
"Lathan, apa kamu dan Ardhan sudah pulang kerumah?".
Radit sedang menghubungi Lathan setelah dia bicara dengan polisi yang melakukan penyelidikan.
"Sudah Pih. Kami sudah sampai sejak tadi. Emm … bagaimana situasi dihotel, Pih?". Lathan bertanya dengan sedikit ragu. Dia sedang duduk diteras kamarnya sambil menikmati sejuknya udara sore hari.
"Polisi masih menyelidiki TKP, entah apa yang mereka cari sebenarnya. Mereka hanya memeriksa tempat yang sama berkali-kali".
Radit menanggapi pertanyaan Lathan dengan sikap yang acuh tak acuh.
"Apa maksud Papi? Jangan bilang kalau Papi meragukan pekerjaan mereka?". Lathan bertanya dengan senyum tipis dibibirnya.
"Papi bukan meragukan pekerjaan mereka. Papi hanya meragukan cara kerja mereka yang lamban dan membuat Papi semakin rugi".
Lathan kembali tersenyum mendengar ucapan Radit.
"Jangan bilang kalau Papi ingin bermain jadi detektif dan melakukan penyelidikan juga?". Lathan bicara dengan nada yang sedikit mengejek.
"Apa salahnya? Papi yakin kalau kita bisa bekerja lebih cepat dari mereka. Mereka itu terlalu banyak aturan yang harus ditaati. Kita bisa melakukan apapun yang kita mau tanpa harus terikat apapun, benar kan?" ujar Radit meminta persetujuan.
"Ya Papi selalu benar. Jadi apa yang Papi inginkan dariku? Aku yakin Papi sudah punya rencana sendiri" ujar Lathan dengan percaya diri.
"Datanglah kemari bersama Ardhan dan kita akan tangkah dalang dibalik semua kekacauan ini". Radit menyeringai tipis saat dia meminta Lathan untuk datang.
"Kenapa Ardhan juga harus ikut? Dia masih kecil dan masih harus sekolah". Lathan menolak untuk mengajak Ardhan bersamanya karena dia tidak tahu kemampuan sang adik.
"Dia itu bukan anak kecil lagi. Dia sudah kelas 1 SMP dan Papi yakin kalau dia juga bisa membantu kita". Radit menanggapi dengan sikap yang tenang.
"Papi yakin ingin mengajak Ardhan kehotel?". Lathan kembali bertanya untuk memastikan keputusan sang ayah.
"Tentu saja. Papi kenal dengan kemampuan anak-anak Papi. Papi yakin kalian bisa membantu Papi menyelesaikan masalah ini" ujar Radit dengan penuh percaya diri.
"Maksud Papi …? Ardhan juga bisa bantu Papi menyelesaikan masalah ini?" Lathan memicingkan mata saat dia bertanya.
"Ya. Dia juga bisa bantu Papi, jadi ajak saja dia kesini. Kalian bisa berangkat sekolah darisini. Katakan pada mami kalian kalau Papi yang minta".
Lathan terdiam mempertimbangkan perkataan Radit.
"Baiklah, Pih. Aku akan kesana sekarang bersama Ardhan"
"Ya. Papi tunggu. Hati-hati berkendara" ujar Radit sebelum mengakhiri panggilan teleponnya.
"Baik, Pih".
Lathan pun bergegas mengganti pakaiannya setelah menutup telepon dari Radit. Dia mengenakan t-shirt polos yang dilapis dengan jaket, lalu celana panjang, dan dilengkapi dengan sepatu kets.
Setelah selesai dengan penampilannya, Lathan langsung bergegas kekamar Ardhan.
Tok tok tok
__ADS_1
"Dhan …".
Lathan langsung membuka pintu kamar sang adik dan memanggilnya dari ambang pintu.
"Dhan, kamu dimana?". Lathan kembali mencari sang adik disetiap sudut kamarnya.
"Apa yang kakak lakukan dikamarku?" tanya Ardhan yang heran melihat Lathan ada dikamarnya.
"Cepat bersiap. Papi meminta kita datang kehotel". Lathan langsung berterus terang tanpa basa basi.
"Kehotel? Kenapa papi meminta kita kehotel?" Ardhan bertanya pada Lathan dengan dahi yang berkerut untuk memastikan tujuan Radit memanggil mereka.
"Tidak perlu banyak tanya. Cepat bersiap dan kita langsung pergi sekarang juga. Bawa juga keperluan sekolahmu untuk besok" Lathan bicara dengan sikap yang tenang.
"Apa kita akan menginap dihotel? Bagaimana dengan mami? Apa mami akan mengizinkan kita pergi?". Ardhan memicingkan mata saat dia bertanya pada Lathan.
"Tenang saja. Papi sudah membicarakannya dengan mami, jadi pasti kita akan diberikan izin untuk pergi tanpa ada masalah".
Ardhan memperhatikan ekspresi Lathan yang serius dan dingin.
"Apa Kakak yakin?" tanya Ardhan lagi memastikan .
"Cepatlah. Kenapa kamu cerewet sekali" ujar Lathan yang mulai kesal.
"Baiklah-baiklah. Aku akan siap-siap sekarang juga".
