Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Bermain Ditaman


__ADS_3

Lathan dan Ardhan akhirnya membawa Lili bermain ke taman umum karena Lili tidak ingin bermain ditaman sekitar rumah mereka. Disana ada lebih banyak orang yang datang karena letaknya berada ditengah kota.


"Lili, kenapa Lili ingin main kesini? Disini ada lebih banyak orang jadi Lili tidak bisa bermain sepuas hati Lili". Lathan bicara dengan lembut pada sang adik yang tenga memperhatikan sekeliling taman.


"Lili tuka ditini kalena banak olang datang ketini, sedangkan ditana Lili tidak bita beltemu banak olang tepelti ini". Lili menanggapi dengan nada bicaranya yang tidak fasih namun dari senyumnya terlihat kalau dia sangat senang melihat banyak orang yang datang.


"Ya sudah. Sekarang apa yang ingin Lili lakukan disini?" tanya Ardhan yang juga ikut menemani Lili.


"Tata, bagaimana talau tita main gelembung? Lihat, sepelti olang-olang itu". Lili menunjuk pada penjual balon gelembung yang sedang meniupkan alat gelembungnya keudara.


"Ya sudah. Ayo kita main! Dhan, belikan gelembungnya. Kami akan menunggumu disana" ujar Lathan sambil menunjuk pada salah satu kursi yang ada dibawah pohon yang rindang.


"Aku? Kenapa harus aku? Kakak saja yang beli, biar aku yang menunggu disini bersama Lili" Ardhan menunjuk pada diri sendiri dengan dahi yang berkerut heran.


"Kakak yang akan bermain dengan Lili. Kamu tinggal belikan dulu gelembungnya. Ya, ya" ujar Lathan dengan senyum yang manis dan kedua alis yang diangkat bersamaan selama berkali-kali.


"Haa … Kakak menyebalkan. Dasar pemalas!" Ardhan mengeluh kesal sambil berlalu meninggalkan Lathan dan Lili sambil menggerutu.


"Lihatlah Kakak keduamu itu. Dia sama persis seperti mami yang suka menggerutu". Lathan membicarakan Ardhan pada Lili. Mereka pun tertawa bersama sambil memandangi punggung Ardhan.


Ardhan membeli mainan gelembung itu sendiri. Banyak orang lain yang memainkan gelembung bersama pasangan ataupun anak mereka. Karena Ardhan membelinya sendiri, semua orang menatap Ardhan dengan tatapan yang aneh. Ardhan yang merasa tak nyaman pun menoleh kesana kemari karena merasakan tatapan mereka.


"Haaa … aku jadi terlihat aneh karena membeli ini sendiri" gumam Ardhan sambil menghela napas panjang dengan mainan gelembung ditangannya. Dia berjalan dengan langkah kaki yang cepat agar bisa segera sampai pada Lathan dan juga Lili.


"Lili, ini mainan gelembungnya" ujar Ardhan sambil menyodorkan mainan itu pada Lili


"Yeaayyy … terimakasih, Kak Aldhan" ujar Lili saat menerima mainan itu dengan riang.


"Ta Lathan ayo maon!" Lili langsung bermain dengan Lathan. Dia melayangkan mainan itu dan angin membuat banyak gelembung beterbangan.


"Waah Ta Lathan, banyak gelembungnya. Meleka telbang tinggi teltiup angin" teriak Lili yang tertawa riang melihat gelembung yang beterbangan.


"Apa kamu sangat menyukainya?" tanya Lathan yang tersenyum bahagia melihat Lili.


"Iya, Lili tuka. Telimakasih".

__ADS_1


Tanpa Lathan dan Lili sadari ada yang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Fan, apa Lathan itu memang orang yang lembut dan ceria?" tanya Zara yang sedang menghabiskan waktu dengan Fandy.


"Ya, dia adalah orang yang baik, tapi hanya pada teman dan keluarganya saja. Kenapa kamu membicarakan tentang Lathan?". Fandy menanggapi dengan sikap acuh tak acuh, kemudian dia menatap Zara dengan raut wajah penasaran.


"Tidak ada apa-apa. Hanya bertanya saja". Zara pun menanggapi dengan acuh tak acuh dan pandangannya terus mengarah pada Lathan. Fandy hanya mengangkat kedua bahu dengan bibir yang juga diangkat menanggapi ucapan Zara.


"Apa kamu sudah menghubungi orang tuamu? Rasanya selama disini, kamu sangat jarang menghubungi mereka". Fandy mengalihkan pembicaraan mereka pada Zara.


"Mereka sibuk, jadi tidak perlu terlalu sering memberi kabar. Mereka akan marah jika aku terlalu sering menghubungi mereka". Zara bicara dengan senyum ketir dibibirnya. Pandangan matanya tak lepas dari Lathan yang sedang bermain bersama Lili.


"Kamu harus lebih sering berkomunikasi dengan mereka. Selain itu … aku rindu pada Zara yang selalu tersenyum ceria dan ramah seperti dulu".


Zara menatap Fandy yang bicara padanya dengan senyum yang lembut dan hangat.


"Apa kamu sudah lupa kalau Zara yang ramah dan ceria itu sudah mati saat kejadian waktu itu? Sekarang hanya ada Zara yang rusak dan kaku saja".


