Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Pendekatan Andra Dan Vio


__ADS_3

Hari ini Radit mengajak Andra dan juga Lathan untuk pergi mengunjungi orang tuanya. Seperti yang djanjikan pada Andra sebelumnya, dia ingin Andra semakin dengan Vio. Mungkin dengan begitu keadaan Vio bisa semakin membaik


Mereka berangkat pagi-pagi dan Lathan sepertinya sangat bersemangat dengan kunjungan mereka. Karena sebelum berangkat, dialah yang mendesak Radit dan Andra untuk berangkat lebih awal


"Kamu terlihat sangat senang, Lathan?" Tanya Radit melihat Lathan yang duduk dibelakang dari kaca spion


"Tentu saja pih. Aku kan akan bertemu kakek dan nenek. Tapi pih, nenek akan menerimaku atau tidak ya? Aku takut kalau nanti nenek berteriak padaku lagi" Lathan yang sebelumnya tersenyum ceria kini terlihat khawatir


"Nenek sedang sakit, jadi Lathan harus mengerti ya. Tapi menurut mami, kalau Lathan sering mengunjungi nenek, nenek pasti bisa sembuh dan menerima Lathan" Andra ikut bicara untuk menenangkan Lathan


"Benar begitu pih? Nenek tidak benci padaku?" Lathan kembali bertanya pada Radit untuk memastikan ucapan Andra


"Iya, mami benar. Mana mungkin nenek membenci cucunya sendiri. Mungkin nenek seperti itu karena tidak pernah bertemu dengan Lathan. Makanya mulai sekarang, kita akan sering mengunjungi kakek dan nenek. Gimana? Kamu setuju kan?" Radit bicara pada Lathan sambil fokus pada jalanan di depannya dan sesekali menoleh kearah Lathan yang ada dibelakang dan Andra yang ada disampingnya


"Iya pih, aku setuju" Lathan tersenyum ceria dan menjawab dengan antusias


Tanpa terasa mereka telah tiba dirumah Leo. Radit langsung membawa istri dan anaknya menemui kedua orangtuanya


"Halo pah, mah" Sapa Radit pada Leo dan Vio


"Hai Dit, kalian sudah sampai" Leo menoleh kearah Radit dan menjawab dengan senyum dibibirnya.


"Iya pah" Jawab Radit dan langsung duduk di dekat Leo


Andra mendekati Vio dan duduk di sebelahnya


"Hai mah. Bagaimana kabar mama? Emm, mama kenal aku ga? Aku Andra, istrinya kak Radit dan juga menantu mama" Andra bicara sambil menggenggam sebelah tangan Vio. Radit, Leo dan Lathan hanya diam memperhatikan mereka berdua


"Ehm, bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman?.Bolehkan pah?" Andra bertanya pada Vio lalu menoleh pada Leo untuk meminta persetujuan darinya


"Tentu saja boleh" Jawab Leo sambil tersenyum


"Ayo mah" Andra pun membantu Vio berdiri dan memapahnya menuju taman dibelakang rumah


"Mah, mama tahu tidak bagaimana kalau kak Radit marah? Dia itu seperti … singa yang siap menerkam. Matanya selalu menatap tajam, dan bibirnya selalu terkunci rapat tanpa ekspresi. Tapi kalau dia sedang bersama dengan Lathan, sifatnya yang itu akan hilang. Dia terlihat biasa saja, bahkan terlihat seperti seorang ayah yang sangat perhatian pada putranya" Andra terus mengajak Vio berbicara meskipun Vio tidak menjawab. Sesekali dia menoleh pada Andra yang tersenyum ceria padanya dan menatap wajahnya lekat. Vio membayangkan wajah Lea saat melihat Andra tertawa

__ADS_1


"Lea? Apa kamu Lea?" Tanya Vio pada Andra untuk memastikan


Andra tersenyum ketir pada Vio


"Bukan mah, aku Andra. Siapa itu Lea?" Tanya Andra untuk memancing respon Vio


"Dia … itu putriku. Dia seorang model yang cantik, baik dan berbeda dari saudara lainnya. Oh dia baru saja melahirkan seorang putra. Bayinya sangat tampan, putih dan memiliki wajah seperti ayahnya. Tapi dia sudah lama tidak menemuiku. Jadi aku tidak tahu bagaimana putranya sekarang" Vio terlihat antusias saat membicarakan Lea. Sesekali dia tersenyum namun dia juga terlihat sedih


"Mama sangat menyayangi dia?" Tanya Andra dengan wajah sedih


"Tentu saja. Dia putriku. Tapi aku tidak bisa melindunginya. Setelah mengalami kecelakaan, aku tidak pernah melihat Lea lagi" Lagi-lagi Vio terlihat sedih. Air mata mulai menetes membasahi kedua pipinya. Hati Andra pun ikut bersedih, perlahan dia mengusap air mata di pipi Vio


