Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kalian Akan Dapat Bayaran Yang Setimpal


__ADS_3

Radit kembali ke tempat sebelumnya Andra menunggu dengan dua gelas minuman di tangannya


"Andra?" Dia menoleh kesana kemari dengan panik sambil mencari Andra diantara kerumunan tamu undangan. Radit kembali meletakkan gelas minuannya dan berkeliling dengan panik di aula pesta


"Sial! Harusnya aku tidak meninggalkannya dengan wanita ular itu!" Gumam Radit dengan panik. Diapun meninggalkan aula untuk melihat kamera CCTV di ruang pengawas


***


"Lepaskan aku bu! Sebenarnya ibu mau membawaku kemana?!" Andra terus memberontak dan berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan ibunya yang sangar keras hingga pergelangan tangannya memerah


"Bukankah aku sudah bilang kalau kamu akan menikah dengan pak Danu? Jadi kamu harus tetap menikah dengannya" Asya menjawab dengan senyum mencibir di bibirnya


"Tapi bu, aku sudah menikah dengan kak Radit. Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padaku. Aku tidak bisa menjamin apa yang akan dia lakukan pada ibu, kak Luna dan kak Lulu!" Andra terus berusaha meyakinkan sang ibu. Namun Asya sama sekali tidak mendengarkannya dan tetap menariknya menuju kamar yang telah dipesan Danu


"Kamu tidak usah banyak bicara! Cukup ikut denganku dan tidak usah melawan, jadi kami tidak akan berbuat macam-macam padamu" Luna yang berada di belakang Asya dan Andra bicara dengan senyum penuh kepuasan karena kebencian sang ibu yang ditujunkan pada Andra sejak kecil membuatnya juga ikut membenci Andra


"Lepaskan tanganku! Aku selama ini selalu menganggap kalian adalah keluarga.. Aku tidak pernah mempermasalahkan apa yang telah kalian lakukan padaku. Tapi kali ini aku tidak akan tinggal diam lagi, sudah cukup aku diam. Mulai hari ini aku pasti akan menjatuhkan kalian. Aku akan buat kalian kehilangan harta yang membuat kalian sombong dan memperlakukan ku seenaknya" Andra menepis tangan Asya dan bicara dengan sorot mata yang tajam


"Dasar tidak tahu diri!"


Plak


Asya menampar pipi Andra dengan keras hingga dia memalingkan wajahnya dan keluar sedikit darah dari ujung bibirnya


"Terimakasih ibu. Dengan begini Kak Radit tidak akan melepaskan kalian begitu saja!" Ujar Andra dengan senyum tipis dibibirnya dan sebelah tangan memegangi pipinya yang merah


"Dasar gila!"


"Aah"


"Lepaskan tanganmu darinya atau aku akan mematahkan tanganmu agar bisa lepas darinya!"


Luna yang sedang menjambak rambut Andra langsung menoleh begitu mendengar suara seorang pria dibelakang mereka


"Kak Radit" Gumam Andra sambil menatap Radit


"Kalian lihat kan? Kak Radit datang diwaktu yang tepat. Kalian akan dapat bayaran yang setimpal untuk ini" Andra sedikit berbisik dengan senyum menyeringai

__ADS_1


"Kubilang lepaskan istriku!" Radit terlihat tenang namun sorot matanya tajam dan nada bicaranya terdengar sangat dingin. Luna pun melepaskan tangannya dari rambut Andra


"Kak Radit" Andra merengek manja dengan wajah sedih


"Kamu... apa ini sakit?" Radit bertanya dengan penuh kasih sayang


"Ah tangan kak Radit lembut sekali. Rasanya aku tidak ingin membiarkan tangan ini lepas" Pikir Andra menikmati belaian tangan Radit di pipinya


"Andra..." Radit mengulang pertanyaannya karena Andra tidak memberikan jawaban


"Ya, aku baik-baik saja. Ini hanya sedikit sakit" Andra tersenyum manis meskipun kini pipinya mulai memar. Sorot mata Radit kini semakin suram melihat pipi Andra yang merah


"Siapa yang melakukan ini padamu?!" Tanyanya lagi yang terlihat semakin marah


"Aku tidak papa, kak Luna mungkin tidak sengaja karena aku tidak ingin ikut dengan mereka" Andra tidak memberitahu secara langsung kalau Luna menamparnya. Dia hanya bersikap manis sambil menjatuhkan Luna


"Luna? Aku akan mengingatnya. Lebih baik kita pergi sekarang! Aku sudah tidak tertarik dengan pesta ini" Radit melingkarkan tangannya di sekitar pinggang Andra dan meninggalkan Asya dan Luna


"Andra, kamu tidak bisa pergi begitu saja! Aku tidak akan melepaskanmu!" Teriak Asya pada Andra yang berjalan menjauh bersama Radit.


