Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kunjungan Radit Kerumah Leo


__ADS_3

"Ada apa kak?" Andra cukup penasaran dengan gosip yang dibicarakan Dita dan Radit


"Ini... ibuku yang melakukan ini? Yang benar saja, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu?" Andra terlihat kesal saat membaca postingan itu disana tertulis perkataan yang menyudutkan Radit


"Raditya Reifansyah Nugraha membawa pengaruh buruk untuk istrinya.


Setelah Diandra menikah dengan Radit sikapnya jadi banyak berubah. Andra yang sebelumnya merupakan anak yang berbakti kepada orang tua dan sayang pada keluarganya. Kini telah berubah, dia tidak lagi memperhatikan ibu dan juga kedua saudaranya. Bahkan dia mengatakan kalau hubungan dia dan ibunya telah berakhir saat dia menikah"


"Biarkan saja. Jangan terlalu dipikirkan, ini hanya masalah kecil yang bisa dengan mudah kuselesaikan" Radit menenangkan Andra yang terlihat kesal dengan belaian tangan yang lembut dikepalanya


"Tapi kak Radit, ini sudah kelewatan. Mereka menyudutkan kita sedangkan semua ini terjadi atas kesalahan mereka" Ujar Andra dengan wajah penuh amarah


"Tenang saja. Kita bisa selesaikan ini nanti. Sekarang kita pergi sarapan. Aku janji kalau masalah ini akan segera selesai. Kalian ke restoran duluan, aku harus ambil laptopku dulu dikamar. Nanti aku akan menyusul kalian kesana" Radit tetap tersenyum menenangkan Andra


"Baiklah, jangan lama-lama" Andra dan Lathan pun kembali melangkah menuju restoran sedangkan Radit berbalik dan kembali ke kamar


Tak berapa lama terlihat Radit berjalan dengan tas laptop di sebelah tangannya


"Papi, apa terjadi sesuatu?" Tanya Lathan yang melihat laptop di tangan Radit


"Tidak ada apa-apa. Papi hanya punya sedikit masalah untuk di bereskan. Jadi kamu tidak perlu khawatir" Radit menyentuh ujung hidung Lathan saat bicara. Kemudian dia duduk di dekatnya dan mulai membuka laptopnya


"Apa yang akan kamu lakukan?" Andra cukup penasaran saat melihat jari tangan Radit mulai menari dengan cepat diatas keyboard laptop


"Hanya melakukan sedikit serangan balik" Jawab Radit dengan senyum tanpa memalingkan wajahnya dari layar monitor


"Maksudnya?" Andra semakin bingung dengan jawaban Radit


"Masalah seperti ini hanyalah masalah kecil. Aku sudah banyak belajar cara mengatasi masalah melalui sosial media. Terlebih pengalamanku dengan ini bukan kali ini saja"


Radit menunjukkan senyum mencibir saat dia harus berurusan dengan media sosial. Baginya yang belajar masalah IT sejak masih remaja, ini sangatlah mudah. Radit melawan Asya dengan menggunakan cara yang sama yaitu membuat postingan yang menjatuhkan pihak Asya


"Jika kalian hendak dijual kepada pria hidung belang untuk dijadikan istri ketiga, apa yang akan kalian lakukan? Diandra pernah mengalami hal itu. Dia hendak dinikahkan dengan seorang pria tua untuk dijadikan istri ketiga. Sebagai imbalannya dia akan diberikan sejumlah uang untuk menyokong perusahaan yang membutuhkan banyak uang. Jika dia tidak ingin menikah, maka dia harus mendapatkan uang untuk melunasinya sendiri dalam batas waktu yang diberikan"


Radit pun mulai mempostingnya. Dia menaruhnya dibagian paling atas pencarian. Alhasil postingannya menjadi trending topik hanya dalam hitungan jam. Radit akhirnya berhasil mendorong penilaian negatif untuk Asya. Banyak orang membanjiri kolom komentar dan mengatakan kalau Asya ibu yang keterlaluan


"Jika aku punya ibu seperti itu. Aku pasti sudah gila"


"Jika aku jadi dia, aku tidak akan lagi menerima dia sebagai ibu"

__ADS_1


Radit tersenyum melihat tanggapan orang-orang pada postingannya


"kenapa kakak tersenyum begitu? Apa ada yang lucu?" Tanya Andra yang penasaran dengan senyum Radit


"Tidak ada, masalahnya selesai. Sekarang saham mereka akan semakin jatuh" Ujar Radit dengan senyum tipis


"Selesaikan makan kalian, kita akan berangkat secepatnya" Sambung Radit pada Andra dan Lathan


"Baik pih" Lathan menjawab dengan semangat sedangkan Andra hanya menganggukkan kepala


***


"Apa yang terjadi ini? Kenapa jadi kacau begini?" Luna sangat terkejut dengan komentar negatif orang-orang dipostingannya Radit. Diapun dengan segera menghubungi Asya


Tuut tuut tuut


"Hai, sayang" Sapa Asya setelah beberapa lama


"Ibu, sebenarnya apa yang sudah ibu lakukan?! Gara-gara rencana ibu, sekarang banyak orang yang berbalik mencaci maki kita! Saham perusahaan kita juga ikut terpengaruh dengan gosip itu!"


