Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Terlukanya Lathan


__ADS_3

"Halo". SUrya masih bersikap tenang saat dia menjawab teleponnya


"Apa katamu?!". Dia berteriak setelah mendengar apa yang dikatakan oleh asistennya. Surya langsung menoleh pada Radit yang sedang memberikan perhatian pada Andra.


"Ini pasti ulahmu, kan?!" teriak Surya sambil menunjuk kearah Radit


"Tidak baik berteriak seperti itu? Bukankah kamu seorang pemimpin yang bijaksana?".


Radit menanggapi dengan sikap yang tenang. namun matanya sama sekali tidak menatap Surya. Dia terus berfokus pada sang istri.yang ada disampingnya.


Surya menoleh pada Lathan yang berada tidak jauh darinya, lalu dia menoleh lagi pada Radit dan Andra.


"Ah! Papi!"


"Lathan!"


Surya menarik Lathan dengan keras lalu melingkarkan tangannya disekitar leher Lathan. Andra dan Lathan sangat terkejut melihat perbuatan Surya.


"Apa yang kamu lakukan? Jangan melakukan hal yang bodoh" ujar Radit dengan sikap yang dingin.


Prang!!


"Aaah!!!"


Surya mengambil gelas yang ada diatas meja lalu memukulkannya ke meja hingga pecah. Dia memecahkan pecahan gelas itu dan mengarahkannya ke leher Lathan


"Jangan berani macam-macam. Kalau tidak, aku bisa membunuh anak ini".


"Bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan?"


"Haruskah kita menghubungi polisi?


Semua orang terlihat panik. Bahkan Andra sampai meneteskan air mata sambil  menutup mulutnya melihat putranya berada dalam bahaya. Radit mengepalkan tangannya dan menatap Surya dengan sorot mata yang tajam


"Jika kamu berani berbuat macam-macam pada putraku, akan kuhabisi kamu sekarang juga!"


"Hahaha ... kamu pikir aku takut? Sebelum kamu bertindak, anak ini pasti sudah mati ditanganku" Surya terbahak dengan penuh percaya diri. Dia tidak sadar kalau Radit mulai mengambil ancang-ancang untuk merogoh pistol yang ada dibagian pinggangnya.


"Aku ingatkan kamu sekali lagi. Jika kamu menyakiti putraku, akan kupastikan kamu mati saat ini juga!"

__ADS_1


"Benarkah? Coba saja kita lihat"


"Aah! Papi!"


"Lathan!"


Dor!


"Aaahhh!"


"Tanganku!"


Radit sangat terkejut ketika Surya menggoreskan pecahan gelas pada leher Lathan. Akhirnya dia menembak tangan Surya dan membuat semua orang berteriak panik, termasuk Surya. Pegangannya pada Lathan pun dilepaskan dan dia langsung terduduk dilantai dengan tangan berlumuran darah. Sedangkan Lathan juga mengeluarkan banyak darah dari lehernya.


"Lathan!" Radit langsung berlari menghampiri Lathan yang kini tergeletak dengan wajah panik diikuti Andra dibelakangnya. Dia mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengikat leher Lathan untuk menghentikan pendarahannya.


"Panggil ambulance! Cepat!" Teriak Radit yang panik


"Papi... sakit, Pih" ujar Lathan sambil meringis kesakitan dengan suara yang lemah dan mata yang mulai sayu.


"Bertahan ya sayang. Papi pasti akan  menyelamatkanmu!". Radit semakin panik setelah melihat Lathan yang sangat kesakitan. Diapun terus memeluk Lathan dalam dekapannya. Dia tidak tega melihat putranya yang meringis kesakitan. Radit berusaha keras menahan air matanya yang kini telah menggenang dipelupuk matanya


"Papi ... sakit Pih. Sakit" Lathan yang tidak sanggup menahan sakit dan darah yang terus mengalir pun akhirnya kehilangan kesadarannya


"Lathan! Lathan! Tidak! Kamu harus bertahan! Lathan! Bangun!" tanpa pikir panjang, Radit pun menggendong Lathan dan berlari membawanya menuju mobil. Andra mengikutinya dari belakang.


"Sayang, pegang Lathan. Aku yang akan mengendarai mobil". Andra pun mengangguk lalu naik mobil lebih dulu dan menggendong Lathan dalam pangkuannya. Radit mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit terdekat.


"Lathan, bertahan ya sayang. Kamu tidak boleh meninggalkan Papi begitu saja". Radit terus berkendara dengan panik. Sesekali dia menoleh ke kaca spion untuk melihat Lathan. Putranya yang selalu ceria dan menggemaskan, kini tak sadarkan diri dengan tubuh yang berlumuran darah.


