Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Sedikit Kemajuan Vio


__ADS_3

Karena sekarang Andra ada dirumah Leo, Radit kembali menjemput Lathan sore hari setelah pulang dari kantor. Dia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang sekolah Lathan. Radit menunggu didalam mobil sambil mempelajari dokumen yang harus diperiksa.


Begitu terlihat sang putra berjalan keluar dari gerbang sekolahnya, Radit meletakkan dokumennya dan turun dari mobil untuk menghampiri Lathan.


"Papi!" teriak Lathan sambil berlari begitu melihat Radit .


"Jagoan Papi! Bukannya kamu masih tidak boleh teriak? Apa tenggorokanmu tidak sakit".


Lathan hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum ceria pada Radit.


"Bagaimana hari ini? Apa semua baik-baik saja?".


Radit bertanya dengan lembut saat Lathan sudah ada didepannya.


"Aku melakukan semuanya dengan baik. Hanya saja … entah kenapa guru-guru bersikap aneh padaku hari ini" ujar Lathan yang mengeluh manja dengan bibir mengerucut.


Radit mengernyitkan dahinya mendengar cerita dari putranya. Saat yang bersamaan pun para guru yang hendak meninggalkan sekolah juga menatap Radit dengan tatapan aneh. Tentu saja itu membuat Radit semakin bingung.


"Kenapa mereka bersikap aneh? Memangnya ada sesuatu yang terjadi sebelumnya? Atau mungkin ada yang mengatakan sesuatu padamu?".


Radit semakin penasaran dengan apa yang terjadi disekolah Lathan.


"Katanya aku disiksa oleh mami".


"Apa?! Bagaimana bisa ada rumor tidak jelas seperti itu?! Apa mereka sudah gila!".


Radit berteriak kesal mendengar apa yang dikatakan Lathan.


"Aku juga tidak tahu dari mana rumor itu berasal pih, tapi yang aku tahu awal dari beredarnya rumor itu adalah setelah aku pulang dari rumah sakit. Mereka mengira kecelakaan yang aku alami ini karena perbuatan mami". Lathan bercerita pada Radit dengan sikap yang sedikit kesal.


"Huh! Tidak masuk akal! Sudahlah. Ayo kita pulang. Mami pasti sudah menunggu kita".


Radit kembali bicara dengan sikap yang tenang saat dia membicarakan tentang Andra.


"Iya, Pih. Ayo pulang!". Lathan pun tersenyum ceria saat Radit mengajaknya pulang.


Radit pun mengangguk lalu membantu Lathan masuk kedalam mobil. Saat dia hendak masuk ke dalam mobil, Radit sepintas menatap sinis pada beberapa ibu guru yang terus menatapnya dari gerbang sekolah Lathan.


"Papi, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apa Papi akan membiarkan rumor tentang mami begitu saja?".


Lathan yang terus memikirkan Andra kembali membahas masalah rumor palsu itu kepada Radit.

__ADS_1


Radit yang sedang mengemudi terlihat fokus dan sesekali menoleh pada Lathan yang ada disampingnya.


"Ehm … untuk saat ini kita biarkan dulu. Tapi jangan sampai mami tahu masalah ini. Kamu tahu kan kalau mami sedang hamil? Itu tidak akan bagus untuk kesehatan mami".


Radit memberitahu Lathan dengan sikap yang tenang. Dia tidak bisa. mengambil langkah sembarangan hanya karena sebuah rumor saja karena itu masih belum terbukti.


"Iya, Pih. Aku mengerti". Lathan mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Radit.


"Anak pintar" ujar Radit sambil mengusap lembut kepala Lathan disertai senyum manis dibibirnya.


Mereka pun melanjutkan perjalanan kerumah Leo dengan tenang.


...****************...


Sementara itu dirumah Leo.


Andra sedang menghabiskan waktunya bersama Vio. Dia terus bicara dan membuat Vio agar terus memperhatikannya.


"Mama, Mama tahu kan kalau sekarang ini banyak model yang mulai bermain film? Sekarang ada film baru dan salah satu artisnya adalah model terkenal".


Andra selalu membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan model, karena Vio hanya akan bereaksi dengan sesuatu yang berkaitan dengan Lea.


"Model? Film? Benarkah? Apa mereka berbakat?".


"Tentu saja, Mah. Dia itu model terkenal dan berbakat. Karirnya dalam dunia perfilman juga tidak perlu diragukan lagi. Mama mau lihat filmnya seperti apa?".


Vio mengangguk setuju dan terlihat antusias ketika Andra mengajaknya melihat film.


