Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Anehnya Sikap Lathan


__ADS_3

Radit pergi menemui Ardhan setelah mereka makan malam.


Tok tok tok


"Apa Papi boleh masuk?"


Radit mengetuk pintu kamar putranya lalu bertanya pada Ardhan saat berdiri diambang pintu.


"Tentu, Pih. Masuk saja"


Ardhan yang sedang bermain laptop langsung menoleh begitu mendengar suara ketukan pintu. Radit pun langsung masuk setelah mendapatkan izin dari Radit.


"Apa kamu sedang sibuk?" tanya Radit sambil berjalan mendekati Ardhan.


"Tidak, Pih. Ada apa? Papi belum tidur?" Ardhan bertanya dengan senyum lembut pada sang ayah.


"Sebentar lagi Papi akan tidur. Apa yang sedang kamu baca?" tanya Radit penasaran dengan apa yang dilakukan Ardhan.


"Hanya membaca buku programing. Ada apa Papi kemari? Apa ada yang ingin Papi sampaikan padaku?"


Ardhan menatap Radit penuh tanya menunggu apa yang ingin dia katakan.


"Apa yang kamu lakukan pada orang yang memukulmu?"


Ardhan tersenyum mendengar pertanyaan sang ayah.


"Aku … membuat dia berlutut minta maaf padaku didepan semua orang, sepertinya mulai besok … dia akan pindah sekolah. Aku juga membuat perusahaan keluarganya sedikit goyah. Tidak hanya keluarga itu saja sih, tapi juga keluarga lain yang selalu bersekongkol dengannya. Entahlah apa mereka bisa melewati krisis ini atau tidak, yang pasti aku sudah memberikan mereka pelajaran. Dan untuk pihak sekolah, aku memanggil tim audit agar melakukan investigasi terhadap keuangan sekolah. Itu juga aku serahkan pada mereka. Jika mereka teliti, maka pasti akan menemukan sumber kebusukannya, tapi jika mereka lalai, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa terhadap mereka".


Ardhan menjelaskan dengan sikap tenang sambil mengangkat kedua bahu secara bersamaan.


"Kenapa kamu tidak menutup langsung perusahaan itu? Papi yakin kamu bisa melakukannya" ujar Radit dengan sikap yang tenang dan penuh wibawa.


"Tidak perlu sampai melakukan itu. Cukup buat mereka mengalami krisis saja. Jika mereka memang ahli dan tanggap, mereka pasti bisa menemukan solusi untuk bangkit. Tapi jika mereka bodoh dan tidak mau berusaha, maka perusahaan itu akan jatuh dengan sendirinya"


Ardhan bicara dengan seringai tipis dibibirnya.


Radit tersenyum menanggapi Ardhan.


"Kamu ini masih kecil, tapi bagaimana pemikiranmu sudah sampai sejauh itu?" ujar Radit tak percaya.


"Ya, hanya berdasarkan pengalaman sekitar saja" jawab Ardhan dengan acuh tak acuh.


"Dasar bocah ini"


...****************...

__ADS_1


Keesokan paginya.


"Dhan, ayo berangkat. Kamu mau Kakak antar atau pergi dengan supir?" tanya Lathan ketika dia sudah selesai sarapan.


"Sebentar Kak, aku masih belum selesai. Kakak tidak lihat kalau mulutku penuh dengan makanan?" Ardhan menanggapi dengan sinis


"Kalau begitu bawa saja. Kamu bisa makan dalam perjalanan" ujar Lathan singkat.


Ardhan hanya mengerucutkan bibirnya dengan raut wajah kesal sambil membawa makanan ditangannya.


"Tumben-tumbenan sih Kakak mau berangkat pagi. Biasanya Kakak sangat santai kalau berangkat sekolah" Ardhan terus menggerutu kesal sambil pamit pada Andra dan Radit.


"Kalian hati-hati dijalan ya. Ingat untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh" Andra berpesan pada Lathan dan Ardhan sebelum mereka berangkat.


"Mami ini, seperti kami berdua anak kecil yang nakal saja" ujar Ardhan menimpali sang ibu.


"Mami hanya mengingatkan saja" Andra menanggapi dengan sikap yang santai.


"Sudah-sudah, kami berangkat dulu Mih, Pih. Sampai jumpa".


Lathan langsung mendorong sang adik agar meninggalkan rumah dan segera berangkat ke sekolah.


Lathan terus saja tersenyum sendiri selama dalam perjalanan mereka. Ardhan sampai merasa bingung dengan apa yang terjadi pada sang kakak.


"Anak kecil tidak perlu ikut campur". Lathan menanggapi dengan sinis namun ada senyum diwajahnya.


"Kakak aneh. Apa Kakak sudah gila pagi-pagi begini?". Ardhan semakin mengejek Lathan yang sedang mengemudi sambil tersenyum.


