
"Radit! Kamu gila ya? Bisa-bisanya kamu selingkuh dari Andra?! Kamu tidak kasihan padanya? Bahkan kamu sampai membiarkan Lathan tahu!'. Cheva langsung menghubungi Radit untuk meminta penjelasan. Dia bahkan mengabaikan pesan Lathan padanya.
Mendengar Cheva yang bicara dengan meninggikan suara., Radit langsung menjauhkan ponselnya dari telinga dan mengernyitkan dahi mendengar pertanyaan kakak sepupunya itu.
"Apa yang Kak Cheva maksud? Siapa yang bilang kalau aku berselingkuh?" Radit bertanya dengan sikap yang tenang.
"Lathan mengirimkan pesan padaku. Dia bertanya mengenai siapa saja yang pernah dekat denganmu" Cheva memelankan suaranya dan bertanye dengan sikap yang kembali tenang/
"Untuk apa Lathan menanyakan hal itu pada Kak Cheva?" Radit semakin bingung denga apa yang dikatakan Cheva.
"Mana aku tahu. Aku pikir kamu membuat masalah dengan orang terdekatmu dan hal itu diketahui oleh Lathan" Cheva terdengar kesal saat dia bic ara pada Radit.
"Kakak pikir aku ini sudah gila? Aku tidak mungkin melakukan hal itu!" Bantah Radit dengan kesal
"Lalu kenapa Lathan bertanya mengenai orang yang pernah dekat denganmu?" Cheva dan Radit pun terdiam seraya memikirkan apa yang ditanyakan Lathan
"Atau mungkin ... dia berusaha mencari ibu kandungnya?"
"Apa maksudmu?" tanya Cheva tidak mengerti
"Sebelumnya Lathan bertanya apakah aku ayah kandungnya atau bukan. Kurasa itu sedang dia cari tahu" Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang.
"Kenapa dia bertanya hal seperti itu?" Cheva memicingkan mata mendengar perkataan Radit.
"Sepertinya dia mendengar sesuatu mengenai golongan darah kami yang berbeda, jadi dia curiga kalau aku ini bukan ayah kandungnya".
"Dit, sepertinya ini sudah waktunya kamu memberitahu Lathan mengenai kebenarannya. Jangan buat dia bingung lagi dengan identitas yang dia miliki. Aku takut kalau dia malah mendengar hal yang tidak-tidak dari orang lain. Memang masalah ini hanya keluarga kita yang tahu, tapi tidak menutup kemungkinan ada orang lain yang akan mengambil kesempatan dari sedikit saja celah yang ada"
"Apa dia akan mengerti dengan semua itu? Aku takut kalau Lathan membenciku dan akan merubah sikapnya padaku". Radit menundukan kepala dengan raut wajah sedih saat dia membayangkan kemungkinan yang bisa saja terjadi antara dirinya dan Lathan.
"Percayalah padaku kalau semua itu tidak mungkin terjadi. Kamu membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Lathan pasti juga sangat menyayangimu, hanya saja dia juga pasti ingin tahu siapa orang tua kandungnya sebenarnya. Saat ini dia pasti sedang sangat kebingungan. Dit, jangan buat Lathan terbebani dengan identitas aslinya. Kamu harus segera memberitahunya" Cheva yang biasanya terdengar berisik, kini bicara dengan pelan dan lembut.
"Aku mengerti. Aku akan mempertimbangkannya" Radit mengangguk setuju untuk mempertimbangkan mengenai memberitahu kebenarannya pada Lathan.
"Baiklah. Pikirkanlah baik-baik. Aku yakin kamu bisa mengambil keputusan terbaik untuk kamu dan Lathan. O iya. Bagaimana kondisinya sekarang?" Cheva mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan kondisi Lathan.
"Kondisinya sudah membaik. Hanya saja dia masih kesulitan untuk bicara, jadi untuk sementara waktu dokter menyarankannya untuk tidak bicara dan hanya menuliskan semua yang ingin dia katakan"
__ADS_1
"Syukurlah. Yang penting, tidak ada yang serius padanya. Aku yakin kalau dia akan bisa bicara lagi seperti sebelumnya. Jadi kamu tidak perlu khawatir"
"Iya, Kak. Aku harus pergi sekarang. Aku baru saja dari luar dan akan melihat Lathan"
"Ya sudah.. Jaga diri kalian baik-baik. Sampai jumpa"
"Ya, sampai jumpa" Radit dan Cheva pun menutup panggilan telepon diantara mereka. Seperti kata Radit, dia langsung pergi menemui Lathan setelah bicara dengan Cheva.
"Lathan, apa kamu tidur?". Perlahan Radit membuka pintu kamar Lathan sambil bertanya dengan suara yang pelan.
"Sayang, kamu disini?" Radit sangat terkejut ketika melihat Andra yang sudah berada dikamar Lathan. Radit menoleh pada Lathan yang duduk ditempat tidur. Dia tersenyum cerah dengan mata berbinar seakan memanggilnya.
Papi!
Radit pun berjalan mendekati Lathan dan berdiri disamping Andra.
