Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Kakak Adik Yang Sinting


__ADS_3

Disekolah Lathan.


Lathan berjalan masuk menuju kelasnya. Sepanjang koridor, banyak anak gadis yang mengintipnya dari jendela kelas mereka hanya untuk melihat wajah Lathan saja.


"Kak Lathan, aku membawa kue untukmu. Kamu bisa makan saat istirahat nanti" ujar salah seorang adik kelas sambil menyodorkan sebuah box kue dengan tangannya sendiri.


"Maaf, aku tidak suka makan-makanan manis" jawab Lathan sambil berlalu tanpa mengambil kue tersebut. Dia sama sekali tidak mempedulikan gadis itu yang kini tertunduk kecewa sambil memegangi sekotak kue untuknya.


"Fan, apa temanmu itu memang suka bersikap begitu? Dia sama sekali tidak menghargai perasaan orang lain padanya. Apa salahnya kalau sekedar menerima kue itu?" ujar Zara dengan nada yang sinis. Dia juga menatap sinis Lathan yang mulai berjalan ke tempat duduknya.


"Jika aku jadi Lathan, aku juga akan bersikap yang sama. Bagaimana bisa selalu menjaga perasaan orang, jika sekali mengambil kue itu maka kedepannya kamu bisa saja diganggu dengan hal yang sama setiap harinya".


Fandy menanggapi ucapan sodaranya dengan sikap acuh tak acuh.


"Apa maksudmu? Itu kan hanya sekotak kecil kue saja".


Zara bertanya dengan sikap yang sinis serta dahi yang berkerut karena heran.


"Saat masih di tingkat SMP, Lathan selalu bersikap sopan dan menerima hadiah dari para gadis yang mendekatinya, akibatnya dia selalu dibanjiri hadiah setiap hari. Dan saat dia menolak menerima hadiah untuk pertama kalinya, mereka mengatai Lathan sombong dan sebagainya. Sejak itu, Lathan lebih memilih bersikap cuek dan tidak menerima hadiah sama sekali daripada diganggu oleh mereka setiap hari".


Fandy menjelaskan dengan sikap yang tenang. Diapun beranjak pergi meninggalkan Zara dan mendekati Lathan.


Zara menatap Fandy dan Lathan yang kini sedang berbincang ditempat duduk mereka.


"Apa iya dia seperti itu? Jelas-jelas terlihat kalau dia itu hanya pemuda kaya yang sombong dan arogan"


Tiba-tiba seorang gadis mendekati meja Lathan dengan wajah penuh emosi


Brak


"Apa maksudnya ini? Kamu yang melakukan semua itu pada perusahaan papaku kan?"


Gadis itu berteriak dan menggebrak meja sambil menunjukkan selembar kertas bertuliskan 'Perusahaan Nugraha tidak akan menerima kerjasama dengan perusahaan Diningrat'


"Oh, kamu belum mengerti? Bukankah sebelumnya kamu mengancamku dengan ini? Karena sekarang perusahaan keluarga kita tidak akan pernah bekerjasama, jadi kamu tidak akan bisa lagi mengancamku ataupun menggangguku".


Lathan menanggapi dengan sikap acuh tak acuh dan senyum tipis dibibirnya.

__ADS_1


"Kamu jahat! Hanya karena itu kamu mengganggu perusahaan papaku? Kamu tahu efek dari surat itu untuk perusahaan papaku? Gara-gara itu saham perusahaan turun karena mereka mengira kalau perusahaan papaku membuat kesalahan pada keluarga Nugraha!"


Gadis itu bicara dengan luapan emosinya pada Lathan. Dia terlihat kesal dan berusaha menahan tangis.


"Kamu baru tahu kalau aku jahat? Kamu pikir hanya dengan ancaman bisnis seperti itu kamu bisa mengaturku? Nona, aku paling tidak suka disepelekan. Kamu tidak bisa mengaturku semaumu. Hanya karena perusahaan keluarga kita terikat bisnis, bukan berarti kamu bisa memperlakukanku seenaknya. Aku tidak suka diintimidasi. Kali ini aku hanya memberikan surat peringatan padamu, lain kali mungkin saja aku langsung memberikan surat lelang perusahaanmu".


Lathan bicara dengan sikap yang dingin dan sorot mata yang tajam. Dia langsung memalingkan wajah dari gadis itu setelah bicara.


"Huh …!"


