
Radit kembali kerumah setelah dia bicara dengan kedua putranya. Dia berjalan memasuki rumah dengan langkah kaki yang terlihat berat. Dia langsung beranjak pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan segera beristirahat.
"Kakak sudah pulang? Apa tadi terjadi sesuatu?" tanya Andra yang langsung menyambut Radit begitu dia memasuki kamar.
"Bukan apa-apa. Hanya masalah kecil saja".
Radit menanggapi sang istri dengan senyum yang lembut.
"Apa Lili sudah tidur? Apa tadi dia marah?".
Radit mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan putri kecilnya.
"Dia tidak marah. Hanya sedikit penasaran dengan hal yang membuat ayahnya langsung pergi lagi padahal baru saja pulang dari kantor".
Andra bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut.
Radit menanggapinya dengan senyum yang lembut.
"Lalu kenapa kamu belum tidur? Apa kamu menunggu sampai aku pulang?".
Kini Radit bertanya tentang sang istri yang masih terjaga saat ini sambil menggodanya.
"Aku memikirkan anak-anak. Apa yang sebenarnya sedang mereka lakukan? Apa mereka baik-baik saja? Apa mungkin mereka melakukan hal yang tidak-tidak?" ujar Andra menceritakan kekhawatirannya pada Radit.
"Tidak perlu mengkhawatirkan mereka secara berlebihan. Mereka sudah besar dan pasti bisa menjaga diri mereka baik-baik".
Radit menanggapinya dengan sikap yang tenang sambil bersiap membersihkan diri.
"Justru karena mereka sudah besar aku jadi lebih khawatir kalau mereka terjerumus dalam pergaulan yang salah"
"Tenang saja. Mereka tidak akan mengambil resiko menjadi tahanan ibunya yang akan selalu diawasi selama 24 jam penuh"
Radit bicara dengan senyum menggoda.
Eh? Tahanan selama 24 jam? Bukankah aku yang mengatakan itu pada Lathan?
"Kak Radit tahu darimana aku mengancam mereka seperti itu? Mereka menghubungi kak Radit? Atau mungkin … Kak Radit tadi menemui mereka berdua? Dimana mereka? Apa yang mereka lakukan dengan tidur diluar rumah?".
Andra bertanya dengan nada curiga pada Radit setelah dia menyadari ucapan sang suami tentang kedua putranya. Dia yang sebelumnya tetap tenang ditempat tidur, langsung berdiri dan mendekati Radit untuk mendapatkan jawaban perihal putranya.
"Mereka baik-baik saja. Kamu tidak perlu terlalu mengkhawatirkan mereka. Cukup percaya saja kalau mereka tidak akan melakukan hal-hal yang tidak kita sukai".
Radit berusaha menenangkan Andra sambil memeluk erat sang istri.
"Ya, aku akan percaya pada mereka"
...****************...
Keesokan harinya.
__ADS_1
Lathan mengantarkan Ardhan ke sekolah setelah mereka sarapan dihotel terlebih dahulu.
"Kakak, apa kamu akan langsung ke sekolah?" tanya Ardhan dengan sikapnya yang tenang.
"Tentu saja. Kamu pikir aku akan pergi kemana lagi?".
Lathan menanggapi sang adik dengan sikap tenang dan acuh tak acuhnya.
"Bukan begitu. Hanya saja … bukankah semalam kamu bertanya pada papi mengenai kerjasama? Apa itu karena ada seseorang yang berusaha mengancam Kakak?".
Ardhan yang sudah berada diluar mobil Lathan terus bertanya meskipun dari jendela mobil yang terbuka.
"Tidak perlu mengkhawatirkan itu. Aku bisa mengatasinya. Kamu harus selesaikan masalah dengan kepala sekolah dan juga seniormu itu, jika butuh bantuan. Katakan saja padaku" ujar Lathan yang memberikan perhatian meskipun dengan sikapnya yang dingin.
"Ya, aku mengerti. Aku akan menghubungi Kakak jika membutuhkan sesuatu".
Ardhan menanggapi Lathan dengan senyum lembut disertai anggukan kepala.
"Kalau begitu aku masuk dulu. Terimakasih karena Kakak mau membantuku menghindari mami".
Ardhan bicara sambil beranjak pergi meninggalkan Lathan tanpa menunggu tanggapan darinya.
"Anak ini. Ternyata bisa juga mengatakan terimakasih meskipun sambil malu-malu" gumam Lathan sambil menatap Ardhan yang semakin menjauh. Setelah Ardhan melewati gerbang sekolah barulah Lathan pergi darisana
...****************...
Ardhan baru memasuki gerbang sekolah setelah diantar oleh Lathan. Dia berjalan dengan tenang menuju kelasnya.
Ada apa dengan mereka? Kenapa semua orang menatapku seperti itu?
"Ardhan! Ardhan!" seorang anak laki-laki berlari sambil berteriak memanggil Ardhan.
Ardhan yang sedang kebingungan langsung menoleh begitu mendengar seseorang memanggil namanya.
"Ada apa? Kenapa berteriak begitu?" tanya Ardhan dengan sikap yang tenang.