"Aku khawatir pada Lathan. Kak Radit bilang akan mengabariku setelah Lathan sadar, kenapa Kakak tidak menghubungiku?" Andra bicara dengan lembut dan sedikit cemberut kesal.
"Maafkan aku, kamu belum lama pulang, aku hanya ingin kamu istirahat sebentar". Radit tersenyum sambil mengusap lembut kepala Andra.
Lathan langsung menunduk dan menulis jawaban untuk Radit melalui tabletnya yang dibawakan oleh Andra.
"Aku sudah lebih baik. Papi darimana?"
"Hanya sedikit membuat perhitungan dengan Surya. Papi tidak bisa diam begitu saja karena dia telah membuatmu terluka". Ujar Radit menanggapi dengan sikap yang dingin.
Radit pun terdiam memikirkan apa yang dikatakan Cheva.
Apa ini sudah waktunya aku memberitahu Lathan? Apa dia akan mengerti dengan semua yang terjadi? Apa dia akan menerima semuanya? Aku hanya ingin yang terbaik saja untuk Lathan. Aku tidak ingin dia menderita dan merasa terbebani.
Batin Radut berkecimuk dengan Semu kekhawatiran yang ada mengenai Lathan.
"Lathan, setelah kamu keluar dari rumah sakit ini kita pergi kerumah nenek ya? Papi ingin mengajakmu ke suatu tempat". Lathan memiringkan kepalanya saat menatap Radit sebelum dia menulis apa yang ingin dikatakan.
"Suatu tempat? Kamana itu, Pih?"
"Kamu akan tahu sendiri nanti. Pokoknya sekarang, kamu tidak boleh berfikir yang tidak -tidak. Cukup pikirkan kesehatanmu agar kamu bisa segera pulang bersama Papi". Lathan mengangguk ceria menanggapi ucapan Radit.
__ADS_1
"O iya, bagaimana dengan calon bayi Papi yang satu lagi? Apa kamu tidak nakal?" Radit bicara sambil mengusap lembut perut Andra. Lalu dia menoleh pada Lathan
"Apa kamu sudah menyapa calon adikmu?" tanya Radit yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Lathan. Lalu Lathan bergeser mendekati Andra dan menempelkan telinganya diperut Andra
"Halo, adik. Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Lathan dengan suara parau yang lemah.
Andra tersenyum melihat apa yang dilakukan Lathan lalu dia menjawab
"Adik bayi sedang menunggu Kak Lathan sembuh dan bisa pulang kerumah untuk kembali menemani Mami dirumah".
Lathan terdiam sambil menatap Andra, setelah itu dia mengangguk dengan senyum ceria.
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya Lathan sudah diizinkan pulang. Lukanya sudah lebih baik dan hampir sembuh, namun saat dia bicara, lukanya masih terasa sedikit sakit.
"Lathan, apa kamu sudah siap untuk pulang?"
Lathan mengangguk dengan antusias saat Radit bertanya padanya.
"Kalau begitu kita pulang sekarang. Ayo!" Radit berjalan sambil membawa tas Lathan, sedangkan Andra berjalan didepannya sambil memegangi sebelah tangan Lathan.
Andra terlihat terus bicara pada Lathan, meskipun dia tidak mendapat jawaban dan hanya ditanggapi dengan anggukan kepala atau gelengan kepala saja dari Lathan disertai senyum yang ceria.
Semua orang terlihat memperhatikan mereka, namun Radit sama sekali tidak peduli dan terus saja berjalan mengikuti istri dan anaknya.
Radit pun mulai mengendarai mobilnya dan mengarah keluar kota. Seperti yang dijanjikan pada Lathan sebelumnya, mereka akan menemui Vio dan Leo setelah Lathan keluar dari rumah sakit, namun ada yang aneh setelah mereka menempuh perjalanan cukup lama dan itu tidak mengarah kerumah Vio. Lathan menoleh kesana kemari mengamati lokasi sekitar mereka sekarang.
Kemana Papi akan membawa kami pergi? Ini bukan arah kerumah nenek, rasanya … ini mengarah ke tempat pemakaman umum dimana kakaknya Papi dan suaminya dimakamkan. Oh benar ini tempat pemakaman tante Lea
Radit pun memarkirkan mobil setelah mereka sampai. Dia tidak lupa membeli bunga ditoko bunga depan tempat pemakaman untuk dibawa kedalam.
"Kalian tunggu dulu disini. Papi akan beli bunga sebentar" Radit langsung pergi membeli bunga. Tak berselang lama dia sudah kembali.
"Ayo kita kedalam" Lathan hanya mengangguk setuju dengan ajakan Radit. Dia masih tidak tahu untuk apa mereka datang kepemakaman, karena biasanya mereka akan datang kesini saat hari-hari tertentu saja
Radit, Lathan dan Andra kini sudah berdiri diantara makam Lea dan Galen.
"Lathan, bukannya sebelumnya … kamu pernah bertanya apa kamu ini anak Papi atau bukan? Papi rasa … sekarang sudah waktunya untuk Papi mengungkapkan rahasia besar yang selama ini Papi simpan. Kalau sebenarnya … orang tua kandungmu itu … adalah mereka"
__ADS_1