Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Salah Satu Raja Es


__ADS_3

“Kenapa rumah ini sepi dan gelap?” gumam Lulu ketika dia tiba didepan rumahnya.


“Disita bank? Bagaimana bisa? Jadi kak Luna menghubungiku karena ini?” pikir Lulu lagi begitu melihat ada tanda dari bank yang dipasang dipintu gerbang. Bahkan pintu gerbang itu juga telah digembok.


“Kemana mama dan kak Luna pergi?” pikir Lulu dan langsung mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan menghubungi Luna.


Tuut tuut tuut


Cukup lama Luna menerima telepon dari Lulu hingga dia semakin panik.


“Kak Luna, angkat teleponnya” gumam Lulu dengan wajah panik dan gugup.


“Halo”


“Halo, Kak Luna. Apa yang terjadi dengan rumah kita? Kakak dan mama sekarang ada dimana? Aku baru saja tiba dirumah” Lulu langsung bertanya pada Luna begitu mendengar suara sang kakak.


“Kemana saja kamu? Aku sudah berusaha menghubungimu sejak tadi. Sekarang kami ada diperempatan jalan ujung perumahan kita” Luna menanggapi dengan sedikit ragu dan sedih.


“Tadi aku sedang ada urusan. Aku akan segera kesana sekarang. Kalian tunggu aku” Lulu langsung menutup telepon dan bergegas pergi untuk menemui Luna dan Asya yang jaraknya tidak jauh dari rumah mereka. Dia


berjalan dengan langkah cepat agar bisa segera tiba dan bertemu dengan sang ibu.


Tak berapa lama dia tiba ditempat sang ibu berada


“Mama! Kak Luna! Apa yang terjadi?” Lulu langsung berteriak sambil berlari saat dia melihat sang ibu dan Luna yang sedang duduk disalah satu halte bus.


“Kamu …? Ada apa dengan wajahmu?” tanya Asya dengan panik ketika dia melihat ada memar dipipi Lulu dan sedikit luka diujung bibirnya.


“Ini … tidak papa. Tapi Mah, ada apa dengan rumah kita? Kenapa disita oleh bank? ” Lulu tidak menanggapi pertanyaan sang ibu dan hanya bertanya mengenai rumah mereka.


“Perusahaan kita memiliki banyak hutang ke bank dan mereka menyita semua aset yang kita miliki untuk menutupi hutang itu” jelas sang ibu menerangkan pada Lulu.


“Aku akan menghubungi temanku untuk meminta bantuan mereka. Mungkin ada salah satu dari mereka yang bisa membantu kita” jawab Luna berusaha menenangkan ibu dan juga adiknya


“Aku juga akan bertanya pada temanku untuk meminta bantuan dari mereka” Lulu dan Luna pun saling menghubungi teman mereka untuk meminta bantuan. Asya hanya bisa menitikan air mata melihat kedua putrinya yang cantik dan terbiasa hidup mewah, kini berada dipinggir jalan tanpa arah dan tujuan.


***

__ADS_1


Sementara itu di rumah Radit


Pasangan suami istri itu baru kembali setelah mengalami sedikit keributan di perusahaan milik keluarga Satya.


“Mami! Papi! Kalian sudah pulang?!” Lathan langsung berlari kepelukan Radit ketika dia melihat kedua orang tuanya telah datang. Dia telah dijeput lebih dulu oleh supir atas perintah Radit.


“Halo pangeran Papi. Bagaimana dengan sekolahmu hari ini?” Radit pun bertanya pada Lathan yang kini berada dipelukannya


“Semuanya baik, tidak ada masalah” ujar Lathan dengan sikap yang tenang dan senyum yang manis.. Pandangan Lathan pun terkunci pada sebelah pipi Andra yang terlihat sedikit merah meskipun dia sudah menutupinya dengan rambut.


“Mami, ada apa dengan pipi Mami? Apa ada yang berani memukul Mami?” Lathan bertanya dengan sedikit khawatir. Diapun meminta Radit untuk menurunkannya kembali agar bisa mendekati Andra.


“Mami tidak papa sayang. Ini hanya luka kecil saja” ujar Andra yang kini sedikit membungkuk dihadapan Lathan.


“Apakah masih sakit? Biar aku ambilkan batu es ya, Mih? Katanya itu akan sedikit mengurangi rasa sakit”


“Terimakasih ya” Andra sedikit mengangguk dengan senyum yang lembut menanggapi ucapan Lathan. Lathan pun langsung berlari dan pergi ke dapur untuk mengambilkan kantong es agar bisa mengompres pipi Andra.