Ardhan pun segera berganti pakaian dan menyiapkan semua keperluan yang butuhkan untuk sekolah besok.
"Ardhan Prayugi Nugraha … berapa lama lagi kamu akan selesai? Sudah hampir 1 jam aku menunggu kamu siap-siap".
Lathan yang mulai kesal karena menunggu Ardhan, akhirnya memanggil nama lengkap sang adik dengan nada bicara yang dingin.
"Iya iya. Aku sudah siap. Ayo pergi, Kak" ujar Ardhan yang kini telah berdiri dihadapan Lathan.
"Eh tunggu! Kamu pergi dengan begini saja?" tanya Lathan setelah melihat penampilan Ardhan.
"Iya. Memang apa yang salah?" Ardhan bertanya dengan raut wajah bingung sambil memperhatikan dirinya sendiri.
"Kamu bersiap selama 1 jam, dan ini penampilanmu?".
Lathan mencibir Ardhan dengan penampilannya yang biasa saja. Hampir tidak berbeda jauh dengan penampilan Lathan.
"Ada apa dengan penampilanku?" tanya Ardhan sambil memperhatikan penampilannya sendiri yang menurutnya tidak ada masalah.
"Tidak ada. Ayo cepat pergi!" ujar Lathan sambil berlalu pergi meninggalkan kamar Ardhan dengan nada bicara yang kesal.
"Ada apa dengan kakak? Aneh sekali" Ardhan pun langsung berjalan mengikuti Lathan dari belakang.
"Mami, kami mau pergi dulu. Papi meminta kami datang kehotel. Sepertinya kami juga akan menginap disana".
__ADS_1
Lathan meminta izin pada Andra yang sedang menonton televisi bersama Lili.
"Tata, Lili duga nau itut dengan Tata" ujar Lili yang ikut dengan Lathan dan bicara dengan cadelnya.
"Lili dirumah saja temani mami. Nanti kalau Lili ikut kasihan mami sendiri". Lathan bicara dengan nada yang lembut pada Lili.
"Tapi Lili duga nau tetemu Papi". Lili merengek dengan bibir mengerucut manja pada Lathan.
"Lili, nanti Lili kesana sama Mami saja ya. Sekarang sudah sore, papi juga pasti sibuk sekali dihotel, iya kan?" Andra membujuk Lili dengan lembut.
"Baik, Mami" Lili pun setuju meskipun dengan raut wajah terpaksa.
"Kalau begitu kami pergi dulu Mih. Muach. Dah Mami"
"Muach. Daah Mami, daah Lili".
Lathan pamit terlebih dulu diikuti Ardhan kemudian.
"Ya, kalian hati-hati ya"
"Baik, Mih". Ardhan dan Lathan pun langsung beranjak pergi meninggalkan rumah.
"Pasang sabuk pengamanmu" ujar Lathan sebelum mulai berkendara.
"Sebenarnya kenapa papi meminta kita pergi kehotel ya? Bukannya sekarang ini dihotel sedang sibuk karena kasus itu?".
Ardhan bertanya pada Lathan setelah dia memakai sabuk pengamannya.
"Kakak juga tidak tahu. Kita akan tahu setelah tiba disana" jawab Lathan yang mulai menyalakan mobilnya.
"Baiklah". Ardhan tidak mengatakan apapun lagi. Mereka pun mulai berkendara meninggalkan rumah menuju hotel Radit.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup jauh, akhirnya Lathan dan Ardhan tiba dihotel. Mereka berjalan masuk kehotel sambil memperhatikan sekelilingnya. Ada beberapa mobil polisi yang terparkir disana. Para polisi juga terlihat disekitar hotel. Ada yang mengenakan seragam polisi lengkap dan ada juga yang hanya menggunakan kaosnya saja atau rompi saja.
"Ternyata ramai sekali. Pantas saja banyak tamu hotel yang merasa terganggu dan memilih pindah hotel" ujar Ardhan sambil terus memperhatikan sekelilingnya.
"Kamu benar. Ini sangat menyebalkan. Aku sendiri saja tidak ingin berlama-lama disini" ujar Lathan dengan nada bicara yang ketus dan tatapan mata yang sinis.
"Sudahlah. Ayo jalan" Lathan kembali melangkahkan kakinya diikuti Ardhan disampingnya
"Kak, itu Papi. Papi!" Ardhan menunjuk Radit yang berada tidak jauh didepannya lalu memanggilnya sambil berjalan menghampiri sang ayah.
Radit yang sedang bicara dengan Candra langsung menoleh begitu mendengar suara putranya memanggilnya.
"Kalian sudah sampai. Kita langsung keruangan Papi saja", ujar Radit sambil berlalu menuju kantornya diikuti kedua putranya dan Candra yang mengikuti dari belakang.
"Apa yang akan Papi lakukan sekarang? Sepertinya situasi hotel sangat kacau?" tanya Lathan setelah mereka tiba diruangan Radit.
"Ya, memang sangat kacau. Karena itu Papi ingin meminta bantuan kalian berdua untuk menyelesaikan masalah ini".
__ADS_1
Ardhan dan Lathan saling menoleh satu sama lain setelah mendengar ucapan Radit.
"Apa yang harus kami lakukan, Pih?"