Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Upaya Lidia Menggoda Radit


__ADS_3

Lidia dan Lathan sudah kembali dari minimarket setelah selesai membeli semua bahan makanan yang dibutuhkan oleh Andra.


"Den Lathan, ingat untuk tidak memberitahu kedua orang tuamu tentang apa yang kita bicarakan tadi ya? Aku pasti akan membantu den Lathan untuk memastikan apa bu Andra pantas menjadi ibu anda atau tidak. Den Lathan tidak perlu khawatir, ok?" Lidia bicara dengan lembut dan sembunyi-sembunyi agar tidak ada yang tahu apa yang dia bicarakan dengan Lathan.


"Ya, bibi tenang saja. Aku pandai menjaga rahasia" ujar Lathan dengan sikap yang polos


"Apa yang kalian lakukan disini? Apa juga yang kalian bawa itu?" Lidia dan Lathan langsung berbalik begitu mendengar suara Radit yang kini berdiri dibelakang mereka.


"Haduh! Apa pak Radit mendengar apa yang aku katakan pada Lathan ya?" pikir Lidia begitu dia melihat Radit


"Pak Radit? Kami baru saja kembali dari minimarket didepan sana untuk m embeli bahan makanan yang dibutuhkan bu Andra" Lidia yang sebelumnya terkejut masih terlihat canggung karena berusaha merubah ekspresi diwajahnya dengan cepat.


"Papi? Papi sudah pulang?" Lathan langsung berlari dan melompat kepelukan Radit.


"Iya, sayang. Papi sudah pulang. Bahan makanan apa?" tanya Radit memastikan sambil menatap Lathan yang ada digendongannya.


"Karena sudah lama aku tidak makan makanan yang dimasak mami, jadi aku meminta mami untuk membuatkanku makan malam hari ini" Lathan menjelaskan dengan sikap yang tenang dan senyum ceria diwajahnya.


"Lathan, kamu lupa ya kalau mami sedang hamil? Bagaimana kalau sampai nanti mami kelelahan dan terjadi sesuatu pada calon adikmu?" Lathan menggelengkan kepala dengan wajah kecewa mendengar ucapan Radit


"Maafkan aku, Pih. Aku hanya rindu masakan mami, karena itu aku minta mami memasak untukku" ujar Latha dengan kepala tertunduk dan raut wajah kecewa.


"Apa yang kak Radit katakan sampai LathanĀ  terlihat sedih begitu?" tanya Andra yang mendengar percakapan Radit dan Lathan.


Lidia yang melihat kedatangan Andra langsung beranjak pergi ke dalam dengan kantong belanjaan ditangannya.


"Tidak ada. Aku hanya mengatakan kalau kamu bisa saja kelelahan karena memasak. Jadi lebih baik kalau aku saja yang akan memasak" Radit menanggapi Andra sambil berjalan mendekat kearahnya lalu mencium sebelah pipinya.


"Mana mungkin aku kelelahan saat memasak untuk putraku sendiri? Itu tidak mungkin. Lagipula hanya memasak sedikit saja. Itu tidak akan sampai membuatku mengeluarkan banyak tenaga" ujar Andra dengan penuh percaya diri dan senyum tipis dibibirnya.


"Kamu yakin kalau kamu tidak akan kelelahan saat memasak untuk kami?" tanya Radit memastikan.


"Begini saja. Bagaimana kalau kak Radit dan Lathan membantuku menyiapkan bahan makanannya, dan aku yang akan memasaknya. Bagaimana?" Radit dan Lathan saling menatap satu sama lain kemudian tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala

__ADS_1


"Ya, kami setuju" ujar Radit dan Lathan bersamaan.


"Kalau begitu, kak Radit ganti pakaian dulu. Setelah itu kakak bisa langsung ke dapur membantu kami" ujar Andra sambil meraih tas milik Radit


"Baik, nyonya. Aku akan segera ganti baju" Radit pun masuk kedalam bersama Lathan yang masih ada digendongannya.


"Papi akan ganti baju dulu. Jika tidak, maka mami akan terus mengomel" bisik Radit pada Lathan sambil menurunkannya.


"Baik, Papi. Aku akan menunggu didapur dengan mami" Lathan langsung berlari kedapur mengikuti Andra sedangkan Radit berjalan menuju kamarnya.


"Apa yang kamu lakukan dikamarku?" tanya Radit dengan sikap yang dingin begitu melihat Lidia ada dikamarnya


"Maafkan saya, Pak. Saya hanya ingin menyimpan tas anda saja" jawab Lidia dengan kepala tertunduk.


"Ya sudah. Keluarlah sekarang" Radit meminta Lidia keluar sambil berjalan melewatinya untuk mengambil pakaian didalam lemari.


"Ah"


Entah bagaimana tiba-tiba Lidia terjatuh kepelukan Radit.


