Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Terbongkarnya Kebohongan Lathan Dan Ardhan


__ADS_3

Radit baru saja kembali kerumah setelah seharian berada dikantor. Dia menoleh kesana kemari ketika memasuki rumah.


"Rasanya ada yang aneh. Kira-kira apa yang berbeda?".


Radit bergumam sambil terus menoleh kesana kemari seakan mencari sesuatu yang hilang.


"Yeeay... Papi tudah puyang" ujar Lili bersorak ketika melihat Radit.


"Kamu sudah pulang, Pih?" tanya Andra yang datang menyambutnya bersama sikecil Lili.


"Ya, Papi pulang" Radit pun menanggapi sambil mengangkat Lili ke pangkuannya.


"Kenapa rumah terasa sepi ya?".


Radit bertanya pada Andra agar dia memberitahu apa yang kurang.


"Lathan dan Ardhan tidak pulang kerumah. Katanya mereka akan menginap diluar malam ini".


Radit mengerutkan dahinya saat dia mendengar kalau kedua putranya tidak akan pulang kerumah.


"Tidak pulang? Memangnya ada acara apa sampai mereka menginap diluar?"


Radit bertanya dengan raut wajah bingung.


"Aku juga tidak tahu. Tadi Lathan menelepon dan mengatakan kalau dia dan Ardhan akan menginap diluar malam ini"


"Oh... ya sudah, kita biarkan saja mereka. Lili Papi ke atas dulu ya? Papi ingin mandi dulu. Badan Papi rasanya sangat lengket dan juga bau".


Radit bicara pada Lili sambil mencium sendiri bau tubuhnya.


"Baik Papi. Tapi nanti Papi temani atu main ya" ujar Lili dengan lucunya.


"Iya, nanti Papi akan temani kamu".


Radit pun beranjak pergi meninggalkan sang putri dan juga Andra. Dia berjalan menuju ruang kerjanya.


"Tidak biasanya mereka tidur diluar rumah. Apa yang terjadi dengan mereka berdua?".


Radit terus saja merenung memikirkan kedua putranya. Diapun mulai membuka laptopnya dan mencari data mengenai hotel sekitar sekolah Ardhan untuk melihat apakah ada acara atau tidak.


"Hotel sekitar sekolah Ardhan. Tidak ada yang menggelar acara disana" gumam Radit memeriksa kamera CCTV sekitar hotel.


"Kalau begitu aku harus periksa setiap tamu hotel".


Radit pun mulai menerobos komputer milik hotel untuk mencari nama kedua putranya.


"Ketemu. Kita lihat ada apa sampai kalian tidur dihotel".


Radit kembali meraih ponsel dan kunci mobil miliknya dan beranjak pergi meninggalkan ruang kerja.


"Pih, mau kemana? Katanya tadi mau mandi?" tanya Andra yang melihat Radit bergegas keluar tanpa mengganti pakaiannya.

__ADS_1


"Aku keluar dulu sebentar. Ada sesuatu yang harus aku urus".


Radit menanggapi Andra sambil berlalu pergi meninggalkannya karena takut sang istri akan bertanya lebih jauh lagi.


"Eh tapi Pih".


Andra belum selesai bicara pada Radit karena dia sudah terlanjur pergi.


"Kenapa Kak Radit terburu-buru seperti itu? Apa ada sesuatu yang darurat ya?" gumam Andra menatap sisa kepergian Radit.


...****************...


Radit berkendara dengan kecepatan tinggi. Dia mengemudi menuju hotel dimana terdaftar nama Lathan disana.


Tak berselang lama, Radit tiba dihotel yang dia tuju. Dia memandangi hotel tersebut cukup lama sebelum akhirnya memarkirkan mobilnya.


"Jadi kalian ada disini? Aku ingin lihat sebenarnya apa yang kalian sembunyikan dariku" pikir Radit sambil menatap nama hotel bintang 3 tersebut.


Radit pun turun dari mobil dan membiarkan mobilnya diparkirkan oleh petugas parkir hotel.


Dia melenggang dengan gagahnya memasuki hotel. Tidak sedikit orang yang menatap kearahnya saat melihat dia berjalan menuju meja resepsionis.


"Permisi, kamar tamu hotel bernama Lathan ada disebelah mana?".


Radit bertanya dengan sikap yang dingin.


"Maaf Pak. Kami tidak dapat memberitahu informasi mengenai tamu" jawab petugas hotel dengan ragu-ragu.


Radit tetap bersikap tenang meskipun saat ini dia mulai kesal karena rasa penasarannya.


"Tapi Pak …"


"Katakan dimana kamar mereka".


Nada bicara Radit terdengar semakin dingin dan menyeramkan.


