Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Hari Pertama Andra Keperusahaan Satya


__ADS_3

Kantor Luna sedang sibuk mempersiapkan penyambutan untuk dewan direksi yang baru. Dia akan langsung mengawasi perusahaan yang dikendalikan oleh Luna


"Kamu sudah siapkan semuanya? Laporan pun harus disiapkan. Aku yakin kalau dia akan meminta laporan keuangan untuk melihat sejauh mana perkembangan perusahaan kita" Luna memberikan perintah pada manajer keuangan untuk mempersiapkan apa saja yang mungkin akan diperiksa oleh dewan direksi yang baru saja akan bergabung dengan perusahaan mereka


"Sudah bu, saya sudah menyiapkan semuanya. Saat beliau meminta laporan itu kami akan segera memberikannya" Manajer keuangan telah siap dengan apa yang diminta Luna


"Bagus! Kalau begitu kita tunggu dia sekarang!" Luna dan beberapa manajer lain pun melangkahkan kaki menuju lobby untuk menunggu pemegang saham terbesar mereka yang otomatis akan menjadi CEO perusahaan mereka. Karyawan lain pun sudah berbaris di dekat lobby menunggu CEO baru mereka datang,


Tak berselang lama sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan pintu masuk utama. Seorang wanita cantik turun dari mobil dengan bantuan dari pria yang sebelumnya duduk didepan


Tubuh tinggi semampai dengan kulit putih bersih  berbalut setelan kerja formal yang membentuk lekuk tubunya membuat wanita itu terlihat sangat anggun. Wajah cantik dengan rambut panjang yang di curly dibagian ujung rambut menampilkan kesan elegan. Langkah kaki yang berirama dengan wajah penuh keyakinan dan percaya diri membuatnya terlihat berwibawa


"Andra?!" Luna sangat terkejut ketika yang melangkah dihadapannya adalah Andra, adik angkat yang selama ini selalu dia susahkan


"Selamat pagi semuanya. Senang melihat kalian semua berkumpul disini" Andra menyapa dengan senyum lembut yang sangat elegan


"Selamat pagi!!!" Semua menjawab dengan serempak sapan dari Andra


"Bu Andra, ini bu Luna. Dia merupakan direktur pelaksana diperusahaan ini. Bu Luna, ini Bu Andra, beliau adalah CEO baru yang ditujuk langsung untuk perusahaan ini " Rian yang ditunjuk sebagai asisten Andra oleh Radit memperkenalkan mereka berdua


"Halo bu Luna, lama tidak berjumpa. Ku harap kita bisa bekerja sama dengan semua urusan mengenai perusahaan" Andra mengulurkan sebelah tangannya mengajak Luna berjabat tangan.


"Si ****** ini kenapa ada disini? Bagaimana bisa dia menjadi CEO baru perusahaan ini? Jangan-jangan pemegang saham rahasia dengan jumlah saham terbesar selama ini adalah ... Radit?"Luna terus berikir dan mengabaikan tangan Andra yang terulur ke arahnya


Luna terus diam sambil terus menatap tangan Andra yang terulur ke arahnya. Tanpa dia sadari orang-orang mulai membicarakannya


"Kenapa bu Luna hanya diam saja? Bukankah itu tidak sopan? Dia membiarkan tangan atasannya terus seperti itu"


"Kamu benar. Bu Luna sepertinya tidak menghormati CEO baru kita, kan?"

__ADS_1


"Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya?"


"Entahlah, tapi sampai kapan bu Luna akan membiarkan tangan bu Andra seperti itu?"


"Dengar itu kak Luna. Aku akan membuatmu perlahan dibenci orang lain. Jika selama ini kalian yang dengan sengaja tidak menunjukkan ku dihadapan banyak orang karena malu. Maka sekarang aku yang akan membuatmu menyembunyikan dirimu sendiri dari hadapan banyak orang karena malu" Andra tetap tersenyum manis, namun dalam hatinya dia tertawa lepas melihat orang-orang mulai membicarakan sikap Luna


"Bu Luna! Bu Luna!"


