
Radit langsung berlari memasuki rumah ketika dia sampai. Dia bergegas menuju kamar untuk melihat kondisi sang istri
“Andra! Sayang!” Radit langsung berteriak memanggil Andra ketika dia masih berdiri diambang pintu
Andra yang sedang duduk bersandar di tempat tidur langsung menoleh begitu mendengar suara sang suami
“Sayang, apa kamu baik-baik saja? Mana yang sakit? Apa kita perlu pergi kerumah sakit?” Radit yang panik langsung berlari dan duduk disamping Andra. Dia bertanya dengan lembut mengenai kondisi Andra sambil membelai rambut sang istri
Andra menggelengkan kepala sambil tersenyum pada sang suami
"Tidak perlu, Kak. Tadi dokter sudah datang kemari dan katanya aku tidak papa. Tapi ada satu masalah yang serius" Andra yang sebelumnya bicara dengan raut wajah yang tenang, kini bicara dengan ekspresi serius, dan itu tentu saja membuat Radit khawatir
"Apa yang terjadi? Apa dokter mengatakan sesuatu? Kita cari dokter lain saja. Masih banyak dokter yang lebih bagus dari ini. Aku akan cari kemanapun" ujar Radit berusaha menenangkan sang istri
"Tidak perlu, karena dokter manapun yang kakak panggil ... tetap saja mereka akan mengatakan hal yang sama" ujar Andra sambil menggelengkan kepala perlahan.
"Apa maksudmu? Kamu tidak boleh pesimis begitu. Aku yakin akan menemukan dokter terbaik yang bisa mengobatimu" Radit yang tidak tahu duduk permasalahannya mengira kalau Andra sedang sakit keras
"Aku bukan pesimis. Aku justru senang dengan apa yang sedang aku alami sekarang" Andra kini kembali tersenyum saat dia bicara
"Kamu senang? Apa kamu gila? Bagaimana bisa kamu senang padahal kamu sedang sakit begini?!" Radit menginggikan suaranya dengan dahi berkerut karena kesal.
"Tentu saja aku senang. Memangnya kakak tidak senang kalau aku akan jadi ibu lagi?"
"Bagaimana aku bisa senang melihat kamu jadi ... hah? Apa? Coba ulangi?" Radit baru saja menyadari apa yang dimaksud Andra. Andra tersenyum sambil menganggukkan kepala mengiyakan pikiran sang suami
"Benarkah? Kamu hamil, sayang?" tanya Radit yang kembali memastikan ucapan Andra
"Iya. Aku hamil. Kita akan punya anak" Radit yang sangat senang dengan kabar baik dari Andra langsung menarik Andra kedalam pelukannya
"Syukurlah. Akhirnya aku akan punya anak lagi. Aku yakin kalau Lathan juga pasti sangat senang mendengar kabar gembira ini" ujar Radit sambil mencium kepala Andra berkali-kali
"Sayang, ingat ya. Aku tidak ingin kamu terlalu lelah. Kamu tidak boleh melakukan apapun yang dapat membahayakan calon buah hati kita. Aku akan menempatkan seorang pelayan untuk melayanimu secara khusus" Radit bicara dengan sangat serius.
Andra yang mendengar ucapan Radit seketika melepaskan pelukan sang suami
"Kak Radit, apa aku memang harus ditemani oleh pelayan? Aku bisa melakukan semuanya sendiri. Jika memang membutuhkan sesuatu, aku akan langsung panggil pelayan. Tapi jika harus diikuti kemanapun, rasanya agak ...." Andra tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya mengangkat kedua bahu dengan bibir mengerucut tanda tidak suka
"Sayang, kamu sedang mengandung. Setidaknya ada seseorang yang akan selalu menemanimu dengan begitu aku bisa merasa tenang karena jika sesuatu terjadi, ada seseroang yang bisa membantumu"
Sesaat Andra terdiam dengan menundukkan kepalanya tanda tidak suka, namun dia tetap mematuhi ucapan Radit dengan menganggukkan kepala perlahan.
