Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kerjasama Lathan Dan Ardhan


__ADS_3

Lathan dan Ardhan langsung bergegas pergi setelah mendapatkan perintah dari sang ayah. Mereka mengunjungi hotel milik Sofia untuk mendapatkan apa yang mereka cari.


"Dhan, itu mereka. Kamu tahu kan apa yang harus kamu lakukan?" ujar Lathan sambil menunjuk ke arah Gerry dan Sofia yang berjalan menuju tempat parkir.


"Ternyata papi benar. Mereka akan meninggalkan hotel jam segini. Kakak tenang saja. Aku tahu apa yang harus ku lakukan" jawab Ardhan sambil tersenyum kemudian dia turun dari mobil.


Ardhan mengenakan hoodie hitam layaknya remaja seusianya dilengkapi dengan kacamata besar. Dia juga berjalan sambil membaca buku, Ardhan terlihat seperti seorang kutu buku.


Dia berjalan menghampiri Sofia dan Gerry yang tengah terburu-buru.


Duk


"Ah maafkan saya" ujar Ardhan yang tak sengaja menabrak Sofia.


"Anda tidak papa?" tanya Gerry yang dengan sigap mendekati Sofia


"Aku tidak papa. Lain kali berhati-hatilah. Jangan membaca sambil berjalan seperti itu". Sofia menanggapi Ardhan dengan sikap yang dingin setelah dia bicara dengan Gerry.


"Baik. Sekali lagi saya minta maaf".


Ardhan meminta maaf dengan penuh penyesalan.


"Ya, tidak masalah" Sofia langsung berlalu pergi setelah menanggapi Ardhan diikuti dengan Gerry yang berjalan dibelakangnya.


"Aku sudah selesai" ujar Ardhan bicara pada Lathan melalui earphone sambil menatap punggung Sofia dan Gerry. Setelah itu dia kembali berjalan ke mobil Lathan.


"Sekarang tinggal aku yang masuk. Kamu harus matikan semua CCTV yang bisa menangkap keberadaanku" ujar Lathan pada Ardhan setelah dia kembali ke mobil.


"Kakak tenang saja. Itu bukan masalah besar. Tunggu sebentar". Ardhan langsung duduk dibalik laptop miliknya dan meretas semua jaringan CCTV di dalam hotel. Dia mengontrol dari jarak jauh semua CCTV yang menuju ruangan Sofia.


"Sudah. Kakak hanya punya waktu kurang dari 1 jam sampai wanita itu dan asistennya kembali kemari" ujar Ardhan mengingatkan sebelum Lathan pergi.


"Oke. Awasi terus sekelilingnya dan langsung kabari aku jika ada yang datang keruangan Sofia. Jangan sampai lengah. Kalau tidak, aku bisa dalam bahaya!". Lathan memperingatkan Ardhan dengan tegas.

__ADS_1


"Baik. Kakak tenang saja. Aku akan langsung memberitahu Kakak jika ada sesuatu"


"Kalau begitu aku pergi dulu. Kamu juga harus hati-hati"


"Siap, bos!".


Lathan pun bergegas pergi keruangan Sofia setelah Ardhan meretas semua CCTV yang mengarah keruang Sofia. Dia mengawasi Lathan melalui CCTV dan akan menghapus semua jejak yang menampilkan kemunculan Lathan.


Lathan mengendap masuk dengan hati-hati. Dia mengenakan seragam cleaning service dan juga masker untuk menutupi wajahnya. Lathan bergegas keruang khusus karyawan terlebih dahulu untuk mengambil peralatan bersih-bersih agar tidak mencurigakan. Dia mendorong peralatannya dengan sikap yang tenang sambil menoleh kesana kemari untuk melihat sekitar. Begitu tiba didepan ruangan Sofia, Lathan kembali menoleh kesana kemari, setelah dirasa aman barulah Lathan masuk dengan hati-hati keruang Sofia. Dia meletakkan beberapa penyadap juga kamera pengintai di tempat yang memungkinkan untuk mendengar percakapan Sofia dan juga melihat gerak-geriknya.


"Kak, Kakak harus cepat. Ada cleaning service asli yang mengarah keruang Sofia" ujar Ardhan lewat earphone.


Lathan bergegas menyelesaikan pekerjaannya, lalu bersiap meninggalkan ruangan Sofia.


"Mereka ada disebelah mana?" tanya Lathan pada Ardhan.


"Arah Kakak masuk tadi. Kakak bisa gunakan arah sebaliknya. Cepat keluar, sebentar lagi mereka tiba" Ardhan memberitahu Lathan dengan nada yang panik.


"Ya. Aku keluar sekarang".


"Kakak, di depan ada karyawan hotel. Kakak bisa belok ke kiri" ujar Ardhan sambil memperhatikan CCTV didepannya.