"Ah maafkan saya" Luna tersadar dari lamunannya setelah seorang karyawan menegurnya


"Semoga kita dapat belerja sama kedepannya" Luna menerima uluran  tangan Andra dengan sangat terpaksa


"Tentu saja. Aku akan membuatmu mengerti siapa kamu sekarang. Kakakku tersayang!" Andra merendahkan suaranya ketika mengatakan kalimat terakhirnya, namun senyum yang indah tidak hilang dari wajah cantiknya


Sesaat Luna teregun melihat sikap Andra sekarang yang lebih berani saat bicara dengannya. Sorot mata Andra sama sekali tidak menunjukkan keraguan atau rasa takut. Dia langsung menatap mata Luna tanpa ragu


"Ada apa dengan tatapan mata itu? Dia sudah tidak takut lagi padaku? Bukankah selama ini dia hanya akan menganggukkan kepala dengan wajah tertunduk saat bicara denganku?" Dahi Luna berkerut heran dengan batin yang tak hentinya bertanya karena perubahan sikap Andra


"Terimakasih pak Sean. Saya merasa sangat terhormat dengan penyambutan yang disiapkan untuk saya" Andra tersenyum ramah menanggapi ucapan Sean


"Tidak masalah. Silahkan kesebelah sini" Sean menunjukkan jalan pada Andra dan Luna diikuti karyawan lainnya


"Kak Luna, bagaimana rasanya bekerja sama dengan adik sendiri? Eh maksudku adik angkatmu sendiri" Andra berbisik dengan senyum manis di dekat telinga Luna


"Jangan sombong kamu. Aku akan buat kamu menyesal bergabung dengan perusahaan ini" Luna bicara dengan kesal pada Andra


"Tenanglah kakak. Jika kamu melakukan itu, artinya kamu menghancurkan perusahaan sendiri. Ini kan perusahaan yang sudah ayah rintis selama dia masih hidup. Jika kamu menghancurkannya, kamu mau tinggal dimana?" Andra mengingatkan Luna dengan sikap yang tenang


"Tapi jika itu yang kakak mau, aku pasti akan membantu. Tapi ingat bukan aku yang akan disalahkan melainkan kakak yang akan disalahkan sebagai direktur pelaksana" Andra dengan sangat tenang bicara pada Luna dan itu membuat Luna diam tanpa kata

__ADS_1


Andra menikmati jamuan bersama para karyawan barunya dengan sangat ceria sedangkan Luna terlihat sangat terbebani selama jamuan makan berlangsung


***


Rita dan Anggi saat ini sedang berkemas untuk meninggalkan pak Danu


"Apa kamu sudah membawa semua barang milikmu?" Tanya Anggi pada Rita yang kini sudah membawa koper ditangannya untuk bersiap meninggalkan rumah Danu yang sangat besar


"Ya, aku sudah membawa semua barang milikku. Kita bisa pergi sekarang" Rita menjawab dengan sikap yang tenang


"Ya ayo pergi. Besok kita akan pergi ke pengadilan untuk mendaftarkan gugatan cerai kita" Anggi pun mengajak Rita meninggalkan rumah dan berencana untuk pergi ke pengadilan agama esok hari yabg dibalas anggukan kepala oleh Rita


"Ehm"


Sore harinya Pak Danu baru pulang dari tempat kerja. Dia cukup heran karena kedua istrinya tidak terlihat menyambut kedatangannya


"Rita... ! Anggi... ! Aku pulang! Kalian dimana?" Pak Danu berteriak memanggil kedua istrinya


"Bi...!" Akhirnya dia memanggil pembantu setelah beberapa kali tidak ada yang menanggapi saat memanggil kedua istrinya


"Iya tuan. Ada apa?" Tanya pembantu yang biasanya tidak pernah berurusan langsung dengan Danu, dia selalu berurusan dengan Rita dan Anggi


"Dimana kedua istriku?" Tanya Danu dengan sikap sombongnya


"Kedua nyonya sudah pergi tadi siang. Mereka membawa koper besar" Pembantu itu menjelaskan apa yang dia lihat siang tadi


"Apa?! Pergi kemana mereka?! Dan kenapa membawa koper?!" Danu sangat terkejut mendengar kedua istrinya pergi


"Saya tidak tahu tuan" Jawab pembantu itu dengan kepala tertunduk

__ADS_1


"Jangan-jangan …" Danu langsung bergegas pergi menuju kamar istrinya secara bergantian dan memeriksa lemari pakaian dan tempat perhiasan mereka


"Sial! Mereka benar-benar pergi disaat perusahaanku sedang mengalami krisis. Apa yang mereka pikirkan? Mereka pikir bisa lepas dari tanganku? Jangan mimpi!"


__ADS_2