__ADS_1
"Terimakasih" Radit kembali menarik Andra dalam pelukannya dan mengecup keningnya. Tak lama pasangan itu dikejutkan sengan suara teriakan Lathan yang baru tiba sambil berlari
"Mami ....! Mami...!" Lathan berlari dan langsung naik ke tempat tidur lalu duduk disamping Andra
"Mami, katanya mami tadi pingsan, apa mami sakit? Apa yang terjadi dengan Mami? Bukan hal serius kan? Mami tidak akan meninggalkanku, kan?" Lathan yang panik dan khawatir langsung melemparkan ribuan pertanyaan yang belum sempat Radit dan Andra jawab
"Sayang, mami tidak papa. Tapi jika kamu seperti ini, badan mami bisa sakit semua" ujar Radit yang berusaha menenangkan Lathan yang terus menggoyangkan tangan Andra
"Tapi, Pih, jika mami tidak papa kenapa Mami sampai pingsan? Itu berarti mami sedang sakit kan?" Lathan yang panik bicara dengan nada yang menggemaskan. Radit dan Andra pun tersenyum melihat Lathan yang sedang khawatir
"Mami tidak papa. Mami punya kabar baik untukmu"
"Apa itu?" Lathan menatap Andra dengan tatapan penuh tanya
"Kamu ... akan jadi ... seorang kakak" Sesaat Lathan terdiam dan menatap Radit juga Andra secara bergantian
"Apa? Benarkah itu, Pih?" tanya Lathan dengan antusias pada Radit
"Benar. Saat ini mamimu sedang mengandung"
"Horeeee... asyik asyik. Aku akan punya adik. Asyik asyik. Aku punya adik" Lathan yang sangat senang terus berteriak sambil menari-nari.
"Saat ini masih belum bisa sayang, tapi setelah bayi dalam kandungan Mami semakin besar, dia pasti bisa mendengarkan apa saja yang kamu katakan" Andra bicara sambil mengusap lembut kepala Lathan.
"Kalau begitu Mami harus makan yang banyak agar adik bayi bisa cepat besar"
"Iya sayang" Andra menanggapi sambil menganggukkan kepalanya perlahan. Radit hanya terus tersenyum sambil memperhatikan istri dan juga anaknya
"Terimkasih sayang karena kamu telah melengkapi hidup kami dengan kebahagiaan" ujar Radit sambil mengecup kepala Andra
"Kak, aku ingin mengunjungi mama dan papa. Mungkin dengan kehamilanku, mama bisa kembali mengingat hal yang baik" Andra bicara dengan sedikit berbisik pada Radit.
"Iya, Pih. Aku juga ingin bertemu dengan kakek dan nenek. Mami juga tidak kerja, jadi kita bisa kesana, kan?" Lathan yang mendengar permintaan Andra sangat antusias menginginkan hal yang sama.
"Tapi kalian harus ingat untuk tidak memaksakan nenek. Kalian hanya boleh bicara yang biasa saja. Jangan sampai membuat nenek merasa sedih" Radit memperingatkan dengan wajah yang serius
"Siap laksanakan!"
"Siap laksanakan!"
Hahahaha
__ADS_1
Lathan dan Andra menanggapi dengan serempak. Mereka pun tertawa bersama layaknya keluarga bahagia.
Setelah menemui Andra, Radit pergi sebentar keruang kerja untuk menghubungi Candra dan memintanya melakukan sesuatu.
Tuut tuut tuut
"Bos akhirnya kamu menghubungiku. Apa yang terjadi sampai kamu langsung pergi meninggalkan rapat begitu saja?" Candra langsung bicara panjang lebar begitu dia menerima telepon dari Radit.
"Tadi Andra pingsan, karena itu aku langsung meninggalkan rapat dan pulang" Radit menanggapi dengan sikap yang tenang
"Istrimu pingsan? Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Apa dia baik-baik saja?"
"Ya. Dia sangat baik". Berbeda dari biasanya, kini suara Radit terdengar sangat bahagia.
"Apa ada sesuatu yang terjadi? Sepertinya saat ini kamu sedang senang?" tanya Candra yang penasaran dengan apa yang dirasakan oleh Radit.
Senyum Radit pun semakin lebar
"Ya, aku sedang merasa sangat senang" ujar Radit dengan senyum dibibirnya.
"Senang? Istrimu sedang sakit dan kamu malah merasa senang? Dasar psiko" Candra mengerutkan dahi karena heran kemudian dia mencibir Radit
"Beraninya kamu mengataiku" Radit bicara dengan nada kesal.
"Tentu saja aku akan mengataimu. Apa kamu tidak kasihan pada istrimu? Dia sedang sakit, bahkan sampai pingsan. Dan kamu bukannya khawatir, malah merasa bahagia?" Candra semakin mencibir Radit karena ucapannya.
"Bagaimana kalau dia sakit karena hamil?" tanya Radit dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.
"Tetap saja. Apa katamu? Jadi, Andra sedang hamil?" Candra pun terlihat terkejut dengan apa yang dikatakan Radit
"Ya, dia sedang hamil. Karena itu, aku ingin kamu mencarikan seorang pelayan pribadi untuknya"
"Selamat, Dit. Akhirnya kamu akan punya anak sendiri" Candra yang sangat senang tidak sengaja bicara seperti itu
"Jangan sembarangan bicara. Aku juga sudah punya anak, dan sekarang adalah calon anak keduaku"
"Maafkan aku. Kamu tenang saja. Aku akan segera mendapatkan orang yang bisa membantu Andra"
"Terimakasih. Aku tunggu secepatnya"
"Ya. Sampai jumpa"
__ADS_1