Tiba-tiba Radit menghentikan langkahnya dan bicara tanpa menoleh pada mereka


"Kamu!" Luna terlihat sangat kesal namun Andra dan Radit terus saja berjalan tanpa menghiraukan Luna dan Asya


"Bu apa yang akan kita lakukan sekarang? Kita gagal lagi memberikan Andra pada pak Danu. Jika kita berhasil maka kita bisa mendapatkan bantuan lagi untuk perusahaan" Luna yang kesal bertanya pada sang ibu dengan nada yang manja


"Ibu juga tidak tahu harus bagaimana lagi. Sekarang apa yang akan kita katakan pada pak Danu?" Ssya terlihat sangat bingung dan juga kesal


"Dimana Andra? Kenapa kalian lama sekali?!" Asya dan Luna sangat terkejut karena pak Danu tiba-tiba datang


"I-itu... Andra... " Asya terlihat ragu-ragu saat akan menjawab pertanyaan pak Danu


"Ada apa lagi dengan Andra? Bukannya tadi kamu sudah berhasil membawanya kemari?!" Danu terlihat sangat marah karena sebelumnya dia melihat Asya membawa Andra dari aula pesta


"Benar, tapi tadi Radit datang dan kembali membawanya pergi" Asya menjawab pak Danu dengan suara sedikit bergetar karena takut


"Dasar kalian tidak berguna!"

__ADS_1


Plak!


"Ah!"


"Ibu!"


"Aku sudah tidak ingin melihatmu lagi!" Danu kemudian beranjak pergi meninggalkan Asya yang menahan sakit dipipinya


"Ibu tidak papa?" Luna memegangi sang ibu berusaha menopang tubuhnya


"Ibu baik-baik saja. Kita pergi darisini! Kita harus pikirkan cara untuk tetap mendapat dukungan pak Danu diperushaan, karena kita tidak mungkin dapat dukungan dari Radit"


"Baik bu" Asya pun beranjak pergi meninggalkan hotel bersama dengan Luna disampingnya


***


"Halo, Candra. Aku punya pekerjaan tambahan untukmu" Radit sedang menghubungi Candra begitu dia menjauh dari Asya


"Apalagi? Aku masih menyelesaikan masalah Starla. Kamu lupa kalau masalahnya belum selesai?" Candra menjawab dengan sinis khas percakapannya dengan Radit


"Untuk apa lagi mengurus perusahaan itu? Kita hanya perlu menunggu hingga waktunya habis saja. Toh perusahaan itu sudah pasti akan jatuh" Radit menjawab dengan tenang, seakan itu bukan masalah besar untuknya


"Kamu benar. Jadi sekarang apalagi yang harus ku kerjakan? Sekarang perusahaan mana yang ingin kamu jatuhkan?" Candra Akhirnya menyerah dan menanyakan keinginan Radit


"Perusahaan Danu. Kamu tahu kan tua bangka yang waktu itu akan dijodohkan dengan Andra? Sepertinya dia memang tidak takut padaku sampai berani berniat merebut istriku. Jadi dia tidak pantas lagi menyandang gelar pemimpin perusahaan" Radit sedikit tersenyum saat bicara pada Candra


"Kenapa harus aku lagi yang kerjakan? Sepertinya yang pandai mengenai IT itu kamu, bukannya aku?" Candra dengan tenangnya mengingatkan Radit


"Kalau begitu kamu sudah tidak perlu lagi bekerja denganku, karena aku bisa mengerjakan semuanya sendiri" Jawab Radit santai


"Oh tidak, karena uangku masih kurang jadi aku masih harus bekerja denganmu" Candra akhirnya mengalah pada Radit


"Bagus, aku tunggu kabar baik darimu!" Radit tersenyum puas setelah menggoda Candra


"Baik! Aku harus memberi penghargaan pada diriku sendiri karena aku bisa bertahan dengan atasan sepertimu, sekaligus satu-satunya sahabatku" Candra menggerutu dengan bibir mengerucut


"Kamu tidak bisa menolak, karena takdirmu itu jadi tangan sekaligus kakiku"

__ADS_1


"Diam! Aku tidak ingin mendengar jawaban narsismu!"


__ADS_2