Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Tampan Diluar, Tapi Menyeramkan Didalam


__ADS_3

Perusahaan Surya.


Saat ini Surya sedang bersama asistennya dan membahas mengenai Andra dan Radit.


“Hanya dalam beberapa hari saja sudah banyak hal yang terjadi. Karena sekarang perusahaan Satya sudah tidak ada, aku jadi tidak memiliki alasan untuk bisa bertemu dengan Andra” gerutu Surya yang mengikuti


perkembangan media  internet sambil  menghela napas panjang.


“Anda benar. Karena foto anda dan juga bu Andra, perusahaan itu jadi bangkrut. Harusnya anda tidak bertemu secara pribadi dengannya” Anton mengiyakan apa yang dikatakan Surya padanya.


“Jadi maksudmu, ini semua adalah salahku? Salahkan saja orang yang sudah mengambil foto kami secara diam-diam itu. Jika tidak ada berita buruk maka perusahaan Satya tidak akan ditutup begitu saja” Surya


menanggapi dengan kesal karena tidak ingin disalahkan oleh sang asisten.


“Bukankah ini bisa jadi pelajaran untuk anda? Jika anda terus berusaha mendekati bu Andra dan ingin merusak hubungannya dengan pak


Radit, bisa saja perusahaan ini juga akan secepatnya menghilang dari daftar nama perusahaan dinegara ini” Anton berusaha mengingatkan sang bos mengenai kemungkinan yang bisa saja terjadi padanya


“Jangan bicara sembarangan. Perusahaan ini tidak mungkin hancur begitu saja. Kamu tidak perlu khawatir. Cukup ikuti saja perintahku. Aku yakin kalau aku bisa mendapatkan Andra dan juga mengalahkan Radit” ujar Surya dengan penuh percaya diri


Tok tok tok


Percakapan mereka terhenti ketika mendengar seseorang mengetuk pintu kantornya.


“Masuk!”


Pintu pun terbuka setelah Surya memberikan izin untuk masuk. Dari balik pintu terlihat seorang gadis melenggang masuk keruangan Surya


“Kamu sudah kembali. Bagaimana dengan wawancaranya?” tanya Surya begitu melihat gadis itu berjalan mendekat kearahnya.


“Semua berjalan lancar, Pak. Dan besok saya akan langsung kerumah bu Andra untuk menjalani masa uji ciba” gadis cantik itu menjelaskan dengan sikap yang tenang.


“Kamu memang pandai, Lidia. Aku pasti akan memberikanmu bonus jika kerjamu selalu bisa diandalkan seperti ini” ujar Surya dengan senyum penuh kepuasan dibibirnya.


“Terimakasih, Pak” Lidia pun tersenyum puas mengetahui akan dapat bonus dari bosnya


“Ingat untuk selalu melaporkan apa yang terjadi pada Andra. Aku tidak ingin sampai ada yang terlewat satupun” ujar Surya lagi dengan sikap yang serius.


“Baik, Pak. Tapi ada yang ingin saya katakan pada anda”. Kini Lidia terlihat sangat serius saat akan bicara dengan Surya.


“Apa yang ingin kamu katakan? Tinggal katakan saja” ujar Surya acuh tak acuh sambil kembali memainkan ponsel ditangannya.


“Asisten pak Radit bilang kalau bu Andra sedang hamil”.  Surya tertegun tak percaya dengan mata membelalak.

__ADS_1


“Apa katamu? Andra hamil?” tanya Surya tak percaya


“Benar, Pak”


“Apa kamu yakin?” Surya kembali bertanya untuk memastikan


“Saya yakin karena saat saya melakukan interview, hal yang ditanyakan adalah apa saya pernah melayani ibu hamil atau belum” Lidia pun menjelaskan apa yang ditanyakan saat dia melakukan interview.


Surya terdiam lalu melambaikan tangan agar Anton dan Lidia meninggalkannya sendiri.


“Apa benar Andra hamil? Lalu … bagaimana denganku?” gumam Surya sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi dan menatap langit-langit diruangannya.


***


Keesokan harinya.


Lidia datang kerumah Radit pada pagi hari seperti yang diperintahkan sebelumnya. Dia menoleh kesana kemari karena merasa ragu dengan rumah besar yang dia kunjungi sekarang.


"Apa ini rumahnya?" pikir Lidia sambil memperhatikan rumah besar dihadapannya. Diapun memberanikan diri bertanya pada penjaga yang ada dipintu gerbang.


"Permisi, apa benar ini rumahnya pak Radit Nugraha?" tanya Lidia dengan sopan.


"Benar, nona ini mencari siapa ya?" penjaga itu balik bertanya pada Lidia dengan sopan.


