Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Teguran Untuk Perusahaan Panji


__ADS_3

"Bagaimana ini bisa terjadi?! Aku hanya membatalkan satu kontrak kerjasama, tapi aku harus kehilangan 3 kontrak kerjasama dengan perusahaan lain sekaligus. Bagaimana perusahaanku bisa terus beroperasi jika tidak ada yang mau bekerjasama?". Panji sedang menggerutu kesal pada Bagas karena dia harus kehilangan 3 kontrak kerjasama dengan perusahaan besar.


"Apa kamu sudah tanya penyebab dari pembatalan kontrak sepihak itu?" tanya Bagas dengan sikap yang tenang.


"Mereka bilang kalau perusahaanku ini tidak profesional dan aku bekerja sesuai dengan koneksi, karena itu mereka tidak ingin bekerjasama dengan perusahaanku lagi" ujar Panji menjelaskan alasan yang dia dengar.


"Aneh. Tidak mungkin kalau ketiga perusahaan itu menggunakan alasan yang sama. Apa kamu tidak curiga sama sekali?". Bagas memicingkan mata dan sejenak berpikir saat Panji menjelaskan alasan dari perusahaan yang membatalkan kerjasama dengannya.


Tok tok tok


"Maaf, Pak. Kita dalam masalah!" asisten Panji langsung masuk ke dalam ruangan Panji tanpa menunggu izin darinya terlebih dahulu.


"Apa yang terjadi sampai kamu langsung masuk seperti itu tanpa menunggu izin dariku?!". Panji menanggapi asistennya dengan sikap yang dingin.


"Maafkan saya, Pak. Tapi kita benar-benar dalam masalah"


"Masalah apa?" tanya Panji lagi yang penasaran setelah melihat asistennya sangat panik.


"Harga saham kita langsung anjlok dan sekarang kita sedang mengalami krisis!"


"Apa katamu?! Bagaimana bisa?! Ayo kita periksa kesana!". Panji sangat terkejut setelah mendengar kalau harga sahamnya dipasaran turun drastis. Diapun bergegas pergi untuk melihat laporan perkembangan harga sahamnya.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Panji begitu dia tiba diiruang bagian pemasarannya


"Harga saham kita terus menurun, Pak. Kami sudah coba selidiki penyebabnya tapi kami tidak menemukan apapun" jawab karyawan Panji yang bertugas mengawasi pergerakan harga saham.


"Terus cari tahu penyebabnya agar kita bisa menyelesaikan akar masalahnya. Kamu harus menemukan solusi secepatnya. Jangan sampai perusahaan ini bangkrut!" ujar Panji dengan sikap yang tegas.


"Baik, Pak!" jawab karyawannya. Panji pun kembali keruangannya sedangkan karyawannya sibuk mencari penyebab dari kekacauannya.


"Apa yang terjadi?" tanya Bagas pada Panji yang baru kembali keruangannya.


"Perusahaanku sedang mengalami krisis. Jika harga sahamku tidak ada perubahan sampai esok hari, maka sudah pasti perusahaanku akan gulung tikar karena para pemegang saham akan menarik saham mereka dari perusahaanku" ujar Panji menjelaskan dengan raut wajah khawatir.


"Bagaimana bisa perusahaanmu mengalami krisis seperti ini? Bukannya tadi pagi tidak ada masalah?" Bagas memicingkan mata karena bingung dengan perubahan perusahaan Panji yang hanya terjadi dalam waktu sekejap.


"Aku juga tidak mengerti. Yang lebih parah lagi, kami sama sekali tidak menemukan penyebabnya, jadi kami tidak tahu bagaimana memperbaikinya" sesekali Panji mengangkat kedua bahunya saat bicara. Dia terlihat kebingungan dengan apa yang terjadi.


Belum juga selesai rasa terkejut Panji, karyawannya kembali keruangan Panji dengan raut wajah panik.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Maaf Pak, saya langsung masuk tanpa mengetuk pintu dulu!" ujar karyawan Panji dengan panik dan napas terengah-engah setelah berlari.


"Sekarang apalagi ...? Apa kalian sudah menemukan sesuatu?" Panji menanggapi dengan sikap yang malas karena dia tidak tahu lagi apa yang akan terjadi.


"Bukan itu, Pak" karyawan itu menggelengkan kepala karena tebakan Panji salah.


"Lalu ada masalah apalagi …?" tanya Panji dengan sikap yang tenang sementara Bagas juga terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.


“Anu, Pak. Ada beberapa orang datang keperusahaan dan mencari anda. Mereka bilang kalau mereka adalah tim audit yang akan memeriksa perusahaan ini”


“Apa?” Panji sangat terkejut saat mendengar kalau ada beberapa tim audit yang datang keperusahaan miliknya. Dia dan Bagas saling menoleh satu sama lain.