Setelah beberapa saat, akhirnya mereka tiba dirumah sakit. Radit berhenti tepat didepan pintu rumah sakit, lalu berlari keluar dan mengambil Lathan dari pangkuan Andra.


"Suster! Suster! Tolong selamatkan anak saya!" Radit berteriak sambil berlari dan menggendong Lathan dalam pelukannya.


Tak lama beberapa suster menghampiri dengan berlari sambil membawa ranjang dorong untuk membawa pasien


"Baringkan disini, Pak. Kita langsung keruang UGD" ujar salah satu suster yang mendorong Lathan. Radit dan Andra mengikuti dari belakang.


"Lathan ... kamu harus bertahan" gumam Andra dengan derai air mata dipipinya. Radit hanya diam sambil terus menggandeng Andra menuju ruang UGD

__ADS_1


"Anda tidak bisa masuk. Tolong tunggu diluar"


"Suster, tolong selamatkan anak saya" ujar Radit penuh harap karena dia tidak diizinkan masuk kedalam ruang UGD


"Tentu saja, Pak. Kami akan berusaha". Pintu ruang UGD pun ditutup. Andra dan Radit hanya bisa duduk dan menunggu.


Andra yang panik terus saja berdiri didepan pintu ruang UGD sambil sesekali berjalan mondar-mandir. Lain halnya dengan Radit yang hanya duduk dengan lutut menopang tangannya derngan jari yang saling bertautan.


Andra memperhatilkan Radit yang sangat gelisah dan panik. Diapun berjalan mendekati Radit dan duduk disebelahnya.


"Kak Radit, tenanglah. Kita doakan yang terbaik untuk Lathan. Lathan pasti akan baik-baik saja". Andra bicara dengan lembut sambil mengusap punggung Radit.


Radit menoleh kearahnya dengan air mata berlinang.


"Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya? Bagaimana jika Lathan meninggalkanku? Aku sudah merawatnya sejak dia bayi.  Apa yang akan aku lakukan jika tanpa dia? Aku tidak bisa membayangkan itu terjadi. Aku tidak akan sanggup kehilangannya ... hiks ... hiks ... hiks". Radit bicara sambil menggelengkan kepalanya dan kedua tangan menutupi wajahnya.


Hati Andra terasa sakit. Batinnya seakan menjerit melihat suami yang dicintainya kini terlihat tak berdaya dengan derai air mata membasahi wajahnya. Andra pun semakin berderai air mata. Dia menarik Radit dalam pelukannya dan berusaha menguatkannya.


"Lathan akan baik-baik saja. Dia anak yang kuat. Kak Radit harus percaya itu". Radit semakin membenamkan wajahnya dalam dekapan Andra. Dia menumpahkan semua air matanya dalam pelukan sang istri


"Keluarga pasien Lathan!". Radit dan Andra langsung menoleh dan bergegas menghampiri ketika seorang dokter keluar dari ruang UGD dan memanggil wali Lathan


"Saya ayahnya, dok. Bagaimana keadaan putra saya?" tanya Radit dengan panik dan penuh kekhawatiran.


"Lukaya cukup dalam sehingga pasien kehilangan banyak darah karena itu kami harus melakukan trasfusi darah secepatnya" dokter menjelaskan dengan sikap yang tenang.


"Ambil darah saya sebanyak mungkin dok, asalkan putra saya bisa selamat" Radit mengajukan diri untuk melakukan transfusi darah.


"Saya juga ingin mengecek darang saya dengan Lathan"


"Baiklah, anda berdua bisa pergi dengan suster dan melakukan cek darah". Andra dan Radit pun langsung mengikuti suster seperti apa yang dikatakan dokter sebelumnya.


Radit dan Andra terlihat tegang menunggu hasil pemeriksaan. Mereka sangat gugup jika saja darah mereka tidak sesuai dengan Lathan.


"Maaf, Pak, Bu. Golongan darah anda berdua tidak cocok dengan pasien. Golongan darah anda A-, dan anda AB sedangkan pasien memiliki golongan darah O+". Seperti yang ditakutkan Radit, darah mereka tidak sama karena Lathan mewarisi darah ayahnya.


"Seperti ketakutanku, Lathan mewarisi golongan darah kak Galen, karena golongan darahku sama dengan kak Lea". Radit terduduk lemas disalah satu kursi yang ada disana. DIa seakan tak bertenaga dan semakin takut dengan kemungkinan terburuknya.


"Tenanglah dulu, Kak. Kita sama-sama cari solusinya" ujar Andra yang kembali menenangkan Radit

__ADS_1


"Pak, karena stok darah kami sedang habis. Kenapa anda tidak langsung menghubungi bank darah dan meminta dikirimkan golongan darah yang sama dengan pasien?"


__ADS_2