
Lathan dan Ardhan melewati jalan yang sama menuju sekolah mereka. Lathan meminta supir mengantarkan Ardhan terlebih dahulu sebelum pergi ke sekolahnya.
“Terimakasih, Kak. Aku pergi dulu. Sampai jumpa” ujar Ardhan saat dia turun dari mobil
“Ya, belajar yang rajin. Jangan membuat masalah” pesan Lathan sebelum sang adik semakin menjauh.
“Ya, aku mengerti. Daah” Ardhan menanggapi dengan sikap yang tenang lalu melambaikan tangan pada Lathan.
“Jalan, Pak”
“Baik”
Supir Lathan pun kembali melajukan mobilnya sementara Lathan membaca buku selama perjalanannya
Tak berapa lama dia tiba disekolah
“Kita sudah sampai, Den” ujar supir memberitahu Lathan
“Lathan yang fokus pada buku mulai menoleh keluar jendela lalu menutup bukunya
“Ya. Kamu bisa pulang dulu dan kembali lagi sebelum aku pulang sekolah. Ingat untuk pergi menjemput Ardhan juga saat dia pulang nanti”.
Lathan bicara dengan sikap yang tenang dan elegan. Dia terlihat berwibawa dengan raut wajah tanpa ekspresi
“Baik, Den” supir Lathan pun berbalik pergi setelah mendapat perintah dari Lathan.
Lathan berjalan dengan gagah mamasuki gerbang sekolah. Dengan tas ransel yang dikenakan disatu pundaknya Lathan terlihat begitu menawan. Semua orang menoleh kearahnya, terutama para gadis.
“Waah siapa itu? Dia tampan sekali”
“Benar. Dia tampan sekali. Tidak salah kalau aku meminta masuk ke sekolah ini”
“Dia kelas berapa ya? Senior disini atau siswa baru seperti kita?”
“Jika dia siswa baru seperti kita, mana mungkin sudah mengenakan seragam sekolah ini”
“Benar. Tidak mungkin dia siswa baru disini. Kalau begitu dia adalah siswa senior?”
Semua murid baru disekolah saling berbisik meskpun saat ini mereka sedang melakukan upacara penyambutan.
__ADS_1
“Lathan, kamu sudah sampai?” tanya salah satu guru yang dengan sengaja menghampiri Lathan.
“Ya, Pak. Saya baru saja sampai. Permisi, saya mau ke kelas” Lathan menanggapi dengan sikap yang dingin.
“Tunggu, Lathan”.
Langkah kaki Lathan terhenti mendengar guru tadi memanggilnya. Diapun berbalik dan kembali menatap sang guru.
“Ada apa, Pak?” tanya Lathan dengan sikap yang tenang
"Apa kamu bisa memberikan sedikit sambutan sebagai siswa senior sekaligus berprestasi disekolah kita?”
“Maaf, pak. Saya tidak terbiasa untuk bicara didepan banyak orang. Sebaiknya anda cari senior lain saja” Lathan menanggapi dengan sikap yang dingin disertai senyum tipis dibibirnya.
“Hanya kamu yang paling berprestasi disekolah ini, karena itu bapak meminta bantuanmu” ujar guru itu lagi yang berusaha membujuk Lathan
“Saya sudah memenuhi permintaan anda untuk datang lebih awal dan sekarang saya juga harus mengisi sambutan. Apa untungnya untuk saya, Pak? Yang ada saya akan kerepotan dengan mereka semua yang tahu siapa saya. Bapak tahu sendiri bagaimana rekan satu angkatan dengan saya saja sibuk mengejar saya kesana kemari. Jika harus ditambah dengan ini, saya rasa itu akan membuat saya semakin kerepotan.” Lathan terus saja menolak dengan sikap yang dingin dan acuh tak acuh.
Guru itu terdiam mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh Lathan.
“Begini saja. Bagaimana kalau kamu tetap memberikan sambutan tapi kamu tidak perlu memberitahu mereka nama lengkapmu. Bapak yakin siswa baru tidak akan berani mencari tahu informasi lebih jauh kepada senior mereka. Bapak hanya ingin kamu menjadi motivasi untuk mereka agar belajar lebih rajin”.
Lathan terdiam mempertimbangkan perkataan gurunya dan juga melihat raut wajah sang guru yang penuh harap.
“Baiklah, tapi hanya untuk sambutan kali ini saja dan saya juga tidak ingin lagi mengikuti acara murid baru lainnya”. Lathan pun akhirnya setuju meskipun dengan raut wajah terpaksa karena merasa tidak enak hati pada
gurunya.