“Sebaiknya kamu temui dulu mereka dan tanyakan tujuan mereka datang kemari” Bagas menyarankan dengan sikap yang tenang pada Panji yang sedang kebingungan dengan masalah yang datang bertubi-tubi padanya.


“Aku tidak tahu kenapa mereka datang kemari tapi aku sama sekali tidak melakukan kecurangan pada perusahaanku” Panji menanggapi Bagas dengan raut wajah sedih dan bingung


“Aku tahu. Karena itu temui mereka dulu agar kita tahu apa tujuan mereka datang kemari” Bagas berusaha menenangkan Panji agar dia tetap berpikir rasional.


“Baiklah, aku akan turun sekarang “ Panji pun bergegas meninggalkan ruangannya untuk menemui orang-orang yang dikatakan karyawannya tadi.


Setelah Panji pergi, Bagas sedikit merenung memikirkan apa yang terjadi pada perusahaan milik sahabatnya itu.


“Apa ini ada hubunganya dengan Radit? Ah tidak mungkin. Setahuku Radit tidak pernah mengambil tindakan apapun pada perusahaan orang lain. Dia tidak pernah bertindak sesuai dengan apa yang biasanya keluarga Kusuma lain lakukan. Jika memang dia seperti itu, maka tidak mungkin ada yang


berani padanya” Bagas berusaha menenangkan pikirannya sendiri atas apa yang telah dia lakukan.


Sementara dilantai bawah, Panji yang bergegas sendiri menemui orang-rang yang sedang menunggunya. Dia melihat ada 3 orang yang sedang menunggunya diruang tunggu khusus tamu.


“Permisi, anda mencari saya?” sapa Panji begitu dia mendekati orang-orang itu.


“Apa anda Pak Panji?” tanya salah seorang dari mereka berusaha memastikan.


“Ya, saya sendiri. Ada perlu apa ya?”


“Kami dari tim audit pajak. Kami ingin melakukan pemeriksaan pada perusahaan anda”


“Tapi selama ini saya selalu membayar pajak tepat waktu. Saya rasa ini tidak ada masalah lagi” ujar Panji berusaha menjelaskan pada para tamu.


“Kami hanya ingin melakukan pemeriksaan saja” jawab salah satu dari mereka lagi dengan sikap yang tenang

__ADS_1


“Baiklah, mari ikuti saya” Panji pun memimpin mereka dengan berjalan didepan dan diikuti oleh ketiga pria itu dibelakangnya. Mereka


berjalan dengan langkah yang gagah sambil sesekali menoleh kekanan dan kekiri memerhatikan perusahaan Panji. Ada beberapa karyawan pun yang memperhatikan


Panji dan para tamunya ketika melewati ruangan.


“Pak Panji dengan siapa? Apa mereka rekan bisnis baru perusahaan kita?"


“Entahlah, aku baru melihat mereka diperusahaan ini. Mungkin memang rekan bisnis. Tidak mungkin kalau pak Panji membawa karyawan baru untuk berkeliling kan?”


“Kamu benar. Pak Panji tidak akan mungkin mau membawa karyawan baru berkeliling jadi kemungkinan besar memang mereka itu adalah rekan bisnisnya” Para karyawan saling berbisik ketika melihat sang atasan bersama


orang-orang yang baru kali ini mereka lihat.


“Sudah-sudah. Sebaiknya kembali pada pekerjaan kalian. Kita harus segera menyelesaikan ini untuk dikiirim”. Salah salah satu dari mereka membubarkan kerumunan rekannya agar kembali bekerja.


Panji dan ketiga pengawas itu tiba diruang keuangan untuk memeriksa laporan keuangan dari perusahaan miliknya.


“Pak Panji, ada apa anda datang kemari?” tanya salah satu karyawan bagian keuangan.


“Mereka ini dari tim audit pajak. Tunjukan laporan mengenai pembayaran pajak perusahaan kita pada mereka” ujar Panji yang memberikan perintah dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


“Baik, Pak” Mereka pun mulai mengumpulkan buktu laporan dan menunjukannya pada ketiga tim audit itu.


"Ini laporannya"


"Terimakasih". Satu persatu laporan diperiksa. Panji dan karyawannya terlihat tegang menunggu tim audit memeriksa laporan mereka. Sesekali terlihat para tim audit saling menoleh satu sama lain dengan menganggukkan kepala seakan memberi isyarat.


Saat sedang tegang, ponsel Panji berdering


Drrt drrt drrt


Panji mengernyitkan dahi melihat layar ponsel sebelum menerimanya.


"Ha-lo" jawab Panji dengan ragu-ragu


"Halo. Bagaimana dengan kejutan yang kuberikan? Ini hanya teguran saja karena kamu berani bersekongkol menjatuhkanku"


"Apa?!"

__ADS_1


__ADS_2