
"Hari ini kamu harus menemaniku ke pesta" Ujar Radit saat mengantar Andra ke kantor
"Kenapa baru bilang sekarang? Aku kan tidak punya persiapan. Kita juga tidak menitipkan Lathan. Aku tidak tenang kalau meninggalkan dia sendiri dirumah " Andra terdengar sangat panik saat Radit memberitahunya kalau mereka akan menghadiri pesta
"Aku lupa memberitahumu sebelumnya. Lagipula kita bisa langsung membeli pakaian dibutik dan kurasa sekarang sudah waktunya untuk kita go public" Radit menaikkan kedua alisnya sambil tersenyum lembut pada Andra
"Apa kak Radit yakin untuk membuka hubungan kita di depan publik mulai sekarang?" Andra memiringkan kepalanya dan memicingkan mata bertanya pada Radit
"Tentu saja. Sudah beberapa bulan sejak kita menikah. Aku tidak ingin lagi menyembunyikan kecantikan istriku" Radit bicara dengan nada yang menggoda
"Baiklah, aku setuju. Tapi kak Radit harus hubungi bi Marni agar dia menemani Lathan dulu sampai kita pulang!" Ujar Andra dengan bibir mengerucut
"Tentu, itu masalah gampang" Radit menjentikkan jari dengan bangga
"Baiklah. Kalau begitu aku masuk dulu. Sampai jumpa nanti sore" Andra turun dari mobil dan melambaikan tangan pada Radit. Radit pun membalas lambaian tangan Andra sebelum dia pergi meninggalkan kantor Andra
"Ada apa ini? Kenapa banyak bunga-bunga disini?" Guman Andra sambil menoleh kesana kemari melihat bunga-bunga indah yang tersusun rapih di depan pintu kantornya
"Ada apa dengan bunga-bunga ini? Apa ada perayaan penting hari ini?" Andra bertanya pada salah satu karyawan yang ada disana
"Itu bu, semua bunga itu untuk ibu" Jawab karyawan itu ragu-ragu
"Apa?" Andra sangat terkejut mendengar kalau semua bunga itu dikirim untuknya
"Bagaimana? Apa kamu menyukainya?" Andra menoleh dengan raut wajah kesal mendengar suara pria yang cukup familiar ditelinganya
"Gio. Apa maksudnya lagi semua ini? Bukannya kamu sudah tahu kalau aku sudah menikah? Dan aku juga sudah katakan padamu sebelumnya kalau aku hanya menganggapmu sebagai teman biasa saja" Tegas Andra pada Gio
"Bu Andra sudah menikah? Ku kira dia belum menikah. Dia masih sangat muda"
"Aku juga tidak mengira kalau bu Andra sudah menikah"
"Jadi yang selama ini menjemputnya itu suaminya, bukan pacarnya?"
Terdengar bisikan para karyawan Andra yang tidak menyangka kalau ternyata dia sudah menikah
"Kamu juga tahu siapa suamiku. Apa aku harus menunjukkannya padamu sekarang?" Tanya Andra lagi yang kini sudah tidak memiliki batas toleransi pada Gio
__ADS_1
"Apa kamu bisa tunjukkan pada semua orang kalau kamu sudah menikah?" Gio menantang Andra dengan senyum mencibir
"Dia sudah gila atau bodoh sih? Dia sendiri tahu siapa suamiku. Apa dia pikir aku tidak berani menunjukkan suamiku dihadapan banyak orang? Tapi, apa tidak berlebihan kalau aku meminta kak Radit balik lagi kemari hanya untuk menunjukkan dia pada semua orang seperti ini?" Andra terus diam dan berpikir mengenai apa yang harus dia lakukan
"Kalian mencariku?" Suara pria yang baru saja tiba langsung menjadi pusat perhatian banyak orang, menggantikan Andra yang sebelumnya merasa disudutkan oleh Gio
Radit berjalan dengan gagahnya mendekati Andra. Setelan jas mewah berwarna silver, tatanan rambut rapih dan sepatu kulit berwarna hitamnya melengkapi ketampanan yang dimiliki Radit. Sebelah tangannya dimasukkan ke dalam saku celana membuatnya terlihat semakin berwibawa
"Bukankah itu Radit? Raditya Reifansyah Nugraha?"
"Benar. Itu dia!"
"Apa yang dia lakukan dikantor kita?"