“Ya, bapak setuju. Kamu hanya perlu memberikan satu sambutan untuk pembukaan kali ini saja. Untuk acara lainnya, bapak tidak akan lagi mengganggu kamu”
Setelah mendapatkan kesepakatan, akhirnya Lathan mengikuti guru itu menuju lapangan tempat para siswa baru berkumpul. Semua terlihat saling berbisik satu sama lain dengan rekan disamping mereka hingga suasana menjadi riuh.
“Perhatian semuanya. Bapak ingin memperkenalkan pada kalian salah satu siswa berprestasi disekolah ini kepada kalian semua disini. Dia ini merupakan siswa terbaik disekolah kita dan sudah beberapa kali mendapatkan penghargaan mengenai ilmu computer dan juga ekonomi. Silahkan Lathan”
Guru itu langsung memanggil Lathan kedepan setelah dia memperkenalkannya.
“Selamat pagi semuanya. Nama saya Lathan Gavaril. Sekarang saya merupakan kelas 3 disekolah ini. Saya tidak memiliki banyak kata-kata untuk dikatakan disini. Tapi saya harap kalian semua bisa belajar dengan baik dan mengikuti peraturan disekolah ini untuk mengejar cita-cita dimasa depan. Terimakasih”.
Lathan tidak banyak bicara mengenai apa yang ingin dia sampaikan dalam sambutannya. Dia bicara dengan singkat lalu beranjak pergi meninggalkan lapangan upacara dan berjalan menuju taman belakang. Lathan tetap sama seperti dulu dan tidak terlalu suka bersosialisasi. Dia lebih suka membaca buku atau bermain laptop.
__ADS_1
“Haah … menyebalkan!” gerutu Lathan setelah dia duduk disalah satu kursi yang ada di taman sekolah.
Tanpa Lathan sadari, seorang siswa menghampirinya dan ikut duduk disebelahnya.
“Kenapa pagi-pagi sudah mengeluh seperti itu? Bukankah seharusnya kamu senang akan jadi idola lagi dikalangan siswi baru tahun ini? Seperti sebelumnya, kamu akan dikelilingi oleh para gadis dengan sorak sorai dimanapun kamu berada”ujar pemuda itu dengan senyum menggoda dibibirnya.
“Aku tidak memintamu datang pagi-pagi untuk mengolokku. Apa kamu sudah menyelesaikan tugas yang diberikan sebelumnya?”.
Lahan bicara dengan sikap yang acuh tak acuh pada rekannya itu
“Kenapa? Kamu ingin memberikan contekan padaku? Maaf, tapi aku tidak sebodoh yang kamu pikirkan” pemuda itu juga menanggapi Lathan dengan sikap yang dingin namun dengan senyum yang tipis dibibirnya.
“Aku tidak mengatakan kalau kamu bodoh. Lagipula jika kamu bodoh, mana mungkin kamu selalu jadi sainganku disekolah ini” Lathan pun bicara dengan sikap yang dingin padanya
“Oh … kukira kamu menganggapku seperti itu” goda pemuda itu pada Lathan
“Berhenti bercanda. Aku dengar perusahaan keluargamu mengalami masalah. Apakah sangat rumit?”
Lathan mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan masalah keluarga temannya itu. Namanya Fandy Bagaskara. Dia merupakan putra kedua keluarga Bagaskara.
“Tidak perlu pikirkan masalah perusahaan keluargaku. Itu sama sekli tidak ada hubungannya denganmu. Lagipula, aku tidak ingin terlibat dengan mereka” Fandy menanggapi dengan sikap dingin dan acuh tak acuh.
“Kamu tidak ingin membantu memulihkan masalah keluargamu? Fan, jika kamu mau, aku bisa membantumu” Lathan pun menanggapi Fandy dengan sikap yang tenang.
“Than, aku berteman denganmu bukan karena menginginkan status atau bantuan dari keluargamu. Kamu tahu sendiri bagaimana aku kan?”
Fandy memicingkan mata dengan sikap yang tenang saat dia bicara
“Kamu yakin tidak ingin membantu mereka?” tanya Lathan memastikan.
“Ya, kita tidak perlu terlibat dengan mereka. Biarkan saja ini jadi masalah orang dewasa”
Fandy bicara dengan senyum tipis dibibirnya. Dia dan Lathan memiliki kepribadian yang tidak jauh berbeda, karena itu mereka bisa berteman dalam waktu yang lama.
“Baiklah kalau itu memang keputusanmu” Lathan tidak banyak bicara lagi dan menghormati keputusan temannya itu
“O iya, saudaraku akan tiba disini lusa. Kamu bisa temani aku ke bandara menjemputnya kan? Dia sudah memutuskan akan pindah ke sekolah kita” sambung Fandy setelah mengingat tenyang saudara sepupunya.
“Kita lihat saja nanti” ujar Lathan dengan sikap yang acuh tak acuh
__ADS_1