
Lathan bergegas menjemput Ardhan ke sekolahnya begitu dia pulang sekolah. Dia menunggu tidak jauh dari gerbang sekolah karena Ardhan tidak ingin terlalu jadi pusat perhatian.
Lathan menunggu sang adik sambil mendengarkan musik. Dia memicingkan mata dengan dahi berkerut saat melihat Ardhan yang semakin mendekat ke arahnya.
"Hai, Kak. Kak Lathan sudah lama menungguku?".
Ardhan tersenyum manis saat dia menyapa Lathan sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Ada apa dengan wajahmu ini?".
Alih-alih menjawab pertanyaan Ardhan, Lathan malah meraih dagu adiknya itu untuk melihat lebih jelas mengenai pipinya yang sedikit lebam.
"Bukan apa-apa. Hanya kecelakaan kecil saja" ujar Ardhan yang menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Kecelakaan kecil? Jatuh dari tangga? Menabrak dinding? Atau justru dipukul orang? Aku sudah bilang untuk tidak merahasiakan apapun dan kamu sendiri yang bilang kalau kamu bisa menyelesaikannya. Apa ini artinya kamu gagal?".
Lathan bertanya dengan sikap yang dingin pada Ardhan.
"Untuk saat ini aku sudah menyelesaikannya. Tinggal kita lihat saja sejauh mana permainan ini akan berlangsung".
Ardhan tersenyum dengan sikap acuh tak acuh menanggapi pertanyaan Lathan.
"Kamu yakin kalau ini sudah selesai? Ingatlah kalau kasus bullying disekolah tidak akan bisa diselesaikan dengan mudah. Ini akan terus berlanjut sampai para pembully merasakan efek jera".
Lathan mengingatkan sang adik kalau ini adalah masalah serius.
"Kakak tidak perlu khawatir. Papi kan sering bilang kalau kita tidak boleh mudah ditindas. Lagipula kita sudah dibekali segala macam pelatihan agar bisa melindungi diri. Dan untuk pipiku ini, aku sudah memberikan balasan untuk mereka. Aku juga sudah menemukan cara untuk melindungi diriku disekolah. Yaa …meskipun sebenarnya itu juga bukan cara yang aman, tapi untuk sementara waktu cara ini bisa menjadi perisaiku. Jika ini terus berlanjut, maka aku hanya perlu menyingkirkan mereka semua dari sekolah. Bagaimanapun caranya".
Ardhan tetap tersenyum saat bicara dengan Lathan. Meskipun dibalik senyumnya itu ada sorot mata yang tajam yang tidak bisa diartikan dengan mudah.
"Kamu yakin bisa menyelesaikan masalah ini? Aku akan datang ke sekolahmu jika memang kamu tidak bisa menyelesaikannya".
"Aku sangat yakin. Kakak tidak perlu khawatir, oke? Yang sekarang jadi masalahnya adalah, bagaimana menyembunyikan ini dari mami? Kalau mami lihat pipiku lebam begini, pasti mami akan sangat panik, kan?".
Daripada membahas Bobi, Ardhan lebih panik saat dia membayangkan betapa paniknya Andra melihat luka dipipinya.
"Itu tidak bisa ditutupi. Kita tidak bisa menyembunyikannya dari mami. Kamu tinggal katakan saja yang sebenarnya dan mami pasti akan mengerti"
"Apanya yang mengerti? Sudah pasti kalau mami akan datang kesekolah dan mengacaukan semuanya. Aku tidak ingin mendapat perlakuan yang berbeda dari teman-temanku. Kakak harus membantuku menyembunyikan masalah ini".
Ardhan memohon pada Lathan dengan tatapan penuh harap yang terlihat dimatanya.
"Bagaimana caraku menyembunyikannya dari mami? Kita akan pulang kerumah dan kamu juga pasti ketemu mami dirumah" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.
Tiba-tiba Ardhan tersenyum ceria mendengar perkataan Lathan. Dia seperti baru mendapatkan pencerah mengenai cara menyelesaikan masalahnya.
__ADS_1
"Nah, pulang. Aku punya ide"
"Ide apa? Aku mulai merasa tidak enak dengan ide yang kamu katakan itu" ujar Lathan sambil mendelik saat dia bertanya pada Ardhan.
"Bagaimana kalau kita tidak usah pulang? Dengan begitu, mami tidak akan tahu mengenai luka lebam dipipiku ini".
Ardhan bicara dengan enteng disertai senyum. Hal itu seperti hal mudah untuk dilakukan. Lathan menatapnya dengan sorot mata tajam, sambil menggerakan dagunya karena kesal.
