Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kecelakaan Radit Dan Lathan


__ADS_3

Leo dan keluarga akhirnya tiba dirumah setelah mereka memeriksakan kondisi terbaru Vio.


“Cantik, cantik, ayo kita nonton film lagi” ajak Vio ketika mereka tiba dirumah.


“Sayang, ini sudah malam. Sudah waktunya untuk kita pergi istirahat”.


Leo yang berada disamping Vio berusaha menahannya agar dia mau pergi istirahat.


“Tidak. Tadi cantik bilang akan nonton fim lagi denganku”.


Vio menolak untuk pergi istirahat sambil menggelengkan kepala berkali-kali.


“Mama, karena ini sudah malam dan Lathan juga sudah tidur, bagaimana kalau kita nontonnya besok saja? Aku janji kalau besok kita akan jalan-jalan dan juga nonton film bersama lagi”.


Andra bicara pada Vio dengan lembut sambil menunjuk Lathan yang tertidur dipangkuan Radit.


Vio pun menoleh pada Lathan yang sedang tidur.


“Oh, tampan tidur” gumam Vio ketika melihat Radit menggendong Lathan yang sedang tidur.


“Iya Lathan sedang tidur. Jadi … bagaimana kalau nontonnya besok lagi saja?”.


Andra kembali bertanya pada Vio


“Hmn … baiklah. Besok lagi saja nontonnya”.


Vio pun setuju dengan apa yang dikatakan Andra dengan senyum dibibirnya yang lembut


“Karena kita tidak tonton hari ini, jadi kita kembali saja ke kamar masing-masing dan istirahat. Mereka juga pasti sangat lelah” ujar Leo sambil mengajak Vio untuk kembali ke kamar mereka.


“Selamat malam Mama” ujar Radit saat Vio dipapah Leo menuju kamar mereka. Radit dan Andra pun berjalan menuju kamar Lathan untuk menidurkannya terlebih dahulu.


“Kak Radit, bagaimana kondisi mama sekarang?”.


Andra bertanya pada Radit ketika sang suami telah menidurkan Lathan dengan sangat hati-hati ditempat tidurnya.


“Dokter mengatakan kalau kondisi mama sudah semakin membaik. Dan kenapa mama kadang menyadari kalau kak Lea sudah meninggal atau belum, itu karena mama tidak mau menerima kenyataan kalau kak Lea telah tiada”.


Radit menjelaskan pada Andra mengenai apa yang telah dikatakan dokter sebelumnya tentang Vio.


“Oh jadi begitu. Mama memang menolak untuk percaya kalau kak Lea telah meninggal jadi bagi mama waktu itu seakan berhenti saat kak Lea masih ada?” tanya Andra memastikan maksud perkataan Radit.


“Ya, bisa dikatakan seperti itu” Radit menjawab dengan sikap acuh tak acuh sambil berjalan menuju kamar mereka dengan menggandeng Andra disampingnya.


Andra terdiam seakan pikirannya melayang


Jadi mama menolak untuk percaya kalau kak Lea telah meninggal? Bagaimana membuat mama sadar kalau kak Lea sudah tidak ada dan Lathan adalah anak kak Lea yang ditinggalkan?


Andra berjalan sambil memikirkan solusi untuk menyadarkan Vio.


“Apa yang kamu pikirkan? Kenapa kamu  melamun seperti itu?” tanya Radit sambil mengusap lembut pipi Andra.


“Tidak ada apa-apa”. Andra menanggapi Radit dengan senyum tipis dibibirnya sambil menggelengkan kepala berkali-kali.

__ADS_1


“Ya sudah. Sebaiknya kita membersihkan diri lalu istirahat. Calon bayi kita juga pasti lelah setelah mengikuti  ibunya seharian menemani neneknya” ujar Radit yang bicara dengan lembut sambil mengusap perut Andra yang sudah terlihat sedikit membesar.


“Iya”.


Andra menganggukkan kepala disertai senyum dibibirnya


...****************...


Keesokan harinya.


Radit dan Lathan bersiap untuk berangkat lebih pagi karena merea membutuhkan waktu lebih banyak untuk berangkat dari rumah Leo ke kantor dan juga sekolah Lathan.


Andra sudah membantu bibi menyiapkan sarapan untuk anak dan juga suaminya.


“Kak Radit, apa kakak mau aku siapkan bekal untuk kakak?”, Andra menggoda Radit karena dia telah menyiapkan bekal makan siang untuk Lathan.


Radit yang sedang membaca laporan melalui tabletnya, memicingkan mata saat dia menatap sang istri.


“Apa bisa aku membawa istriku yang cantik ini sebagai bekalku dikantor?”. Radit berbalik menggoda Andra yang kini menatap sinis


padanya.


