Terpaksa Jadi Ibu Tiri

Terpaksa Jadi Ibu Tiri
Raditya Reifansyah Tidak Pernah Memberikan Maaf Pada Siapapun


__ADS_3

“Apa?!”


“Aku tahu kalau anda membatalkan kontrakvkerjasama kita karena Bagas, dan aku juga tahu kalau kalian berdua yang telah membuat gosip tentang aku dan Audy”


Panji sangat terkejut begitu mendengar suara Radit dari seberang telepon. Radit memang bicara dengan sikap yang tenang dan seperti ada senyum dibibirnya, namun suara itu terdengar seperti sebuah petir yang menyambar bagi Panji.


Panji terdiam. Dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Mulutnya seakan terasa sangat berat untuk menanggapi apa yang dikatakan Radit


“Anu … itu …”


“Aku tidak butuh penjelasanmu. Aku hanya akan memberikan sedikit teguran padamu karena berani menggangguku. Kurasa itu sudah cukup untuk membuatmu sadar atas kesalahan yang telah kamu perbuat dan kedepannya tidak akan kamu lakukan lagi, iya kan?” ujar Radit yang memotong pembicaraan Panji, bahkan sebelum dia mengatakan apapun padanya.


“I-iya Pak. Saya janji kalau saya tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi untuk kedua kalinya. Saya tidak akan


melakukan apapun yang membuat anda merasa tidak suka” Panji menanggapi Radit


dengan gagap dan cepat serta senyum terpaksa dibibirnya.


“Bagus kalau kamu sudah mengerti"


"Iya Pak. Terima ka …"


Tut tut tut


Radit langsung menutup teleponnya sebelum Panji selesai bicara


“Kamu tidak akan pernah memiliki kesempatan untuk melakukan kesalahan yang kedua kalinya, karena perusahaanmu tidak akan ada lagi” gumam Radit dengan senyum dibibirnya setelah menutup teleponnya dengan Panji.


***


“Sepertinya perusahaan anda memang bersih dan tidak pernah menggelapkan pajak. Terimakasih atas kerjasamanya”. Salah satu perwakilan dari tim audit pajak memberikan tanggapan atas pemeriksaan mereka pada perusahaan Panji.


“Benarkah? Ya, terimakasih kembali” Panji dan karyawannya tersenyum bahagia setelah mendapatkan jawaban dari tim audit yang membuatnya dan juga karyawannya terlihat tegang.


“Kalau begitu kami mohon pamit. Selamat siang”


“Ya, selamat siang”.Panji dan tim audit saling berjabatbtangan sebelum meninggalkan perusahaan Panji.


“Bagas, ini semua adalah kesalahanmu!”


Raut wajah Panji yang sebelumya terlihat tersenyum setelah tim audit mengatakan kalau perusahaannya bersih, kini kembali suram dengan penuh kemarahan ketika mengingat Bagas. Dia bergegas kembali keruangannya dengan langkah cepat untuk


menemui Bagas yang masih menunggu disana.


“Bagaimana? Sebenarnya siapa yang datang tadi?” Bagas yang tidak tahu apa-apa bertanya dengan sikap yang tenang setelah melihat Panji datang.

__ADS_1


Panji tidak bicara apa-apa dan langsung mendekati Bagas lalu menarik kerah bajunya


Bugh!


“Ini semua terjadi karena kamu! Jika saja kamu tidak memintaku membatalkan kerjasamaku dengan Radit dan membuat gosip yang tidak masuk akal tentangnya, maka perusahaanku tidak akan jadi seperti ini!” Panji bicara sambil menonjok sebelah pipi Bagas hingga mengeluarkan sedikit darah dari ujung bibirnya dan lebam pada pipinya.


“Apa yang kamu lakukan?! Aku tidaj mengerti apa yang kamu katakan!" teriak Bagas yang tidak sempat memberikan perlawanan dan merasa bingung dengan alasan Panji memukulnya.


“Semua yang terjadi pada perusahaanku adalah karena Radit tahu kalau aku bekerjasama denganmu untuk menjatuhkan dia. Dasar kamu brengsek! Semua jadi berantakan karena kamu!” Panji terus berteriak untuk melepaskan kekesalannya pada Bagas, namun kali ini Bagas berhasil melepaskan diri dari panji dan menangkal pukulannya


“Apa katamu?! Ini karena Radit?!” Bagas sangat terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh  temannya itu sampai dahinya berkerut.


“Ya, tadi Radit menghubungiku dan mengatakan semuanya. Dia bilang kalau ini hanya teguran saja. Jadi … aku yakin kalau perusahaanku akanbbaik-baik saja karena aku hanya membatalkan kontrak dengan perusahaannya. Hanya saja, aku tidak tahu bagaimana nasib perusahaanmu, karena kamulah yang merencanakan semuanya” ujar Panji yang yakin kalau Radit tidak akan membuatbperusahaanya sampai jatuh. Namun sayangnya itu tidak terjadi sesuai dengan perkiraannya. Harga sahamnya terus turun dan perlahan pemegang saham mulai


meninggalkan perusahaannya.


Drrt … drrt … drrt…


Panji dan Bagas langsung diam setelah ponsel Bagas berdering. Mereka saling menatap satu sama lain.


“Telepon dari siapa? Kenapa kamu tidak menerimanya?” tanya Panji pada Bagas


“Ini … dari asisten pribadiku” jawab Bagas dengan ragu-ragu, lalu dia mengangkat panggilan telepon itu.


