Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Hari Pertama Sekolah


__ADS_3

Beberapa tahun kemudian.


“Lathan! Ardhan! Sudah waktunya sarapan!”.


Andra berteriak memanggil Lathan dan Ardhan yang tak kunjung keluar dari kamar mereka.


“Iya, Mami. Kami turun sekarang!”.


Lathan dan Ardhan yang kamarnya bersebelahan berteriak bersama menanggapi sang ibu


“Apa mereka belum bangun?”. Radit yang sedang membaca dokumen mengenai perusahaan bertanya dengan sikap yang tenang.


“Mereka sudah bangun sejak tadi. Entah apa yang mereka lakukan, mereka tidak kunjung turun untuk sarapan. Padahal ini sudah siang dan mereka harus pergi ke sekolah” Andra menanggapi dengan sikap tenang sambil sesekali menatap kearah kamar Lathan dan Ardhan


“Mami, kenapa Mami sudah berteriak pagi-pagi begini? Bukannya tadi juga mami pergi kekamarku dan melihat kalau aku sudah bangun?”.


Lathan bertanya dengan sikap yang tenang sambi berjalan menuruni tangga rumahnya. Kini dia sudah memasuki masa remaja. Lathan sudah menginjak sekolah menengah atas dan sekarang dia sudah kelas 3. Dia terlihat tinggi dan tampan. Penampilannya pn sangat rapih dengan seragam sekolah.


“Itu karena kalian berdua tidak juga turun untuk sarapan. Kalian harus pergi ke sekolah tapi kalian terud berdiam diri dikamar. Apa yang kalian lakukan?”.


Andra menanggapi dengan  sikap yang tenang sambil terus menyiapkan sarapan.


“Pagi, Pih” sapa Lathan pada Radit yang sedang serius.


“Pagi. Adikmu sedang apa? Kenapa dia belum turun juga? Dia bisa terlambat kesekolah” ujar Radit dengan sikap yang terkesan acuh tak acuh.


“Entahlah pih. Dia bilang sedang mencari buku yang tertinggal”


“Oh, ya sudah. Ayo kita  mulai sarapan. Kamu bisa terlambat nanti”


“Baik, pih”


Radit terus memperhatikan sang istri yang sedang berada didekatnya. Dari gerak geriknya terlihat kalau ada yang ingin dia tanyakan pada Lathan secara pribadi.


“Sayang, coba lihat apa yang dilakukan Ardhan. Kenapa dia belum turun juga? Dia bisa terlmabta nanti”. Radit bicara dengan sikap yang tenang.


“Baiklah”.


Radit terus memperhatikan Andra. Saat Andra mulai beranjak pergi dari hadapan mereka, Radit mulai bicara pada Lathan.


“Lathan, apa kamu yang ikut kompetisi meretas semalam? Papi dengar ada seseorang dari Negara kita yang ikut kompetisi itu  . Apa itu kamu atau Kenzo?”.

__ADS_1


Radit bertanya dengan sedikit berbisik  sambil terus memperhatikan kearah Andra berada.


“Itu bukan aku.  Kak Zo juga tidak mungkin mengikuti kompetisi seperti itu. Itu pasti orang lain.  Aku tidak ingin terlibat dengan jaringan mereka. Itu sangat menyebalkan Pih” Lathan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh.


“Oh, baiklah kalau begitu. Papi hanya bertanya saja. Papi kira kamu ikut kompetisi, jika kamu melakukan itu maka kemungkinan identitasmu akan mudah dilacak”


“Papi tenang saja. Aku tidak mungkin membongkar identitasku sebagai seorang hacker. Aku bisa berubah jadi hewan buruan jika semua orang tahu kemampuanku” . Lathan pun bicara sambil tersenyum dan mulai menikmati roti yang disiapkan Andra.


“Bagus. Papi senang jika kamu mengerti akan hal itu. Jika semua orang tahu kamu pandai dalam masalah kimputer, maka semua orang akan bersikap waspada terhadapmu, atau mungkin mereka akan berusaha merekrutmu untuk melakukan pekerjaan kotor”. Radit bicara dengan sikap yang tenang sambil menikmati sarapannya


“Pagi pih, pagi Kak” Radit dan Lathan langsung menoleh setelah mendengar suara Ardhan yang baru saja tiba diruang makan.


“Pagi. Kenapa kamu lama sekali? Bukannya kamu harus pergi ke sekolah?” tanya Radit pada Ardhan dengan sikap yang tenang.


“Aku lupa mengerjakan PR jadi aku mengerjakannya dulu. Kakak akan pergi bersama denganku, kan?” Ardhan bertanya pada Lathan yang sedang fokus pada makanannya


“Biasanya kamu pergi dengan Papi, jadi sekarang juga seperti itu. Kakak harus pergi lebih awal hari ini” Lathan menanggapi Ardhan dengan sikapa acuh tak acuh.


“Kenapa kamu berangkat lebih awal? Apa ada acara khusus?” tanya Radit dengan dahi sedikit berkerut karena merasa heran.


“Hanya rapat mengenai siswa baru. Bukan hal yang penting”jawab Lathan dengan sikap acuh tak acuh.


