Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Memulai Rencana


__ADS_3

Zara kembali dari kantin dengan membawa rice box dan jus jeruk ditangannya. Perlahan dia mendekati Lathan yang sedang fokus dengan laptop miliknya.


"ini, makanlah. Sudah tidak ada apapun dikantin. Aku hanya bisa mendapatkan ini saja" ujar zara dengan nada yang sinis.


"Terimakasih. Maaf sudah merepotkanmu" ujar Lathan dengan senyum tipisnya. Dia pun mengambil makanan dari tangan Zara dan mulai memakannya.


Zara sedikit melihat layar laptop Lathan.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Sepertinya ini bukan pelajaran sekolah". Zara bicara dengan sikap yang tenang dan acuh tak acuh.


"Ya, memang bukan pekerjaan sekolah. Ini hanyalah hobby pribadi saja". Lathan dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis.


"Hobby? Dengan rumus-rumus seperti ini?". Zara kembali memastikan dengan dahi berkerut heran.


"Ya, banyak yang harus aku pelajari untuk tetap bertahan di dunia bisnis yang sangat keras ini. Jika tidak, maka sudah pasti aku akan ditekan oleh orang lain dan besar kemungkinan ada banyak orang yang akan menjadikanku sasaran mereka".


Zara terpana saat memperhatikan ekspresi Lathan saat dia sedang bicara.


"Sangat berat. Apa kamu harus jadi sempurna untuk bisa bertahan di dalam keluarga yang kaya raya?"


"Orang tuaku tidak pernah menuntutku untuk jadi sempurna, hanya saja aku yang harus bisa jaga diri. Aku tidak ingin mengulang kembali kejadian masa lalu dan membuat semua orang terluka. Jadi lebih bagus untuk menjadi kuat dan bertahan sendiri".


Zara terdiam mendengar penjelasan Lathan sambil melamunkan apa yang dikatakan Lathan.


"Apa dia juga memiliki masa lalu yang buruk untuk dikenang sepertiku? sampai dia harus bekerja keras agar kejadian lalu tidak terjadi lagi? Aku harus tanya Fandy"


Lathan memperhatikan ekspresi Zara yang langsung berubah murung.


"Ada apa dengan eksoresi wajahmu? Kenapa tiba-tiba berubah menjadi gelap? Bahkan gelapnya melebihi langut malam" ujar Lathan dengan sikap yang tenang dan penuh perhatian.


"Tidak ada apa-apa. Makan saja makananmu!Sebentar lagi jam istirahat selesai. Aku pergi dulu!" ujar Zara sambil berbalik dan pergi meninggalkan Lathan.


"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan sampai menutup rapat dirimu sendiri?" gumam Lathan menatap punggung Zara yang semakin menjauh darinya.


...****************...


Lathan dan Ardhan langsung kembali kehotel setelah mereka pulang sekolah.


"Papi, kami pulang"


"Papi bilang ada yang harus kami lakukan, apa itu?".

__ADS_1


Ardhan dan Lathan langsung masuk ke kantor Radit dan bertanya mengenai hal yang Radit katakan sebelumnya.


"Ya, Papi butuh bantuan kalian untuk menyelesaikan masalah ini".


Ardhan dan Lathan saling menatap satu sama lain mendengar ucapan sang ayah.


"Apa yang harus kami berdua lakukan?" tanya Lathan dengan wajah yang datar.


"Apa kalian yakin kalau Gerry dan Sofia adalah dalang dibalik semua masalah yang menimpa kita?". Radit sengaja tidak memberitahu kecurigaannya agar kedua anaknya bisa menganalisa sendiri masalahnya.


"Kami memang tidak terlalu yakin karena tidak memiliki bukti nyata, tapi semua kecurigaan mengarah pada mereka berdua".


Lathan menanggapi Radit dengan sikap yang tenang dan sedikit ragu.


"Kalau begitu gampang saja. Kalian berdua tinggal mencari buktinya saja. Buat Sofia dan Gerry menceritakan sendiri apa yang telah mereka lakukan pada kita". Radit bicara dengan sikap yang tenang disertai senyum tipis dibibirnya.


"Bagaimana caranya, Pih?"


"Bagaimana caranya, Pih?". Ardhan dan Lathan bertanya dengan serempak.


"Kenapa kalian berdua tiba-tiba menjadi sama-sama bodoh?". Radit menanggapi kedua putranya yang bicara bersamaan dengan dahi berkerut dan senyum mengejek.


"Ayolah Pih. Katakan saja" pinta Ardhan merasa tidak sabar.


