
"Nugraha?!"
Sepasang kekasih itu saling menatap satu sama lain begitu mereka mendengar Zara memanggil nama lengkap Lathan.
"Lalu, apa yang kamu inginkan dariku?".
"Bisakah kamu membantuku menghilangkan nama keluarga mereka dari daftar orang kaya disini? Sepertinya, mereka tidak cocok jadi orang kaya. Mungkin mereka akan lebih cocok jika benar-benar jadi seorang pengemis dijalanan"
"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan sekarang?".
Senia yang mendengarkan percakapan antara Zara, Lathan dan Fandy bertanya dengan raut wajah panik pada Boy.
"Entahlah. Ini semua karena kamu. Harusnya kamu tidak melakukannya pada gadis itu".
Boy yang merasa kesal pun pada akhirnya menyalahkan Senia.
"Bukankah kamu sendiri yang menginginkan uang karena ayahmu tidak mau lagi memberikan uang tambahan untukmu?!"
Senia tidak terima disalahkan. Diapun balik menyalahkan Boy.
"Sudahlah. Sebaiknya kita minta maaf sekarang!"
Boy pun langsung mendekati Zara dan Lathan diikuti Senia dibelakangnya.
"Nona, tolong maafkan pacar saya. Dia tidak bermaksud memeras anda. Kami salah. Kami minta maaf, tapi tolong jangan hancurkan usaha papa saya"
Boy meminta maaf pada Zara sambil melipat kedua tangannya seraya memohon.
"Tidak. Aku ingin tahu apa yang akan kamu banggakan jika keluargamu tidak memiliki apa-apa lagi. Aku memang tidak tahu bagaimana kebiasaan dinegara ini. Yang aku tahu adalah orang kaya nanggung seperti kamu ternyata lebih sombong dari orang yang benar-benar kaya"
Zara bicara sambil berlalu meninggalkan Senia dan juga pacarnya. Lathan tersenyum menatap Zara lalu berjalan dengan Fandy mengikuti Zara.
"Apa yang kamu senyumkan? Apa pertunjukan tadi membuatmu begitu puas?".
Fandy bertanya karena Lathan terus saja tersenyum tipis sambil menatap punggung Zara.
"Aku sudah tidak heran kalau keluargaku sendiri menghancurkan keluarga orang lain. Tapi aku baru pertama kalinya diminta orang untuk menghancurkan orang lain. Apa itu wajar? Biasanya yang mendekatiku itu minta kerjasama atau apalah yang menguntungkan, ini malah minta menghancurkan keluarga orang"
Lathan menjelaskan pada Fandy sambil tersenyum manis dan menatap Zara.
"Kamu … terkesan pada Zara karena hal itu? Gila, kamu ini benar-benar gila".
Fandy bicara pada Lathan sambil menggelengkan kepala berkali-kali. Dan Lathan hanya menanggapinya dengan senyum.
Lathan dan Fandy sangat terkejut saat Zara tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Ada apa? Kenapa kamu mendadak berhenti seperti itu?" tanya Fandy dengan dahi berkerut dan nada bicara yang dingin.
"Apa yang kamu inginkan?"
Zara mengabaikan Fandy dan bertanya pada Lathan.
__ADS_1
"Nanti saja, tidak perlu buru-buru" ujar Lathan dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.
"Kenapa harus nanti? Kan kamu bisa mengatakannya sekarang juga"
Zara menanggapinya dengan sikap yang tenang dan dahi berkerut karena penasaran.
"Kamu yakin ingin aku mengatakannya sekarang?".
Lathan bicara dengan seringai tipis dibibirnya.
"Iya, katakan saja sekarang" ujar Zara penuh keyakinan.
"Jadilah pacarku".
Lathan bicara dengan sangat enteng disertai senyum.
"Apa?! Kamu gila!".
Zara sedikit berteriak karena dia sangat terkejut mendengar apa keinginan Lathan.
"Tidak. Aku sangat waras" ujar Lathan yang tetap tenang dan tetap tersenyum.
"Sakit. Fan, sahabatmu ini benar-benar sakit",
Zara bicara sambil menggelengkan kepala dan berlalu pergi meninggalkan Lathan dan Fandy.
"Kamu memang sudah gila ya? Bagaimana bisa kamu meminta Zara jadi pacarmu hanya karena dia meminta kamu menghancurkan keluarga lain?" ujar Fandy yang heran dengan alasan Lathan menyukai Zara.
"Waah … benar-benar gila. Aku tidak ingin mendengarnya lagi"
Fandy menanggapi Lathan dengan malas lalu dia beranjak pergi meninggalkan Lathan dan mengejar Zara.
...****************...
