Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Pertemuan Lathan Dan Vio


__ADS_3

Leo menatap tak percaya pada apa yang baru saja didengarnya. Dia menatap Lathan dengan tatapan pilu.


"Lathan, apa kamu baik-baik saja?" ujar Leo dengan nada bicara yang terdengar sedih.


Lathan mengangguk dengan senyum dibibirnya.


"Aku baik-baik saja, Kek. Kakek tidak perlu khawatir" tulis Lathan diatas tablet miliknya.


"Kemarilah, Nak" Leo melambaikan tangan pada Lathan dan memintanya untuk mendekati. Lathan pun mengikuti keinginan Leo. Dia berjalan perlahan mendekati sang kakek.


"Lathan, Kakek minta maaf, karena menyembunyikan kebenarannya darimu. Tapi kami tidak memiliki niat buruk sama sekali. Saat itu kami semua memang tidak memiliki pilihan lain. Kami ingin membesarkanmu tanpa kekurangan kasih sayang sama sekali, dan inilah satu-satunya jalan yang bisa kami ambil untuk kebaikanmu" Leo bicara pada Lathan dengan sangat hangat sambil memegangi tangan Lathan dan mengusap lembut punggung tangannya.


"Aku mengerti, Kakek. Aku sama sekali tidak marah. Bagiku yang terpenting adalah aku tetap berasal dari keluarga ini. Aku juga beruntung karena punya Papi yang sangat menyayangiku" karena Leo memegangi tangannya, Lathan kesulitan untuk menulis apa yang ingin dia katakan. Akhirnya Lathan pun menjawab Leo meskipun dengan suara yang lemah.


Radit tersenyum menatap Lathan dengan senyum penuh haru.


"Papi juga senang bisa merawatmu" Radit tersenyum lembut menanggapi Lathan.


"Kakek, bolehkah aku berbicara dengan nenek?" Seketika suasana berubah sunyi. Radit dan Lathan saling menatap satu sama lain. Mereka merasa bingung dengan apa yang harus dikatakan pada Lathan.


Selama ini meskipun Radit berkunjung, dia tidak pernah membicarakan Lathan pada Vio. Karena saat Lathan masih bayi, Vio sempat berteriak histeris begitu Leo memberitahu kalau Lathan adalah anak Lea.


"Kenapa kamu ingin bicara dengan nenek?" tanya Leo yang penasaran dengan maksud Lathan.


"Aku hanya ingin nenek tahu keberadaanku" Lathan menundukkan kepala menanggapi pertanyaan Leo.


Cukup lama Leo terdiam mempertimbangkan permintaan Lathan. Akhirnya Leo mengizinkan Lathan bertemu Vio.


"Dit, ajak Lathan menemui mamamu"


"Tapi, Pah. Apa Papa yakin ini tidak papa? Sudah lama mama tidak bereaksi pada Lathan.


"Kita harus mencobanya. Seperti yang kamu bilang, sudah lama mama tidak bereaksi. mungkin sekarang dia sudah bisa memerimanya? Itu sudah lama terjadi, siapa tahu kali ini mamamu akan menunjukkan respon positif pada Lathan"


Radit kembali terdiam. Dia menatap Lathan dengan tatapan penuh keraguan dan rasa khawatir.


"Lathan, apa kamu yakin ingin bertemu dan bicara dengan nenek?"

__ADS_1


"Euh" Lathan mengangguk dengan penuh percaya diri ketika menanggapi pertanyaan Radit.


"Baiklah, kalau begitu bagaimana kalau kita pergi temui nenek sekarang?" Radit bertanya sambil mengulurkan sebelah tangannya pada Lathan.


Lathan pun menganguk setuju sambil meraih sebelah tangan Radit dan mulai beranjak dari duduknya.


"Sayang, apa kamu akan ikut menemui nenek bersama kami?". Radit bertanya pada Andra yang sejak tadi hanya diam saja sambil terus memperhatikan mereka.


"Tidak. Kalian saja duluan. Aku akan menemui mama sendiri nanti" Andra menanggapi sambil menggelengkan kepala perlahan.


"Kalau begitu kami pergi dulu" ujar Radit yang berjalan pergi meninggalkan Leo dan Andra sambil bergandengan tangan dengan Lathan.


Radit dan Lathan berjalan menuju teras belakang, dimana Vio sedang duduk sendiri disana sambil menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong.


Radit berjalan perlahan mendekati Vio. Dia berjongkok dihadapannya sambil mendongak menatap wajah Vio.


"Mama, bagaimana kabar Mama? Maafkan aku karena sangat jarang datang kemari untuk menemui Mama. Kali ini aku ingin memperkenalkan seseorang pada Mama" Vio mendengarkan sambil menatap lembut wajah Radit.


"Apa Mama ingat dengan bayi yang dilahirkan kak Lea waktu itu?" Vio memiringkan kepalanya dan menatap Radit penuh tanya.


