
Ardhan dan Lathan masih memainkan laptop mereka padahal sekarang sudah sangat larut.
"Apa kalian mendapatkan sesuatu?" tanya Radit yang baru kembali setelah menyelesaikan beberapa hal mengenai pekerjaannya.
"Dari beberapa hotel disekitar sini, ada satu hotel yang ramai pengunjung sejak 2 hari yang lalu. Tepatnya setelah tersebar berita mengenai kasus yang terjadi di hotel kita" ujar Lathan menjelaskan apa yang dia temukan.
"Lalu bagaimana dengan kamu Dhan? Apa kamu mendapatkan petunjuk dari CCTV sekitar siniq?" tanya Radit yang beralih kepada Ardhan setelah mendapatkan penjelasan dari Lathan.
"Ada Pih. Wanita itu memang melakukan reservasi kamar sendiri. Tapi saat dilobby dan juga lorong menuju kamar TKP terlihat korban bersama seorang pria. Rekaman ini sebelumnya telah dihapus tapi aku berhasil memulihkannya. Lihatlah ini, Pih".
Ardhan langsung menunjukkan rekaman CCTV yang dia dapatkan. Radit pun langsung mendekati Ardhan dan Lathan untuk melihat rekaman CCTV bersama.
"Jadi dia tidak datang sendiri? Kamu bisa cari tahu identitas pria itu tidak?" tanya Radit lagi setelah dia melihat rekamannya.
"Itu mudah, Pih". Ardhan menerimanya dengan senyum lalu kembali fokus dengan laptopnya dan mencari data diri pria yang bersama korban terakhir kali.
"Papi, apa Papi kenal dengan orang ini?" Lathan memanggil Radit setelah Ardhan selesai bicara. Dia menunjukkan foto seorang pria yang usianya tidak jauh dari sang ayah.
"Tidak. Papi tidak kenal dengan pria ini. Memangnya ada apa?" tanya Radit yang terlihat bingung.
"Ini adalah pengelola hotel yang tadi aku katakan. Dan dia juga terlihat beberapa kali sedang bersama dengan orang yang tadi dikatakan oleh Ardhan. Papi lihatlah ini!" Lathan menunjukkan beberapa rekaman CCTV yang menunjukkan pertemuan pengelola hotel itu dengan pria yang bersama korban tadi.
"Jadi mereka memang saling mengenal? Tidak mungkin kalau itu hanya kebetulan semata. Cari tahu lagi mengenai kedekatan mereka!"
"Baik, Pih"
"Hoam". Radit dan Lathan langsung menoleh begitu mendengar Ardhan sudah menguap. Terlihat dari raut wajahnya kalau dia sudah lelah dan kedua matanya juga mulai sayu.
"Sepertinya ini memang sudah sangat larut. Sudah waktunya kalian berdua istirahat" ujar Radit setelah melihat jam tangan miliknya.
"Tapi Pih. Pekerjaanku masih belum selesai" ujar Lathan dengan raut wajah panik.
"Kita lanjutkan lagi nanti. Yang terpenting kalian sudah mendapatkan petunjuk. Papi rasa dengan begini kita bisa segera mendapatkan pelakunya" ujar Radit dengan senyum percaya diri.
__ADS_1
"Iya, Pih. Kalau begitu kami akan tidur dulu. Lagipula besok kami masih harus pergi ke sekolah" Lathan meminta izin pada Radit setelah melihat sang adik sudah sangat mengantuk.
"Ya, tidurlah. Kalian bisa tidur dikamar yang biasa Papi tempati"
"Baik, Pih. Selamat malam"
"Selamat malam, Pih"
"Ya, selamat malam".
Ardhan dan Lathan langsung beranjak pergi dari ruangan Radit setelah mereka mengucapkan selamat malam.
Setelah kedua putranya pergi, Radit terdiam disofa memikirkan apa yang didapat kedua putranya.
"Untuk apa pengelola hotel itu menjebakku? Bukankah ini persaingan yang sama sekali tidak sehat? Hotel itu bukanlah hotel yang baru saja beroperasi disekitar sini, tapi kenapa baru sekarang mereka berbuat ulah?".
Radit bicara sendiri memikirkan segala kemungkinan yang ada.
"Aku harus tahu jawabannya secepatnya!" ujarnya sambil meraih laptop miliknya dan mulai mencari apa yang dia curigai.