"Kalau begitu kita bisa nonton diruang multimedia. Aku sudah mendapatkan filmnya. Ayo, Mah!".


Andra langsung beranjak dari duduknya dan berjalan berdampingan dengan Vio menuju ruang multimedia.


Dari belakang, Leo yang sedang menonton televisi, tersenyum melihat istrinya yang sekarang ini mulai tersenyum kembali.


"Mama duduklah disini. Aku akan memutar filmnya. Tunggu sebentar ya Mah".


Andra membantu Vio duduk lalu mempersiapkan untuk memutar film yang akan mereka tonton.


"Nah sekarang kita bisa nonton. Eh tunggu. Apa Mama mau aku bawakan cemilan untuk kita nonton?".


Andra kembali berdiri sebelum dia mulai menonton film.

__ADS_1


"Apa boleh minta jus apel?" tanya Vio ragu-ragu.


"Tentu saja. Aku akan minta bibi membuatkan jus apel untuk Mama" ujar Andra sambil berjalan keluar untuk meminta jus pada pembantu.


Vio menunggu dengan tenang diruang multimedia. Tak berselang lama, Andra kembali dengan sebuah nampan ditangannya berisi 2 gelas jus dan juga 2 jenis cemilan lain dalam toples.


"Nah sekarang kita bisa mulai nonton" seru Andra sambil memutar film yang telah dia siapkan.


Andra memutar film romantis tentang perjalanan seorang model yang harus melewati lika-liku dalam perjalanan karirnya. Ada bumbu komedi yang disajikan.


Andra memperhatikan Vio yang terlihat cukup menikmatinya. Dia tersenyum, marah-marah dan mengeluh, namun saat film berakhir dengan kebahagiaan sang model dan kekasihnya, Vio justru menangis tersedu-sedu.


"Hu … uuu …".


Andra pun terus memberikan tisu pada sang ibu mertua.


"Mama, kenapa Mama menangis? Mereka kan hidup bahagia setelah melewati banyak rintangan untuk mencapai tujuan mereka?" tanya Andra yang terlihat penasaran dan bingung sambil sesekali menoleh ke layar televisi yang ukurannya cukup besar.


"Itu … aku teringat putriku … hiks …hiks … kenapa mereka bisa bahagia sedangkan putriku tidak? hiks … hiks …" jawab Vio disela isak tangisnya sambil menyeka air mata dan ingusnya dengan tisu.


Andra tersenyum mendengar jawaban Vio. Itu artinya Vio mulai bisa mengerti kalau Lea telah tiada.


"Mama, ini hanya film saja. Mereka sudah diatur dalam skenario yang dirancang manusia agar melewati rintangan terlebih dahulu sebelum akhirnya bahagia diakhir cerita. Sedangkan kak Lea, kita tidak bisa mengaturnya agar dia bahagia didunia ini, tapi Tuhan sudah mengatur kebahagiaan kak Lea dan suaminya di Surga. Jadi Mama juga harus membantu kak Lea agar dia bahagia. Yaitu dengan mendoakan kak Lea. Dan Mama juga harus hidup bahagia agar kek Lea bahagia melihat Mama dari atas Surga sana".


Andra bicara dengan sikap yang tenang dan senyum yang lembut. Dia juga mengusap lembut air mata yang mengalir dari kedua pipi Vio.


"Apa Lea bahagia?" tanya Vio penasaran.


"Tentu saja kak Lea bahagia. Dia bisa bersama dengan suaminya dan kak Lea juga tidak merasakan sakit lagi. Jadi kak Lea pasti bahagia diatas Surga"


Andra menjelaskan dengan sangat yakin agar Vio juga percaya dengan apa yang dia katakan.


"Jadi tidak ada yang jahat lagi pada Lea? Tidak ada yang berusaha mencelakai dia lagi?".


Vio terus bertanya untuk meyakinkan dirinya sendiri mengenai kekhawatirannya selama ini terhadap Lea.


"Tidak, Mama. Tidak ada yang bisa melukai ataupun bersikap jahat pada kak Lea. Tuhan telah menjaga kak Lea disamping-Nya".


Vio mengangguk-anggukan kepala saat Andra menjelaskan keadaan Lea padanya.


Dari sela pintu, Leo tersenyum saat memperhatikan percakapan antara sang istri dan juga menantunya itu. Bahkan dia tidak menyadari kedatangan Radit dan juga Lathan yang telah berdiri dibelakangnya.

__ADS_1


"Sejak kapan Papa jadi suka mengintip? Aku tidak tahu kalau Papa punya kebiasaan seperti itu"


__ADS_2