Tak.
"Benar saja ide mu tidak masuk akal. Bagaimana bisa kamu punya pemikiran itu? Mau pergi kemana juga kalau kita tidak pulang kerumah? Mami akan lebih khawatir jika kita sampai tidak pulang".
Lathan menggerutu kesal sambil memukul pelan dahi Ardhan setelah mendengarkan ide yang dimaksud sang adik.
"Yaa, hanya itu cara yang kita punya. Kak Lathan bilang akan membantuku? Ayolah Kak, kali ini saja. Kita bisa menginap di hotel atau mungkin rumah teman Kakak".
Ardhan kembali merayu sang kakak dengan wajah polos dan sedihnya.
Lathan terus menatap Ardhan sambil mempertimbangkan ucapan sang adik.
"Baiklah, kali ini saja. Dan kamu juga harus menceritakan padaku mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Mengerti?"
"Yess. ya aku mengerti. Terimakasih, Kak Lathan".
Ekspresi bahagia langsung ditunjukkan oleh Ardhan. Dia bicara sambil mengepalkan tangannya ke udara.
Lathan bicara sambil mengeluarkan ponsel miliknya dan menghubungi Andra.
Tuut tuut tuut
Lathan menunggu teleponnya diangkat Andra sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kemudi.
"Halo, Lathan"
Setelah beberapa lama akhirnya terdengar suara Andra dari ujung telepon.
"Halo, Mih"
Lathan terlihat gugup sambil sesekali menoleh pada Ardhan.
"Ada apa sayang? Kamu sudah sampai mana? Kenapa kalian berdia belum tiba dirumah?" tanya Andra yang penasaran karena Lathan dan Ardhan belum tiba dirumah.
"Anu, Mih. Sepertinya kami tidak pulang kerumah malam ini".
Lathan sedikit ragu dan gerogi saat dia bicara dengan Andra.
__ADS_1
"Tidak pulang kerumah? Kenapa? Apa terjadi sesuatu? Kalian berdua baik-baik saja kan?".
Andra bertanya dengan panik saat Lathan mengatakan kalau mereka tidak akan pulang kerumah.
"Itu … kami ada acara menginap di hotel. Hanya sehari dan besok kami akan pulang setelah sekolah".
Lathan sangat gugup saat dia meminta izin dari Andra.
"Menginap dihotel? Dalam rangka apa? Hotel mana? Kalian tidak berniat macam-macam kan?".
Andra menginterogasi Lathan dengan nada bicara yang tegas.
"Kami tidak berniat macam-macam kok Mih. Mana mungkin aku membawa Ardhan jika akan melakukan sesuatu yang tidak-tidak".
Lathan masih berusaha keras membujuk Andra agar memberikan dia izin, karena ini pertama kalinya mereka menginap diluar sendiri.
"Kamu yakin?"
Andra memicingkan mata curiga saat dia memastikan pada Lathan.
"Iya Mami"
Meskipun dengan tangan yang terus bergetar karena gugup, tapi Lathan terus berusaha bersikap tenang.
"Baiklah. Untuk kali ini Mami mengizinkan kalian menginap diluar. Tapi jika terjadi sesuatu atau Mami mendengar hal yang tidak-tidak tentang kalian berdua, maka Mami tidak akan membiarkan kalian keluar sendiri. Mami akan meminta pengawal untuk mengikuti kalian 24 jam"
Andra mengancam dengan sikap yang tegas.
"Baik, Mami. Aku mengerti. Terimakasih banyak Mih. Aku sayang sama Mami"
"Aku juga sayang Mami"
"Baiklah, Mih. Sampai jumpa. Muach"
Ardhan ikut berteriak saat Lathan mengatakan sayang pada Andra.
"Selesai kan kak? Terimakasih banyak" ujar Ardhan begitu Lathan menutup teleponnya.
"Ya untuk saat ini selesai. Semoga besok lebam dipipimu sudah menghilang. Dengan begitu kebohongan kita hari ini tidak akan sia-sia".
Lathan bicara dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh
"Ya aku harap juga begitu"
"Sudahlah kita pergi dulu dari sini. Kita harus mencari hotel disekitar sini untuk malam ini. Dan kamu berhutang penjelasan padaku. Jika kamu tidak menjelaskan semuanya secara detil, maka kamu akan tahu sendiri akibatnya"
__ADS_1
"Baik. Aku akan ceritakan nanti".
Ardhan menanggapi ancaman dari Lathan dengan kepala tertunduk. Mereka pun bergegas pergi dari sekolah Ardhan untuk mencari hotel yang akan mereka tempati malam ini.