"Gerry, dibelakangnya ada, Sofia Indratama? Siapa mereka? Apa mereka mengenalku? Rasanya aku belum pernah berhubungan dengan keluarga Indratama selama ini?" pikir Radit sambil menatap layar kaca yang memperlihatkan foto seorang wanita.
...****************...
Tanpa terasa hari sudah berganti pagi. Langit yang sebelumnya gelap, kini telah berubah terang. Matahari mulai menyelinap masuk keruangan Radit melalui selah tirai jendela. Sementara Radit masih terlihat duduk didepan laptop miliknya.
"Selamat pagi, Papi". Radit dikejutkan dengan kedatangan kedua putranya yang langsung masuk keruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Selamat pagi. Kalian sudah mau berangkat?" tanya Radit begitu melihat kedua putranya yang telah rapih dengan seragam sekolah mereka.
"Ya, Pih. Kami sudah siap berangkat" ujar Lathan menanggaoi sang ayah.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita sarapan bersama terlebih dahulu?" Raidt menyarankan dengan senyum lembut dibibirnya.
__ADS_1
"Tentu aku mau. Aku sudah lapar". Ardhan menanggapi dengan senyum yang ceria sambil mengusap perutnya.
"Bagaimana denganmu, Than? Apa mau sarapan bersama dulu?" Kini Radit meminta pendapat Lathan.
"Baik, Pih"
"Kalau begitu ayo kita turun". Mereka pun bergegas turun ke restoran untuk sarapan setelah semuanya setuju.
Pandangan semua orang tertuju pada mereka. Tak hanya karyawan atau pengunjung hotel, tapi juga para polisi yang sedang menyelidiki kasus dihotel Radit. Termasuk polisi yang meragukan kemampuan Radit.
"Apa itu anak-anaknya pak Radit?"
"Karena papanya tampan, anaknya pun ikut tampan"
"Jadi itu anaknya pak Radit? Apa mereka yang dimaksud pak Radit bisa membantunya menemukan bukti mengenai kasus ini?"
Semua orang menatap ayah dan anak itu dengan pikiran mereka masing-masing. Ada yang kagum, dan ada juga yang meragukan kemampuan mereka karena dibesarkan dikeluarga kaya raya sehingga mengira kalau mereka hanyalah anak manja yang tidak bisa apa-apa.
"Selamat pagiPak Radit? Anda kesini untuk sarapan?" tanya polisi yang bertanggung jawab mengenai kasus ini.
"Ya, kedua putraku datang kemari semalam jadi saya ingin sarapan dengan mereka sebelum mereka pergi kesekolah" ujar Radit sedikit menjelaskan pada polisi itu.
"Kuharap kalian bisa sarapan dengan benar sebelum menemukan bukti kalau anda tidak terlibat dengan kasus Ini". Polisi itu menyindir Radit dengan seringai dibibirnya.
"Anda tidak perlu khawatirkan saya. Anda harus lebih khawatir pada diri anda sendiri karena bisa saja anda turun dari posisi anda sekarang karena kasus ini". Radit pun memperingatkan dengan senyum yang terlihat dingin.
"Apa maksud anda? Anda mengancam saya?" ujar polisi itu kesal.
"Saya tidak bermaksud mengancam anda. Saya hanya memperingatkan saja, karena selalu ada hal dipertaruhkan dalam pertarungan. Benar kan? Kalau begitu saya permisi dulu. Mereka bisa terlambat kesekolah. Ayo Lathan, Ardhan. Kita pesan sarapan".
Radit mengajak kedua putranya meninggalkan polisi itu meskipun belum mendapatkan tanggapan apa-apa
"Jadi dia merencanakan untuk menurunkanku jika terbukti kalau aku melakukan kesalahan dengan menyinggungnya karena kasus ini? Pak Radit, kita lihat saja. Aku pasti bisa menemukan bukti kalau kamu terlibat dalam kasus ini. Aku akan tunjukan pada semua orang seperti apa kamu sebenarnya. Pebisnis yang katanya berasal dari keluarga pebisnis, aku yakin kali ini kamu melakukan kesalahan dengan korban itu. Tidak mungkin semua bukti lenyap begitu saja jika tidak ada orang dalam yang terlibat"
__ADS_1
Polisi itu bicara sendiri sambil memandang punggung Radit yang berjalan menjauh darinya.