
Keesokan harinya.
Kepala penyidik sedang melapor kepada atasannya mengenai kasus dihotel Radit.
"Apa kamu benar-benar tidak mendapatkan hasil apapun dari penyelidikan selama hampir 2 minggu itu?" tanya kapolsek hotel Radit.
"Saya tidak mendapatkan petunjuk apapun Pak. Tidak ada bukti ataupun petunjuk apapun yang saya temukan dihotel pak Radit. Tapi saya yakin kalau pelakunya adalah orang dalam. Jika orang luar yang melakukannya pasti ada jejak yang ditinggalkan oleh mereka" ujar penyidik itu menjelaskan dengan sikap tenang sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Bagaimana kamu bisa yakin kalau pelakunya adalah orang dalam sedangkan kamu tidak memiliki bukti sama sekali? Kamu tidak bisa menuduh orang tanpa adanya bukti" ujar pak kapolsek dengan nada bicara yang sedikit tegas.
"Tapi pak jika bukan Radit pelakunya, siapa lagi? Hanya dia saja orang yang harus kita curigai" penyidik itu bersikeras kalau Raditlah yang melakukan pembunuhan.
"Jika memang dia, lalu apa motif yang dia miliki untuk melakukannya?" tanya kapolsek yang terlihat semakin kesal.
"Ada banyak motif dibalik setiap kejadian. Apalagi dia itu orang besar. Bisa saja…"
"Karena dia orang besar jadi tidak mungkin melakukan hal kotor seperti ini. Sudahlah jangan dibahas lagi. Apalagi kasusnya akan segera ditutup".
Kapolsek itu memotong pembicaraan kepala penyidik sebelum dia selesai bicara.
Tring
Sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponsel kapolsek itu. Dia langsung meraih ponselnya dan membuka isi pesan itu.
"Ger, bagaimana dengan yang aku perintahkan?" tanya Sofia pada Gerry. Dia terlihat duduk di kursi kerjanya dengan Gerry berdiri dihadapannya.
"Semua sudah sesuai rencana kita. Mereka tidak mungkin menemukan bukti apa-apa dan hari ini kasus ini akan ditutup. Jadi anda tidak perlu khawatir lagi" ujar Gerry dengan sikap yang sopan.
"Apa-apaan ini?" tanya kapolsek yang terkejut dengan mata membelalak setelah melihat video yang dikirim padanya.
key mn"Ada apa pak?" tanya kepala penyidik melihat reaksi atasannya.
"Aku mendapatkan video ini. Kamu bilang tidak ada bukti sama sekali. Lalu bagaimana video ini bisa terkirim padaku?!". Kapolsek itu terlihat marah pada kepala penyidik.
"Anu … itu … darimana anda mendapatkannya?" tanya kepala penyidik dengan dahi berkerut dan sedikit ragu-ragu.
"Ada seseorang yang mengirimkannya padaku. Cepat cari tahu semuanya berdasarkan video ini. Jangan sampai kamu kehilangan jejak seperti dihotel!" ujar kapolsek dengan sikap tegas.
"Baik, Pak!" kepala penyidik itu pun bergegas pergi meninggalkan kantor polisi dan bergegas kehotel Sofia.
...****************...
Diluar kini sedang riuh karena siaran yang dilakukan oleh Ardhan. Dia menyambungkan kamera pengintai diruang Sofia dengan saluran televisi yang dipasang diluar.
__ADS_1
"Karena kasus pembunuhan dihotel Radit akan ditutup, kamu bisa sebarkan berita mengenai pembunuhan misterius yang tidak diketahui sebabnya. Setelah itu kamu bisa katakan kalau perusahaan yang dikelola Radit meminta tumbal nyawa untuk kesuksesan bisnis Radit, jadi tidak menutup kemungkinan kalau akan ada korban selanjutnya lagi" .
Semua orang sangat terkejut melihat apa yang ditampilkan dilayar televisi besar itu.
"Apa?Jadi pembunuhan yang terjadi dihotel Radit itu sudah direncanakan?"
"Masa iya nyawa orang dijadikan alat untuk mendapatkan keuntungan dalam bisnis"
"Benar-benar busuk. Dia menggunakan nyawa orang lain untuk menjatuhkan bisnis lawannya? Ini gila"
"Mereka pengusaha yang kotor. Mereka benar-benar tidak pantas menjadi seorang pengusaha "
Semua orang saling berkomentar mengenai apa yang dilakukan Sofia. Mereka sangat geram dengan Sofia yang menggunakan kematian seseorang untuk menjatuhkan Radit.
"Aku tidak ingin menginap dihotelnya lagi"
"Aku juga tidak ingin menginap disini lagi"
"Aku ingin mencari hotel lain"
"Aku akan kembali ke hotel Radit"
Banyak tamu hotel Sofia pun langsung keluar dari hotelnya karena tidak ingin menghabiskan uang mereka untuk Sofia.
