Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kebodohanmu Yang Membuatmu Kehilangan Segalanya


__ADS_3

Bagas terduduk lemas setelah mendengar perkataan Radit. Matanya menatap kosong pada langit-langit diruangannya.


“Bagaimana bisa jadi seperti ini?”


Saat Bagas sedang meratapi akibat dari kesalahan yang telah dia lakukan, Audy datang ke kantornya dengan tergesa-gesa.


“Sayang, apa yang terjadi? Kenapa kartu kreditku di blokir!” tanya Audy begitu dia memasuki ruangan Bagas.


Bagas yang sedang melamun langsung tersadar dan menatap tajam pada Audy


“Ada apa?” tanya Bagas dengan nada bicara yang lemas tak bersemangat.


“Aku tadi pergi ke mall dan saat akan menggunakan kartu kreditku ternyata kartuku sudah diblokir. Apa kamu yang melakukannya?!” Audy terus saja bertanya tanpa mempedulikan bagaimana situasi yang dialami sang suami.


“Kamu masih bisa pergi ke mall dan shoping saat perusahaanku sedang kacau?” Bagas bertanya pada Audy dengan raut wajah heran dan tak percaya.


“Memang ada apa dengan perusahaanmu?” Kini Audy pun merasa bingung dengan apa yang dikatakan sang suami tentang perusahaannya.


“Kamu tidak pernah lihat berita ya?”


Audy menggelengkan kepala pelan karena tak mengerti dengan apa yang dimaksud Bagas


“Kamu lihat saja diinternet apa yang terjadi!”


Bagas bicara dengan sinis pada sang istri. Audy pun langsung mengeluarkan ponselnya dan mencari apa yang dimaksud sang suami.


“Ini …?”. Mata Audy membelalak merasa tak percaya dengan apa yang dia lihat. Dia menoleh pada Bagas dengan wajah bingung.


“Bagaimana video seperti ini bisa tersebar? Apa kamu selalu merekamnya setiap kali kamu melakukan kekerasan pada wanita yang pernah berkencan denganmu?” Audy menatap Bagas dengan tatapan tajam penuh selidik


“Itu … aku …”


“Apa kamu gila?! Aku kira selama ini kamu selalu bersikap kasar padaku hanya karena kamu terlalu cinta hingga kamu jadi sangat possesif, tapi sepertinya bukan hanya karena itu. Seharusnya kamu periksakan kejiwaanmu pada psikiater!" Audy berteriak kesal pada Bagas setelah melihat video sang suami yang


melakukan kekerasan pada banyak wanita hanya untuk kepuasan sendiri.


“Audy! Sayang! Biar aku jelaskan dulu! Aku bisa jelaskan semuanya! Sayang! Sayang!” Bagas terus berteriak sambil mengejar Audy yang telah berjalan lebih dulu meninggalkan kantornya.


“Selamat siang! Dengan pak Bagas?” Bagas terdiam sesaat ketika beberapa orang datang menegurnya.


“Iya, saya sendiri. Kalian ini …?” Bagas menanggapi para pria itu dengan ragu-ragu.

__ADS_1


“Kami dari kepolisian. Kami membawa surat perintah penangkapan anda atas tindakan kekerasan dan penganiayaan terhadap beberapa wanita” ujar salah satu polisi sambil menunjukkan kartu anggota dan  juga surat penangkapan pada Bagas.


“Tapi Pak itu semua …”


“Anda bisa memberikan penjelasan dikantor polisi. Silahkan ikut kami!” Polisi tidak memberikan kesempatan pada Bagas untuk menjelaskan dan langsung menggiringnya ke mobil polisi.


“Audy, tolong aku! Aku tidak bersalah! Audy! Audy!” Bagas terus berteriak pada Audy yang memperhatikan Bagas bersama dengan para karyawan yang berdiri disana


“Maaf Pak, suami saya …?” tanya Audy dengan wajah sedikit khawatir


“Suami anda akan kami bawa kekantor polisi. Anda juga bisa memberikan kesaksian dikantor polisi dan dipersilahkan menghubungi pengacara pribadi pak Bagas”. Salah satu polisi menjelaskan pada Audy mengenai Bagas sebelum dia mengikuti Bagas dan anggota polisi lain yang telah berajalan lebih dulu ke mobil polisi


“Bagaimana dengan nasib kita? Jika pak Bagas ditangkap, maka perusahaan ini bisa hancur”


“Kamu benar. Terlebih lagi saat ini harga saham kita sedang turun. Jika kita tidak punya pemimpin, maka … kita bisa terancam kena PHK”


“Berdoa saja agar perusahaan ini tidak terkena dampak dari penangkapan pak Bagas


“Mana mungkin tidak terkena dampaknya? Sudah jelas kalau pak Bagas adalah pemilik perusahaan ini. Jadi mau bagaimana pun tetap saja akan membuat klien kecewa dan juga tidak percaya lagi pada perusahaan ini”


Para karyawan Bagas saling berdebat mengenai penangkapan atasannya dan dampak bagi perusahaan tempat mereka bekerja.


Audy mengikuti Bagas ke kantor polisi. Meskipun dia kesal pada Bagas, tetap saja itu suaminya yang selalu memberikan apapun yang dia minta.


Sementara itu dikantor Radit.