"Ada dikamar 105 lantai 3" ujar petugas resepsionis yang berusaha menahan tubuhnya yang gemetar.


"Terimakasih".


Radit langsung beranjak pergi menuju kamar yang kini sedang ditempati kedua putranya.


Radit langsung mencari kamar Lathan dan Ardhan yang dikatakan petugas resepsionis.


"105, itu dia" ujar Radit begitu menemukan kamar yang dia cari. Dia pun mendekati kamar itu dan mengetuk pintunya


Tok tok tok


Radit berdiri didepan pintu menunggu ada yang membukakan pintunya.


Ceklek

__ADS_1


Tak berapa lama pintupun terbuka. Disana terlihat Lathan yang berdiri dibalik pintu


"Pa-pi?" gumam Lathan yang terkejut sekaligus panik begitu melihat sang ayah berdiri disana.


"Apa yang kalian lakukan disini? Kenapa kalian tidak pulang kerumah?".


Radit bertanya sambil melenggang masuk ke kamar Lathan tanpa menunggu izin darinya. Didalam kamar terlihat Ardhan sedang menonton televisi sambil memakan cemilan.


"Papi?!".


Ardhan yang sedang bersantai dengan meluruskan kakinya dan sambil bersandar pada sofa langsung duduk tegap begitu melihat Radit.


"Kalian menginap dihotel hanya untuk menikmati hal yang biasa kalian nikmati dirumah?" ujar Radit dengan sikap dingin dan acuh tak acuh.


"Ada apa dengan wajahmu?" tanya Radit begitu dia menyadari kalau ada lebam disebelah pipi Ardhan.


Ardhan dan Lathan hanya diam dan saling menatap satu sama lain ketika Radit bertanya padanya.


"Kenapa kalian diam saja? Jangan bilang kalau ini alasan kalian tidak pulang kerumah?" tanya Radit lagi karena tidak mendapatkan jawaban dari kedua putranya.


"Cepat katakan apa yang terjadi? Atau Papi harus cari tahu sendiri tentang apa yang terjadi pada pipimu?".


Radit bertanya dengan sikap yang dingin dan mengintimidasi hingga membuat Ardhan dan Lathan hanya bisa menundukkan kepala.


"Sebenarnya … sejak hari pertama masuk sekolah, ada beberapa siswa senior yang selalu mencari masalah denganku. Tadi siang mereka kembali mencari masalah dan memukulku, namun aku membalas pukulan mereka dan berakhir dipanggil kepala sekolah. Tapi kali ini aku berhasil lepas dan tidak mendapatkan hukuman apapun. Hanya saja pipiku yang kena pukul ternyata lebam. Jika aku pulang kerumah, mami pasti akan khawatir, karena itu aku meminta kak Lathan membawaku menginap dihotel hari ini".


Ardhan bercerita dengan kepala tertunduk karena gugup.


"Apa kamu tidak takut kalau besok mereka akan membalasmu lebih dari apa yang mereka lakukan hari ini?" tanya Radit dengan sikap yang tenang.


"Ya, aku sudah tahu itu. Karena kepala sekolah dan juga guru tidak menghukumku, aku yakin kalau mereka akan mencari cara lain untuk membalas dendam padaku. Terlebih lagi orang tua mereka bukanlah orang sembarangan. Mereka memiliki pengaruh disekolahku" ujar Ardhan lagi menjelaskan.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" Radit bertanya dengan sikap yang tenang.


"Aku akan membantunya, Pih".


Lathan menyela disaat Ardhan belum menjawab sang ayah.


"Aku sudah mendapatkan caranya".


Ardhan beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju tas miliknya. Dia mengeluarkan laptop dan mulai mencari data mengenai sekolahnya.


"Aku menggunakan ini untuk mengancam kepala sekolah agar dia melindungiku sementara waktu, tapi aku yakin kalau dia juga pasti mencari cara untuk menyingkirkan ini agar aku tidak bisa membongkarnya. Aku juga sudah mencari biodata lengkap mengenai keluarga senior yang menggangguku. Aku akan buat mereka semua keluar dari sekolah. Jika perlu keluarga mereka yang akan aku serang agar tidak bisa bergerak lagi"


Radit dan Lathan sangat terkejut mendengar apa yang direncanakan Ardhan. Mereka saling menatap satu sama lain dengan raut wajah bingung dan tak percaya.


"Ardhan... kamu... sejak kapan kamu mengerti hal seperti ini?" tanya Radit dengan raut wajah bingung


"Aku belajar sejak kelas 5 SD" jawab Ardhan dengan ragu.


"Itu berarti … ada kemungkinan kalau yang memenangkan kompetisi hacker itu … kamu?"

__ADS_1


__ADS_2