
"Pak Radit? Anda pulang lebih awal?" Bi Marni membukakan pintu menyambut kedatagan Radit ketika dia pulang kerja
"Apa anak dan istriku sudah pulang?" Radit bertanya dnegan sikapnya yang dingin
"Belum pak. Mungkin bu Andra dan den Lathan sebentar lagi akan pulang" Bi Marni menjawab Radit yang bertanya sambil berlalu dari hadapannya. Seperti biasa, dia akan mengambil tas kerja Radit dan juga jasnya lalu disimpan di tempat yang seharusnya
"Kalau begitu tolong panggilkan Sari keruang kerjaku" Ujarnya sambil berlalu meninggalkan bi Marni menuju ruang kerja miliknya
Tok tok tok
"Masuk!"
"Anda memanggil saya pak?" Sari masuk keruang kerja Radit setelah mendapatkan izin darinya. Sebelumnya bi Sari telah memberitahunya kalau Radit sedang mencarinya
Sari melangkah dengan ragu-ragu ke dalam ruang kerja Radit. Disana terlihat Radit yang duduk bersandar dengan kemeja putih yang setengah bagian tangannya digulung hingga ke siku, dasinya sudah tidak lagi menggantung di leher Radit. Wajahnya terlihat lelah namun tak menghilangkan ketampanannya sedikitpun
"Ya duduk lah"
Saripun duduk di kursi seberang meja kerja Radit dengan wajah tegang karena tidak tahu apa yang membuatnya dipanggil kemari
"Ini hari terakhir kamu.. Mulai besok kamu tidak perlu lagi bekerja dirumah ini" Sari sangat terkejut melihat Radit menyodorkan sebuah amplop coklat berisi gaji miliknya dan memecatnya saat ini juga
"Tapi pak, kenapa bapak memecat saya? Saya tidak melakukan kesalahan apapun pada bapak. Jadi anda tidak punya alasan memecat saya begitu saja" Air mata Sari terlihat telah menggenang di pelupuk mata dan bisa mengalir deras kapan saja
"Tidak melakukan kesalahan apapun, katamu? Kamu yakin dengan apa yang kamu katakan?" Sari terdiam memikirkan kesalahan apa yang telah dia perbuat
"Tentu saja pak. Saya sudah cukup lama ikut dengan bapak. Bahkan sejak tuan muda Lathan masih bayi. Saya tidak pernah melakukan kesalahan apapun" Sari sangat yakin kalau dia sama sekali tidak melakukan kesalahan apapun pada Radit, namun dia lupa kalau dia telah mengganggu Andra, istri Radit
"Kamu sudah menyinggung istriku. Dia nyonya rumah ini. Tidak seharusnya kamu bersikap kurang ajar padanya" Radit bicara dengan nada yang dingin dan juga sorot mata yang tajam yang tentu saja menyiratkan kalau dia tidak suka dengan apa yang telah sari lakukan
__ADS_1
"I-itu ... apa nona Andra melapor pada anda?" Sari kembali bertanya dengan ragu. Dia tidak mengerti karena saat dia berdebat dengan Andra Radit sedang pergi ke kantor. Dan mereka juga tidak tahu kalau Radit memasang CCTV serta penyadap suara agar bisa memantau keadaan rumah kapan saja. Tentu saja dia belajar semua itu dari Diaz dan Cheva
"Dia tidak mengatakan apapun padaku. Bahkan kami belum bertemu sejak aku berangkat bekerja. Hanya saja aku tahu semua kejahatan yang telah kamu lakukan dirumah ini"
Sari kembali terkejut saat mendengar perkataan Radit. Matanya membelalak heran dan tak percaya dengan apa yang dikatakan Radit
"Ba-bagaimana mungkin?"
"Menurutmu apa yang tidak mungkin aku lakukan? Aku bisa lakukan apa saja untuk keluargaku. Bahkan jika harus memenjarakanmu. Itu bukan hal yang sulit" Radit terlihat sangat mendominasi. Meskipun dia hanya duduk diam sambil bersandar pada kursi kerjanya namun sorot matanya membuat Sari gemetar
"Sa-saya... Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk kurang ajar. Saya tidak akan melakukannya lagi. Saya janji akan bekerja dengan baik tapi jangan pecat saya. Saya mohon" Sari bicara disertai derai air mata sambil berlutut di depan Radit dengan kepala tertunduk. Dia tidak menyangka jika apa yang dilakukannya selama ini ternyata telah diketahui oleh Radit
"Aku tidak pernah memberikan kesempatan kedua pada siapapun. Lagipula selama ini aku sudah berbaik hati membiarkanmu melakukan apapun sesukamu. Kamu menggunakan kamar tidurku seenaknya dan juga mencoba barang-barang milikku. Kurasa ini sudah saatnya kamu pergi darisini" Radit bicara dengan sikap yang tenang
Sari tidak dapat mengatakan apapun lagi. Memang selama ini dia sudah lancang menggunakan kamar Radit tanpa sepengetahuan siapapun saat Radit pergi.
