusahaan, mereka menghilangkan perusahaan itu. Benar-benar diluar perkiraan orang biasa. Jika aku baru mengenalmu mungkin akan sangat terkejut. Berhubung aku sudah lama mengenal keluargamu, jadi itu bukan hal biasa lagi bagiku. Tapi tetap saja aku selalu takjub dengan IQ dari keluarga kalian yang diatas rata-rata, meskipun EQ kalian selalu dibawah rata-rata".
Candra bicara dengan sikap yang tenang sambil menggelengkan kepala berkali-kali disertai senyum tipis dibibirnya.
Radit memandangnya dengan tatapan sinis
"Sebenarnya kamu itu ingin memuji atau mengejek sih?" ujar Radit menanggapi ucapan Candra.
"Kenapa? Aku hanya mengatakan kebenarannya saja" Candra menanggapi dengan sikap acuh tak acuh
"Sudahlah. Ardhan lakukan apa yang Papi katakan dan untuk Lathan, kamu bisa periksa hotel atau perusahaan disekitar sini yang melakukan pergerakan yang mencurigakan. Meskipun kita tidak tahu kasus pembunuhan yang terjadi dihotel kita ini terdapat unsur kesengajaan atau tidak, tapi kita tetap harus waspada sebelum semuanya terlambat"
"Baik Pih"
"Baik, Pih"
"Papi yakin kalau kita akan menemukan sesuatu yang menarik nantinya. Lagipula ada yang sedang kesulitan menemukan bukti, kenapa kita tidak bantu sedikit sekaligus membuktikan kemampuan kita?" ujar Radit dengan seringai tipis dibibirnya.
Lathan dan Ardhan saling menatap satu sama lain mendengar ucapan sang ayah.
"Maksud Papi … ada yang meragukan kemampuan kita?" tanya Lathan memastikan.
"Ya. Polisi yang menyelidiki kasus ini tidak percaya kalau kalian bisa memecahkan kasus ini". Radit bicara dengan ekspresi wajah yang dingin.
"Papi tenang saja. Kita akan buktikan kalau kita bisa lebih cepat dari mereka"
"Ya, Papi tidak perlu khawatir. Serahkan ini pada kami berdua"
Akhirnya Lathan dan Ardhan mulai membuka laptop mereka masing-masing dan memainkan jari tangan mereka dengan lincah diatas papan keyboard.
__ADS_1
"Apa kita hanya akan jadi penonton?" tanya Candra pada Radit yang terus menatap kedua putranya.
"Kita lihat sejauh mana kemampuan mereka berdua, dan kamu harus pantau para polisi itu. Sejauh mana kemajuan yang mereka dapatkan. Jangan sampai ada yang terlewat"
"Baik, aku mengerti" Candra pun beranjak pergi dari ruangan Radit untuk mengecek kondisi hotel dan pemeriksaan yang dilakukan polisi disana.
...****************...
Ditempat lain.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya seorang gadis pada asistennya.
"Polisi masih melakukan penyelidikan, jika dalam seminggu mereka tidak mendapatkan apa-apa, maka kasus ini bisa ditutup begitu saja. Kita bisa menggunakan itu sebagai senjata untuk menahan orang-orang menginap dihotel pak Radit" ujar sang asisten menjelaskan situasinya.
"Bagus dengan begitu hotel itu akan tutup dan kita bisa membuat mereka menderita". Gadis itu tersenyum menyeringai membayangkan apa yang akan terjadi pada Radit.
"Tapi bu, pak Radit masih memiliki usaha lain. Dia mengelola perusahaan Nugraha milik sang ayah dan perusahaan itu merupakan salah satu perusahaan besar juga di negara ini". Sang asisten mengingatkan atasannya mengenai perusahaan yang Radit kelola.
"Ya, aku tahu itu. Tapi tak lama lagi dia juga akan kehilangan perusahaan itu karena aku juga akan membuatnya hancur seperti aku menghancurkan hotel miliknya. Dia tidak pantas bahagia diatas penderitaan teman baikku"
"Maaf saya lancang, tapi kenapa anda sangat membenci pak Radit dan istrinya?". Sang asisten memberanikan diri bertanya meskipun dengan ragu-ragu.
"Andra, dia telah merusak kebahagiaan temanku semenjak memasuki rumah keluarga Satya. Dia juga membuat hidup Lulu hancur dengan mempermalukannya. Tak hanya itu, bahkan dia dan suaminya membuat Luna kehilangan perusahaan dan semua aset keluarga hingga mereka harus hidup terlunta-lunta dijalanan".
Wanita itu menjelaskan dengan tangan mengepal erat dan sorot mata penuh kebencian.
"Bagaimana anda bisa tahu itu padahal anda baru saja kembali dari luar negeri?" tanya sang asisten lagi dengan sikap tenang.
"Aku meminta seorang detektif melacak keberadaan keluarga itu karena saat aku mengunjungi rumah mereka, aku tidak menemukan keberadaan mereka. Katanya sudah lama keluarga itu bangkrut dan entah tinggal dimana. Aku juga mendapatkan kabar mengenai apa saja yang telah dialami oleh oleh Luna dan Lulu. Mendengarnya membuatku marah, aku bersumpah akan membalaskan sakit hati dan juga rasa malu yang telah dialami oleh mereka. Karena itu kamu harus membantuku menghancurkan Andra dan Radit sehancur-hancurnya. Aku ingin membuat mereka merasakan hidup jadi gelandangan"
"Saya akan melakukan apa yang anda katakan karena anda adalah atasan saya" asistennya itu menunduk sopan menyetujui keinginan sang atasan.
__ADS_1
"Bagus. Kamu memang asisten yang kompeten"