Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kebanggaan Radit


__ADS_3

"Bagaimana dengan pekerjaanmu? Kenapa tidak ada perkembangan sama sekali?". Saat ini Surya sedang menghubungi Lidia melalui sambungan telepon.


"Saya rasa, saya sudah berhasil membujuk Lathan. Sekarang dia mulai meragukan kasih sayang bu Andra padanya.Saya juga akan mencoba lagi untuk menejebak pak Radit dan membuat bu Andra meragukannya. Dengan begitu hubungan mereka akan merenggang dan anda bisa masuk diantara mereka" Lidia menjelaskan rencananya agar Surya bisa mengerti dengan apa yang akan dia lakukan.


"Kamu  yakin kalau itu akan berhasil?" Surya memicingkan mata karena ragu dengan rencana Lidia


"Bapak tenang saja. Cukup percayakan semuanya pada saya. Saya akan membuat hubungan Anda dan bu Andra menjadi kenyataan" LIdia bicara dengan penuh percaya diri dia tidak tahu kalau saat ini Lathan juga sedang mempersiapkan hadiah kejutan untuknya dan Surya.


***


Lathan sedang berada dikamarnya bersama dengan Radit. Mereka sedang berusaha meretas perusahaan milik Surya.


"Papi, sebenarnya perusahaan siapa ini?" tanya Lathan yang hanya mengikuti perintah Radit untuk meretas data komputer.


"Papi curiga kalau direktur perusahaan ini adalah atasan Lidia. Sebelumnya om Candra menemukan kalau Lidia pernah bekerja diperusahaan ini sebelum dia masuk kerumah kita, jadi tidak ada salahnya bagi kita untuk menyelidiki perusahaan itu, kan?" Radit menjelaskan dengan sikap yang tenang mengenai apa yang jadi pertanyaan Lathan.


"Kenapa todak langsung kita bereskan saja perusahaan itu? Rasanya aku tidak suka jika mereka terus membuat masalah dengan kita. Akan lebih baik kalau kita menyelesaikannya dengan cepat kan, Pih?" Lathan bicara dengan nada yang manja dan menggemaskan.


"Sayang, kita masih belum memiliki bukti yang akurat. Untuk mendapatkan ikan yang besar, tentu saja kita harus memancingnya terlebih dahulu, jadi kesabaran itu adalah hal yang paling penting. Apa sekarang kamu mengerti?" Radit bertanya untuk memastikan pada Lathan sambil mengusap kepalanya dengan lembut.


"Iya, Pih. Aku mengerti. Aku akan dengan sabar menunggu sampai mereka masuk keperangkap kita. Dengan begitu, kita bisa langsung membuat mereka menyesal karena telah berani mengganggu keluarga kita, terutama mami". Radit tersenyum menatap Lathan yang bicara dengan sikap layaknya orang dewasa


"Lathan, tidak perlu terlalu serius. Kamu itu masih kecil, cukup jadikan ini sebagai mainanmu saja. Jika kamu sudah bosan atau tidak ingin melakukannya, maka papi yang akan melakukannya sendiri" ujar Radit sambil mengacak rambut Lathan disertai senyuman yang lembut.


"Kalau ini mainan untukku, bolehkan aku sedikit bermain-main dengan perusahaan itu?" Lathan bertanya dengan antusias dan tatapan yang berbinar penuh harap.

__ADS_1


"Tentu saja. Memang apa yang ingin kamu lakukan?" Radit memicingkan mata dan menatap Lathan dengan tatapan heran.


"Benarkah? Aku selalu penasaran dengan apa yang selalu Papi lakukan, jadi aku sangat ingin mencobanya juga. Sekarang aku bisa tahu rasanya sedikit mengacau dan membuat orang lain panik" Lathan menjelaskan sambil memainkan jarinya diatas papan keyboard dengan senyum bahagia dibibirnya. Radit hanya memperhatikan karena bingung dengan apa yang dikatakan Lathan.


"Ini kan ...? Bagaimana kamu bisa tahu cara ini?" Sejenak Radit terlihat bingung dengan wajah seriusnya, namun tak berapa lama, dia kembali bersikap tenang


"Aku pernah melihat Papi meretas komputer salah satu perusahaan dan memainkan data keuangan mereka, jadi aku sangat ingin mencobanya" ujar Lathan dengan sikap yang polos


"Kamu tahu hal itu hanya dari melihatnya saja?" tanya Radit dengan sikap yang tenang dan hanya dibalas dengan anggukkan kepala oleh Lathan


