Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Ancaman Radit Pada Luna


__ADS_3

Semua orang cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Radit. Mereka saling menatap satu sama lain sambil berbisik. Dari wajah mereka terlihat jelas kalau mereka tidak percaya dengan apa yang dikatakan Radit.


"Pemegang saham tertinggi? Bagaimana bisa pak Radit jadi pemegang saham tertinggi diperusahaan ini?"


"Benar, aku juga terkejut mendengarnya. Dan lagi yang dia minta pertama kali saat datang kemari adalah memecat bu Luna dari jabatannya"


"Pak Radit, bagaimana bisa anda melakukan itu pada saya? Saya ini pemilik perusahaan ini. Saya juga yang selama ini mengelola perusahaan semenjak ayah saya meninggal dunia!" Luna berteriak kesal mendengar keputusan Radit. Dia berusaha keras mempertahankan posisinya untuk tetap berada di perusahaan milik keluarganya sendiri.


"Bu Luna, pencapaian apa yang anda miliki selama menjadi pemimpin perusahaan ini? Sudah bertahun-tahun anda mengelola perusahaan ini, apa perusahaan ini berkembang?" Tanya Radit dengan sikap yang tenang, dia duduk bersandar dengan kaki yang dilipat dan Andra berada disampingnya.


"Saya … sudah melakukan banyak hal untuk perusahaan ini. Semua tender yang saya peroleh masuk keperusahaan ini!"


"Berapa banyak tender yang anda menangkan? Lalu berapa margin perusahaan yang anda peroleh?"


"Itu ... itu..." Luna terbata dan tidak dapat menjawab apa yang ditanyaan Radit


"Anda tidak dapat menjawabnya kan? Karena anda memasukkan sebagian keuntungan yang diperoleh ke akun pribadi anda sebelum diketahui dewan direksi" Ujar Radit dengan senyum mencibir


"Bohong! Jangan sembarangan bicara anda! Saya tahu anda memiiki kuasa, tapi anda tidak bisa memfitnah saya begitu saja tanpa bukti!" Luna berteriak menentang apa yang dikatakan oleh Radit


"Bukti? Oh, anda ingin saya menunjukkan bukti? Tentu saja, saya akan dengan senang hati menunjukkannya pada anda semua yang ada disini. Rian, tolong bagikan ini pada semua orang yang hadir disini" Nada bicara Radit sangat tenang, namun Luna dibuat pucat karenanya. Radit mengeluarkan dokumen yang ada di tas kerjanya dan memberikannya pada Rian


Rian pun membagikan kembali dokumen itu kepada para anggota rapat yang hadir


"Kak Radit, apa yang kamu bagikan? Dokumen apa itu?" Andra yang tidak tahu rencana Radit terlihat penasaran dengan isi dokumen yang dibagikan. Diapun berbisik untuk bertanya


"Dokumen itu berisi daftar transaksi yang dilakukan oleh Luna selama ini. Kalian bisa melihatnya sendiri. Kalian akan tahu alasan kenapa perusahaan ini tidak pernah berkembang dan justru malah berada diambang kebangkrutan" Anggota rapat yang sebelumnya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Radit kini mulai penasaran dengan isi dokumen itu dan mulai membukanya


"Kalian semua jangan percaya! Ini bohong! Ini semua hanya rekayasa Radit saja untuk menendangku dari perusahaan ini!" Luna berteriak histeris dan berusaha meyakinkan kalau semua itu adalah kebohongan


"Bu Luna, tolong jelaskan maksud dari semua ini! Bagaimana anda bisa mengkhianati kami dan melakukan ini pada perusahaan anda sendiri? Kami benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang anda pikirkan. Anda hanya memikirkan keuntungan anda sendiri tanpa memikirkan orang lain" Ujar salah satu anggota dewan direksi


"Benar. Bagaimana bisa anda melakukan semua ini? Semenjak ayah anda tidak ada, kami sangat percaya pada anda. Tapi apa yang anda berikan sebagai bayaran atas kepercayaan kami?!" Anggota dewan yang lain ikut menyuarakan pendapatnya satu persatu. Radit tersenyum dengan puas melihat Luna  yang sedang tersudutkan.

__ADS_1


"Anda mau jelaskan seperti apa lagi bu Luna? Bukankah ini sudah jelas?" Radit bertanya dengan tenang dan senyum tipis


"Tapi ... tapi ..."


