
Radit langsung mengantar Andra dan Lathan pulang kerumah setelah mereka makan siang. Setelah itu dia kembali ke kantor karena ada masalah yang harus ditangani.
"Candra, sebenarnya apa yang terjadi? Bagaimana bisa kita kehilangan proyek yang hanya tinggal menunggu surat kerja sama saja?". Radit langsung bergegas keruangannya dan bertanya pada Candra dengan raut wajah bingung dan juga tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada perusahaannya.
"Aku juga tidak mengerti. Mereka tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan kalau kerjasama kita tidak bisa dilanjutkan.Mereka tidak mengatakan alasan dibalik pembatalan ini" Candra menjelaskan dengan sikap yang terlihat sedikit bingung karena terus mengangkat bahu dan menggerakan tangannya saat sedang bicara.
"Tidak bisa dilanjutkan? Apa kamu sudah menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi?" Radit menatap Candra dengan tatapan serius karena dia yakin kalau teman sekaligus asistennya itu sudah memiliki sesuatu untuk dilaporkan padanya.
"Ada sesuatu yang akan membuat kamu mengerti kenapa semua ini terjadi" suara Candra kini terlihat melemah dan lebih tenang dari sebelumnya namun Radit justru memicingkan mata mendengar Candra yang menjelaskan secara bertele-tele
"Apa yang kamu bicarakan? Langsung katakan saja padaku semuanya. Tidak usah berbelit-belit" ujar Radit yang terlihat kesal.
"Baiklah-baiklah. Akan ku ceritakan semuanya". Sesaat Candra tersenyum melihat reaksi Radit, namun setelah itu dia kembali bersikap serius.
"Pemimpin PT Sidara Makmur berteman dekat dengan pak Bagas Pradipta"
Radit mengerutkan dahi heran mendengar ucapan Candra lalu dia memotong peekataannya
"Jadi maksudmu... Pak Panji berteman dengan pak Bagas suaminya Audy?"
"Benar. Mereka adalah teman lama" Candra menanggapi Radit sambil menganggukkan kepala perlahan dan memainkan bibirnya
"Jadi ... Ada kemungkinan juga kalau pak Bagas yang meminta pak Panji untuk membatalkan kerja samanya dengan kita?" gumam Radit yang berusaha mencari jawaban atas masalahnya.
"Bisa jadi seperti itu. Tapi kita tetap harus menyelidikinya kembali, jangan sampai kalau kita melakukan kesalahan karena telah menduga-duga" Candra menanggapi dengan sikap yang tenang dan penuh pertimbangan.
"Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" tanya Radit dengan menatap tajam pada Candra
"Ya. Aku sudah menempatkan beberapa orang disekitar mereka berdua. Aku juga akan memantau pergerakan yang mereka lakukan, tapi kamu tahu sendiri kalau aku memiliki keterbatasan dalam masalah IT. Aku tidak bisa menerobos pertahanan mereka yang menggunakan kunci sandi yang rumit"
__ADS_1
Candra tersenyum canggung saat mengatakan kekurangannya.
"Aku sudah tahu itu. Dari dulu kemampuanmu dalam hal meretas komputer selalu saja payah. Padahal kamu sudah belajar sejak sekolah denganku" Radit menjelekkan Candra dengan sikap yang tenang dihadapan orangnya.
"Kamu selalu saja santai kalau menghina orang lain. Mulutmu itu selalu saja ringan saat bicara tentang kekurangan orang lain" Candra menggerutu dengan nada mencibir
"Mau bagaimana lagi? Itu memang fakta kalau kemampuanmu tidak pernah bertambah sejak dulu" ujar Radit dengan sikap acuh tak acuh
"Ya ya ya. Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi. Lama-lama aku bisa darah tinggi jika terus meladenimu" Candra terus menggerutu sambil beranjak pergi meninggalkan ruangan Radit, sedangkan Radit hanya menggelengkan kepala sembari tersenyum melihat sikap Candra. Setelah itu, sorot matanya kembali berubah
"Audy … jika kamu otak dibalik semua masalah ini, maka aku akan membuatmu membayar atas apa yang kamu lakukan. Sudah bertahun-tahun saling mengenal, tapi kamu masih belum juga mengetahui bagaimana aku menangani masalah" Gumam Radit dengan tubuh bersandar pada kursi dan kepala menghadap kelangit-langit diruangannya.
