
“Apa kamu sudah mencari tahu tentang Radit?” Tanya seorang pria pada asistennya
“Sangat sulit mencari informasi tentangnya. Saya hanya dapat informasi umumnya saja kalau dia memiliki seorang istri dan juga seorang putra berusia sekitar 6 tahun” ujar sang asisten menjelaskan dengan sikap yang tenang
“Aku juga tahu itu. Yang ingin aku tahu adalah sesuatu yang lebih pribadi agar aku bisa menjadikan itu sebagai kelemahan Radit” ujar pria itu lagi menjelaskan keinginannya dengan sikap yang dingin
“Bukankah akan lebih baik jika anda bertemu langsung untuk membahas kerjasama ini? Saya yakin jika anda memberikan penawaran terbaik padanya, dia akan mau bekerja sama dengan kita dan membuat perusahaan kita
semakin maju” Jelas sang asisten lagi mengeluarkan pendapatnya
“Aku tidak yakin soal itu. Banyak perusahaan besar yang ingin bekerjasama dengannya, tapi dia selalu saja menolak kerjasama dengan perusahaan baru. Aku juga ingin bekerjasama dengannya lalu membuatnya jatuh agar menjadikan perusahaan kita sebagai perusahaan ternama. Sangat menyebalkan mengetahui kalau semua keluarga itu memiliki perusahaan yang sangat besar dan menjadi keluarga yang sangat mendominasi dunia bisnis” ujar pria itu lagi dengan sorot mata penuh kebencian. Dia adalah Surya. Seorang direktur utama dari salah satu perusahaan keluarga yang cukup besar, namun setelah dia mengambil alih kendali perusahaan menggantikan sang ayah, perusahaan Surya mengalami penurunan dan selalu terkalahkan oleh perusahaan Radit.
“Tapi apa anda yakin untuk menjatuhkan perusahaan itu? Yang saya tahu , pak Radit bukanlah orang sembarangan. Dia bisa dengan mudah menjatuhkan perusahaan kita. Jika anda mengusiknya … maka bisa saja anda kehilangan semuanya” sang asisten berusaha mengingatkan atasannya untuk tidak mengganggu Radit dan juga keluarganya.
“Karena itu kita harus mencari kelemahannya terlebih dahulu sebelum berurusan dengannya. Aku juga tidak akan mengambil langkah sembarangan untuk menjatuhkan perusahaan Radit tanpa persiapan. Jika kita punya kelemahannya, maka dia akan tunduk pada kita dan tidak mungkin melakukan hal sia-sia yang akan merugikan dirinya sendiri” Surya bicara dengan penuh percaya diri. Dia sangat yakin kalau dia bisa mengalahkan Radit dengan mudah
“Baiklah, Pak. Terserah anda. Saya hanya akan mengikuti perintah sesuai dengan apa yang anda katakan” asisten Surya pun tidak berkata apa-apa lagi dan mengikuti apa yang diinginkan oleh atasannya.
***
Ditempat lain, Lathan bersiap sekolah dengan sangat ceria. Dia mengingat kalau Radit mengatakan akan membuat adik bayi secepatnya.
“Pagi, sayang” Andra menyapa Lathan yang baru bangun tidur dengan senyum yang ceria diwajahnya
“Selamat pagi, Mami. Apa mami baik-baik saja?” Lathan bertanya dengan nada yang sangat lucu dan menggemaskan
“Ya, Mami baik-baik saja. Bagaimana dengan anak Mami yang tampan dan menggemaskan ini?” Andra kembali bertanya sambil mencubit lembut kedua pipi Lathan yang menggemaskan.
“Aku juga baik. Papi, kapan adik bayi itu akan datang?” Lathan langsung beralih pada Radit ketika dia menyadari kalau sang ayah
__ADS_1
menutupi wajahnya dengan sebuah dokumen yang sedang dia pelajari.
Andra menatap Radit dengan tatapan heran lalu mengikuti Lathan untuk menghampiri Radit. Sedangkan Radit yang mendengar pertanyaan sang putra langsung terlihat bingung lalu perlahan menurunkan dokumen yang menutup wajahnya dan menunjukkan senyum yang terlihat canggung pada sang istri
“Apa maksudnya adik bayi?” Tanya Andra pada Radit dengan raut wajah bingung
“Itu Mih. Papi bilang kalau aku tidur cepat maka adik bayi akan segera datang. Semalam aku langsung tidur cepat dan papi bilang akan tidur cepat juga agar bisa membuat adik bayi. Ku kira adik bayi akan datang sekarang” Lathan menjelaskan dengan celotehnya yang sangat lucu, membuat Radit semakin canggung dengan tatapan Andra yang menatap tajam padanya.