"Ra, bisakah kita tidak membahas itu lagi? Sifat seseorang itu tidak bisa dirubah. Kamu sama sekali tidak salah karena memiliki sifat ceria dan ramah. Jadi bisakah kamu berhenti menyalahkan diri sendiri? Kamu harus tahu kalau kamu berhak untuk hidup bahagia" Fandy terlihat kesal pada Zara, namun dia berusaha untuk bicara baik-baik dan tidak membuat Zara cemas.


Fandy terdiam menatap Zara yang kini terlihat seperti akan menangis.


"Ra, bagaimana kalau kita temui psikiater lagi? Kamu hanya perlu konsultasi rutin untuk bisa mendapatkan kembali ketenangan hidupmu", ujar Fandy dengan penuh kekhawatiran.


"Tidak. Aku tidak ingin melakukan hal itu lagi. Aku hanya ingin hidup normal seperti orang lain. Jika pergi ke psikiater, aku merasa seperti orang tidak normal" ujar Zara menanggapi Fandy sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


"Siapa bilang itu tidak normal? Justru itu bisa membuatmu lebih normal karena bisa berinteraksi dengan banyak orang tanpa ada rasa khawatir ataupun takut". Fandy masih terus berusaha membujuk Zara agar dia menuruti perkataannya.


"Apa yang kalian lakukan disini?".


Zara dan Fandy merasa terkejut mendengar seseorang bicara tepat didepan mereka. Mereka berdua pun langsung menoleh secara bersamaan. Mereka mendongakan kepala untuk mengetahui wajah orang yang menyapa mereka.


"Kami hanya sedang berbincang saja. Kamu sendiri, apa yang kamu lakukan disini?". Fandy menanggapi Lathan dengan raut wajah bingung, lalu dia menatap seorang anak kecil yang berada disamping Lathan.


"Halo, Lili cantik. Bagaimana kabarmu? Apa kamu baik-baik saja?". Sambung Fandy yang kini menyapa Lili sambil melambaikan tangan disertai senyum yang ramah.

__ADS_1


"Halo Tata Fandy. Lili baik-baik taja. Tata tendili bagaimana kabalnya?". Lili pun melambaikan tangannya pada Fandy menanggapi pertanyaannya disertai senyum ceria yang terukir manis dibibir Lili.


"Seperti yang kamu lihat. Kakak baik-baik saja" Fandy pun menanggapi Lili dengan lembut dan hendak mengusap kepala sigadis kecil itu, namun Lathan langsung memegang tangannya.


"Apa? Kamu tidak mengizinkanku memegang kepala Lili?" Fandy bertanya pada Lathan dengan raut wajah kesal.


"Tidak. Tanganmu itu kotor. Nanti bisa ada kutu dikepala Lili" ujar Lathan dengan sikap yang dingin.


"Kamu itu ya. Kita ini berteman, tapi kamu selalu saja bersikap seperti itu. Menyebalkan!".


Fandy menggerutu kesal pada apa yang dilakukan Lathan padanya.


"Apa yang kalian berdua lakukan disini? Kamu pasti menghasut pacarku agar dia bersikap buruk padaku kan?".


Lathan menatap Fandy dan Zara bergantian sambil menunggu penjelasan darinya.


"A-apa maksudmu? Se-sejak kapan kita pacaran?". Zara langsung menyangkal meskipun dengan sikap yang canggung sampai dia bicara dengan terbata-bata.


"Pacal?".


Tidak hanya Lili yang terkejut, bahkan Ardhan yang berada tidak jauh dibelakang Lathan sangat terkejut dan penasaran hingga dia langsung berlari mendekati Lathan.


"Apa?! Pacar?! Kakak tidak memberitahuku sebelumnya. Sejak kapan Kakak mulai pacaran?" Ardhan bertanya dengan panik dan terburu-buru.


"Iya, sejak kapan aku jadi pacarmu? Aku tidak pernah setuju dengan ucapanmu" Zara pun kembali membantah dengan sikap yang canggung.


"Bukannya kita sudah sepakat sebelumnya, My lady? Jadi kamu tidak bisa mundur atau meninggalkanku seenaknya. Mengerti, sayangku?" Lathan bicara dengan nada yang dingin dan senyum manis dibibirnya.


"Ayo kita pulang, Lili, Ardhan. Mami pasti akan segera pulang. Sampai jumpa, Sayang. Jaga baik-baik pacarku ya Fan" ujar Lathan yang hendak berlalu. Dia menepuk pundak Fandy saat bicara padanya


"Tidak perlu khawatir. Dia akan aman bersamaku", ujar Fandy yang kini berusaha keras menahan senyum melihat sikap Zara yang kebingungan.


"Sabar ya Ra, mulai sekarang … dia akan lebih menempel padamu". Fandy bicara pada Zara sambil menepuk pundaknya dan beranjak pergi dari taman.


"Apa maksudmu? Jangan membuatku takut. Aku dan pria kurang ajar itu tidak memiliki hubungan apapun. Jadi kamu jangan bicara sembarangan!". Zara memukul punggung Fandy sambil terus menggerutu selama perjalanan mereka, namun Fandy hanya tersenyum menanggapi Zara

__ADS_1


__ADS_2