"Mama jangan sedih ya. Sekarang ada aku yang akan menemani mama. Aku dan kak Radit akan sering datang kesini untuk menemui mama. Jadi mama tidak akan kesepian lagi" Ujar Andra dengan senyum lembut di bibirnya. Vio hanya menatapnya lekat


Andra, Radit dan Lathan menghabiskan waktu dengan Leo dan Vio. Makan bersama, berbincang dan menonton televisi, mereka menghabiskan waktu dengan ceria. Andra selalu menemai Vio, sedangkan Lathan bermain dengan Leo. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia


***


Sementara itu, Gio sedang berada di hotel. Mereka kedatangan kunjungan dari turis yang menghabiskan akhir pekan


Saat ini hotel benar-benat sedang kerepotan


"Gio, tolong bantu antarkan para tamu ke kamar mereka dan bawakan juga barang-barang mereka ke kamarnya masing-masing. Service room yang lain juga sedang sibuk. Kita kekurangan orang disini" Ujar Dita sebagai pengelola hotel


"Baik bu Dita" Gio menjawab dengan terpaksa. Tidak ada senyum diwajahnya


"Kenapa aku jadi berakhir disini? Harusnya kan aku hanya mengurusi pembukuan saja" Gumam Gio sambil membawa koper dan tas dikedua tangannya


"Dulu saat seperti ini, aku akan melakukannya dengan Andra. Kami akan membantu mengatur para tamu untuk beristirahat dihotel dengan nyaman. Sekarang aku harus melakukannya sendiri" Gio tenggelam dalam lamunannya bersama Andra saat masih berkerja dihotel yang sama


"Apa kamu tidak bisa membawa barang ini dengan benar? Lihatlah tasku jadi seperti in8!" Gio tersadar dari lamunannya saat seorang tamu sedikit berteriak padamya


"Maaf?" Gio bertanya dengan wajah bingung


"Lihat ini!" Tamu itu menunjukkan tas tangannya yang tersangkut saat Gio membawanya

__ADS_1


"Maafkan saya. Sata tidak sengaja menariknya terlalu keras hingga talinya putus" Ujar Gio dengan wajah menyesal


"Ada apa ini?" Tanya Dita yang melihat keributan antara Gio dan tamu hotel


"Oh, lihatlah karyawan anda ini. Tas saya jadi rusak dan barang-barangnya jatuh berantakan" Ujar tamu itu dengan kesal


Dita menatap Gio dengan kesal


"Kami mohon maaf atas ketidak nyamanannya. Biar saya sendiri yang mengantar anda ke kamar . Gio, tolong carikan tas tangan lain untuk membawa barang-barang ibu ini yang berserakan " Dita meminta Gio untuk mencari tas tangan pengganti untuk barang-barang tamu dan mengantarnya sendiri ke kamar


"Ini kamar anda. Selamat istirahat, Saya harap anda menikmati waktu anda dihotel kami" Ujar Dita dengan sopan


"Ya, terimakasih" Jawab tamu itu yang kemudian masuk ke kamarnya


"Gio, ikut aku!" Ujar Dita dengan sikap tegas kemudian berjalan pergi lebih dulu diikuti Gio dibelakang. Mereka berjalan menuju ruang kerja Dita


"Ada apa bu Dita memanggil saya?" Tanya Gio dengan sikap tenang


"Duduklah dulu" Mereka berdua pun duduk dengan saling berhadapan


"Ada apa denganmu akhir-akhir ini? Kamu ada masalah?" Dita terlihat serius bertanya pada Gio sambil menyandarkan tubuhnya pada sofa


"Saya baik-baik saja bu. Kenapa?" Gio terlihat heran


"Apanya yang kenapa? Kamu sering meninggalkan hotel, banyak melamun dan sekarang kamu melakukan kesalahan dengan merusak barang tamu" Dita bersikap tegas menegur Gio


"Maafkan saya, saya akan lebih memperhatikannya" Gio menundukkan kepala merasa bersalah


"Jika kamu ada masalah sebaiknya cepat selesaikan. Aku tidak ingin masalahmu malah mengganggu pekerjaan juga nantinya"


"Baik bu, saya mengerti. Saya akan lebih fokus lagi dalam bekerja"


"Baiklah, kamu boleh pergi"


"Baik bu. Permisi" Gio pun meninggalkan kantor Dita dan beranjak pergi keruangnya

__ADS_1


"Aku harus menyelesaikan masalahku dengan Andra. Jika terus seperti ini, aku tidak bisa bekerja dengan baik"


__ADS_2