Gadis itu berbalik dan pergi meninggalkan Lathan dengan derai air mata dipipinya.


"Ini kan gadis yang waktu itu memberikan undangan pada Lathan? Apalagi yang dia lakukan sampai anak gadis orang menangis seperti itu? Apa kali ini dia menolak cintanya?"


Zara berpikir sendiri sambil menatap gadis itu dan juga Lathan secara bergantian.


Fandy yang berada disamping Lathan hanya bisa menggelengkan kepala melihat ulah temannya itu. Dia sudah sangat tahu bagaimana tempramen Lathan karena sudah bersamanya dari pertama masuk ke sekolah itu.


"Lagi-lagi membuat anak orang menangis. Bagaimana jika adik perempuanmu yang menangis seperti itu?" ujar Fandy dengan sikap yang tenang.


Lathan menanggapi Fandy dengan sikap yang tenang. Dia terkesan acuh tak acuh saat bicara sambil memainkan ponselnya dan berkirim pesan dengan sang adik.


"Apa masalahmu sudah selesai?" tulisnya dalam pesan untuk Ardhan.


"Tentu. Itu bukan masalah besar. Aku bisa mengatasinya" balas Ardhan dalam pesannya.


"Kamu yakin kalau itu sudah selesai? Jangan sampai masih ada akar yang tersisa dan menimbulkan masalah baru lagi dikemudian hari"


"Untuk masalah disekolahku dan juga senior yang selalu melakukan bullying sudah selesai. Tapi aku tidak tahu apa akan ada bibit baru lagi atau tidak. Kakak tidak perlu khawatir. Aku pasti bisa mengatasinya"


"Baguslah kalau begitu. Kuharap kamu tidak membiarkan ada luka lagi ditubuhmu"


"Siap. Aku janji tidak akan terjadi lagi"


"Sedang berkirim pesan dengan siapa? Sepertinya serius sekali" tanya Fandy yang sedikit penasaran karena Lathan sibuk dengan ponselnya.


"Adikku. Hanya bertanya apa dia selesai bermain atau belum?"

__ADS_1


"Bermain?" tanya Fandy yang sedang bingung.


"Ya, bermain. Jika dia belum selesai, maka aku akan dengan senang hati menemaninya bermain".


Lathan menanggapi Fandy dengan sikap yang tenang. Fandy juga tahu apa yang sebenarnya dimaksud oleh Lathan.


"Gila. Kalian berdua adalah kakak adik yang sinting. Aku yakin mainan kalian itu pasti sangat menyenangkan sampai membuat perusahaan orang lain atau mungkin keluarga orang lain menghilang"


Fandy mencibir Lathan dengan sikap yang tenang sambil menatap wajah sang teman baik.


"Tidak sampai keluarga orang lain menghilang juga. Hanya saja mungkin keluarganya hancur an berada dipinggiran jalan" ujar Lathan yang kembali menanggapi.


"Terserah kamu sajalah. Aku bisa mati berdiri jika selalu meladeni apa yang kamu ucapkan"


Fandy pun. bicara sambil beranjak pergi meninggalkan Lathan.


"Mau kemana?" tanya Lathan melihat Fandy pergi.


Fandy menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Lathan.


"Ke kantin. Mengisi perut. Mau ikut?".


Sesaat Lathan terdiam mempertimbangkan.


"Baiklah. Ayo pergi".


Lathan pun beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Fandy berjalan menuju kantin.


Meskipun semua orang tahu mengenai kejadian sebelumnya, dimana Lathan membuat anak gadis orang menangis. Tapi itu tidak membuat mereka berhenti berteriak saat Lathan melintasi ruangan mereka.


"Kukira gelombang penggemarmu akan berkurang setelah tahu kalau kamu membuat anak orang menangis. Ternyata itu sama sekali tidak memiliki pengaruh apapun pada reputasimu".


Fandy bicara sambil berjalan melintasi koridor sekolah untuk menuju ke kantin.


"Jika hal seperti itu memiliki pengaruh, maka aku tidak akan direpotkan dengan para gadis yang ingin dekat denganku. Aku bisa selalu membuat masalah agar tidak akan ada yang berani menggangguku" ujar Lathan dengan sikap tenang sambil terus melangkahkan kaki menuju Kantin.


"Kalau begitu tidak perlu membuat masalah apapun disekolah ataupun diluar sekolah.

__ADS_1


__ADS_2