Tak berselang lama dia kembali dengan kantong es ditangannya. Radit dan Andra telah menunggu sambil duduk disofa.


“Iya, sayang” jawab Andra dengan senyum yang lembut


Hoek … hoek …


Baru saja Lathan meletakkan kompresan di pipi Andra yang luka, tiba-tiba perut Andra terasa mual. Diapun menutup mulutnya dan langsung berlari menuju toilet terdekat.


“Mami?!”


“Sayang?!”


Radit dan Lathan langsung panik dan mereka bergegas mengikuti Andra yang ke kamar mandi


Hoek .. hoek…


“Mami? Mami kenapa? Jangan membuatku takut" Lathan berteriak dengan panik dan khawatir


“Sayang, apa kamu baik-baik saja? Aku akan masuk kedalam”. Baru saja Radit hendak masuk, namun Andra langsung keluar dari kamar mandi sambil mengusap mulutnya.

__ADS_1


“Mami, Mami kenapa?” Tanya Lathan begitu melihat Andra keluar.


“Mami tidak papa sayang” jawab Andra dengan lemas dan senyum yang dipaksakan.


“Kamu benar-benar tidak papa?” Radit pun bertanya sambil memapah Andra kembali ke sofa


“Iya, aku tidak papa. Hanya saja tiba-tiba perutku terasa mual. Tapi rasanya aku tidak makan sesuatu yang salah hari ini” ujar Andra sembari memikirkan apa yang dia makan hari ini.


“Bagaimana kalau kita pergi kerumah sakit saja?” tanya Radit lagi yang merasa khawatir dengan kesehatan Andra.


“Tidak perlu. Mungkin penyakit maagku saja yang sedang kambuh. Setelah minum obat dan istirahat juga akan baik lagi. Jadi kalian tidak perlu khawatir” ujar Andra berusaha menenangkan Radit dan juga Lathan.


“Mami, yakin?” Lathan terlihat ragu dan masih saja khawatir dengan keadaan Andra yang wajahnya terlihat pucat.


“Mami yakin, sayang. Mami ke kamar dulu ya? Rasanya Mami ingin segera istirahat"


“Iya, Mih”


“Papi akan temani mami kekamar. Sebaiknya kamu juga kembali kekamarmu” Radit bicara dengan lembut pada Lathan yang dibalas dengan anggukan kepala oleh sang putra.


Radit pun memepah Andra dengan sangat hati-hati menuju kamar mereka. Dia pun membantu Andra berbaring dan menyelimutinya dengan penuh perhatian dan kasih sayang.


“Apa kamu memikirkan ibu dan juga kakakmu?” tanya Radit yang kini duduk disamping Andra


“Tidak. Aku sudah tidak ingin lagi memikirkan mereka. Mereka sama sekali tidak pernah menganggapku sebagai keluarga mereka” jawab Andra sambil menggelengkan kepala perlahan.


“Kamu yakin? Aku bisa mengembalikan perusahaanmu jika kamu mau”


“Tidak perlu. Aku sudah tidak ingin lagi terlibat dengan keluarga itu. Jika papa masih ada … mungkin aku akan berusaha keras untuk mempertahankan perusahaan itu, tapi sekarang apapun yang kita lakukan tetap saja akan salah dimata mereka. Jadi biarkan saja mereka menerima apapun yang harus mereka terima” Andra menanggapi dengan nada yang lemah dan senyum yang terlihat dipaksakan dan tatapan yang sayu seakan dia kehilangan harapan untuk berdamai dengan keluarga angkatnya itu.


“Kamu harus selalu ingat, meskipun kamu tidak bersama dengan keluarga itu, tapi kamu memiliki aku dan Lathan disampingmu. Jika keadaanmu sudah membaik, kita akan pergi menemui mama dan papa” Radit bicara sambil mengecup lembut kening Andra dan membiarkannya beristirahat


“Baiklah. Rasanya tidak masalah jika aki sakit lebih lama. Aku suka perhatian kak Radit padaku" Andra menggoda Radit yang sangat perhatian padanya.


"Baik sakit maupun sehat, aku akan selalu perhatian padamu. Karena kamu permaisuri hatiku" ujar Radit lagi yang kembali mengecup kening Andra


"Ya Kakak juga adalah rajaku. Salah satu raja es yang berhasil aku taklukkan"

__ADS_1


__ADS_2