
Ji dan Bi baru saja tiba di bandara negara A. mereka tentu saja ditemani oleh pasangan masing-masing.
"My queen, apa kita akan langsung kerumah Radit? Apa kamu tidak ingin jalan-jalan berdua denganku dulu?". Ed bertanya pada sang istri sambil berjalan keluar meninggalkan bandara.
"Kamu ini. Seperti kita tidak pernah pergi berduaan saja. Selama ini kan kita salalu berdua". Ji menanggapi Ed dengan sikap yang dingin dan senyum tipis dibibirnya.
"Ji benar. Ed, kalian ini sudah tua. Apa tidak bisa bersikap sesuai umur kalian?" Bi ikut menanggapi Ed dengan nada yang sinis.
"Apa salahnya dengan menghabiskan waktu disini terlebih dahulu? Toh biasanya kita menghabiskan waktu dinegara F kan?" Ed mengernyitkan dahi sambil menatap Bi dengan sinis.
"Sudah. Hentikan. Ini sudah malam. Sebaiknya lain kali saja kita perginya. Lagipula aku sudah rindu dengan Cheva dan juga yang lainnya". Ji menenangkan Ed dan Bi dengan sikapnya yang tenang dan anggun.
"Haah … jika itu demi bertemu dengan my princess … baiklah. Kita langsung saja pergi kerumah Radit". Ed menghela napas panjang sebelum dia setuju untuk langsung pergi ketempat Radit.
"Ji, tampaknya kamu masih tetap menjadikan Cheva sebagai alasan" bisik Bi pada Ji.
"Mau bagaimana lagi. Ed masih tetap lemah jika mengenai Cheva. Apalagi kedua cucunya itu laki-laki, jadi tidak ada yang bisa mengalahkan Cheva dihatinya Ed. Hanya saja …"Ji pun berbisik menanggapi Bi.
"Jendralmu ini juga tidak bisa mengalah pada menantumu".
"Ya begitulah". Bi dan Ji pun saling berbisik sambil tersenyum tipis menatap Ed. Dan mereka bergegas meninggalkan bandara.
Setelah menempuh perjalanan dari bandara, Ji, Ed, Bi dan Mili tiba dirumah besar Radit. Mereka langsung masuk kedalam tanpa ada memberitahu Radit dan yang lainnya.
Diruang keluarga yang besar, semuanya sedang berkumpul. Mereka berbincang sambil tertawa bersama.
"Rupanya kalian semua bersenang-senang tanpa kami?". Semua orang menoleh mendengar suara Ji.
"Mami! Papi! Aku rindu kalian". Cheva berteriak dengan penuh semangat melihat orang tuanya yang baru saja tiba. Dia berdiri dan berjalan mendekati sang ibu lalu memeluknya dengan erat.
"Mami juga merindukanmu" balas Ji sambil mengusap punggung Cheva.
"Kamu hanya merindukan Mami? Tidak merindukan Papi?". Ed bicara dibelakang Ji dan Cheva yang sedang berpelukan. Tentu saja begitu Cheva mendengar suara sang ayah, dia langsung melepas pelukan Ji dan beralih memeluk Ed.
"Mana mungkin. Tentu saja aku juga sangat merindukan Papi. Bagaimana kabar Papi? Apa Papi baik-baik saja?" Cheva bertanya sambil memeluk sang ayah dengan erat.
"Kak Bi, Kak Ji, kalian sudah sampai?". Bi dan Ji langsung menoleh bersamaan kearah sumber suara.
"Vio… bagaimana kabarmu? kapan kamu tiba disini?" Ji menyapa dengan sikap yang tenang dan senyum yang tipis.
"Aku baik. Kami sudah sampai sejak kemarin. Bagaimana kabar kalian?". Vio dan Ji saling melepas rindu mereka dengan berpelukan.
"Ya seperti yang kamu lihat, kami berdua baik-baik saja".
__ADS_1
Seluruh keluarga menghabiskan waktu bersama untuk melepaskan kerinduan mereka.
***
Keesokan harinya.
Bandara cukup ramai diakhir pekan. Ada banyak orang yang akan melakukan perjalanan atau baru kembali dari perjalanan berlalu lalang dengan membawa koper.
Lathan, Fandy dan Zara juga baru kembali dari liburan mereka di negara D. Mereka berbaur diantara kerumunan orang dibandara. Lathan yang berpostur tubuh tinggian dan gagah terlihat menonjol diantara kerumunan orang meskipun dia mengenakan kacamata hitam dan masker wajah, dia juga mengenakan topi sebagai pelengkapnya.
Zara yang berjalan disebelah Lathan tak kalah menonjol dibanding sang kekasih . Dia yang tampil casual dengan mengenakan celana jeans panjang dan juga t-shirt v neck terlihat sangat menawan dengan rambut hitam panjang yang terurai dilengkapi kacamata hitam yang dia kenakan. Pasangan itu terlihat sangat serasi dan membuat banyak orang iri.