...****************...
Radit, Lathan dan Ardhan sedang melihat televisi dimana Sofia dan Gerry sedang mengungkapkan semua kejahatan mereka sendiri tanpa sadar kalau mereka sedang direkam.
"Pih, bagaimana menurut Papi? Apa segini sudah cukup?" tanya Ardhan pada Radit yang sedang memperhatikan dengan serius.
"Bagaimana menurutmu?Apa ini pantas mereka terima?". Radit balik bertanya pada Lathan yang diam memperhatikan dengan raut wajah suram.
"Ini masih tidak cukup. Mereka harus lebih menderita dari apa yang papi alami. Mereka membuat nama baik papi rusak. Hotel kita mengalami kerugian dan lagi polisi juga berkali-kali menyelidiki papi karena dicurigai sebagai pelaku kasus ini. Aku ingin mereka dipenjara lebih lama dan membusuk disana" ujar Lathan dengan sorot mata penuh kebencian.
"Bagaimana kalau kita kunjungi mereka sebelum polisi menangkap mereka lebih dulu?" tanya Radit dengan senyum tipis dibibirnya.
"Tentu" jawab Ardhan dengan ceria, sedangkan Lathan hanya menganggukkan kepala perlahan.
Ayah dan anak itu pun beranjak pergi meninggalkan hotel dan bergegas menuju hotel Sofia sebelum polisi datang menangkap mereka.
...****************...
"Gawat Bu! Kita dalam masalah besar!". Salah satu karyawan Sofia bicara dengan panik dan terengah-engah setelah dia berlari untuk memberitahu Sofia berita yang heboh.
__ADS_1
"Ada apa? Kenapa pabik begitu?". Sofia bertanya dengan dahi berkerut karena heran.
"Lihat ini Bu!". Karyawan pria itu menunjukkan video siaran yang belum lama diputar di seluruh televisi.
Mata Sofia membelalak karena terkejut dan juga marah.
Brak!
"Apa-apaan semua ini?! Geledah seluruh ruangan ini dan cari semua kamera yang tersembunyi diruangan ini!". Sofia berteriak pada karyawannya dan melemparkan ponsel yang ada ditangannya.
"Baik Bu!". Beberapa karyawan pun dipanggil untuk membantu mencari kamera yabg disembunyikan diruangan Sofia.
"Bu, saya menemukan ini!"
"Saya juga menemukan ini!"
"Saya menemukan kamera disini!"
Satu persatu penyadap dan juga kamera pengintai ditemukan. Namun Sofia masih tidak habis pikir dengan orang yang menaruh semua itu diruangannya.
"Bagaimana bisa ini semua … Gerry apa ada mata-mata di hotel saya?!" tanya Sofia pada Gerry.
"Itu tidak mungkin. Tapi saya juga tidak tahu bagaimana ini bisa terjadi". Gerry tampak bingung setelah melihat apa yang ada dihadapannya.
"Bagaimana? Apa kalian senang dengan hadiah yang aku berikan?".
Semua orang menoleh ketika mendengar suara Radit.
"Kamu! Apa yang kamu lakukan disini?!" teriak Sofia pada Radit yang baru saja tiba bersama Lathan dan Ardhan dibelakangnya.
"Sepertinya memang anda sudah mengenal saya sebelumnya" ujar Radit dengan sikap yang tenang dan senyum tipis dibibirnya.
"Siapa yang tidak mengenal Raditya Reifansyah Nugraha? Saya yakin semua orang pasti mengenal anda dan keluarga anda". Sofia menanggapi dengan sikap yang dingin.
"Tapi sepertinya saya tidak mengenal anda, bagaimana anda bisa menyerang saya seperti ini?" Radit tetap menunjukkan senyum pada Sofia sambil berjalan melewatinya dan duduk disalah satu kursi dengan penuh wibawa.
"Kamu seorang pria bermartabat yang berasal dari keluarga kaya, bagaimana bisa kamu menikahi perempuan dari panti asuhan seperti itu?!" ujar Sofia dengan mata penuh kebencian.
"Kamu sangat mengenal istriku juga ya? Aku semakin penasaran kenapa kamu melakukan itu pada kami?". Radit bicara dengan sikap yang tenang dan dingin.
"Aku membenci istrimu. Bagaimana bisa dia hidup bahagia sedangkan Luna dan Lulu terlunta-lunta dijalanan? Andra itu hanya anak pungut dan dia tidak berhak mendapatkan segalanya seperti sekarang!".
Sofia bicara dengan penuh emosi. Dia meluapkan semua kekesalannya pada Radit.
__ADS_1
"Apa kamu sudah selesai bicara? Apa hakmu bicara begitu? Kamu tidak berhak menentukan istriku berhak bahagia atau tidak karena kamu bukan Tuhan!"