"Rapat hari ini selesai. Aku ingin ada direktur baru secepatnya untuk menggantikan bu Luna" Radit bicara dengan sikap yang dingin dan berwibawa. Kemudian dia mendekati Luna dan berbisik "Ini bukan apa-apa. Jika kamu masih berani mengganggu istriku, aku jamin akan lebih buruk dari mendekam dipenjara. Ingat itu baik-baik!"


Radit bicara dengan nada yang dingin, dia tidak memberikan kesempatan pada Luna untuk melakukan pembelaan sama sekali


"Ayo sayang kita pergi!" Radit kembali mendekati Andra dan menggandengnya meninggalkan ruang rapat


"Kenapa jadi seperti ini? Ini karena Andra lagi. Aaah! Hiks ... hiks... hiks... " Luna terduduk dilantai dengan derai air mata yang terus mengalir dan membasahi pipinya. Satu persatu anggota dewan yang ikut rapat pergi meninggalkan ruang rapat tanpa mempedulikan Luna


"Kak Radit, apa ini tidak masalah? Kak Radit langsung mendendang kak Luna begitu saja dari perusahaan. Bagaimana kalau nanti ibu ..." Andra bertanya dengan raut wajah khawatir dengan apa yang baru saja Radit putuskan


"Tidak perlu khawatir. Ibu angkatmu itu tidak akan bisa melakukan apa-apa. jika dia berani mengambil jalur hukum, maka Luna sudah pasti akan lebih dulu dijerat polisi dengan tuduhan penggelapan dana perusahaan" Radit menjawab Andra dengan senyum lembut. Mereka berjalan menyusuri setiap setiap ruang untuk kembali ke ruangan Andra sambil bergandengan tangan


"Lalu, apa yang akan kakak lakukan pada ibu?" Andra mengernyitkan dahi dengan wajah murung


"Baik, hati-hati dijalan kak" Ujar Andra melepas Radit


"Hmn" Radit tersenyum tipis kemudian beranjak pergi dari kantor Andra


"Sekarang giliran pria itu. Dia sudah berani mengganggu istriku. Pria sepertimu tidak pantas kerja dihotelku" Gumam Radit dengan sorot mata tajam sambil menggenggam erat kemudi mobil


Radit kemudian meraih ponsel disakunya dan menghubungi Dita


Tuut tuut tuut


"Halo pak Radit" Terdengar suara Dita dari ujung telepon


"Kumpulkan semua staf, saya akan kesana sekarang juga" Radit bicara dengan nada yang dingin dan tegas


"Baik pak" Radit langsung menutup teleponnya setelah bicara dengan Dita

__ADS_1


"Ada apa dengan pak Radit ya? Kenapa dia minta semua staf berkumpul? Bukannya dia sendiri yang tidak ingin identitasnya terbongkar?" Gumam Dita yang bingung karena Radit ingin mengumpulkan para staf hotelnya


"Perhatian semuanya, pemilik hotel ini akan datang berkunjung jadi kalian semua bersiap untuk berkumpul di aula" Dita memberikan pengumuman pada semua stafnya


"Ada apa ya? kenapa kita diminta berkumpul?"


"Iya, dan sejak kapan pemilik hotel ini ganti?"


"Yang lebih penasaran lagi, siapa pemilik hotel kita yang baru? Bukannya selama ini pemilik hotel kita tidak pernah berkunjung ya?"


Para staf jadi ricuh setelah mendengar kalau pemilik hotel akan datang


Tak berapa lama sebuah mobil hitam berhenti di pintu utama lobby hotel. Dengan gagahnya Radit turun dari mobil dan berjalan masuk ke hotel. Disana sudah ada Dita yang menunggu untuk masuk bersama ke aula


"Pak Radit" Sapa Dita begitu Radit datang


"Apa semua sudah berkumpul?" Tanya Radit dengan sikap yang tenang


"Iya pak. Semua sudah menunggu bapak di ruang aula"


"Kita kesana sekarang"


"Baik" Radit dan Dita pun langsung menuju aula hotel


"Selamat siang pagi semuanya" Perhatian semua orang tertuju pada Radit yang berdiri dihadapan mereka. Terutama Gio, dia menatap heran dengan wajah terkejut melihat kedatangan Radit


"Radit? Untuk apa dia disini? Jangan-jangan dia...?"


Dita yang berdiri disamping Radit mulai memperkenalkan Radit


"Perhatian semuanya. Kali ini saya mengumpulkan kalian disini untuk memperkenalkan pemilik hotel kita. Inilah pak Radit Reifansyah Nugraha, pemilik baru hotel kita"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2