Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Tujuan Surya


__ADS_3

Andra dan Lidia sudah berada dirumah lagi setelah makan siang bersama dengan Radit dan Surya. Radit harus kembali kekantor karena ada meeting yang harus dia hadiri. Sedangkan Surya, Andra meninggalkannya meskipun dia masih tetap ingin menghabiskan waktu dengan Andra.


"Mami, apa tadi mami makan siang dengan papi? Kenapa tidak membawaku juga bersama dengan kalian?" Lathan yang baru kembali dari sekolah mendengar kalau Andra baru saja kembali dari mall. Dia mengeluh dengan nada manja dan bibir mengerucut.


Andra tersenyum melihat Lathan yang menggemaskan baginya


"Lathan, sayang. Kamu sekolah dan mami tidak ingin mengganggu sekolahmu. Lagipula papi tidak bisa lama karena masih memiliki rapat penting dengan kliennya. Lain kali kita pasti akan makan siang bersama lagi" ujar Andra menenangkan sang putra yang merajuk.


"Tapi, Mami, lain kali itu tidak sama dengan tadi. Aku juga ingin makan dengan kalian. Aku tidak ingin hanya berada disekolah saja dan baru bisa bertemu dengan kalian disore hari" ujar Lathan yang masih dengan nada bicaranya yang marah.


"Baiklah, sekarang maunya Lathan bagaimana? Apa yang harus Mami lakukan agar pangeran Mami yang tampan ini tidak marah lagi?" Andra berusaha membujuk Lathan dengan senyum manisnya dan nada bicaranya yang lembut penuh kasih sayang.


"Ehm ... sudah lama aku tidak makan masakan Mami. Apa aku bisa memakannya hari ini?" Lathan bertanya dengan tatapan penuh harap.


"Tentu saja bisa, tapi kali ini Mami ingin kamu juga ikut membantu Mami membuat makan malamnya ya"


"Siap, Mami" Lathan yang sangat senang menjawab dengan antusias.


Lidia terus saja memperhatikan kedekatan Lathan dan Andra karena sebelumnya Surya sudah berpesan sesuatu padanya.


"Ingat Lidia, kamu harus berhasil memisahkan Andra dan Radit, jadi aku bisa mendekati Andra. Dengan begitu Radit yang sakit hati pasti akan merasa putus asa dan itu akan mudah untuk menjatuhkannya. Jika perusahaan Nugraha bangkrut, maka perusahaanku akan bisa berkembang dengan pesat"


"Bagaimana aku bisa merusak hubungan mereka berdua? Apa melalui Lathan? Andra hanyalah ibu sambung, jika aku berhasil merusak kedekatan antara Lathan, Radit dan Andra, mereka pasti akan terpecah dan rencanaku bisa segera terlaksana. Dengan begitu aku bisa langsung menerima bayaranku" pikir Lidia dengan seringai tipis dibibir manisnya.


"Lidia, kemarilah" panggil Andra pada Lidia yang berdiri tidak jauh darinya.


"Iya, Bu. Ada apa?". Lidia pun berjalan mendekati Andra dan bertanya padanya dengan sopan.


"Tolong panggilkan bibi kemari dan minta dia untuk pergi ke minimarket dekat sini dan menemani Lathan membeli beberapa bahan makanan. Putraku ini ingin aku membuatkan beberapa makanan untuknya" Andra bicara dengan sikap tenang sambil tersenyum lembut pada Lathan.


Lidia menunjukkan seringai tipis saat dia mulai mendapatkan kesempatan menjalankan aksinya.

__ADS_1


"Maaf bu, tapi sepertinya bibi sedang sibuk membersihkan rumah bagian belakang, Bagaimana kalau saya saja yang menemani den Lathan ke minimarket? Jika bibi yang pergi, itu akan membutuhkan waktu yang lama karena bibi sudah tua. Sedangkan saya dan den Lathan bisa berbelanja dengan cepat dan ibu tidak perlu menunggu terlalu lama"


Lidia berusaha meyakinkan Andra kalau mereka akan baik-baik saja.


"Benarkah? Kamu yakin mau menemani Lathan pergi?" tanya Andra memastikan.


"Iya, Bu. Saya yakin bisa menemani den Lathan berbelanja"


"Lathan, apa kamu mau pergi berbelanja dengan kak Lidia?" tanya Andra dengan lembut pada Lathan


"Iya Mih. Tidak papa. Aku bisa pergi dengan kak Lidia" Lathan menjawab dengan senyum ceria.


"Nah, Lidia, kalau begitu, saya titip Lathan. Kamu harus menjaganya dan jangan biarkan dia pergi sendiri. Oke?"


