Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Pelukan Sang Ibu Untuk Zara


__ADS_3

Lathan tidak langsung tidur setelah masuk ke kamarnya. Dia menyelesaikan masalah postingan tentangnya terlebih dahulu dengan menggunakan laptop Zara.


"Apa yang sedang kamu lakukan malam-malam begini?" tanya Fandy yang sudah mulai menguap namun penasaran karena melihat Lathan main laptop.


"Membersihkan kekacauan yang terjadi. Aku tidak ingin besok postingan ini masih ramai dan mengganggu" Lathan menanggapi Fandy tanpa mengalihkan pandangannya dari layar monitor.


"Itu kan hanya sebuah postingan saja. Kamu tidak usah pedulikan itu. Itu pasti akan sepi peminat nantinya". Fandy terus bicara meskipun dengan mata yang perlahan mulai terpejam.


"Postingan gosip seperti ini tidak mungkin akan sepi. Banyak sekali orang yang suka hal-hal seperti ini dan menjadikannya hiburan" ujar Lathan dengan sikap yang tenang.


"Baiklah. Terserah kamu saja. Aku ngantuk, jadi aku akan tidur lebih awal. Selamat malam"


"Hmn … Selamat malam".


Fandy langsung tertidur setelah dia selesai bicara dengan Lathan, sedangkan Lathan kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.


"Akhirnya selesai" ujar Lathan sambil melakukan peregangan pada jari-jari tangannya yang terasa kaku, barulah dia bisa tidur sekarang.


Keesokan paginya.


Pak Zein tengah duduk dimeja makan sambil membaca dokumen dalam notebook disertai secangkir kopi dihadapannya.


"Selamat pagi, Om". Sapa Lathan yang bangun lebih dulu dibanding Fandy.


"Ya, selamat pagi. Mana Fandy dan Zara?" tanya pak Zein dengan sikap yang tenang dan ramah.


"Fandy belum bangun, sepertinya Zara juga belum" ujar Lathan yang langsung duduk didekat pak Zein.


Pek Zein meletakkan notebooknya dan menatap Lathan dengan tatapan serius.


"Apa benar kamu menjalin hubungan dengan Zara?" tanya pak Zein dengan nada bicara yang serius.


"Ya, saya memang menjalin hubungan dengan Zara. Saya tahu kalau saat ini saya masih terlalu muda untuk mengatakan hal yang serius tapi saya benar-benar sayang padanya" ujar Lathan dengan wajah serius.


"Apa benar kamu bagian dari keluarga Kusuma?". Pak Zein kembali bertanya untuk memastikan.


"Benar, saya adalah cucu dari Violeta Kusuma" jawab Lathan dengan sikap yang tenang.


"Berarti … kamu anaknya Radit?".


Sesaat Lathan terdiam mendengar pertanyaan pak Zein.


Haruskah aku mengatakan yang sebenarnya? Tidak. Jika memang harus mengatakannya, maka Zara lah yang harus tahu lebih dulu ketimbang orang lain.

__ADS_1


"Ya, saya putranya Radit" jawab Lathan dengan sikap tenang.


"Om sadar kalau atas kesalahan Om pada Zara, jadi Om merasa tidak punya hak untuk melarang hubungan kalian. Tapi kalian masih sama-sama muda. Om harap hubungan kalian ini tidak membawa pengaruh negatif terhadap satu sama lain". Pak Zein menasehati Lathan dengan penuh wibawa.


"Om tidak perlu khawatir. Saya memang masih muda tapi saya tidak pernah main-main dengan Zara. Saya juga masih memiliki banyak mimpi yang harus saya kejar. Saya tidak mungkin menyia-nyiakan masa muda saya dan kalah jauh dari saudara saya yang lain".


Pak Zein mengangguk-anggukkan kepala dengan senyum ceria mendengar jawaban dari Lathan.


"Bagus. Om harap bisa memegang ucapanmu sampai tiba waktunya kalian untuk ketahap yang lebih serius nantinya".


"Terimakasih, Om. Karena sudah percaya pada saya. Saya akan berusaha untuk tidak mengecewakan Om".


"Pa! Papa! Papa dimana?!".


Lathan dan pak Zein menoleh bersamaan ketika mendengar suara teriakan seorang perempuan.


"Ma? Bukannya Mama baru akan kembali beberapa hari lagi? Kenapa Mama sudah pulang?". Pak Zein terlihat tak percaya saat melihat sang istri sudah kembali dari tugas dinasnya keluar negeri.


"Bagaimana Mama bisa tetap berada disana sedangkan Mama membaca gosip buruk tentang putri kita?!" ujar sang istri yang menanggapi dengan sikap yang sinis sambil terus berjalan mendekatinya dengan langkah kaki yang cepat.


"Eh? Kamu …?". Ibunya Zara terkejut dan menatap Lathan dengan tatapan heran.


"Bukannya kamu yang ada di postingan itu bersama Zara? Kenapa kamu ada disini? Dimana Zara? Apa kamu melakukan hal yang tidak-tidak padanya? Cepat katakan! Kenapa diam saja?!".


Bagaimana bisa ibunya Zara sangat cerewet? Aku tidak habis pikir kalau orang secerewet ini bisa mengabaikan Zara selama bertahun-tahun.


Pikir Lathan dengan dahi berkerut.


"Mah … bagaimana bisa dia memberikan jawaban, sedangkan kamu saja masih terus bertanya tanpa henti" ujar pak Zein mengingatkan.