“Itu, maksudku adalah Lathan tidak boleh tidur terlalu malam agar kita juga bisa istirahat lebih cepat karena kita harus bekerja keesokan paginya” Radit menjelaskan dengan ragu-ragu sambil memberikan bahasa isyarat pada Lathan melalui tatapan matanya
“Diam, jangan banyak bicara! Biarkan papi yang mengatakannya pada mami” namun Lathan sama sekali tidak mengerti dengan tatapan mata yang dimaksud Radit
“Kenapa papi menatapku seperti itu? Aku hanya mengatakan apa yang papi katakan padaku semalam” ujar Lathan dengan sikapnya yang polos
“Memangnya kenapa dengan tatapan papi? Papi tidak mengatakan apapun padamu, kan?” Radit berusaha berkelit dari apa yang dikatakan Lathan barusan agar Andra tidak menatapnya dengan tatapan menyeramkan.
“Lathan, lihat mami. Kita tidak bisa membuat adik bayi sendiri. Adik bayi itu diberikan langsung oleh Tuhan. Jika Lathan memang ingin punya adik, Lathan harus berdoa agar mami dan papi bisa segera memberikan adik
untuk Lathan. Tidak ada yang tahu kapan adik bayi itu akan datang. Jika mami
sudah mengandung adik bayi … barulah kita akan tahu kapan adik bayi itu akan
lahir kedunia ini”
“Kalau begitu mami harus katakan langsung pada Tuhan agar segera memberikan adik bayi pada kita” Lathan terus saja bersikeras agar Andra segera memberikannya bayi
“Hmn … Tidak bisa begitu sayang. Kita memang berdoa langsung pada Tuhan dan mengatakan apa yang kita mau, tapi Tuhan tidak mengabulkannya dalam waktu singkat. Mungkin jika Lathan sendiri yang berdoa … Tuhan mau mengabulkan keinginan Lathan” Andra terus memberitahu Lathan mengenai adik bayi. Dia berusaha menjelaskan agar putranya itu bisa mengerti. Lathan terus
menganggukkan kepala saat mendengarkan penjelasan dari Andra
__ADS_1
“Oh begitu ya Mih. Baiklah. Mulai sekarang Lathan akan berdoa sendiri dan meminta pada Tuhan agar bisa segera punya adik bayi” ujar Lathan setelah dia mengerti maksud dari ucapan Andra
“Anak pintar. Sekarang waktunya Lathan sarapan, karena setelah ini kamu harus pergi ke sekolah” Andra menarik satu kursi dekat Radit dan membantu Lathan untuk duduk disana dan menikmati sarapannya
"Baik, Mami" jawab Lathan dengan kepala mengangguk dan senyum ceria
"Sayang, apa kamu akan pergi ke hotel?" tanya Radit kepada Andra yang sedang mengambilkan sarapan untuk Lathan
"Ya, aku harus kehotel dan menemui seorang klien disana. Dia bilang akan datang langsung ke hotel dan melihat perkembangan hotel untuk bisa kerjasama kedepannya. Mereka mengatakan kalau saat ini mereka sedang mencari tempat untuk melakukan kegiatan bersama karyawan mereka didalamnya" Andra menjelaskan dengan lembut sambil menikmati sarapan paginya dengan Lathan dan Radit
"Rupanya begitu. jadi kamu yang harus bertemu langsung dengan atasannya?" Radit kembali bertanya dengan menganggukan kepala berkali-kali.
Andra tersenyum melihat ekspresi wajah Radit yang terlihat sangat tidak suka.
"Kenapa, sayang?" goda Andra dengan senyum yang manis
"Tidak ada apa-apa. Ayo lanjutkan makan setelah itu kita berangkat.
"Apa kamu cemburu? Kenapa ekspresi wajahmu begitu" sambung Andra yang kebali menggoda Radit
"Tidak. Kenapa aku harus cemburu?" ujar Radit berusaha bersikap normal
"Kalau begitu kenapa mata kakak mendelik seperti ini?"
"Aku tidak mendelik, hanya saja aku …"
"Kak Radit dengarkan aku. Meskipun aku bekerja dengan pria lain tapi aku selalu ingat kalau aku memiliki 2 pria tampan dalam hidupku sekarang ini. Jadi kakak tidak pwrlu khawatir akan hal apapun. Cukup percaya padaku dan kita melangkah sambil bergandengan tangan untuk hidup bersama kedepannya"Radit yang mendengar perkataan Andra merasa tersentuh dan tersenyum lembut.
"Tentu saja. Sampai kapanpun aku akan selalu ada disampingmu"
__ADS_1