"Sekarang dia sudah besar. Dia sudah sekolah dan tumbuh jadi anak yang cerdas" Radit menoleh pada Lathan yang berdiri tidak jauh darinya. Dia tersenyum lalu melambaikan tangan pada Lathan.


"Lea, Lea, Lea, Lea" Vio terus memanggil nama Lea berulang kali. Dia terlihat bingung dan sedih lalu beberapa saat kemudian Vio pun menangis.


"Lea, dia tidak salah. Mereka jahat! Mereka pantas dihukum! Putriku yang malang. Bagaimana bisa kamu menjadi korbannya? Mereka pikir Lea orang miskin yang akan merebut harta mereka?!" Vio terus menggerutu dan memaki orang-orang yang mencelakai Lea.


"Mama, tenanglah. Lihatlah ini. Dia anaknya kak Lea. Tapi bukankah dia sangat mirip dengan kak Galen?" Radit bicara sambil memegangi punggung Lathan disertai senyum lembut dibibirnya.


Vio menatap Lathan dengan seksama. Dia terus memperhatikan wajah Lathan yang tersenyum polos padanya. Perlahan, Vio pun berhenti menangis.


"Nenek, apa mau bermain denganku?" tanya Lathan dengan nada bicara yang ceria dan ekspresi wajah yang lucu juga menggemaskan.


"Main?" Vio terlihat bingung mendengar ajakan dari Lathan.


"Ya, main. Bagaimana kalau kita main bola tangkap?" Lathan menjawab sambil tersenyum disertai anggukan kepalanya.


"Euh!" akhirnya Vio mengangguk setuju dengan senyum ceria. Dia pun berdiri sambil bergandengan tangan dengan Lathan. Mereka berlari menuju pekarangan rumah untuk bermain bola.

__ADS_1


"Nenek, ambil ini!" ujar Lathan sambil melempar bila kearah Vio. Begitupun Vio, dia langsung melemparkannya kepada Lathan setelah menangkapnya.


Vio dan Lathan terlihat bahagia. Radit, Leo dan Andra pun ikut tersenyum melihat tawa bahagia dari wajah Vio.


"Akhirnya mama bisa tertawa lagi" ujar Radit yang tersenyum menatap Vio.


"Ya, setelah hampir 8 tahun, akhirnya mamamu bisa kembali ceria" sahut Leo menanggapi ucapan Radit.


"Semoga saja ini bisa jadi awal yang bagus untuk perkembangan kesehatan mama" sambung Andra yang juga ikut menanggapi.


Mereka terus memandangi Lathan dan Vio yang bermain dengan cerianya.


Setelah puas bermain, Vio dan Lathan menikmati cemilan bersama sebelum waktu makan malam tiba.


"Nenek, apa nenek senang?" tanya Lathan dengan senyum dibibirnya.


"Ya, aku sangat senang" Vio menanggapi dengan senyum ceria.


"Apa nanti nenek mau makan denganku?" Lathan terlihat gugup menunggu jawaban yang akan diberikan Vio.


"Makan? Makan bersama? Ayo!" Vio selalu bertanya dengan wajah penasaran dan Lathan selalu menganggukan kepala menanggapi setiap pertanyaan Vio


"Yeey, makan bersama nenek!" seru Lathan dengan sangat ceria.


"Dit, Papa harap kamu sering main kemari. Sepertinya mamamu mulai membuka hatinya untuk Lathan. Seperti yang kamu lihat, sejauh ini perkembangannya sangat bagus" Leo bicara pada Radit dengan pandangan yang sama sekali tidak teralihkan dari Vio.


"Aku berencana untuk membiarkan Andra tinggal disini sampai dia melahirkan. Aku selalu merasa khawatir kalau meninggalkan dia dirumah. Ya meskipun ada banyak pengawal yang berjaga, aku tetap tidak merasa tenang sama sekali. Bagaimana menurut Papa? Apa tidak masalah?"


"Tentu. Papa senang jika kamu berencana membiarkan Andra tinggal disini. Dengan begitu, mamamu tidak akan merasa kesepian karena hanya berdua saja dengan papa" Leo terlihat bahagia ketika Radit mengatakan akan tinggal disana untuk sementara waktu.


"Terimakasih, Pah" ujar Radit lembut


"Papi! Aku juga mau tinggal disini dengan mami! Aku tidak mau tinggal berdua saja dengan Papi". Mendengar Radit meminta izin pada Leo untuk tinggal sementara, Lathan pun langsung menyela. Dia juga ingin ikut tinggal dirumah Leo dan tidak mau jauh dari Andra.


"Tapi Lathan, kamu harus sekolah. Sekolahmu cukup jauh darisini, Papi takut jika kamu akan kelelahan jika berangkat dan pulang sekolah darisini" Radit berusaha meyakinkan Lathan agar tetap tinggal dirumah mereka.


"Tidak mau. Jika mami disini, maka aku juga akan tinggal disini titik" seru Lathan memprotes Radit

__ADS_1


"Baiklah, Papi kalah. Kita akan tinggal disini"


"Hore … tinggal dirumah nenek!"


__ADS_2