
"Kenapa ada 2 orang? Siapa gadis ini?" tanya pria yang memberi perintah menculik Lathan.
"Itu... Gadis itu berusaha membantu bocah ini. Kami tidak bisa meninggalkannya karena takut dia akan melapor pada orang lain, karena itu kami membawanya juga" jawab bos penculik dengan sikap tenang.
"Ya sudahlah, terserah kalian saja" ujar pria itu yang tidak ingin ambil pusing
"Kalau begitu habisi saja mereka berdua dan buang mayatnya sejauh mungkin. Aku akan transfer sisa uangnya setelah pekerjaanmu selesai" sambung pria itu memberi perintah.
"Anda tenang saja, Pak. Saya pasti akan membereskan mereka berdua dan pekerjaan anda tidak akan terusik oleh mereka lagi". Penculik itu bicara dengan percaya diri.
"Bagus. Kalau begitu aku pergi. Ingat! Jangan sampai meninggalkan jejak!"
"Siap, Pak! Anda tidak perlu khawatir!"
Lathan yang pura-pura tidur sedikit membuka matanya ketika kedua pria itu berbalik pergi meninggalkan ruangan.
"Dia? Jadi dia dalangnya? Sekarang aku tahu kenapa mereka menculikku. Mereka takut jika kebusukan mereka akan terbongkar lebih dalam lagi". Pikir Lathan dengan seringai dibibirnya. Lathan pun menoleh pada Zara.
"Ra, bertahanlah. Kita akan segera pulang. Kamu tunggu disini!". Lathan bicara dengan lembut pada Zara yang kini berbaring seperti saat ikatannya belum dilepas. Diapun membelai rambut panjang Zara dengan penuh perhatian.
"Ehm... " Zara menanggapi dengan anggukan kepala pelan.
Lathan pun mulai berdiri dan perlahan berjalan mendekati pintu ruangan itu. Dia sedikit mengintip dari sela pintu yang dibuka dan mengamati situasi.
"Ada 5 orang. Aku harus meringkusnya dengan cepat! Tidak mungkin waktunya cukup kalau harus menunggu sampai papi datang. Zara bisa berada dalam bahaya nantinya" gumam Lathan sambil terus mengawasi. Dia pun kembali menoleh pada Zara dengan tatapan khawatir.
Lathan memperhatikan para penculik itu lalu dia memperhatikan sekelilingnya untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai senjata. Pilihannya tertuju pada kursi kayu yang telah rusak. Lathan berjalan mengendap dengan hati-hati mendekati kursi itu lalu mengambil salah satu kayu.
"Aku bisa menggunakan ini untuk melawan mereka" gumam Lathan yang telah memegangi kayu ditangannya.
"Akan kita apakan kedua anak itu?" tanya salah satu penculik yang berada diluar ruangan.
"Kita tahan dulu mereka sampai besok. Begitu kita menerima kabar kalau uang tebusannya telah siap, maka kita akan habisi mereka dan menyerahkan mayatnya pada keluarga mereka". Bos penculik menjelaskan rincian rencana pada anak buahnya yang akan mereka lakukan pada Lathan dan Zara. Rekannya hanya menganggukkan kepala setuju dengan rencana bos mereka.
"Kalian sangat yakin sekali kalau akan mendapatkan uang tebusan dari papiku besok!". Kelima penculik itu menoleh bersamaan mendengar suara Lathan dibelakang mereka.
Lathan terlihat tenang dengan kayu yang di sangkutkan dipundaknya.
__ADS_1
"Kamu? Bagaimana kamu bisa melepaskan diri?!" tanya bos penculik dengan wajah terkejut.
"Bukan hal yang sulit untuk melepaskan ikatan itu" ujar Lathan dengan senyum tipis dibibirnya dan sikap acuh tak acuh.
"Aku akan beri 1 kesempatan pada kalian untuk tetap hidup, asalkan kalian mengatakan siapa yang meminta kalian melakukan pekerjaan ini!" sambung Lathan sambil mengarahkan satu jari telunjuknya kepada para pria dihadapannya.
"Banyak bicara! Hajar dia!"
Bagh!
Bugh!
Bagh!
Bugh!
Para penculik itu mulai menghajar Lathan satu persatu. Mereka berusaha memukul wajah dan perut Lathan, bahkan mereka juga berusaha menendang Lathan berkali-kali, namun Lathan selalu berhasil menangkis serangan mereka dan melawan balik.