"Hahaha ... jagoan Papi memang cerdas. Kamu bisa tahu caranya hanya dengan melihat Papi saja. Papi  bangga sekali padamu. Papi rasa tidak lama lagi kamu akan bisa membuat perusahaan besar bertekuk lutut padamu karena takut data mereka dikacaukan" ujar Radit sambil mengecup pucuk kepala Lathan


"Kak Lea, apa kakak lihat ini? Lathan telah tumbuh menjadi anak yang cerdas dan berani. Seperti aku yang bangga padanya, aku yakin kalau kakak juga sangat bangga padanya. Aku akan terus mendidiknya sesuai dengan ajaran keluarga kita. Aku tidak akan membiarkan dia diam saja jika ditindas oleh orang lain. Aku akan membuat namanya diakui dan disegani oleh semua orang. Meskipun itu harus menggunakan nama keluarga Nugraha. Karena keluarga Surendra sudah tidak ada". Batin Radit sedikit menangis saat membayangkan sang kakak yang  tidak bisa melihat perkembangan putra semata wayangnya


***


"Ada apa ini? Kenapa komputerku tidak bisa dikendalikan?" ujar salah satu karyawan bagian keuangan dengan panik.


"Apa maksudnya?" Rekannya yang mendengar temannya panik langsung mendekat dan melihat komputer milik temannya itu


"Ini, bagaimana bisa kursornya bergerak sendiri?" ujarnya bingung setelah melihat komputr temannya itu.


"Komputer kita sedang dibajak. Panggilkan bagian IT perusahaan kita!" ujar rekan lainnya yang mengerti dengan situasi yang terjadi


"Baik" salah satu rekan mereka yang lain pun berlari untuk memanggil bagian IT agar bisa melawan hacker yang berani masuk dengan terang-terangan.

__ADS_1


"Komputer mana yang sedang dibajak?" tanya bagian IT yang baru datang dengan panik


"Yang ini!". Bagian It itu pun langsung berjalan mendekat lalu duduk di depan komputer itu. Dia mulai memainkan jari jemarinya dan berusaha untuk berkomunikasi dengan Lathan.


"Siapa kamu?" tulisnya membuka percakapan


"Seorang anak kecil" jawab Lathan apa adanya


"Jangan bercanda. Aku sedang serius! Apa yang kamu lakukan dengan data perusahaan kami? Keamanan data perusahaan kami dikunci menggunakan kunci berlapis. Bagaimana kamu bisa menerobos masuk?" Bagian IT itu bertanya dengan serius namun setiap Lathan menanggapi dengan sangat tenang.


"Aku juga serius. Aku hanya ingin tahu saja sejauh mana keamanan data perusahaan kalian. Ternyata tidak terlalu sulit"


"Sebenarnya siapa kamu?". Perusahaan Surya mulai heboh karena Lathan bermain dengan komputer mereka, namun saat ini Lathan memang hanya ingin bermain. Dia belum mendapatkan izin dari Radit untuk memanipulasi data keuangan perusahaan Surya.


"Apa benar data perusahaan kita telah dibajak? Bagaimana itu bisa terjadi? Data apa yang telah mereka curi?" Surya yang mendengar komputer mereka telah dibobol langsung panik dan bergegas pergi keruang bagian keuangan untuk mengetahu secara langsung apa yang telah terjadi.


"Benar, Pak. Komputer kita telah dibobol, namun kita tidak kehilangan data apapun. Dan orang itu bilang kalau dia hanya bermain-main saja dengan data perusahaan kita". Bagian IT menjelaskan pada Surya mengenai apa yang barusaja terjadi.


"Kenapa bisa seperti itu? Tidak mungkin kalau dia hanya bermain dan tidak memiliki tujuan apapun. Kalian yakin kalau semuanya tidak ada yang dicuri? Bukankah kamu bilang kalau data perusahaan kita sudah sangat aman karena terkunci dengan sandi berlapis?" Surya terlihat marah dan tidak mengerti dengan bagaimana semuanya ini bisa terjadi pada perusahaannya.


"Saya sudah memeriksa semua datanya. Semuanya aman, dan tidak ada yang dirubah sama sekali. Anda tidak perlu khawatir. Saya akan kembali mengamankan komputer kita dengan sandi baru lagi. Kali ini saya yakin kalau tidak ada yang bisa membobol komputer perusahaan kita lagi" ujar bagian IT dengan penuh percaya diri.


"Aku tidak butuh janji. Aku ingin kamu membuktikkan ucapanmu dan juga cari tahu sebenarnya siapa hacker itu! Bagaimana bisa dia dengan mudah membobol perusahaan kita? Tidak menutup kemungkinan kalau dia akan kembali lagi dan membuat kekacauan"


"Baik, Pak"

__ADS_1


__ADS_2