Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Cerita Masa Lalu


__ADS_3

"Lathan?" Pikiran Vio melayang mendengar nama Lathan. Dia mengingat saat Lea memberitahukan nama bayinya


"Lea, lihatlah ini putramu. Dia sangat tampan. Kamu akan memberi dia nama siapa?" Vio bicara sambil membaringkan bayi Lea di sampingnya


"Mama benar. Dia sangat tampan. Aku dan kak Galen sudah sepakat memberikan nama Lathan Gevaril Surendra"


"Lathan?! Lea?! Lea... !Lea... !Tidak... " Vio langsung berteriak histeris mendengar nama Lathan. Semua orang terkejut melihat reaksi Vio. Andra pun langsung memeluk Lathan yang terkejut sekaligus ketakutan melihat Vio


"Lea .... putriku! Kenapa kamu tinggalkan mama?! Harusnya ini tidak terjadi padamu?! Harusnya kamu masih bersama dengan kami?! Hiks... hiks... hiks... Lea... !"


"Vio, sayang. Tenanglah, ini aku" Leo berusaha menenangkan Vio kembali namun itu tidak berhasil. Vio sama sekali tidak mendengarkan dan terus menangis sambil berteriak


"Mama, lihat aku! ini aku Radit!" Radit memegang kedua pundak Vio dan membuatnya menatap kearahnya


"Radit? Kakakmu, Dit. Dia... dia... hiks... hiks... Dia meninggalkan mama! Dia tidak akan bisa lahi bersama kita. Dia sudah pergi! Lea tidak da lagi disini. Ini semua karena kakaknya Galen. Ini semua salah mereka! Mereka harus mati seperti Lea! Mereka tidak boleh hidup bahagia! Tidak boleh!"


Leo yang tidak bisa menenangkan Vio akhirnya menyuntiknya dengan obat penenang. Perlahan suara Vio semakin mengecil, matanya yang terus menitikan air mata mulai terpejam.


"Papa akan bawa mamamu ke kamarnya. Kalian sebaiknya istirahat dulu. Lathan juga sepertinya sangat syok melihat neneknya" Leo bicara dengan senyum lembut dibibirnya sambil menggendong Vio dipangkuannya


"Baik pah. Aku akan membawa mereka kekamarku" Leo hanya tersenyum disertai anggukan kepala kemudian melangkahkan kaki menuju kamarnya.


"Nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Sebaiknya kita pergi kekamarku dulu. Ayo Lathan!" Radit bicara dengan sangat lembut, meskipun dari senyumnya terlihat kesedihan yang mendalam melihat sang ibu

__ADS_1


Mereka pun beranjak pergi kekamar dengan Lathan yang kembali di gendong Radit. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher Radit. Memeluknya dengan erat. Berusaha mencari ketenangan atas apa yang baru saja dilihatnya


"Lathan, kamu tidak papa kan?" Tanya Radit merasa khawatir pada Lathan


"Iya pih. Aku tidak papa" Suara Lathan terdengar bergetar, wajahnya pucat dan dia terus memeluk Radit dengan erat


"Nenek tidak papa. Dia tidak jahat. Hanya saja nenek sangat sedih sehingga dia seperti itu. Lathan tidak boleh membenci nenek ya" Radit bicara dengan lembut pada Lathan sambil mendekapnya erat untuk memberikan ketenangan


"Iya pih. aku tidak membenci nenek. Tapi kenapa nenek seperti itu?" Lathan terlihat penasaran menunggu jawaban Radit


"Suatu saat nanti papi akan ceritakan semuanya padamu. Tapi tidak sekarang ya. Sebaiknya sekarang Lathan istirahat saja!" Lathan yang melihat wajah Radit yang muram akhirnya menuruti ucapannya dan memutuskan istirahat di tempat tidur, membiarkan Radit berdua dengan Andra di sofa dalam kamarnya


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Andra dengan raut wajah khawatir


"Jika itu terlalu sulit, kak Radit bisa bersandar padaku. Karena sekarang ada aku disamping kak Radit. Kamu tidah harus selalu kuat dan terlihat tegar. Di depanku, kak Radit bisa jadi diri sendiri" Andra bicara dengan lembut sambil menggenggam tangan Radit untuk memberinya kekuatan


"Ehm... agak sulit untuk mengatakannya, tapi karena kamu istriku dan juga ibunya. Maka aku akan memberitahumu yang sebenarnya" Radit mengambil jeda sebelum bicara, dia terlihat ragu dan bingung saat hendak memberitahu Andra


"Sebenarnya ... Lathan bukan anak kandungku"


"Apa?!"