"Dia benar-benar tampan"
Terdengar kembali suara bisikan para karyawan di perusahaan Andra. Bukan bisikan yang menyudutkan Andra melainkan bisikan yang membahas ketampanan Radit
"Kak Radit?" Gumam Andra melihat sang suami yang ternyata belum pergi dari kantornya
"Aku belum pergi, kamu meninggalkan ponselmu di mobil" Radit bicara dengan lembut sambil menyerahkan ponsel pada Andra
"Oh, terimakasih" Jawab Andra lembut
"Hemn? Bunga yang bagus. Bunga yang bagus. Apa ini dekorasi dikantor ini?" Radit melihat bunga-bunga yang tertata rapih disana. Kemudian dia mendekatinya dan bertanya dengan senyum pada Andra
"Itu, bunga untuk bu Andra" Seseorang menjawab ditengah keheningan karena terkejut
"Untukmu? Sepertinya aku tidak mengirimkan bunga untukmu, lalu siapa yang mengirimkannya?" Radit bertanya dengan sikap yang tenang
"Maafkan aku kak Radit. Ada seseorang yang selalu mengirimkan bunga untukku, tapi meskipun aku sudah mengatakan padanya kalau aku sudah menikah, dia tetap saja tidak mengerti" Andra bicara dengan nada mengeluh manja
"Oh. Rupanya istriku punya penggemar?" Radit bertanya pada Andra dengan senyum menggoda
"Meskipun dia menjadi penggemarku tetap saja aku sudah jadi milik kak Radit" Jawab Andra dengan senyum menggoda
"Jadi, apa kamu sudah mengerti pak Gio?" Radit menoleh pada Gio dan bertanya dengan nada yang dingin. Sorot matanya tajam dengan aura kebencian yang luar biasa. Membuat Gio terdiam tanpa bisa berkata-kata
__ADS_1
"Kumpulkan dewan direksi sekarang. Adakan rapat dadakan. Aku tidak ingin menunggu lama" Ujar Radit pada Rian dengan sikap tegas dan berwibawa.
Rian sudah berada disana bersama para karyawan lain untuk menyaksikan keributan yang disebabkan oleh Gio. Bahkan Luna pun sejak tadi hanya tersenyum disalah satu sudut menunggu pertunjukan berakhir. Dia mengira Radit akan cemburu dan marah pada Andra
"Baik, pak" Jawab Rian dengan patuh
"Kukira dia akan marah. Kenapa dia sangat patuh sekali pada Andra? Sebenarnya apa yang sudah Andra perbuat pada Radit?" Pikir Luna dengan raut wajah kecewa
"Ayo sayang. kita pergi keruanganmu!"
"Ya" Radit melingkarkan sebelah tangannya dipinggang Andra dan berjalan dengan elegan menuju ruangan Andra. Para karyawan yang sejak tadi berkumpul pun perlahan bubar dan kembali ke tempat kerja mereka masing-masing
"Kak Radit, apa yang akan kamu lakukan? Kenapa kamu mengumpulkan para anggota dewan?" Tanya Andra dengan raut wajah bingung ketika mereka sudah berada diruangan Andra
"Mencabut akar dari masalah ini" Radit menjawab Andra dengan singkat
"Maksud kak Radit?" Andra semakin bingung dengan ucapan Radit
"Kamu sudah mulai pandai mengelola perusahaan. Tapi kamu masih belum berani mengambil sikap tegas pada orang yang jadi benalu diperusahaanmu maupun dihidupmu"
"Aku semakin tidak mengerti dengan yang kak Radit katakan" Dahi Andra berkerut karena bingung dengan sikap Radit yang biasanya tidak menunjukkan keseriusannya
"Luna, dia bekerja sama dengan Gio untuk merusak hubungan kita. Dia juga yang membuat perusahaanmu tidak berjalan stabil meskipin kamu melakukan segala upaya"
"Apa? Kak Luna? Bagaimana dia mengenal Gio? Lalu, selama ini dia selalu mengelola perusahaan dengan baik. Bagaimana mungkin dia ingin menjatuhkan perusahaan keluarga kami?" Andra cukup terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang dikatakan Radit
Tok tok tok
"Masuk!" Terlihat Rian masuk keruangan dan mendekati pasangan yang sedang berbincang dengan serius itu
"Para dewan direksi sudah berkumpul diruang rapat pak. Anda bisa kesana sekarang!" Ujar Rian dengan sopan
"Baiklah, kami kesana sekarang. Ayo!" Radit mengulurkan tangannya pada Andra agar dia mau berjalan dengannya
"Selamat pagi semuanya. Maaf menyita waktu kalian, tapi saya punya sesuatu untuk dikatakan disini" Ujar Radit dengan penuh wibawa saat berdiri dihadapan para dewan direksi yang hanya diam tanpa kata
"Saya Raditya Reifansyah Nugraha. Saya pemegang saham tertinggi diperusahaan ini. Saya memang meminta istri saya untuk memantau pergerakan perusahaan ini karena saya harus mengelola perusahaan saya yang lain. Tapi saya tetap memiliki hak untuk mengambil keputusan disini. Sebagai pemegang saham tertinggi, saya ingin bu Luna melepaskan jabatannya dan meninggalkan perusahaan ini"
__ADS_1