
"Kenapa anda membiarkan anak itu pergi begitu saja? Bukankah itu akan membuat masalah dengan orang tua Bobi?" tanya guru tadi yang menjemput Ardhan. Dia bernama Juan.
"Akan lebih bahaya jika aku tidak membiarkan anak itu pergi" ujar kepala sekolah dengan sikap yang tenang.
"Memangnya apa yang dia tunjukkan pada anda?" tanya pak Juan dengan raut wajah penasaran.
"Dia memiliki sesuatu yang membahayakan untuk kita. Jika itu tersebar habislah riwayat kita" ujar kepala sekolah tanpa menjelaskan lebih lanjut.
"Apa maksud anda?" tanya pak Juan semakin penasaran.
"Itu … dia memiliki data mengenai keuangan sekolah kita. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa mendapatkan semua itu"
Kepala sekolah menjelaskan dengan raut wajah penuh kekhawatiran. Dia terlihat sangat takut jika data keuangan itu diketahui oleh orang lain.
"Apa? Bagaimana bisa hal seperti itu terjadi? Bukannya data keuangan itu tersimpan di komputer anda sendiri?!"
Pak Juan pun terlihat panik dan tidak percaya dengan apa yang dikatakan kepala sekolah.
"Aku tidak tahu bagaimana dia mendapatkannya. Yang jelas saat aku melihat komputerku, tidak ada yang rusak sama sekali dan semua sandinya masih utuh".
Kepala sekolah menjelaskan dengan raut wajah bingung.
"Sandinya utuh? Apa dia menggunakan hacker untuk membobol komputer anda?"
"Benarkah? Apa mungkin anak sekolah bisa menyewa hacker? Atau mungkin dia sendiri yang bisa melakukannya?".
Pak Juan dan kepala sekolah saling merenung memikirkan kemungkinan yang bisa saja terjadi.
...****************...
Sementara itu, Bobi langsung pulang setelah dia pergi keruang kepala sekolah. Dengan wajah yang babak belur, Bobi memasuki rumah sambil meringis kesakitan.
"Bobi, apa yang terjadi denganmu? Kenapa wajahmu bisa jadi seperti ini?".
Ibu Bobi bertanya dengan wajah panik sambil memeriksa sendiri wajah putranya.
"Tidak papa, Mah" Bobi menanggapi dengan malas sambil berlalu pergi meninggalkan sang ibu dan berjalan menuju kamarnya.
"Apanya yang tidak papa? Wajahmu sampai babak belur begitu. Katakan pada Mama, siapa yang berani memukulmu sampai seperti itu?!".
Ibu Bobi sangat emosi ketika dia melihat wajah sang putra yang penuh luka.
"Sudahlah Mah. Tidak perlu membuat keributan, aku baik-baik saja. Ini hanya luka kecil saja".
Bobi berusaha membuat sang ibu percaya kalau dia anak baik dan tidak papa dengan lukanya namun dibelakang sang ibu, dia menunjukkan seringai liciknya dan berharap kalau sang ibu akan datang ke sekolahnya.
"Tidak bisa. Besok Mama akan datang ke sekolahmu dan menghukum siswa yang membuatmu jadi seperti ini!" ujar ibu Bobi yang bicara dengan penuh emosi.
__ADS_1
"Yes. Lihat saja Ardhan, aku tidak akan membiarkanmu lepas begitu saja karena kamu telah membuatku malu".
Bobi tersenyum puas saat mendengar kalau sang ibu akan datang ke sekolahnya.
...****************...
Sementara itu disekolah Lathan.
Lathan dan Fandy sedang istirahat di taman belakang sekolah. Mereka berbincang sambil menikmati cemilan.
"Than, apa kamu dengar kalau sebelumnya pemenang kompetisi hacker berasal dari negara kita? Apa itu… ?"
"Bukan aku".
Belum selesai Fandy bicara, Lathan sudah menyela dengan nada bicara yang dingin.
"Kamu yakin?" tanya Fandy lagi yang masih tidak percaya.
"Tentu saja. Kamu pikir cuma aku saja yang ahli dalam hal itu? Lagipula, aku bukan pengangguran yang mau mengikuti hal merepotkan seperti itu" ujar Lathan sambil membaca buku mengenai programing.
Saat mereka sedang serius berbincang, tiba-tiba dari belakang mereka datang seseorang dengan mengendap-endap.
"Coba tebak siapa aku!".
Zara bicara sambil menutup mata Fandy. Dia masih tidak tahu kalau yang duduk disebelahnya adalah Lathan.
"Bagaimana kamu bisa tahu kalau itu aku?" tanya Zara dengan raut wajah yang sedikit kecewa.
"Tentu saja dari suaramu. Dasar bodoh!". Lathan menanggapi Zara dengan sikap yang dingin.
"Apa katamu? Siapa yang kamu bilang bodoh?!"
"Permisi. Apa aku mengganggu kalian?".