"Iya, Bu. Saya  mengerti. Saya akan menjaga den Lathan dan membawanya kembali dengan selamat"


"Kalau begitu, ini daftar bahan yang dibutuhkan dan ini uangnya. Ingat untuk langsung pulang setelah semua bahan sudah kalian dapatkan". Andra memberikan secarik kertas dan juga sejumlah uang untuk digunakan oleh Lidia berbelanja bahan makanan.


"Sampai jumpa, Mami. Kami akan segera kembali" Lathan meraih tangan Lidia lalu memegangnya dan berjalan beriringan.


"Sampai jumpa, sayang. Hati-hati ya". Andra melambaikan tangan sambil tersenyum dan menatap Lathan yang berjalan semakin menjauh.


Setelah meninggalkan rumah, Lathan langsung melepas pegangan tangan Lidia.


"Den Lathan, kenapa melepas tangan saya? Sini pegangan lagi, takut terjadi apa-apa". Lidia terlihat terkejut karena Lathan melepas pegangan tangannya, lalu dia meminta Lathan kembali berpegangan padanya dengan nada yang lembut.


"Tidak perlu. Aku bisa jalan sendiri" ujar Lathan dengan sikap acuh tak acuh sambil membersihkan tangannya.


"Eh, apa dia memang seperti ini ya?" Lidia tampak bingung ketika melihat perubahan sikap Lathan padanya.


"Tidak perlu. Kita hanya ke minimarket dan lokasinya juga dekat". Lathan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.

__ADS_1


"Sepertinya ini adalah kesempatanku" pikir Lidia yang merencanakan sesuatu dengan senyum mencibir dibibirnya.


"Den Lathan apa anda sangat menyayangi bu Andra?" tanya Lidia dengan senyum canggung.


"Tentu saja. Itu sudah tidak perlu ditanyakan"


"Tapi, apa bu Andra juga menyayangi den Lathan? Kenapa saya merasa kalau bu Andra hanya perhatian pada pak Radit ya? Saya tahu mereka suami istri. Tapi kan den Lathan juga putra mereka, seharusnya bu Andra juga selalu membawa den Lathan kemanapun pergi kan?" Lidia terus saja bicara seakan dia berbicara sendiri, namun dia terus sama melirik pada Lathan untuk melihat reaksinya.


Lathan sesekali melirik Lathan


"Sebenarnya apa yang dia rencanakan? Kenapa dia terus membicarakan sikap mami? padahal aku tahu kalau mami tidak pernah seperti itu. Kalau begitu … kita ikuti saja apa maunya" pikir Lathan sambil tersenyum polos.


"Tentu saja mami perhatian pada papi karena mereka suami istri. Mami juga selalu membawaku kemanapun mereka pergi kalau aku tidak pergi sekolah" Lathan menanggapi dengan sikapnya yang polos.


"Benarkah? Tapi kelihatannya bu Andra tidak peduli pada den Lathan ya? Apa hanya perasaanku saja?" Lidia terus saja bicara dan berusaha menghasut Lathan.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan?" tanya Lathan dengan sorot mata yang tajam.


"Saya tidak memiliki maksud apapun. Saya hanya ingin bertanya saja" jawab Lidia dengan senyum yang canggung.


"Baiklah, aku tidak akan menghiraukan ucapanmu tadi. Aku akan tanya sendiri pada mami, apa dia menyayangiku atau tidak. Jika yang kamu katakan tidak benar, maka aku akan beritahukan langsung pada papi". Kini Lathan bicara dengan senyum ceria seakan tidak terjadi apa-apa.


"Jangan katakan pada pak Radit, jika den Lathan bertanya pada pak Radit, bisa saja nanti den Lathan malah dimarahi karena membuat dia tersinggung".


Lathan memicingkan mata mendengar ucapan Lidia.


"Kenapa papi tersinggung?" tanya Lathan lagi pura-pura tidak mengerti.


"Karena pak Radit akan berpikir kalau den Lathan berusaha menghasut beliau agar pak Radit dan bu Andra bertengkar. Jadi akan lebih baik kalau den Lathan amati saja dulu, apa bu Andra memang tulus sayang pada den Lathan atau hanya pura-pura untuk mengambil simpati pak Radit saja" Lidia bicara dengan lembut. Dia tersenyum ketika Lathan menanggapi dengan anggukkan kepala.


"Lihat saja nanti. Akan aku buat kamu kehilangan muka dan tidak berani meninggalkan rumah karena telah berani mengganggu mami"

__ADS_1


__ADS_2