Fandy yang mengikuti dibelakang Lathan dan Zara, terus berjalan sambil sibuk memainkan ponselnya.
"Aku akan mengantar kalian terlebih dahulu baru pulang kerumah" uhar Lathan pada Zara.
"Tidak perlu. Kamu juga pasti sangat lelah. Aku dan Fandy akan naik taksi saja. Kami tidak akan tersesat disini. Benar kan Fan?". Zara menanggapi dengan sikap yang tenang dan bertanya pada Fandy untuk meminta konfirmasi.
"Hmm... ". Fandy menanggapi tanpa memalingkan pandangannya dari layar ponsel. Dia terus mengabaikan sepasang kekasih itu.
"Tapi kan... "
"Tidak papa. Kami bisa pulang sendiri. Aku akan langsung menghubungimu ketika sampai dirumah". Zara menyela Lathan sebelum dia selesai bicara.
"Tidak perlu. Nanti aku akan menghubungimu setelah tiba dirumah"
"Haah … baiklah. Hati-hati. Jangan lupa untuk langsung menghubungiku". Lathan akhirnya mengalah setelah Zara bersikeras untuk menggunakan taksi
"Iya, sayang. Ayo Fan!"
"Sampai junpa Than"
"Ya, sampai jumpa". Mereka pun kembali kerumah mereka masing-masing.
...****************...
Dikediaman Radit. Pesta sudah siap digelar. Semua sudah tertata rapih disana. Mulai dari dekorasi, makanan, bahkan penjaga pun sudah dikerahkan untuk menjaga ketertiban para tamu. Ada beberapa orang wartawan yang disiapkan untuk meliput berita. Para tamu sudah mulai berdatangan, dan anggota keluarga Kusuma sudah berada di aula sambil berbincang dan sesekali menyapa tamu yang mereka kenal.
"Dhan, apa kakakmu sudah menelepon? Sudah sampai mana dia sekarang?". Diaz bertanya dengan sikap yang tenang pada Ardhan.
"Entahlah. Kakak tidak menghubungiku. Biar aku telepon sekarang". Ardhan menanggapi Diaz sambil mengangkat kedua bahu bersamaan. Lalu dianl mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Lathan.
Drrt drrt drrt
__ADS_1
Cukup lama Ardhan menunggu sampai Lathan menerima telepon darinya.
"Halo"
"Halo, Kak. Kakak dimana? Apa sudah sampai bandara?" Ardhan langsung bertanya pada Lathan begitu mendengar suara sang kakak.
"Aku sudah turun dari pesawat. Sekarang ada dijalan. Sebentar lagi aku akan sampai. Kenapa?". Lathan bertanya dengan sikap tenang.
"Tidak ada. Aku hanya penasaran saja Kakak sudah sampai mana. Ya sudah hati-hati". Ardhan langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Lathan lagi.
"Apa katanya?" tanya Diaz yang menunggu jawaban dari Ardhan.
"Kakak sedang dijalan. Katanya sebentar lagi akan sampai disini" Ardhan menjelaskan dengan sikap yang tenang.
"Oh, kalau begitu pestanya akan segera dimulai"
"Ya, sepertinya bisa segera dimulai".
Tak berapa lama, Lathan tiba dirumah. Dia sangat terkejut dengan keramaian dirumah.
Ada apa ya? Kenapa dirumah ramai sekali?. pikir Lathan sambil menoleh kesana kemari.
"Ada apa ini? Kenapa dirumah sangat ramai? Apa ada pesta?" tanya Lathan pada supir yang menjeputnya.
"Sepertinya iya, Den. Apa pak Radit tidak memberitahu anda?". Pak supir menanggapi sambil terus mengendarai mobil melewati gerbang rumah.
"Tidak. Papi tidak mengatakan apa-apa padaku". Pak supir tidak menanggapi apa-apa dan langsung memarkirkan mobil di depan rumah.
Lathan memasuki rumah dengan wajah yang kebingungan.
"Surprise!!". Lathan terkejut sampai berjingkut ketika semua keluarganya menyambutnya begitu dia memasuki rumah.
"Kalian … semuanya ada disini?" Lathan pun langsung menyambut semua keluarganya dengan memeluk mereka secara bergantian.
"Sudah sudah. Sekarang pergilah ganti pakaianmu terlebih dahulu. Setelah itu kamu langsung turun dan berpesta dengan kami" ujar Cheva dengan senyum ceria.
"Baik. Aku akan keatas dulu". Lathan langsung kekamarnya untuk mengganti pakaiannya. Saat itu dia memanggil supir yang tadi menjemputnya.
"Tolong pergi kerumah Fandy untuk menjemput dia dan juga Zara. Kamu sudah tahu rumahnya kan?" ujar Lathan dengan sikap tenang.
"Baik. Saya akan kesana sekarang". Saat itu dia juga mengirim pesan pada Zara.
"Segera bersiap begitu kamu tiba dirumah. Aku sudah mengirim supir untuk menjemputmu dan juga Fandy. Akan ada pesta dirumahku".
__ADS_1