
2 hari kemudian
“Aku tidak bisa menemanimu menjemput saudaramu dibandara. Aku harus pergi bersama dengan Mami” tulis Lathan dalam pesan singkatnya pada Fandy
“Ok”
Fandy tidak marah atau menanyakan banyak hal. Dia membalas dengan singkat lalu bersiap pergi sendiri ke bandara untuk menjemput saudaranya. Fandy pergi sambil mengendarai mobilnya sendiri. Mobil SUV keluaran terbaru berwarna hitam dengan tampilan manly. Fandy berkendara dengan kecepatan sedang sambil menikmati perjalannya.
"Bisa-bisanya Lathan membiarkanku menjemput Zara sendirian? Bagaimana bisa ada teman seperti dia? Pakai acara macet segala lagi".
Gumam Fandy terus menggerutu selama perjalanannya ke bandara.
Setelah menempuh perjalanan panjang karena macet, akhirnya Fandy tiba juga dibandara. Dia langsung bergegas masuk ke dalam bandara dan berjalan menuju pintu masuk kedatangan luar negeri untuk menunggu sepupunya.
"Apa pesawatnya sudah landing? Kenapa dia tidak ada?" ujar Fandy sambil terus celingak celinguk diantara kerumunan orang-orang untuk mencari sosok sepupunya yang katanya hari ini akan tiba di disana.
Dari belakang Fandy, berjalananlah seorang gadis dengan langkah kaki yang anggun sambil menarik koper disebelah tangannya. Dia mengenakan hotpants yang berwarna senada dengan jasnya, dilengkapi dengan sepatu high heels jenggel yang hampir menutupi betisnya. Rambut lurusnya tergerai dengan sangat indah hingga ke pinggang, dia juga mengenakan kacamata hitam sebagai penyempurna penampilannya.
“Aku kira kamu tidak akan menjemputku. Kenapa lama sekali?”.
Fandy menoleh ketika seseorang menepuk pundaknya. Dia menatap wajah sang gadis yang langsung bicara padanya. Kulit putihnya yang mulus dengan hidung mancung dan bibir merah kecilnya membuat semua orang
terpana menatap kearahnya.
Zara Nadin Bagaskara, dia adalah saudara sepupu Fandy yang selama ini tinggal diluar negeri bersama dengan orang tuanya. Saat ini Zara memutuskan untuk kembali ke Negara A dan tinggal bersama dengan keluarga Fandy karena orang tuanya selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
Fandy tersenyum tipis menyambut saudaranya itu.
“Jalanan sedikit macet. Aku juga berencana datang kemari dengan temanku, jadi aku menunggunya terlebih dahulu, namun ternyata dia tidak bisa pergi, karena itu aku terlambat” . Fandy menjelaskan dengan sikap yang
tenang disertai senyum tipis dibibirnya.
“Alasan klasik. Aku tidak butuh hal yang seperti itu. Aaah … aku sangat merindukanmu. Apa kamu tahu kalau aku sudah tidak sabar untuk pindah kemari dan tinggal bersama denganmu?”.
Gadis itu langsung memeluk Fandy setelah dia sedikit menggerutu pada Fandy.
“Aku juga merindukanmu. Tapi, apa kamu yakin akan tinggal dirumahku? Kamu tahu sendiri kan bagaimana rumahku? Jangan sampai itu merusak kulitmu yang mulus ini”. Ujar Fandy dengan nada bicara yang sedikit mencibir dengan senyum yang manis.
“Kamu benar juga. Jika aku tinggal dirumahmu sudah pasti aku akan sakit kepala mendengarkan ocehan ibumu itu. Lalu apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku pergi mencari apartemen baru saja?” ujar Zara dengan nada bicara yang sedikit manja.
“Jika kamu tinggal diapartemen, maka pintu kamarmu akan didobrak setiap hari”.
Zara tersenyum sambil memicingkan matanya menatap Fandy.
“Kalau begitu apa yang harus aku lakukan? Sepertinya aku tidak punya pilihan lain karena memilih datang kemari?”
“Sudahlah, ayo kita pulang. Orang tuaku sudah menunggu kedatangnmu”.
__ADS_1
“Euh…”
Fandy pun menarik koper milik Zara dan mereka pun berjalan keluar meninggalkan bandara
***
Sementara itu Lathan sedang menemani Andra pergi ke mall dia berjalan mengikuti Andra sambil menggendong gadis kecil yang lucu dipangkuannya.
“Mami, apa Mami sudah selesai memilih? Kenapa Mami lama sekali? Bukannya Mami tinggal membeli saja semua model pakaian yang ada disini? Mami bisa memakai manapun yang Mami suka”.
Lathan bicara dengan nada yang kesal karena dia harus menemani Andra berbelanja.
“Eu eu eu. Lathan, Jika Mami membeli semuanya, maka Mami tidak akan bisa menimati waktu berbelanja seperti ini denganmu. Mami hanya ingin menghabiskan waktu Mami dengan putra dan putri Mami saja”.
Andra bicara dengan sikap yang tenang sambil menggelengkan kepalanya berkali-kali saat memberikan alasan pada Lathan agar dia percaya.