“Tidak bisa. Istri yang cantik ini tidak ingin hanya jadi boneka pajangan yang menemani kak Radit bekerja”.


Andra langsung membantah Radit dengan sinis.


“Aku tidak akan menjadikanmu boneka, tapi aku akanbmenjadikanmu tuan putri yang tidak boleh melakukan apa-apa dan hanya perlu memberikan perintah saja”.


Radit kembali menanggapi Andra dengan senyum manis sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.


Lathan menyela Andra dan Radit dengan bibir mengerucut kesal karena menjadi obat nyamuk diantara Radit dan Andra.


“Lathan sayang, tidak perlu pedulikan Mami dan Papi, cukup nikmati makananmu saja” ujar Andra dengan senyum yang lembut.


“Bagaimana bisa aku tetap makan dan tidak mempedulikan kalian berdua sedangkan kalian berdua berdebat didepan mataku?” Lathan kembali menanggapi dengan sikap yang tenang.


“Baik-baik, Mami yang salah. Maafkan Mami ya?”.


Andra memegang kedua telinganya saat dia minta maaf pada Lathan dan tentu saja itu membuat Lathan tersenyum bahagia.


Leo yang baru saja turun dari kamarnya tersenyum melihat keharmonisan keluarga Radit. Diapun perlahan berjalan mendekati meja makan.


“Sepertinya suasana hati kalian sedang bagus sekali? Papa terus memperhatikan kalian, papa senang kalau kalian semua bahagia. Terutama kamu pangeran kecil”.


Leo bicara dengan sikap yang tenang kemudian dia mengusap kepala Lathan.


“Tentu saja, Pah. Kondisi mama sudah semakin membaik. Tentu saja kami sangat senang”. Radit pun menanggapi Leo dengan senyum ceria diwajahnya.


“Kamu benar. Kondisi mamamu sudah semakin baik sekarang. Papa harap dia bisa segera sembuh”


“Tentu saja, Pah. Mama pasti akan segera sembuh. Papa harus yakin akan hal itu” Andra bicara sambil mengambilkan sarapan untuk Leo.


Leo menanggapi Andra dengan senyum sambil menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Sepertinya sudah waktunya berangkat. Lathan, apa kamu sudah siap?”


“Sudah, Pih”.


Lathan pun menjawab dengan ceria sambil memakai tas sekolah yang diletakkan dikursi sebelahnya.


“Kalau begitu kami berangkat dulu, Pah”.


Radit pamit terlebih dahulu pada Leo


“Ya, hati-hati berkendara”. Pesan Leo pada Radit yang hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala oleh Radit


“Kakek, kami pergi dulu ya”. Lathan pun pamit dengan  senyum cerianya.


“Iya, sayang. Jangan nakal saat disekolah ya”


“Euh”. Lathan mengangguk ceria menanggapi Leo


“Pah, aku kedepan dulu mengantarkan mereka”


“Iya”.


Leo mengangguk saat Andra akan mengantarkan Radit ke depanbpintu.


Radit pun berjalan bergandengan dengan Andra yang membawa tas kerjanya, sedangkan Lathan berjalan didepan mereka dengan senyum bahagia.


“Sayang, aku pergi dulu. Hubungi aku jika terjadi sesuatu”. Radit pamit pada Andra sambil mengecup lembut keningnya


“Iya, Kakak hati-hati ya”


“Dadah Mami”. Keromantisan Radit dan Andra kembali terganggu dengan tingkah Lathan yang mengejutkan mereka.


“Iya, sayang. Hati-hati dan jangan nakal ya”.


Andra memberikan pesan sambil sedikit membungkuk dan mengusap lembut kepala Lathan.


Andra pun melambaikan tangan pada Radit dan Lathan yangbberjalan menuju mobil. Andra pun masih sesekali melambaikan  tangan meskipun mobil Radit sudah bergerak menjauh.


Radit mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia terus focus pada jalanan yang ada didepannya. Sesekali Radit menoleh pada Lathan yang ada disebelahnya.


“Lathan, apa yang akan kamu lakukan dengan gosip tentang ibumu disekolah?”


“Tidak akan melakukan apa-apa. Untuk apa aku mempedulikan hal tidak masuk akal seperti itu?” Lathan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


Radit hanya tersenyum sambil menatap Lathan, namun tanpa dia sadari ada seorang anak kecil yang terlepas dari pengawasan orang tuanya dan tiba-tiba berlari ke tengah jalan.


“Papi! Awas!”.


Lathan berteriak pada Radit yang sedang menoleh padanya


“Hah! Aah!!!”


Ckiiittt

__ADS_1


Brak!


__ADS_2