Seorang gadis tiba-tiba mendekati mereka bertiga dengan sedikit ragu.
"Ada apa?" tanya Fandy dengan sikap yang tenang.
"Ini, Kak Lathan, maukah Kakak datang ke pesta ulang tahunku? Aku berharap Kak Lathan bisa datang ke pestaku. Lagipula orang tua kita juga saling bekerja sama. Mereka pasti akan senang jika tahu kalau kita juga berteman".
Gadis itu bicara dengan kepala tertunduk sambil menggenggam tangannya sendiri karena gugup.
"Aku tidak punya waktu menghadiri pesta seperti itu. Lagipula Itu masalah orang tua kita. Aku tidak ada hubungannya sama sekali dengan bisnis mereka".
Lathan menanggapi dengan sikapnya yang dingin dan acuh tak acuh. Sementara gadis itu terlihat melirik Fandy dan juga Zara karena malu.
Zara terlihat salah tingkah karena berada disituasi seperti ini. Sedangkan Fandy sudah terbiasa dengan hal itu.
__ADS_1
"Tapi kak Lathan belum tahu siapa orang tuaku. Kak Lathan akan menyesal jika kerjasama diantara mereka batal karena hal ini!".
Gadis itu mulai mengancam Lathan meskipun dengan air mata yang mulai mengalir dipipinya.
"Siapa orang tuamu?".
Lathan bertanya tanpa menoleh kearahnya.
"Surya Diningrat, aku pasti akan buat perusahaanmu mendapatkan balasannya karena telah membuatku malu!" ujar gadis itu sambil berlalu pergi dengan derai air mata dipipinya.
"Apa kamu tidak keterlaluan? Bisa-bisanya kamu menolak undangan gadis dengan cara seperti itu?".
Zara menanggapi sikap Lathan dengan sikap yang sinis.
"Bukan urusanmu. Lagipula, apa yang kamu lakukan disini? Fandy, apa dia sengaja menggunakanmu sebagai alasan?".
Lathan beralih pada Fandy setelah dia tidak mendapatkan jawaban langsung dari Zara.
"Dia ini siswi pindahan, aku yakin kalau dia masih belum memiliki teman. Karena itu dia kemari menemuiku, bukan sengaja mencari alasan untuk mendekatimu"
"Apa?! Aku sengaja ingin mendekatinya? Tidak mungkin! Mana mau aku mendekati pria tidak berperasaan sepertimu? Tidak sudi!"
Zara bicara dengan penuh emosi.
"Baguslah kalau memang seperti itu. Lagipula aku tidak punya waktu meladeni gadis sepertimu".
Lathan bicara sambil beranjak pergi meninggalkan Fandy dan Zara
"Lathan, kamu mau pergi kemana?" tanya Fandy dengan sikap yang tenang.
"Membuat surat peringatan kecil agar mereka tahu siapa aku" ujar Lathan yang menanggapi Fandy tanpa menoleh sedikitpun kearahnya.
"Apa yang dia maksud? Peringatan kecil apa itu?" Zara semakin penasaran dengan apa yang dimaksud Lathan.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya kita ke kantin. Aku akan menemanimu makan disana".
Fandy dan Zara pun berjalan bersama menuju kantin. Sementara Lathan kembali ke kelas untuk bermain dengan laptop miliknya.
"Surya Diningrat. Perusahaan seperti apa yang dia miliki sampai anaknya berani mengancamku seperti itu? Papi saja tidak pernah memaksaku melakukan sesuatu dengan alasan bisnis. Dia berani-beraninya mengancamku dengan alasan bisnis".
Lathan bergumam sambil mencari perusahaan yang dimaksud oleh gadis yang mengundangnya tadi. Dia ingin tahu apa benar kalau perusahaan milik Surya Diningrat itu sedang bekerjasama dengan Radit atau tidak.
"Oh, ini perusahaannya? Tidak mungkin jika papi yang meminta kerjasama dengan perusahaan rusak seperti ini. Mungkin mereka yang memang ingin bekerjasama dengan papi untuk memperbaiki masalah ekonomi diperusahaan mereka. Cih, belum kerjasama saja sudah sombong. Apalagi jika kerjasama ini benar-benar terjadi? Mungkin mereka akan merasa berada ditempat yang tinggi sampai-sampai tidak ingin melihat kebawah"
Lathan tersenyum mencibir ketika dia berhasil menemukan data perusahaan milik Surya Diningrat. Dalam komputer perusahaan itu juga terdapat proposal pengajuan kerjasama dengan perusahaan milik Radit, namun Lathan sama sekali tidak menemukan surat kontrak kerjasama antara perusahaan itu dengan perusahaan Radit.
"Baiklah, yang penting aku sudah mendapatkannya. Kita lihat apa ini ada gunanya atau tidak" gumam Lathan sambil menyimpan file yang dianggap penting itu disertai seringai tipis dibibirnya.
__ADS_1