***
Sementara itu Panji dan Bagas sedang duduk bersama disebuah restoran sambil menikmati secangkir kopi pesanan mereka.
"Terimakasih karena kamu telah membantuku membuat Radit kesal. Aku pasti akan memberikan proyek perusahaanku padamu" Bagas berterimakasih pada Panji yang telah membatalkan kontrak kerjasamanya dengan Radit
"Memangnya kenapa sampai kamu tidak suka Radit?" sambung Panji yang penasaran atas apa yang jadi penyebab Bagas tidak suka pada Radit.
Sesaat Bagas terdiam sambil mengesap kopi miliknya.
"Karena dia telah berani menggoda istriku"
"Apa?" Panji yang sedang minum hampir saja tersedak karena terkejut mendengar ucapan Bagas
"Kamu tidak salah dengar. Dia memang telah berani menggoda istriku, Audy. Karena itu aku ingin memberikan sedikit pelajaran padanya agar dia tidak berani lagu mengusik sesuatu milik orang lain" Bagas bicara dengan sikap yang tenang, namun terlihat jelas dari sorot mata dan ekspresi diwajahnya kalau dia sangat marah dan kesal saat ini.
"Tapi … yang kutahu pak Radit sudah menikah dan punya anak, tidak mungkin dia menggoda istrimu" ujar Panji yang merasa bingung dengan apa yang dikatakan temannya itu
__ADS_1
"Bukan jadi jaminan jika seorang pria yang sudah menikah tidak mengganggu orang lain, kan? Kalau memang dia pria yang setia, mana mungkin dia terang-terangan mendekati istriku" Bagas bersikeras kalau Radit telah berani menggoda Audy.
Panji semakin bingung dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan Bagas, namun dia tetap mengacuhkannya karena mereka berteman
"Lalu apa yang akan kamu lakukan lagi? Apa kamu yakin dengan begini pak Radit akan tahu apa kesalahannya? Pak Radit tidak akan tahu kalau aku membatalkan kerjasama kami hanya karena dia mengganggu istrimu. Jika begitu, maka tidak akan ada yang berubah antara pak Radit dan istrimu" ujar Panji yang berusaha menjelaskan pada Bagas
"Kamu tenang saja. Aku juga sudah mulai mengacaukan sedikit pasar sahamnya. Radit bukan orang bodoh. Aku sudah menyebarkan gosip kalau dia berani menggoda istriku dengan begitu … Radit akan tahu apa yang jadi masalahnya" Bagas menjelaskan dengan seringai tipis dibibirnya. Daripada itu, Panji hanya menanggapinya dengan sikap acuh tak acuh
"Ya terserah kamu saja. Aku hanya akan terlibat segini saja. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan masalah kalian"
"Sekali lagi terimakasih karena kamu mau membantuku"
"Ya, bukan masalah" Panji menanggapi dengan senyum tipis dan anggukan kepala perlahan
***
Sementara itu dikantor Radit
"Gawat, Dit. Aku memiliki sesuatu yang harus kamu ketahui" Candra berjalan keruang Radit dengan tergesa sambil membawa tablet ditangannya
"Apa yang terjadi? Kenapa kamu panik seperti itu?" Radit mengernyitkan dahi heran melihat Candra yang panik
"Lihatlah ini!" Candra menunjukkan apa yang dia temukan tentang Radit di internet
"Apa-apaan ini?! Bagaimana bisa ada gosip seperti ini?" Radit terlihat kesal saat membaca postingan anonim tentang dirinya
"Seorang pengusaha muda secara terang-terangan menggoda perempuan yang berstatus istri orang lain didepan umum"
Postingan tentang Radit itu disertai dengan foto dirinya dan Audy saat sedang berada direstoran, namun dalam foto itu tidak disertakan Andra dan Lathan yang berada disamping Radit
__ADS_1
"Cari tahu pelakunya dan penyebar rumornya. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos karena sudah membuat istriku khawatir karena postingan ini. Mereka harus tahu akibat dari membuat istriku khawatir" ujar Radit dengan sikap kesal
"Bilang saja kalau kamu takut Andra akan marah padamu"