Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Senjata Makan Tuan


__ADS_3

Satu jam sebelum Andra masuk keruang pesta.


"Sebentar lagi aku dan Lathan akan tiba dihotel. Ingat untuk tidak makan atau minum sesuatu yang ditawarkan Luna padamu! Jika perlu jangan makan apapun disana. Kalau memang ada kesempatan, kamu harus menukar gelas atau makanan milikmu dengannya. Tidak mungkin kalau dia tidak memasukkan sesuatu dalam minuman atau makananmu" Radit sedang menghubungi Andra untuk memperingatkannya atas semua kemungkinan yang ada di acara nanti


"Baik, aku mengerti. Tapi kak, bagaimana jika memang dia memiiki rencana lain dan aku terjebak ke dalamnya? Apa yang akan kak Radit lakukan? Apa kak Radit akan percaya padaku?" Andra memicingkan mata bertanya pada Radit yang sedang tersenyum dari ujung telepon


"Tentu aku akan percaya. Aku pasti akan tahu kalau kamu menutupi sesuatu dariku, dan kamu bisa menerima hukuman dariku kalau kamu memang berbohong" Jawab Radit dengan nada yang menggoda


"Hentikan, aku tidak pernah berbohong. Kalau begitu aku akan masuk ke ruang pesta. Sampai bertemu nanti" Andra menutup panggilan teleponnya tanpa menunggu jawaban dari Radit


"Kenapa papi senyum-senyum sendiri? Papi sudah gila ya?" Lathan bertanya dengan polosnya pada sang ayah setelah menutup telepon, karena dulu Radit sangat dingin


"Lathan, menurutmu ... bagaimana mami?" Radit cukup penasaran pada penilaian putranya mengenai Andra. Dia ingin tahu pendapat darinya.


"Mami baik. Aku suka mami" Lathan menjawab dengan senyum ceria


***


Sementara itu ditempat pesta


"Selamat sore semuanya. Maaf saya terlambat" Andra masuk ke tempat pesta bersama Rian dibelakangnya


"Bu Andra, akhirnya datang juga" Andra hanya tersenyum menanggapi orang yang menyapanya


"Terimakasih" Kata Andra setelah diberikan jus oleh pelayan yang diminta Luna, namun sesaat dia terdiam menatap gelas yang ada ditangannya.


"Bagaimana cara menukarnya ya?" Andra terus berpikir sambil memperhatikan Luna yang duduk di sebelahnya. Dan sangat kebetulan sekali jus miliknya sama dengan milik Luna, disaat Luna tengah berbincang dengan rekan lainnya hingga membalikkan badan membelakangi gelasnya, Andra menukar gelasnya secara perlahan


"Semuanya, kita bersulang untuk bergabungnya bu Andra dengan perusahaan kita"


Cheers


Semua mulai bersulang dan saling membenturkan gelas mereka


"Terimakasih untuk penyambutannya. Aku senang karena kalian menerimaku dengan baik. Kuharap kedepannya kita semua bisa bekerja sama dengan baik juga untuk kemajuan perusahaan kita ini" Ujar Andra sambil mengangkat gelas jus yang diberikan padanya


Andra melirik Luna yang terus menatapnya saat dia tengah minum. Dan dari balik gelas miliknnya, dia tersenyum tipis.


"Minum Andra, habiskan semua jusnya" Pikir Luna dengan senyum licik dibibirnya dan saat itu dia mengirim pesan pada Radit

__ADS_1


*Apa anda tahu kalau saat ini istri anda tengah berpesta. Aku baru tahu kalau dia itu sangat mudah memikat hati laki-laki. Baru saja berkenalan tapi sudah sangat akrab bahkan sampai pergi kekamar hotel*


Tulis Luna dalam pesan singkatnya


***


Setibanya dihotel, Radit pergi ke kamar yang disiapkan untuknya dan membiarkan Lathan menunggu disana


"Lathan, kamu tunggu dulu disini ya. Papi ada urusan sebentar. Nanti mami akan kemari menemanimu" Radit bicara pada Lathan dengan nada yang lembut dan penuh kasih sayang


"Baik pih. Aku akan tunggu kalian disini" Jawab Lathan dengan nada yang menggemaskan


"Baiklah. Papi pergi dulu. Kunci pintunya dari dalam. Jangan biarkan orang asing masuk sembarangan"


"Baik papi"


Radit pun beranjak pergi meninggalkan kamarnya dan menuju kamar lain yang sebelumnya dikatakan oleh Luna. Tapi sebelumya dia menghubungi Andra terlebih dahulu