"Apa pekerjaan yang kuminta sudah kamu kerjakan?" tanya Radit pada Candra dengan sikap yang tenang.


"Tentu saja sudah. Kamu bisa mengunjunginya dibalik jeruji besi" Candra menanggapi dengan senyum bangga seakan dia ingin mendapatkan pujian dari Radit.


"Kerja Bagus. Bagaimana dengan harga saham kita?"


"Semua sudah kembali normal. Kamu tidak perlu lagi memikirkan masalah itu. Cukup nikmati saja pertunjukan dari Bagas yang sudah berada dibalik jeruji besi. Sepertinya sekarang kamu sudah bisa menemuinya dipenjara" Candra bicara dengan seringai tipis dibibirnya


"Benarkah? Kalau begitu aku harus pergi menemuinya sekarang" Radit tersenyum tak percaya kemudian mulai beranjak dari tempat duduknya


"Kamu akan langsung menemuinya?" tanya Candra meyakinkan diri sendiri.


"Tentu saja. Aku harus menyambutnya kan?" Radit pun tersenyum dengan kedua alis diangkat bersamaan.


Radit berjalan meninggalkan kantornya setelah dia bicara dengan Candra. Dia mengemudikan mobilnya sendiri dengan kecepatan sedang. Tak butuh waktu lama untuk Radit tiba dikantor polisi. Dia bergegas masuk setelah memarkirkan mobilnya. Radit berjalan dengan gagah memasuki kantor polisi. Disana sudah ada Audy yang menemani Bagas yang masih diperiksa disalah satu ruang interogasi.

__ADS_1


"Radit? Apa yang kamu lakukan disini?" tanya Audy begitu dia melihat Radit masuk.


"Hanya ingin menyambut seseorang dibalik jeruji besi" Radit menanggapi dengan sikap acuh tak acuh kemudian beranjak pergi meninggalkan Audy.


"Tunggu! Siapa yang kamu maksud? Apa itu... Suamiku?" tanya Audy dengan ragu-ragu.


"Menurutmu?" Radit tidak menjawab pertanyaan Audy. Dia malah balik bertanya sebagai tanggapannya. Setelah itu Radit kembali melangkah maju meninggalkan Audy yang sedang bingung dan tak percaya


"Permisi, Pak. Bisakah aku bertemu dengan laki-laki yang baru saja diinterogasi?" Radit bertanya pada polisi yang sedang bertugas.


"Maaf, tapi pemeriksaannya belum selesai. Saksi tidak bisa ditemui oleh siapapun selama penyelidikan masih berlangsung" ujar polisi menanggapi permintaan Radit.


"Hanya sebentar saja. Anda bisa mendengarkan percakapan kami melalui kamera pengawas" ujar Radit berusaha meyakinkan polisi.


Sesaat polisi itu terdiam. Dia sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan Radit.


"Baiklah, tapi hanya sebentar. Aku akan mengawasi kalian melalui kamera pengawas" polisi bicara pada Radit sambil membuka pintu ruang interogasi


"Ya, terimakasih, Pak" Raditpun tersenyum lega saat polisi mengizinkannya menemui Bagas diruang interogasi. Dia tidak membuang waktu dan segera masuk menemui Bagas.


"Halo, Pak Bagas? Bagaimana perasaan anda berada diruang ini?" Radit bicara dengan nada mengejek.


Bagas yang sedang menundukkan kepala langsung menoleh setelah mendengar suara seseorang bicara padanya


"Kamu, apa yang kamu lakukan disini?" tanya Bagas dengan wajah kesal.


"Tenanglah. Aku datang kemari hanya ingin mengucapkan selamat datang padamu" Radit bicara dengan senyum dibibirnya


"Selamat datang? Jadi ini semua ulahmu?" tanya Bagas meyakinkan diri


"Eits, no no no. Ini bukan ulahku, tapi anda sendiri yang melakukan kekerasan terhadap banyak wanita. Aku hanya menunjukkan bukti pada semua orang saja" Radit mengangkat satu jari telunjuknya sambil menggelengkan kepala berkali-kali secara serempak


"Kurang ajar! Kenapa kamu lakukan ini kepadaku? Kamu sudah mengganggu istriku dan sekarang kamu juga telah merusak hidupku!"


"Aku ingin menjelaskan padamu. Bukan aku yang menggoda istrimu, tapi dia yang berusaha menggodaku. Jika kamu ingin menyalahkan seseorang, maka salahkan istrimu sendiri. Jangan libatkan orang lain dalam masalah kalian berdua!" Kini Radit bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam.


"Jika kamu tidak menggodanya lebih dulu, aku tidak mungkin mengusikmu"


"Pikirkan lagi, kapan aku menggoda istrimu? Apa yang aku lakukan padanya sampai kamu berpikir aku menggodanya. Itu hanya imajinasi dan ketakutanmu saja!"


"Hah. Omong kosong! Kamu membuatku masuk penjara karena ingin mengambil istriku kan?"

__ADS_1


"Bodoh. Aku sudah punya istri yang cantik dan baik, kenapa aku harus mengambil istrimu? Pikirkan baik-baik selama kamu didalam penjara. Saat kamu keluar, kamu akan sadar kalau kebodohanmu itu yang membuatmu kehilangan segalanya"


__ADS_2