"Oh baiklah. Silahkan masuk". Penjaga pun membuka pintu gerbang agar Lidia bisa masuk.


"Terimakasih" ujar Lidia sambil berjalan masuk melewati pintu gerbang. Dia pun langsung diarahkan menuju rumah.


Ting nong ting nong


Lidia membunyikan bel berkali-kali saat dia hendak masuk kerumah Andra


Ceklek


Tak lama pintu pun terbuka. Terlihat seorang wanita paruh baya berdiri dibalik pintu.


"Maaf, cari siapa?" tanya wanita yang membukakan pintu.


"Saya diminta kemari untuk bertemu bu Andra. Kemarin saya sudah melakukan wawancara diperusahaan pak Radit" Lidia menjelaskan dengan sikap tenang.


"Oh, silahkan masuk" pembantu rumah mempersilahkan Lidia untuk masuk kedalam.


"Permisi. Terimakasih"

__ADS_1


"Siapa yang datang, Bi?" tanya Radit yang baru turun dari tangga.


"Eh itu ... bukankah itu asisten pak Radit yang kemarin mewawancarai aku?" pikir Lidia begitu dia melihat Radit.


"Ini, Pak. Katanya yang mau jadi pelayan pribadi bu Andra". Pembantu Radit menjelaskan dengan sopan dan lemah lembut.


Radit pun berjalan mendekati mereka.


"Jadi dia itu Radit? Bukan asistennya?" pikir Lidia dengan wajah kecewa begitu melihat Radit mendekat kearahnya.


"Oh, kamu sudah datang. Bi, tolong panggilkan Andra dan Lathan. Katakan pada mereka untuk sarapan bersama" ujar Radit pada pembantunya.


"Baik, Pak" pembantu itu pun langsung naik ke lantai dua untuk memanggil Lathan dan juga Andra.


"Apa kamu sudah siap bekerja disini?" tanya Radit pada Lidia dengan sikap yang tenang. Diapun duduk disalah satu sofa dan mempersilakan Lidia juga duduk disana.


"Tentu saya siap, Pak. Tapi … apa anda tidak pergi kekantor?" tanya Lidia dengan sedikit ragu-ragu.


Radit memicingkan mata dengan dahi berkerut mendengar pertanyaan Lidia.


"Aku pergi kekantor setelah sarapan bersama istri dan juga anakku, tapi kenapa kamu menanyakan itu?" Radit menanggapi dengan sikap yang dingin.


"Maafkan saya, Pak. Saya hanya merasa aneh saja karena anda masih ada dirumah pada jam segini" ujar Lidia sambil menunjukkan senyum yang terlihat canggung.


"Ini masih pukul 7 pagi. Kurasa ini masih waktu yang pas untuk sarapan bersama keluarga, karena putraku juga belum berangkat kesekolah. Justru kamu yang datang terlalu pagi saat aku akan sarapan dengan istri dan anakku"


Lidia langsung terdiam karena canggung mendengar perkataan Radit yang tenang namun secara tidak langsung mengatakan kalau Lidia telah mengganggu waktunya sarapan dengan istri dan anaknya.


"Maafkan saya. Saya terlalu bersemangat untuk memulai bekerja dengan bu Andra. Karena itu saya datang terlalu pagi" Lidia menjawab dengan kepala tertunduk dan sedikit ragu-ragu


"Papi, siapa yang datang pagi-pagi begini?" tanya Lathan yang berjalan menuruni tangga bersama dengan Andra


"Ini Lidia. Dia yang akan membantu mami selama kita tidak ada" Radit menanggapi dengan sikap yang tenang.


"Menemani mami? Papi yakin kalau dia bisa membantu mami selama kita tidak ada?"


Lathan menatap Lidia dengan tatapan sinis. Dia terlihat sangat tidak suka pada Lidia.


"Tentu saja, Lathan. Papi memberikan dia masa percobaan selama beberapa waktu. Kamu juga bisa menilainya, jika menurutmu dia bekerja dengan baik, maka dia akan terus berada disamping mamimu. Tapi jika tidak, maka kita bisa mencari orang lain lagi yang akan menemani mamimu selama kita tidak ada dirumah" Radit menjelaskan dengan sikap yang dingin.


"Baik, Pih. Aku mengerti. Yang pasti aku akan selalu menjaga mami" Lathan bicara dengan tenang sambil tersenyum lembut kepada Andra


Lidia hanya bisa menatap Lathan dan Radit dengan senyum canggung diwajahnya.

__ADS_1


"Ayah dan anak ini benar-benar menyeramkan. Meskipun dia masih kecil, tapi dari sorot matanya … ada sesuatu yang menyeramkan. Dia seperti anak kecil yang pandai berkamuflase. Tampan diluar, tapi menyeramkan didalam"


__ADS_2