“Sejak kapan kamu ikut organisasi?” Dahi Radit semakin berkerut mendengar jawaban Lathan.


“Jadi pihak sekolah dengan sengaja menjadikan tampangmu itu sebagai maskot untuk menarik perhatian para murid baru?” Radit bicara dengan senyum menggoda dibibirnya.


“Anggap saja seperti itu. Sangat menyebalkan, Pih. Semua orang selalu mendekatiku dengan maksud yang sama. Apa dulu papi juga seperti itu? Rasanya aku tidak ingin mengenal mereka semua” ujar Lathan dengan sikap yang acuh tak acuh.


“Ya, tidak beda jauh denganmu. Hanya saja tidak semua orang tahu kalau Papi berasal dari keluarga Nugraha, jadi mereka tidak memiliki alasan untuk berteman dekat dengan Papi”.


Radit sedikit menceritakan tentang masa sekolahnya pada Lathan.


“Kenapa tidak  mengatakan identitas Papi yang sebenarnya? Apa nenek melarangnya?” Lathan semakin penasaran dengan cerita dari Radit.


“Papi sudah tinggal dengan kakek buyut sejak sekolah dan kakek buyut selalu meminta anak dan juga cucunya untuk menyembunyikan identitas agar tidak direpotkan dengan orang-orang yang memiliki maksud tertentu saat berteman. Itulah kenapa Papi juga menutupi identitas Papi”


Jelas Radit dengan senyum tipisnya.


“Berarti nenek Vio juga menutupi identitasnya?”.


Radit menggelengkan kepala menanggapi ucapan Lathan

__ADS_1


“DInegara A nenekmu sudah dikenal sebagai putri bungsu kakek, karena dia selalu ikut kemanapun setiap kakek dan nenek buyut ada acara, tapi dinegara F nenekmu juga tidak mengungkapkan identitasnya”


“Apa saat itu nenek mengikuti kakek Bi dan nenek Ji?” tanya Lathan semakin penasaran.


“Ya, nenek Vio bekerja sebagai karyawan biasa disebuah perusahaan sampai dia berjumpa dengan kakek. Barulah dari situ identitas mereka terbongkar”. Radit bercerita disertai senyum membayangkan cerita tentang Vio


“Lalu …”


“Sampai kapan kalian berdua akan bercerita mengenai masa lalu orang lain? Bukankah ini sudah terlambat untuk kalian berangkat? Lathan, lihat jam berapa sekarang”. Andra yang datang bersama Ardhan menyela pembicaraan diantara Lathan dan juga Radit.


“Baik, Mih. Aku akan berangkat sekarang. Ardhan, kamu berangkat sendiri saja ya. Sudah terlambat jika aku harus menunggumu”.


Lathan pun mengiyakan ucapan Andra dan bergegas mengambil tas disampingnya lalu bersiap pergi.


“Kak, tunggu aku. Aku berangkat dengan kakak saja. Papi kan berbeda arah dengan kita” Ardhan pun menanggapi dengan sikap yang tenang sambil meminum segelas susu yang tersedia dimeja dan mengambil sandwich untuk dimakan dijalan.


“Mami, kami pergi dulu ya. Sampai jumpa, Mih. Muach.” Sambung Ardhan sambil mencium pipi Andra


“Ya, hati-hati” jawab Andra dengan senyum lembut


“Aku juga berangkat ya, Mih. Sampai jumpa. Muach” Lathan pun melakukan hal yang sama pada Andra


“Daah Papi” Lathan dan Ardhan melambaikan tangan pada Radit sambil berlalu pergi


“Kalian hati-hati. Jangan nakal disekolah!” Andra sedikit berteriak saat Ardhan dan Lathan mulai menjauh dari hadapannya.


“Haah … tak terasa mereka sudah besar ya, Kak? Sekarang kita sudah semakin tua” ujar Andra sambil terus menatap punggung kedua putranya.


“Siapa yang kamu bilang tua? Aku masih muda. Jika kamu tidak percaya … aku bisa membuktikannya padamu sekarang juga. Lagipula, mereka sudah pergi. Tidak akan ada yang mengganggu waktu kita berdua” Radit menanggapi Andra dengan nada bicara yang menggoda sambil berbisik ditelinganya.


Drrt drrt drrt


“Jangan macam-macam. Lihatlah kak Candra sudah menghubungi kak Radit agar segera pergi ke kantor. Waktunya bertugas sebagai pemimpin perusahaan Nugraha!” ujar Andra dengan sikap yang tenang sambil menunjuk ponsel Radit yang terus bordering.


“Dasar pengganggu. Akan kupotong bonus bulanan miliknya!” Radit menggerutu kesal sambil  menatap layar ponselnya


“Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa sayang. Muach” Sambung Radit pada Andra diikuti kecupan dikening sang istri


“Sampai jumpa. Hati-hati” Andra pun melambaikan tangan pada Radit yang berjalan meninggalkan rumah


“Halo, aku dalam perjalanan. Siapkan rapat ketika aku tiba dikantor. Hemn …” Radit menerima telepon dari Candra saat dia hendak meninggalkan rumah.

__ADS_1


“Sekarang rumah jadi sepi. Haah” gumam Andra dengan senyum tipis dibibirnya


__ADS_2