"Diam! Sudah sampai disekolahmu. Cepat turun dan jangan buat masalah!".


"Aku tahu".


Lathan bicara dengan nada yang menggertak, namun Ardhan menanggapinya dengan tenang dan nada mencibir.


"Apa kakakku salah minum obat ya?" gumam Ardhan sambil menatap pergi mobil Lathan.


...****************...


Lathan melaju dengan kecepatan sedang dari sekolah Ardhan. Karena masih pagi, lalu lintas sangat lancar dan dia tidak membutuhkan waktu lama untuk tiba disekolah.


Parkiran pun belum terlalu penuh jadi Lathan bisa memilih parkir dimana saja. Dia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari pintu masuk gedung.


Lathan mengambil ponselnya dari saku celana sebelum dia turun dari mobil. Dia menekan nomor Fandy dan menghubunginya.


Tuut tuut tuut.

__ADS_1


Lathan mengamati keadaan diluar mobil dengan tenang sambil menunggu Fandy menerima telepon darinya.


"Halo" tak lama terdengar suara Fandy.


"Kamu dimana? Apa sudah berangkat ke sekolah?". Lathan mengabaikan sapaan Fandy dan langsung bertanya padanya.


"Sebentar lagi aku akan tiba disekolah. Ada apa? Apa kamu sangat kesepian sampai harus meneleponku seperti ini?". Fandy menggoda Lathan dengan nada bicara yang dingin.


"Enyah kau. Aku hanya ingin tahu saja apa Zara juga akan segera sampai atau belum?". Lathan terlihat kesal pada Fandy, lalu diapun menanyakan keberadaan Zara.


"Ya, dia bersamaku. Sebentar lagi kami akan sampai disekolah". Fandy menjawab Lathan dengan nada yang sedikit kecewa.


"Bagus kalau begitu. Hati-hati dalam perjalanan kalian". Lathan langsung menutup teleponnya tanpa menunggu tanggapan dari Fandy.


"Apa tuan muda ini sudah gila? Dia menghubungiku hanya untuk menanyakan apa kamu akan segera tiba atau tidak?". Fandy langsung mengeluh pada Zara setelah dia menutup telepon dari Lathan.


"Kamu baru tahu kalau temanmu itu gila? Haah … aku sedikit menyesal karena mengatakan padanya kalau dia bisa meminta apa saja sebagai imbalannya". Zara menghela napas panjang saat dia mengingat permintaannya pada Lathan.


"Nasi sudah menjadi bubur. Kamu tidak akan bisa merubahnya kembali jadi nasi dan kamu juga tidak akan bisa lepas darinya. Karena Lathan akan selalu mengejarmu bagaimanapun caranya. Dia bukan orang yang mudah menyerah".


Fandy menasehati Zara sambil mengusap lembut punggungnya, sementara itu Zara yang mendengar ucapan Fandy mulai mengerucutkan bibir seakan dia hendak menangis.


Tak berapa lama mereka pun tiba disekolah. Lathan sudah menunggu dengan duduk dibagian depan mobilnya.


"Lihat itu. Pangeran kodokmu sudah menunggu disana". Fandy bicara dengan berbisik pada Zara, dia juga sedikit menyenggol tangannya dan menunjuk Lathan dengan dagunya.


"Diam kau!" bentak Zara dengan suara pelan. Diapun menelan ludah ketika hendak berjalan melewati Lathan.


"Pagi sweety. Apa kalian sudah sarapan?". Lathan menyapa Zara dengan senyum yang manis dan nada yang lembut sampai semua siswi histeris karena melihat senyuman Lathan itu, namun bagi Zara senyuman Lathan terlihat menyeramkan sampai dia menoleh kesekelilingnya dengan raut wajah canggung untuk mengamati ekspresi orang-orang disekitarnya.


"Kami sudah sarapan dan akan langsung ke kelas. Ayo Fan!" Zara menjawab dengan singkat sambil menarik tangan Fandy.


"Hei … jangan menarikku seperti ini. Ada yang harus aku bicarakan dengan Lathan". Fandy sedikit memberontak dan melepaskan pegangan tangan Zara darinya.


"Ya sudah. Aku ke kelas dulu". Zara langsung meninggalkan Lathan dan Fandy dengan langkah kaki yang cepat.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Mengganggu pagiku saja" ujar Lathan dengan sikap yang dingin dan sangat berbeda dari sikapnya yang ditunjukkan pada Zara


"Lihat ekspresimu itu! Menyeramkan" ujar Fandy sambil menunjuk wajah Lathan.


Fandy menoleh kesana kemari sebelum dia bicara lalu dia sedikit mendekat pada Lathan.


"Apa kamu yang mengacaukan data keuangan milik beberapa perusahaan kemarin sampai mereka mengalami krisis?"


"Hah?!"

__ADS_1


__ADS_2