"Halo, Tante. Saya Lathan. Zara ada dirumah ini. Sepertinya dia masih tidur". Lathan menanggapi dengan senyum tipis dibibirnya.


"Zara ada dirumah ini? Benarkah, Pah?" tanya ibu Zara memastikan pada sang suami.


"Ya. Dia ada dikamarnya". Pak Zein mengangguk pelan pada sang istri.


Tak lama terlihat Zara baru saja turun. Dia berjalan kearah Lathan dan kedua orang tuanya berada.


"Itu Zara" ujar Lathan setelah melihat sang kekasih berjalan kearahnya sambil tersenyum.


Ibu Zara membalikkan badan. Dia menatap wajah putrinya yang cantik berjalan kearahnya. Dalam bayangannya terlihat wajah Julia yang tersenyum lembut padanya. Seketika mata ibu Zara berkaca-kaca menahan air mata yang jatuh dari kedua matanya.


"Julia … tidak mungkin" gumam ibu Zara yang langsung berbalik pergi meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


Zara nampak terkejut melihat sang ibu yang memalingkan wajah darinya. Senyum manis yang sebelumnya terlihat diwajahnya seketika lenyap dan berubah menjadi sendu. Zara menghentikan langkahnya dan menundukkan kepala.


"Ternyata mama masih belum bisa memaafkanku" gumam Zara melihat sikap sang ibu.


Lathan pun ikut terkejut melihat sikap ibunya Zara yang berbanding terbalik dengan saat baru datang tadi. Dia menoleh sesaat pada pak Zein kemudian mendekati Zara.


"Sayang, sebaiknya kamu ikuti ibumu. Kamu harus bicarakan semuanya juga pada beliau". Lathan bicara dengan nada yang lembut sambil memegangi kedua pundak Zara.


Zara menatap lekat wajah Lathan dengan mata berkaca-kaca. Setelah melihat sang kekasih yang menganggukkan kepala padanya, akhirnya dia pun berbalik untuk menemui sang ibu yang sepertinya pergi kekamarnya.


Zara terpaku menatap sang ibu dari sela pintu kamar yang terbuka. Ini pertama kalinya melihat sang ibu menangis setelah terakhir kali saat kematian sang kakak, karena selama ini ibu Zara akan memalingkan wajahnya dan pergi saat melihat Zara.


"Ma-ma". Zara terlihat ragu-ragu saat memanggil sang ibu dan masuk kekamarnya.


Ibu Zara menghapus air matanya begitu mendengar suara Zara.


"Ada apa?" tanya ibu Zara dengan nada yang terdengar sinis.


"Aku … aku …aku ingin minta maaf pada Mama, karena aku kakak meninggal dunia". Zara mendekati sang ibu dan bicara dengan kepala tertunduk dan ragu-ragu. Dia meremas roknya dengan keras untuk mengurangi sedikit rasa gugupnya.


Ibu Zara terkejut dan kini air matanya sudah tak terbendung lagi. Dia pun berdiri dan memeluk Zara.


"Tidak. Ini bukan salahmu. Kamu sama sekali tidak bersalah atas kematian kakakmu. Semua itu hanya tragedi. Tidak ada yang perlu kamu sesalkan". Ibu Zara terus bicara sambil memeluk Zara dengan derai air mata diwajahnya.


Zara yang terkejut pun ikut menitikan air mata. Tangannya yang sebelumnya meremas roknya, kini memeluk sang ibu sambil membenamkan wajahnya.


"Ma-ma tidak membenciku? hiks…hiks…hiks" tanya Zara disela isak tangisnya.


Ibu Zara menggelengkan kepala dengan cepat.


"Tidak. Mama tidak pernah membencimu. Mama sama sekali tidak mengalahkanmu atas kepergian Julia. Hanya saja, setiap kali Mama menatap wajahmu, Mama akan mengingat semua hal tentang Julia. Wajahnya …senyumnya … kalian berdua sangat mirip sampai Mama tidak pernah bisa melupakan semua hal tentang Julia". Ibu Zara menjelaskan alasannya selama ini menghindari Zara, lalu dia melerai pelukan diantara mereka.


"Apa kamu membenci Mama?" tanya sang ibu sambil menatap wajah Zara yang berderai air mata.


Zara menggelengkan kepala menatap sang ibu.


"Tidak. Aku tidak pernah membenci Mama. Selama ini karena Mama selalu memalingkan wajah dariku dan tidak pernah mau menatap mataku, jadi aku selalu berpikir kalau Mama membenciku" jelas Zara pada sang ibu.


"Maafkan Mama. Mama membuatmu berpikir buruk tentang hal ini. Tapi Mama selalu sayang padamu. Mama selalu berusaha untuk mendekatimu dan berbincang denganmu, taoi tidak pernah berhasil. Air mata mama selalu saja mengalir deras setiap kali berdiri didepanmu. Tapi melihatmu sekarang, Mama akan berusaha untuk bisa berada disampingmu. Saat melihat postingan kemarin Mama tersadar kalau kamu sudah dewasa dan Mama bisa saja kehilanganmu karena kamu akan menikah. Mama tidak mau itu terjadi sebelum Mama menghabiskan waktu denganmu".


"Mama…" Zara tersipu malu lalu kembali memeluk sang ibu.


"Mama senang akhirnya bisa memelukmu lagi setelah bertahun-tahun lamanya"

__ADS_1


"Aku juga senang. Akhirnya aku merasakan kembali hangatnya pelukan Mama"


__ADS_2