Tanpa Lathan sadari, salah satu penculik itu masuk ke ruangan Zara ketika dia sedang sibuk melawan.
"Berhenti atau gadis ini akan terluka!". Lathan langsung berhenti dan menoleh kearah suara. Dia terkejut melihat Zara yang lemas berada ditangan salah satu penculik dengan pisau berada dilehernya.
"Diam!".
"Ah... ". Leher Zara sedikit tergores pisau hingga mengeluarkan darah dan itu membuat Lathan emosi.
Lathan terlihat sangat marah dengan sorot mata penuh emosi. Dia terus diam dan mencari celah. Begitu melihat celah, Lathan langsung melemparkan kayu pada kaki penculik yang memegangi Zara.
"Aaw... !!".
Lathan yang sedang dikelilingi oleh 4 orang penculik lainnya pun langsung menghajar mereka tanpa ampun. Dan Zara berhasil melepaskan diri ketika penculik yang menyanderanya kesakitan. Dia meraih kayu yang tergeletak dibawah lalu memukul penculiknya bertubi-tubi meskipun tubuhnya semakin lemah.
Bugh! bugh! bugh!
"Aw! Ampun! Hentikan! Ampun! Hentikan!" teriak penculik yang dipukuli oleh Zara.
Sesaat setelah Zara berhenti, kepalanya tiba-tiba kembali pusing. Tubuhnya tak bertenaga, kakinya lemas, dan Zara pun kehilangan keseimbangan.
__ADS_1
Gubrag!!
"Zara!".
Lathan yang mendengar suara terjatuh langsung berbalik dan terkejut melihat Zara. Dia pun segera berlari menghampiri sang pujaan hati.
"Ra! Ra, bangun Ra!". Lathan mengangkat kepala Zara kepelukannya dan memukul-mukul pipinya dengan lembut. Disaat itu salah satu penculik yang tadi sudah terkapar tiba-tiba bangun lagi dan hendak memukul kepala belakang, namun …
Dor!
"Achh!!!". Penculik itu berteriak, Lathan pun menoleh mendengar suara teriakan. Dia menatap pria yang jatuh dibelakangnya dengan luka tembak didada lalu menoleh mencari sumber tembakan.
"Papi!", teriak Lathan yang melihat sang ayah yang menyelamatkannya.
"Lathan, apa kamu baik-baik saja nak?" tanya Radit sambil mendekati sang putra dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja, Pih. Tapi temanku … demamnya semakin tinggi. Dia harus segera dibawa kerumah sakit!". Lathan menjawab dengan panik sambil memeluk Zara yang ada dipangkuannya.
"Ya sudah. Kamu bawa dia kerumah sakit. Biar Papi yang bereskan sisanya disini" ujar Radit dengan sikap tenang.
"Baik, Pih. Kemarikan kunci mobilnya!".Lathan meminta kunci mobil ada salah satu pengawal.
"Aku pergi dulu, Pih" sambungnya sambil menggendong Zara dipangkuannya.
"Ya, hati-hati" ujar Radit yang sambil menatap punggung Lathan.
"O iya, Pih. Jangan berikan mereka kepada polisi. Kita harus gali dulu informasi dari mereka!". Lathan yang telah melangkahkan kaki tiba-tiba berhenti dan berpesan pada Radit.
Sesaat Radit menatap heran wajah sang anak, namun akhirnya dia setuju.
"Ya, baiklah". Lathan pun kembali melangkahkan kakinya setelah mendapatkan jawaban dari sang ayah.
"Kalau begitu kita bawa mereka! Cari sesuatu yabg bisa dijadikan barang bukti. Kita tidak bisa melepaskan mereka begitu saja" Radit memberikan aba-aba pada pengawalnya setelah Lathan meninggalkan gudang itu.
"Baik, Pak!". Para pengawal Radit menjawab dengan serempak lalu mulai memindahkan para penculik yang babak belur dan juga terluka untuk dipindahkan ke tempat lain.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi. Tapi sepertinya Lathan tahu sesuatu" gumam Radit menatap wajah para penculik itu.
__ADS_1
Sementara itu, Lathan mengemudi dengan kecepatan penuh. Dia terus berkendara menuju rumah sakit terdekat sambil sesekali menatap wajah Zara yang ada disebelahnya.
"Ra, bertahanlah Ra. Aku tidak bisa membayangkan kalau sampai terjadi sesuatu padamu. Kumohon bertahanlah!", ujar Lathan dengan suara lembut sambil membelai pipi Zara yang saat ini tidak sadarkan diri.