Luna langsung marah-marah pada Asya dengan nada yang tinggi. Dia semakin kesal karena rencana sang ibu, dia pun ikut di caci maki oleh banyak orang. Belum lagi tatapan orang yang melihatnya karena Radit juga menyertakan fotonya, Lulu dan Asya


"Tunggu dulu! Sebenarnya apa yang kamu bicarakan?" Asya mengernyitkan dahi bingung dengan apa yang dikatakan putrinya


"Ya sudah. Ibu tutup dulu. Ibu harus lihat sendiri apa yang terjadi"


"Baiklah" Luna dan Asya mengakhiri panggilan telepon diantara mereka. Lalu Asya mencari postingan yang dikatakan Luna


"Apa ini? Kenapa bisa jadi begini?! Ini tidak biasa dibiarkan. Aku tidak sudi jika anak sialan itu hidup bahagia. Bagaimanapun caranya aku harus membuatnya menderita. Dia dan ibunya hanya jadi duri dalam keluargaku!" Dia sangat terkejut dengan postingan yang tertera dihalaman pencarian


***


"Dita, kamu kirimkan laporan mengenai hotel ini. Akan ku lihat perkembangannya lewat laporan ini. Dan pastikan tidak ada masalah. Kamu yang bertanggung mengawasi hotel ini. Jika ada masalah, langsung hubungi aku!" Radit bicara pada Dita sebelum dia pergi meninggalkan hotel


"Baik pak. Saya mengerti. Hati-hati di jalan"


"Hmn..."


"Sampai jumpa bu Dita"

__ADS_1


"Ya, sampai jumpa" Jawab Dita sambil melambaikan tangannya disertai senyum yang manis.


Radit, Lathan dan Andra pun mulai beranjak pergi dari hotel. Dari kejauhan Gio terus memperhatikan Andra yang mobilnya semakin menjauh. Selain Dita tidak ada yang tahu kalau Radit adalah pemilik hotel. Mereka hanya mengira kalau Radit adalah tamu VVIP yang dilayani secara langsung oleh Dita


"Lathan, kamu bisa istirahat dulu. Nanti mami bangunkan saat kita sudah tiba disana" Andra meminta Lathan untuk tidur karena dia hanya diam saja


"Aku tidak papa mih. Aku tidak lelah" Jawab Lathan dengan senyum yang dipaksakan


"Lalu kenapa dari tadi kamu diam saja?" Tanya Radit yang memperhatikan Lathan dari kaca spion


"Em anu pih. Selama ini aku tidak pernah bertemu kakek dan nenek, apa mereka akan menyukaiku?" Tanya Lathan dengan ragu-ragu sambil memainkan kedua tangannya


"Lathan, kamu itu kan cucu mereka. Kamu juga anak yang baik dan sangat lucu. Jadi kakek dan nenekmu juga pasti akan menyukaimu" Andra menjelaskan dengan sikap yang lembut dan hangat


"Benarkah! Mami yakin?" Lathan bertanya dengan sorot mata yang tajam menunggu kepastian dari Andra


"Tentu saja. Mami dan papi juga sangat sayang padamu, jadi tidak mungkin kalau mereka tidak sayang padamu" Dengan mengusap lembut kepala Lathan, Andra meyakinkannya


"Aku juga sayang sama mami dan papi. Aku jadi tidak sabar bertemu dengan kakek dan nenek" Akhirnya Lathan kembali tersenyum setelah mendengar ucapan dari Andra. Radit hanya tersenyum memperhatikan istri dan anaknya. Sesekali mereka berbincang selama perjalanan, bahkan Lathan kadang tertidur dan bangun lagi.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka tiba di kediaman Nugraha. Radit memperhatikan sekeliling rumah karena sudah cukup lama juga dia tidak pulang kerumah ini.


"Kita sudah sampai. Ayo turun, biar aku menggendong Lathan kedalam" Ajak Radit pada Andra


"Iya" Andra mengangguk setuju kemudian menarik napas panjang. Mereka pun masuk kedalam rumah.


"Selamat datang den Radit" Seorang pembantu yang membukakan pintu menyapa Radit


"Papi, kota sudah sampai?" Lathan yang berada dipangkuan Radit terbangun ketika hendak masuk


"Iya, ayo temui kakek dan nenekmu. Dimana mama dan papa?" Tanya Radit pada pembantu itu


"Ada di taman belakang belakang den"


"Makasih. Ayo kesebelah sini" Ajaknya kepada Andra yang mengikuti dari belakang


"Hai pah, mah" Leo menoleh mendengar suara Radit, namun Vio hanya diam dengan tatapan kosong


"Radit, akhirnya kamu pulang. Bagaimana kabarmu?" Leo langsung menyambut Radit dan memeluknya "Apa ini cucu kakek?" Sambungnya ketika melihat Lathan

__ADS_1


"Benar kek, saya Lathan"


"Lathan?! Lea?! Lea... ! Lea... ! Tidak... !"


__ADS_2