Radit memicingkan mata dengan senyum dibibirnya, dia menyangga dagunya dengan jari-jari tangan yang saling bertautan.


Ardhan dan Lathan kembali menatap satu sama lain kemudian mereka saling melempar senyum.


"Maksud Papi, kami boleh bersenang-senang dengan mereka?" tanya Ardhan dengan senyum cerianya.


"Tentu. Kalian bisa melakukan apa saja yang kalian inginkan" ujar Radit menanggapi sang anak.


Lathan menatap sang ayah dengan tatapan heran.


"Papi, katakan dengan jujur. Papi sudah yakin kan kalau mereka yang terlibat dengan itu semua?" tanya Lathan dengan dahi berkerut.


"Kamu sudah pintar menebak ya?" ujar Radit menggoda Lathan dengan senyum yang lembut.


"Kalian memang benar. Semua bukti mengarah padanya. Besar kemungkinan kalau dia yang merencanakan semua ini" sambung Radit menjelaskan.


"Tapi kenapa? Apa dia memiliki dendam pada Papi?" tanya Ardhan yang masih tidak mengerti dengan penyebab Sofia melakukannya.

__ADS_1


Radit menatap kedua putranya yang sedang bingung.


"Sofia dan mami kalian saling mengenal. Katanya mereka kenal saat masih kecil, sebelum dia pindah keluar negeri. Sayangnya Sofia tidak pernah suka pada mami kalian. Jadi besar kemungkinan kalau dia melakukan ini karena dendam terhadap mami kalian".


Ardhan dan Lathan mendengarkan dengan seksama penjelasan dari Radit.


"Dendam pada mami? Apa yang telah mami lakukan? Mami tidak terlihat seperti orang yang suka berurusan dengan orang lain". Lathan terlihat semakin bingung dengan penjelasan Radit.


"Papi juga tidak tahu dengan motif jelasnya. Jika kalian ingin tahu, maka cari buktinya!" ujar Radit dengan tegas.


"Baik Pih. Kami akan dapatkan buktinya"


"Bagus. Papi sudah siapkan barang-barang yang kalian butuhkan. Semuanya ada didalam sini".


Radit menunjuk pada ransel yang ada di hadapan putranya.


Lathan membuka ransel itu dan melihat isinya. Disana tersedia banyak barang yang mereka butuhkan.


"Papi ingin kami menyelinap kekantor Sofia?" tanya Lathan setelah melihat isi ransel dari Radit.


"Ya. Tidak banyak yang tahu kalau kalian adalah putraku, tapi tetap saja kalian harus menyamar agar mereka tidak menemukan kalian dengan mudah".


"Papi tenang saja. Kami sudah mengerti dengan apa yang harus kamu lakukan" ujar Lathan dengan senyum percaya dirinya.


"Iya Pih. Kami pasti bisa melakukannya dengan mudah". Ardhan pun tidak kalah yakin dengan sang kakak.


"Papi percaya pada kalian. Tapi Lathan, adikmu ini masih kecil, jadi kamu tetap harus menjaga dia baik-baik" pesan Radit pada Lathan.


"Papi tidak perlu khawatir. Aku pasti melindungi Ardhan. Aku tidak akan membuat dia celaka"


"Bagus. Kalian bisa ganti baju kalian dan mulai bergerak. Biasanya Sofia dan Gerry akan meninggalkan hotel jam segini, dan kembali sebelum petang. Kalian seharusnya bergegas sekarang agar semuanya bisa kalian lakukan sekaligus".


"Baik, Pih. Kami pergi dulu".


Ardhan dan Lathan bergegas pergi meninggalkan ruangan Radit setelah sang ayah menganggukkan kepala pada mereka berdua.


"Can, bantu Ardhan dan Lathan melakukan tugas mereka" ujar Radit yang menghubungi Candra melalui telepon.


"Kenapa kamu membiarkan kedua anakmu pergi? Mereka masih kecil, Dit" tanya Candra dengan sikap kesal.


"Tidak mungkin kita berdua yang pergi. Mereka sudah mengenal wajahmu dan polisi selalu mengawasiku karena curiga kalau aku terlibat kasus ini. Aku hanya perlu meminta Ardhan dan Lathan untuk memasang penyadap dan kamera pengintai saja. Mereka bukan anak bodoh yang akan melakukan semuanya tanpa pertimbangan. Kita lihat saja apa yang akan mereka lakukan. Tapi kamu tetap harus awasi mereka. Jangan sampai terjadi sesuatu pada mereka berdua"

__ADS_1


"Tentu. Aku mengerti. Aku akan pergi membantu mereka berdua. Kamu tidak perlu khawatir"


__ADS_2