“Halo. Ada apa?” sapa Bagas dengan sikap yang tenang.


“Apa?! Harga saham kita jatuh dipasaran?!” Bagas langsung menoleh pada Panji dengan raut wajah yang pucat.


“Aku akan segera kembali” tanpa pikir panjang, Bagas langsung menutup teleponnya dan bersiap kembali ke perusahaannya


“Apa yang terjadi? Harga sahammu juga jatuh? Berarti ini perbuatan Radit!” ujar Panji yang mendengar percakapan Bagas dengan asistennya


“Mungkin. Aku harus kembali ke perusahaanku. Sampai jumpa” Bagas tidak diam lebih lama lagi. Dia langsung bergegas kembali keperusahaannya.


Bagas melangkah dengan lagkah yang cepat. Wajahnya terlihat panik dan khawatir pada perusahaannya.


“Bagaimana bisa seperti ini? Aku yakin kalau selama ini Radit tidak pernah bergerak berlebihan jika ada yang mengganggunya. Kenapa sekarang dia berani melakukan hal ini?” gumam Bagas selama dia dalam


perjalannya sambil mengemudikan mobilnya. Dia terlihat tidak percaya jika itu adalah perbuatan Radit karena tidak pernah mendengar apapun tentangnya. Dia


tidak tahu mengenai Radit yang mengambil alih perusahaan milik keluarga Andra


dan juga membuat Gio yang awalnya staf penting dihotel kini menjadi seorang


tukang sampah.

__ADS_1


“Apa yang terjadi? Bagaimana perkembangannya sekarang?!” Tanya


Bagas dengan panik setelah dia tiba diperusahaannya.


“Saham kita terus turun, Pak. Kami juga menemukan ini diinternet” Asisten Bagas menunjukkan sebuah video mengenai kekerasan yang dia lakukan pada Audy dan juga beberapa wanita yang pernah menjalin hubungan dengannya.


Bagas terkejut hingga matanya membelalak melihat video yang beredar. Dia terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat


“Apa ini? Bagaimana bisa video seperti ini menyebar di internet?” ujar Bagas sambil menatap sang asisten.


“Saya juga tidak tahu, Pak. Saya sudah menyelidiki sumbernya, tapi kami sama sekali tidak bisa melacaknya dan juga tidak bisa menembusnya untuk menghapus video itu. Video ini menggunakan pengaman yang ketat dan terus saja didorong untuk menjadi berita terpanas” asisten Bagas menjelaskan mengenai upaya yang sudah dia lakukan untuk menghapus berita yang menyebar tentang dirinya diinternet.


“Gawat! Bagaimana ini? Jika ini terus berlanjut maka semuanya akan hancur. Apa yang harus aku lakukan sekarang?” Bagas yang panik berusaha memikirkan jalan keluar atas masalah yang sedang dia hadapi.


“Radit. Ini pasti ulah Radit. Aku harus bicara padanya dan memintanya untuk berhenti melakukan ini. Tapi tidak mungkin dia mau


mendengarkanku” Bagas bicara sendiri sambil menatap layar ponselnya seraya berpikir.


“Sudahlah. Tidak ada salahnya jika mencobanya terlebih dahulu” Bagas langsung mencari nomor telepon Radit untuk menghubunginya. sebelah kakinya terus bergerak dengan cepat menandakan kalau dia sedang panik.


Tuut tuut tuut


Berkali-kali dia menghubungi Radit namun Radit sama sekali tidak menerima teleponnya. Namun Bagas tak terus mencoba menghubunginya.


Tuut tuut tuut


“Halo” Setelah beberapa kami mencoba, akhirnya Radit menerima telepon darinya


“Halo, Pak Radit” ujar Bagas yang menanggapi sapaan Radit


“Pak Bagas, ada keperluan apa sampai anda menghubungi saya terlebih dahulu?” Radit menanggapi Bagas dengan sikap yang tenang dan dingin


“Sa-saya ingin minta maaf. Tolong maafkan saya”


“Maaf? Kenapa saya harus memberikan maaf pada anda? Memangnya apa yang sudah anda lakukan?” ujar Radit mempermainkan Bagas


“Itu … saya …” Bagas terdengar ragu-ragu saat mencoba menjawab pertanyaan Radit.


“Saya yang telah meminta Panji membatalkan kontrak dengan anda dan menyebarkan gosip miring tentang anda dan juga istri saya” Bagas bicara dengan kepala tertunduk dan ragu.


Radit terdiam sesaat tanpa memberikan tanggapan


“Pak Radit, apa anda mendengarkan saya?” Tanya Bagas karena tidak mendapat tanggapan apapun dari Radit


“Ya, saya mendengarkan anda. Lalu, apa yang harus saya lakukan?” ujar Radit yang kembali mempermainkah Bagas

__ADS_1


“Itu… Bisakah anda memaafkan saya dan menghapus video yang beredar?” Bagas terlihat gugup saat menunggu jawaban Radit


“Saya? Kenapa anda yakin kalau saya yang menyebarkan video diinternet itu? Jika anda tahu kalau itu perbuatan saya … bukankah harusnya anda juga tahu kalau Raditya Reifansyah Nugraha tidak pernah memberikan maaf pada siapapun yang telah berani mengusik saya?”


__ADS_2