"Itu … orang tua Bobi sedang menunggumu di kantor kepala sekolah" ujar teman Ardhan dengan napas terengah-engah karena berlari.
"Ada perlu apa mereka mencariku?" ujar Ardhan dengan dahi berkerut dan nada mencibir.
"Aku tidak tahu. Mungkin karena masalah kemarin?"
"Mungkin".
Ardhan pun berlalu pergi meninggalkan temannya dan beranjak pergi ke kantor kepala sekolah.
Tok tok tok
Ardhan mengetuk pintu kepala sekolah meskipun pintunya terbuka.
__ADS_1
"Itu Mah. Dia yang kemarin memukulku dan juga teman-temanku" ujar Bobi sambil menunjuk Ardhan yang berdiri diambang pintu.
Dahi Ardhan berkerut heran sambil tersenyum mencibir Bobi.
"Aku baru tahu kalau ternyata senior disekolah yang katanya selalu ditakuti oleh semua murid ternyata hanyalah anak mami yang suka sembunyi dibalik ketiak ibunya".
Ardhan bicara dengan nada mencibir. Dia berjalan dengan santai mendekati orang tua Bobi dan juga kepala sekolah, lalu duduk disalah satu sofa yang kosong.
"Heh. Bicah ingusan! Apa orang tuamu tidak mengajarimu sopan santun? Bisa-bisanya kamu bicara seperti itu didepan kami?" ujar ibu Bobi dengan nada yang kesal dan sombong.
"Orang tuaku selalu mengajarkan sipan santun, tapi mereka juga mengajarkan sopan santun yang jelas. Jika orang tuanya tidak bisa dihormati, untuk apa aku bersikap sopan?"
Ardhan bicara dengan acuh tak acuh sambil tersenyum tipis. Setelah itu dia menatap tajam pada kepala sekolah.
"Pak kepala sekolah, bukannya anda tahu sendiri bagaimana duduk permasalahannya?" tanya Ardhan dengan sorot mata yang tajam.
"Itu … nyonya sebaiknya anda tenang dulu. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Ini hanyalah kenakalan anak remaja saja".
Kepala sekolah langsung menanggapi ucapan Ardhan dengan senyum canggung dibibirnya.
"Bagaimana hanya kenakalan biasa? Anda lihat sendiri bagaimana wajah anak saya! Ini bukan hanya kenakalan biasa tapi sudah menjurus pada kasus kekerasan! Ini kriminal namanya!".
Ibu Bobi bicara dengan sangat kesal dan penuh emosi sambil memegang pipi anaknya.
"Lalu bagaimana dengan anak anda? Dia dan teman-temannya selalu menganiaya murid baru. Dia meminta uang mereka, menjadikan orang yang tidak mereka suka seperti pembantu mereka, bertindak seenaknya pada orang lain. Apa itu tidak dikatakan kekerasan? Nyonya, kasus bullying disekolah itu lebih dari sekedar kekerasan. Itu adalah kasus kriminal yang bisa menyebabkan trauma untuk korban bullying bahkan membuat korbannya depresi, lebih parah lagi bisa membuat orang sampai kehilangan nyawa. Apa anda tidak mempermasalahkan sikap anak anda yang seperti itu?!"
Ardhan bicara dengan tegas dan juga sikap yang dingin. Dia sama sekali tidak merasa takut pada ibu Bobi maupun kepala sekolah.
"Omong kosong!" ujar Bobi membantah Ardhan
"Beraninya kamu menjelekkan putraku! Aku sangat tahu bagaimana putraku. Dia adalah anak yang sangat baik. Tidak mungkin dia melakukan kejahatan seperti itu!".
Ibu Bobi bersikeras kalau putranya tidak melakukan hal seperti yang dikatakan Ardhan.
"Bagaimana kalau aku memiliki bukti kejahatannya? Bahkan kepala sekolah juga tahu kalau apa yang aku katakan itu adalah sebuah kebenaran. Benar kan pak Kepala sekolah?".
Ardhan langsung menoleh pada kepala sekolah untuk mendapatkan persetujuan darinya. Dia menatap dengan sorot mata yang tajam dan senyum tipis dibibirnya.
"Itu … anu …"
Kepala sekolah terlihat gugup dan serba salah. Jika dia setuju dengan ucapan Ardhan, maka ibu Bobi bisa saja marah padanya karena tidak bisa melindungi putranya, tapi jika dia menyangkal ucapan Ardhan, maka bisa jadi semua bukti penggelapan dana sekolah yang Ardhan miliki akan tersebar luas ke masyarakat.
"Kenapa anda diam saja?! Sebenarnya apa yang anda lakukan sebagai kepala sekolah?! Mengurus satu murid pembangkang saja anda tidak becus. Kalau memang anda tidak mampu mengatasinya, biar saya yang akan membuat dia dipanggil dalam rapat kedisiplinan!" ujar ibu Bobi yang semakin emosi.
"Katakan siapa namamu!" tanya ibu Bobi sambil mengeluarkan ponsel
"Ardhan" jawab Ardhan singkat.
"Nama lengkapmu!" tanya ibu Bobi lagi
__ADS_1
"Ardhan Prayugi Nugraha"
"Apa?!"