"Ya, dia adalah keponakanku, anak dari mendiang kak Lea dan kak Galen"

__ADS_1


Mata Andra membelalak tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Radit


"Kak Radit bercanda kan? Ini sama sekali tidak lucu" Andra menggelengkan kepala berkali-kali dengan bibir tersenyum paksa berusaha menyangkal apa yang dikatakan Radit padanya


"Aku serius. Kamu tentu pernah mendengar kalau kakakku mengalami kecelakaan? Berita kematiannya sangat menghebohkan negeri ini. Terlebih kecelakaan itu merupakan kejadian yang telah direncanakan. Dan orang yang merencanakannya tidak lain adalah kakak angkat dari kak Galen dan kak Rey, Adnan dan Astria. Mereka merencanakan pembunuhan terhadap kak Lea, kak Galen dan Kak Rey hanya karena harta warisan milik keluarga Surendra"


Radit menundukkan kepala dengan raut wajah sedih bercampur amarah saat menceritakan semua tentang Lea kepada Andra. Hati Andra pun merasa sakit ketika melihat Radit yang selama ini dia kenal sebagai pria yang kuat, ternyata saat ini terlihat lemah dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya. Andra kembali menggenggam tangan Radit dengan erat


"Saat itu mereka bertiga hendak pergi untuk menghadiri sebuah pesta. Namun dalam perjalanan, mobil yang mereka tumpangi hilang kendali karena kak Rey berusaha menghindari sebuah mobil truk yang melaju dengan kecepatan tinggi dan mengarah ke mobil mereka. Kak Galen dan kak Rey meninggal ditempat karena luka parah dibagian kepala tanpa sempat menerima perawatan medis. Namun kak Lea berhasil selamat karena kak Galen terus memeluknya selama kejadian itu untuk melindunginya dan bayi dalam kandungannya.


Kak Lea melahirkan Lathan melalui jalur operasi karena saat itu usia kandungannya masih belum cukup untuk melahirkan dan Lathan lahir dalam keadaan prematur. Kak Lea sempat koma setelah melahirkan. Dia baru sadar dari koma setelah beberapa hari. Karena kondisinya saat itu sangat lemah, jadi kami tidak memberitahunya mengenai kematian kak Galen dan kak Rey. Kami selalu mengatakan kalau kak Galen dan kak Rey baik-baik saja. Kami berniat memberitahunya setelah dia keluar dari rumah sakit.


Namun … Astria datang menemui kak Lea ketika kami sedang tidak ada. Dia memberitahu kak Lea mengenai kematian kak Galen. Dia sengaja membuat mentalnnya kembali terguncang. Karena fisik dan mental kak Lea masih sangat lemah saat itu, kak Lea kembali drop hingga akhirnya nyawanya tak tertolong lagi.


Kesedihan kami tidak cukup sampai disitu. Mama yang sangat menyayangi kak Lea, tidak bisa menerima kenyataan kalau kak Lea telah meninggal. Dia mengalami depresi dan tidak bisa lagi berkomunikasi dengan orang disekitarnya. Dia hanya diam dengan tatapan mata yang kosong. Hidupnya pun seakan hampa, bahkan dia tidak bisa menerima Lathan. Setiap mama melihat Lathan, dia akan berteriak histeris memanggil kak Lea. Seperti yang kamu lihat tadi, karena itu sudah sangat lama aku tidak lagi mempertemukan mama dengan Lathan. Aku selalu takut kalau dia masih belum bisa menerima Lathan. Ternyata mama masih sama. Dia masih belum bisa menerima Lathan karena mengingatkannya pada kak Lea. Selain di tubuhnya mengalir darah keluarga Nugraha, ditubuh Lathan juga mengalir darah kelurga Surendra yang telah membuat kak Lea meninggal. Karena itu aku memberikan nama Nugraha dibelakangnya dan menjadikannya anakku"


Sesaat Radit terdiam mengatur napas karena meskipun itu sudah lama berlalu, rasanya masih terasa sesak di dada. Tanpa terasa air mata Radit telah mengalir ketika dia bercerita. Andra pun turut menitikan air mata membayangkan bagaimana kesedihan mereka saat itu


"Maafkan aku karena menunjukkan dirimu yang rapuh padamu" Sambung Radit sambil menghapus air matanya disertai senyum ketir dibibirnya


"Tidak papa. Justru aku merasa lega karena kak Radit mau menceritakan semuanya padaku. Itu artinya kakak sudah mengizinkanku masuk sepenuhnya dalam hidupmu. Meskipun aku tidak tahu cara membantu kak Radit saat susah atau sedih, tapi setidaknya aku bisa jadi sandaran saat kakak butuh tempat bersandar dan merasa rapuh" Andra tersenyum lembut menenangkan Radit


"Aku senang karena saat ini aku memilikimu disampingku. Sekarang aku mengerti dengan sikap paman Ed, kak Lian dan kak Diaz yang berlebihan. Itu jadi wajar jika ada bidadari disampingnya. Meskipun ada beberapa bidadari yang merupakan jelmaan iblis"

__ADS_1


__ADS_2