Lathan pun langsung belok ke tangga darurat mengikuti aba-aba Ardhan. Dia membuka seragamnya dan meninggalkan perlengkapan bersih-bersih dibalik pintu. Kemudian menuruni tangga dengan langkah cepat. Lathan kembali bersikap tenang begitu dia membuka pintu diujung tangga, seolah-olah dia hanya orang biasa yang mengunjungi hotel.


Begitu Lathan tiba dipintu keluar, Sofia dan Gerry melangkah masuk kedalam hotel.


"Apa kamu yakin kalau penyelidikannya akan segera ditutup?" tanya Sofia pada Gerry.


"Benar bu. Tidak ada bukti yang ditemukan sama sekali". Gerry menanggapi dengan sikap tenang dan sopan.


"Bagus. Kita bicarakan lagi semuanya begitu tiba dikantorku"


"Baik Bu".

__ADS_1


Lathan sedikit mendengarkan percakapan Sofia dan Gerry ketika mereka berpapasan.


"Ayo kita kembali ke hotel" ujar Lathan setelah tiba dimobilnya. Dia bicara dengan senyum manis dibibirnya


...****************...


"Apa semuanya sudah selesai?" tanya Radit pada Lathan dan Ardhan yang baru saja kembali dari hotel Sofia.


"Tentu saja Pih. Pekerjaan kami sudah selesai. Aku akan langsung menyambungkannya ke komputer polisi dan juga media" ujar Ardhan dengan senyum bangga.


"Jangan ke polisi. Bukankah polisi itu mencurigai papi? Aku ingin memberikannya tamparan langsung agar dia merasa malu dan menyesal karena telah menuduh papi seenaknya".


Lathan langsung menahan tangan Ardhan agar tidak menyambungkannya ke polisi. Ada seringai tipis dibibirnya yang membuat Ardhan menatapnya dengan tatapan sinis.


"Kakak benar. Kita tidak boleh memberikan tangga menuju puncak kesuksesan padanya dengan mudah. Biarkan dia bekerja keras terlebih dahulu" Ardhan pun menanggapi Lathan dengan seringai dibibirnya.


"Kalian berdua ini. Terserah kalian saja. Besok kasusnya akan ditutup dan polisi yang menyelidiki kasus ini pasti akan menemui atasannya untuk melapor. Papi harap kalian bisa menggunakan satu peluru untuk menembak dua mangsa sekaligus" ujar Radit mengingatkan Lathan dan Ardhan sambil menggelengkan kepala perlahan disertai senyum lembut diwajahnya.


"Ya, kami mengerti. Papi tidak perlu khawatir. Lagipula besok akhir pekan. Jadi kami tidak perlu repot dengan pelajaran sekolah" Ardhan tersenyum ceria saat dia bercerita.


"Ya sudah. Sebaiknya sekarang kalian berdua istirahat. Kumpulkan stamina kalian untuk pertunjukan besok"


"Baik, Pih. Kami akan kekamar dulu. Papi juga sebaiknya istirahat agar bisa menikmati permainan yang menyenangkan besok".


Radit tersenyum menanggapi ucapan Lathan. Dia terus menatap punggung kedua putranya yang berjalan keluar dari ruangannya. Setelah kedua putranya pergi, Radit mendengarkan percakapan Sofia dan Gerry yang sebelumnya telah direkam Ardhan.


"Besok adalah hari terakhir penyelidikan. Jangan sampai membuat masalah! Apa orang itu sudah kamu bereskan? Kita tidak boleh meninggalkan celah sedikitpun"


"Anda tenang saja, Bu. Saya sudah mengirim orang itu keluar negeri. Saya sudah atur seseorang untuk terus mengawasi dia. Jika dia berani macam-macam maka orang saya akan mengambil tindakan"


"Bagus. Jika polisi tidak menemukan apapun dan kasus ini sampai ditutup, maka kita bisa terus membuat berita mengenai buruknya keamanan hotel Radit hingga terjadi pembunuhan. Itu akan lebih efektif membuat Radit jatuh. Setelah itu kita bisa minta kakakku untuk menargetkan perusahaan Nugraha. Aku tidak sudi melihat anak pungut itu hidup nyaman sedangkan kedua temanku terlunta-lunta entah dimana"


Radit mendengarkan rekaman suara Sofia dan Gerry dengan ekspresi yang gelap. Sorot matanya tajam dengan raut wajah yang dingin, ada seringai tipis dibibirnya yang membuatnya terlihat licik.

__ADS_1


"Jadi kalian menargetkanku untuk membuat istriku sengsara hidup disampingku? Jangan mimpi kamu Sofia. Besok bukanlah hari dimana aku akan jatuh, tetapi besok adalah hari dimana kamu akan menyesali semuanya" ujar Radit dengan seringai tipis dibibirnya.


__ADS_2