“Kenapa Mami malah mengajakku dan tidak pergi dengan papi atau Ardhan saja? Aku kan jadi tidak bisa pergi dengan Fandy”. Lathan terus saja mengeluh pada Andra sambil sesekali mengajak gadis kecil dipangkuannya bicara
“Jika Mami pergi dengan papi, dia akan membeli semua yang Mami pegang. Mami tidak mau melakukan itu". Andra menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Bukannya itu bagus? Mami tidak perlu mengeluarkan uang sendiri dan juga tidak perlu repot memilih ditoko. Mami bisa coba itu semua dirumah sepuasnya". Lathan menjawab dengan sikap acuh tak acuh.
"Tidak mau. Itu sama sekali tidak menyenangkan. Mami jadi tidak bisa menghabiskan waktu berbelanja di mall".
Para karyawan butik itu hanya bisa saling menatap dan merasa iri mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh Lathan dan Andra.
"Ardhan sedang sibuk. Entah apa yang dia lakukan dikamarnya, dia bahkan tidak mengizinkan Mami masuk. Apa jangan-jangan dia menyembunyikan sesuatu dari Mami?”.
Andra pun terus mengeluh perihal Ardhan sambil menikmati memilih pakaian untuknya.
“Jangan bicara yang tidak-tidak. Ardhan tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu. Tapi … siapa yang tahu juga apa yang dia lakukan sebenarnya”. Lathan mengangkat kedua bahunya sambil menggerakkan bibirnya saat
dia bicara. Cara bicara membuat Andra menatapnya dengan tatapan curiga.
“Jangan-jangan … kamu tahu sesuatu dan merahasiakannya dari Mami?”
“Tidak, tidak. Aku tidak tahu apapun”
“Tata…esclim”.
Lathan langsung menoleh pada gadis dipangkuannya yang bicara sambil menarik bajunya. Dia menunjuk pada pengunjung mall lain yang sedang makan eskrim.
“Kamu mau eskrim?” tanya Lathan pada gadis kecil itu dengan sangat lembut.
“Mami, aku akan pergi dulu membawa Lili membeli eskrim. Aku harap saat aku kembali Mami sudah selesai belanja”.
Lathan bicara dengan sikap acuh tak acuh sambil beranjak pergi meninggalkan Andra
__ADS_1
“Iya, bawel. Mami akan segera selesai. Jaga Lili baik-baik. Jangan sampai dia berlarian ditempat ramai”. Andra berpesan pada Lathan yang sebenarnya sudah semakin menjauh, jadi dia sedikit meninggikan suara pada putra
sambungnya itu.
“Lili mau eskrim rasa apa? Jangan terlalu banyak ya. Nanti Lili bisa sakit”. Lathan bicara dengan sangat lembut disertai senyum yang manis dibibirnya saat dia berada didepan toko eskrim
“Lili mau esclim tlobelli tua. Tata beyi lata toklat, tanti Lili mita puna Tata”.
Lili menanggapi Lathan dengan sikap yang manja. Pelafalannya yang belum fasih membuatnya terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
“Kamu mau beli eskrim stroberi dua dan masih ingin yang coklat juga? Apa kamu yakin akan menghabiskannya?” Lathan mengkonfirmasi permintaan gadis kecil itu sambil tersenyum manis
“Atu yatin” jawab Lili sambil menganggukkan kepala.
“Waah, adik kecil kakak ini sangat rakus ya?” ujar Lathan sambil mengejek sang adik.
Namanya adalah Liliana Syavania Nugraha. Dia berumur 5 tahun dan Andra sudah memasukkannya ke play grup agar dia mudah bersosialisasi dengan orang lain. Lili sangat cerdas dan juga cerewet.
“Lili titak latus. Lili hana nau toba taja” ujar Lili menanggapi sambil menggerakkan kepala dan jari telunjuknya secara bersamaan.
“Kalau begitu begini saja. Kita beli eskrim stroberi satu dan coklat satu, jadi Lili bisa mencoba keduanya, tapi tidak boleh banyak-banyak ya, nanti Lili sakit”
Lathan pun akhirnya setuju untuk membeli 2 eksrim untuk adik bungsunya itu
“Holeee… Tata memang yang telbaik”.
Lili bersorak sambil mengacungkan sebelah ibu jarinya pada Lathan.
“Jangan bilang-bilang Mami ya, nanti Mami akan marah”
“Iya”
Lili pun setuju sambil menganggukkan kepalanya.
“Tolong eskrim coklatnya satu, stroberi satu” Lathan langsung memesan eskrim yang diminta Lili
“Ini, silahkan eskrimnya”
“Terimakasih. Ayo Lili kita makan disana!”.
Lathan langsung membayarnya setelah dia menerima eskrim yang dia pesan. Lalu dia beralih pada sang adik yang menunggu disampingnya. Mereka pun berjalan menuju sebuah kursi yang ada dimall. Lathan terus berjalan sambil memperhatikan sang adik agar tidak terjadi sesuatu padanya.
Lathan meletakkan eskrimnya di kursi dan membantu sang adik untuk duduk.
“Ini eskrimnya. Makanlah perlahan, ya”
“Baik Tata. Telimakatih”.
__ADS_1
Lathan hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum mennaggapi sang adik. Diapun duduk disampingnya sambil memperhatikan Lili yang makan eskrim sampai belepotan.