"Maafkan saya, Pak. Kaki saya tersandung, jadi saya jatuh" Lidia bicara dengan nada yang manja dan berusaha menggoda Radit


"Sudahlah. Cepat bangun dan keluar dari kamarku. Sekarang!" Radit menatap Lidia dengan sorot mata yang tajam dan penuh kemarahan. Auranya mengintimidasi sampai tubuh Lidia gemetar


"Ba-baik, Pak" Lidia pun langsung pergi dari kamar Radit dengan tergesa-gesa


Brak!


"Bagaimana bisa pak Radit terlihat sangat menyeramkan seperti itu? Aku harus lebih berhati-hati lagi agar bisa mengambil perhatiannya" gumam Lidia setelah dia keluar dari kamar Radit


"Sebaiknya aku mandi dulu saja. Aku tidak mau sampai Andra tertular virus dariku karena menyentuh Lidia tadi. Jika bukan karena ingin menangkap atasannya, sudah pasti dia aku keluarkan sekarang juga. Rasanya menyebalkan harus berdekatan dengan rubah betina seperti dia" gerutu Radit sambil meletakkan baju yang dia kenakan ke tong sampah


Tak berselang lama Radit turun kedapur setelah dia selesai mandi. Disana terlihat Andra dan Lathan sudah mulai memasak.

__ADS_1


"Apa yang bisa aku bantu?" tanya Radit sambil memeluk Andra dari belakang


"Papi, kenapa Papi lama sekali? Aku dan Mami sudah selesai membuat satu hidangan" Lathan mengeluh pada Radit yang baru saja turun setelah hampir setengah jam.


"Maafkan, Papi. Tadi Papi mandi dulu. Papi tidak mau mami dan calon dede bayi terkena virus karena Papi kotor" Radit menanggapi Lathan dengan senyum yang lembut.


"Oh, ku kira Papi tertidur" Lathan bicara dengan nada yang sedikit mengejek.


"Tidak. Mana mungkin Papi tertidur padahal Papi sudah mengatakan akan membantu kalian memasak?" Radit menanggapi Lathan dengan nada serius.


"Ah biasanya Papi juga langsung tertidur. Kalau tidak begitu, Papi akan langsung keruang kerja Papi dan melanjutkan pekerjaan disana" kini Lathan dan Radit saling berdebat dengan apa yang biasanya dilakukan oleh Radit


"Sudah-sudah. Bukannya kalian akan membantu Mami? Kenapa kalian malah berdebat disitu? Cepat bantu cuci sayurannya" Andra melerai ayah dan anak itu dengan senyum yang lembut


"Ini semua gara-gara papi terlambat, jadi aku malah bertanya pada Papi" gerutu Lathan dengan sangat menggemaskan.


"Kenapa jadi menyalahkan Papi? Tadi itu tubuh Papi sangat kotor, jadi Papi harus membersihkan diri dulu sebelum dekat dengan mami dan calon adik bayi"


"Kotor? Kenapa bisa kotor?" Andra sangat bingung dengan pernyataan dari Radit karena saat pulang tadi, Radit sama sekali tidak mengatakan kalau tubuhnya kotor.


"Tidak ada yang spesial. Ayo lanjutkan memasaknya" Radit tidak menjelaskan pada Andra yang sebenarnya terjadi, yang pasti disa sangat kesal dan terus menatap Lidia yang berdiri diluar dapur dengan penuh kebencian. Sedangkan Andra hanya bisa mengangkat kedua bahu sambil mengerucutkan bibirnya karena tidak mengerti dan tidak ingin ambil pusing.


Lathan, Radit dan Andra memasak dengan ceria didapur. Mereka saling membantu dengan sesekali tertawa dan bercanda.


"Akhirnya semua sudah siap. Ayo kita cicipi masakannya" Andra yang telah selesai dengan masakan terakhirnya langsung meminta Radit dan Lathan untuk segera keruang makan dan mencicipi masakannya. Sedangkan Lidia dan pembantu lama akan membersihkan dapur selama mereka makan.


"Waah sepertinya sangat enak" Lathan menatap semua makanan yang tertata dimeja makan dengan tatapan berbinar. Mulai dari olahan daging, ayam dan juga sayuran.


"Tentu saja enak. Ini kan buatan Mami" ujar Andra dengan senyum bangga.


"Kalau begitu kita makan saja"


"Iya". Andra pun mulai mengambilkan makanan untuk Radut dan juga Lathan. Mereka menikmati makan malam dengan suka cita. Sementara didapur Lidia terus menatap Radit, Andra dan Lathan dengan tatapan sinis

__ADS_1


"Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku agar aku bisa segera mendapatkan uang yang dijanjikan pak Surya padaku. Dengan begitu, aku bisa pergi liburan kemanapun yang aku mau"


__ADS_2