Tuut tuut tuut


"Halo suamiku" Andra menyapa Radit dengan nada yang manja dan menggoda


"Lubang buaya? Tentu saja. Aku dan Rian sudah keluar dari kamar Luna dan saat kami mengecek CCTV, ada seorang pemuda yang masuk kesana" Andra menjelaskan dengan tenang dan senyum mengembang diwajahnya


"Kalau begitu sekarang giliran aku yang datang ke kamarnya. Kamu langsung ke kamar saja. Lathan sudah menunggumu disana" Pinta Radit sebelum mengakhiri panggilan teleponnya


"Oke.. Aku akan menemui putraku yang tampan. Sampai jumpa" Andra langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Radit lagi


"Kita mulai pertunjukannya. Gadis bodoh. Mana ada orang yang mau percaya dengan apa yang dia katakan? Aku tahu bagaimana hubungannya dengan sitriku, sekarang dia mengatakan kalau istriku dengan pria lain. Apa menurutnya aku ini bodoh dan mudah tertipu begitu saja?" Radit tersenyum mencibir Luna yang menggunakan trik murahan untuk menghancurkan hubungannya dengan Andra


Radit berjalan dengan gagahnya menuju kamar Luna. Dia juga meminta beberapa orang untuk ikut bersama dengannya sebagai saksi.


"Ini kamarnya. Katanya, istriku berada dikamar ini bersama laki-laki lain. Aku ingin kalian masuk bersama denganku dan menjadi saksi agar aku bisa menuntutnya nanti" Radit bicara dengan tenang dan wajah yang sedikit tegang


"Baik pak" Jawab salah satu orang yang ikut kesana


Radit menarik napas panjang sebelum dia membuka pintu agar semua orang percaya dengan apa yang dilakukannya


"Tolong buka pintunya" Pinta Radit pada karyawan hotel yang membawa kunci cadangan

__ADS_1


"Baik"


Ceklek


Perlahan mereka masuk setelah pintu kamar itu dibuka. Mereka melangkahkan kaki dengan perlahan agar tidak menimbulkan suara sambil menoleh kesana kemari memeriksa sekitar kamar. Radit pun langsung melangkah menuju tempat tidur, dimana disana terdapat sepasang pria dan wanita yang sedang tidur sambil berpelukan tanpa mengenakan pakaian. Mereka hanya bertutupkan sehelai selimut putih milik hotel saja.


Radit sedikit tersenyum lalu mendekati pasangan yang sedang tidur itu. Dia merogoh ponsel dari saku celananya kemudian mengambil beberapa photo


"Pak, apa ini benar istri anda?" Tanya salah satu pria yang ikut disana


Radit menggelengkan kepala pelan kemudian menyilangkan tangannya didada


"Dia bukan istri saya. Tapi dia adalah direktur dimana istri saya bekerja sekarang" Radit menjawab dengan tenang dan kebetulan Luna juga terbangun dari tidurnya


"Emm" Kepalanya sedikit pusing dan dia berusaha membuka mata meskipun itu masih terasa berat. Luna mengusap matanya pelan


"Apa yang terjadi?" Gumamnya berusaha mengingat situasi saat ini.


"Akhirnya kamu bangun juga"


Luna begitu terkejut mendengar suara Radit. Kesadarannya langsung kembali sepenuhnya.


"Radit?! Kenapa kamu disini?" Teriak Luna yang langsung duduk dari tidurnya dan menarik selimut untuk menutupi bagian dadanya


"Ah! Siapa pria ini?!" Dia kembali terkejut ketika menyadari ada seseorang yang tidur disampingnya.


"Kamu bertanya padaku? Apa aku harus tanya mereka?" Radit menoleh pada orang-orang yang ada dibelakangnya untuk memberitahu Luna kalau dia tidak sendiri


"Mereka … siapa?" Tanya Luna lagi dengan raut wajah bingung


"Aku membawa mereka kemari untuk memergoki istriku yang katanya selingkuh. Tapi yang ada disini justru kamu. Kamu sengaja memintaku datang kemari untuk menunjukkan padaku kalau kamu sedang tidur bersama seorang pria?" Radit bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.


Luna hanya bisa menganggukkan kepalanya berkali-kali ketika mendengarkan Radit bicara


"Bukan seperti itu Dit. Aku sama sekali tidak mengenal pria ini" Bantah Luna agar Radit percaya padanya. Kemudian dia menoleh pada pada disebelahnya dan berusaha membangunkannya


"Hei bangun. Sebenarnya siapa kamu? Kenapa kamu bisa berada disini?" Tanya Luna sambil menggoyangkan tubuh pria itu


"Sudahlah aku tidak peduli. Mau benar atau tidak hubunganmu dengannya. Yang jelas, itu tidak ada hubungannya denganku karena kamu bukan siapa-siapaku"

__ADS_1


__ADS_2