Dirumah Radit,
Ardhan baru saja tiba dirumah setelah pulang sekolah. Dia berjalan dengan sedikit mengendap agar tidak bertemu dengan Andra.
"Kuharap mami tidak ada disini" gumam Ardhan sambil celingak celinguk seperti seorang maling.
"Kamu pulang juga? Mana kakakmu? Kenapa dia tidak pulang denganmu?".
Andra bertanya dengan nada yang sinis sambil menoleh kebelakang Ardhan.
"Itu … Kak Lathan pergi ke mall dulu dengan kak Fandy. Katanya ada sesuatu yang harus mereka cari" ujar Ardhan dengan nada sedikit canggung.
"Dari mana kamu kemarin? Kenapa kalian tidak pulang?" tanya Andra lagi dengan sinis.
"Aku dan kak Lathan ada acara diluar, tapi kami tidak melakukan hal yang macam-macam . Mami tidak perlu khawatir".
Ardhan terlihat gugup dan panik. Bahkan bisa dikatakan keringat dinginnya terasa bercucuran.
__ADS_1
"Tata Aldhan puyang? Hole … Tata, temani Lili main. Lili botan main tendili"
"Lili, tentu. Kak Ardhan akan temani kamu main. Kamu mau main apa?"
Lili langsung bersorak riang ketika dia melihat Ardhan pulang. Ardhan pun langsung menyambut Lili dengan bahagia seakan dia menemukan jalan kebebasan.
"Ardhan, Mami belum selesai bicara. Kamu jangan melarikan diri dari Mami ya?".
Andra bicara dengan nada mengancam.
"Aku tidak melarikan diri, Mih. Aku hanya akan bermain dengan Lili. Kasihan dia bosan sendiri. Nanti kita bicara lagi saat kak Lathan pulang ya, Mih. Daah Mami".
Ardhan langsung lari meninggalkan Andra sambil menggendong Lili dipangkuannya.
"Anak itu berhasil lolos begitu saja. Dia mirip siapa ya? Sepertinya dulu aku tidak seperti itu" gumam Andra menatap punggung Ardhan yang semakin menjauh sambil menggendong Lili menuju kamarnya.
"Apa yang kamu keluhkan, sayang?".
Andra langsung menoleh saat mendengar suara Radit dibelakangnya.
"Kak Radit, kamu sudah pulang?" tanya Andra sambil berjalan menghampiri sang suami.
"Hmn … apa yang kamu keluhkan tadi?".
Radit kembali bertanya pada Andra karena belum mendapatkan jawaban darinya. Dia menyambut sang istri yang mendekatinya sambil mencium lembut kening Andra.
"Itu, Ardhan. Dia juga baru saja pulang, tapi saat ku tanya alasan kemarin ia menginap diluar, dia hanya bilang ada acara dan langsung kabur begitu saja dengan Lili sebagai alasannya. Apa kamu dulu seperti itu?".
Andra mengeluh pada sang suami lalu menanyakan perihal masa lalunya.
"Aku? Seperti apa?" tanya Radit meminta penjelasan.
"Itu suka kabur begitu saja dengan seribu macam alasan" ujar Andra menjelaskan.
"Aku tidak pernah kabur begitu. Aku selalu menghadapi masalah secara langsung. Tapi, hanya ada satu orang yang bisa membuatku kabur dan tidak bisa aku hadapi sampai sekarang".
Andra mengernyitkan dahi dengan menatap heran sang suami. Dia menunggu jawaban dari sang suami yang malah diam tanpa mengatakan apapun lagi.
"Siapa yang Kakak maksud? Apa itu mama atau papa?".
Andra kembali bertanya untuk memastikan jawabannya.
Radit menggelengkan kepala dengan senyum tipis dan membawa sang istri duduk disofa.
"Tidak. Dia itu kak Cheva. Sampai sekarang aku tidak bisa menghadapinya. Bahkan mungkin … tidak ada satupun dari keluarga Kusuma yang bisa menghadapinya. Dia terlalu liar dan juga cerewet. Entah bagaimana kak Lian bisa sabar menghadapinya"
Radit kembali menggelengkan kepala saat membayangkan Lian dan Cheva ketika bersama.
"Itu pasti karena kak Lian sangat mencintai kak Cheva, jadi dia rela melakukan apapun untuk pasangannya"
"Ya mungkin saja begitu. Jika aku yang jadi kak Lian dan punya istri seperti kak Cheva, rasanya aku bisa mati berdiri dibuatnya. Untung saja istriku baik hati dan tidak cerewet seperti kak Cheva. Kalau tidak, akan selalu ada pertumpahan darah dirumah ini"
__ADS_1
Andra hanya tersenyum menanggapi Radit yang bicara dengan sikap yang tenang.