"Aku tidak akan memperpanjang kasus ini jika kamu pergi dari sini sekarang juga, tapi jika kamu berani mengganggu keluargaku maka aku tidak akan segan untuk menjebloskanmu ke dalam penjara" Sambung Radit dengan sikap yang dingin. Sari tidak mengatakan apa-apa lagi pada Radit. Dia meraih amplop coklat yang Radit letakkan di atas meja kemudian bergegas keluar dengan derai air mata yang masih mengalir membasahi pipinya
***
"Mami, hari ini mami mau masak apa untukku?" Larhan bertanya dengan nada bicaranya yang manja pada Andra ketika dia baru pulang dari sekolah
"Kamu mau makan apa? Nanti mami buatkan untukmu" Andra tersenyum menatap Lathan dengan tatapan lembut penuh cinta. Mereka berjalan beriringan sambil berpegangan tangan satu sama lain
"Aku … Emm... aku ingin makan udang" Ujarnya dengan ceria setelah terlihat berpikir
"Baiklah. Kalau begitu akan mami buatkan. Tapi sebaiknya kita ganti baju dulu. Eh tapi ini wangi apa ya? Apa bi Marni sudah masak?" Andra merasa bingung setelah dia mencium bau sedap masakan padahal mereka berencana masak bersama Lathan
"Iya mami, sepertinya bi Marni sudah masak lebih dulu. Padahal aku ingin makanan yang dibuat mami" Lathan menundukkan kepala dengan wajah kecewa setelah dia ikut mencium aroma dari masakan di dapur
__ADS_1
"Lain kali bisa mami masakkan untukmu. Bagaimana kalau kita lihat dulu ke dapur?" Lathan dan Andra bergegas ke dapur setelah sang putra sambungnya menganggukkan kepala
"Papi?"
"Kak Radit?"
Andra dan Lathan sangat terkejut mendapati Radit sedang bergulat dengan kompor dan penggorengan. Dia terlihat sangat lihai dan tidak kaku sama sekali
"Kalian sudah pulang? Sebaiknya mandi dan turun setelah kalian siap nanti" Ujar Radit yang sedikit menoleh kemudian kembali fokus pada masakannya
"Baik"
"Aku mau mandi sama mami ya?"
"Ya sudah, iya"
Andra dan Lathan menjawab dengan serempak kemudian mereka beranjak pergi meninggalkan Radit. Kekompakan Andra dan putranya membuat Radit tersenyum manis saat dia memasak
"Biar kami yang bantu menata meja makannya" Ujar Andra yang disambut ceria oleh Lathan setelah mereka selesai membersihkan diri. Mereka mulai merapikan meja makan dengan menata piring, sendok, garpu dan juga minuman
"Waah sepertinya ini semua rasanya enak? Tapi kenapa kak Radit memasak ini semua?"
"Benar, sudah lama papi tidak memasak. Apa ada sesuatu?"
Mata Andra berbinar haru saat dia bertanya pada Radit. Ini pertama kalinya Radit memasak untuknya ini juga pertama kalinya Andra memakan masakan orang lain karena selama ini selalu dia yang memasak untuk orang lain
"Tidak ada. Bukannya kamu ingin mencoba masakanku? Terlebih hari ini aku pulang lebih awal, jadi aku meminta bi Marni istirahat dan membiarkan aku memasak untuk kalian" Radit bicara dengan mengulum senyum lembut di bibirnya. Dia semakin tampan saat tersenyum seperti itu
"Anggap saja ini sebagai pesta kecil untuk merayakan kalau Lathan sudah punya mami sekarang" Sambung Radit dengan kedua alis diangkat bersamaan
__ADS_1
"Aku setuju pih" Akhirnya mereka menikmati makan malam bersama dengan penuh kehangatan